Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Kedatangan Raffa


__ADS_3

"Gila, gue kangen banget sama lo, sombong banget lo sekarang mentang-mentang udah married kagak pernah lagi hubungin gue, dulu aja pas masih jomblo pengennya di temenin gue terus!"


Samar-samar Ando mendengar obrolan dari seorang laki-laki yang berasal dari dalam kamarnya. kemudian ia berjalan mendekati kamar tersebut, dan membuka pintunya secara perlahan.


Disana Nada terlihat antusias mendengar celotehan dari laki-laki yang merangkul pundaknya, disisi kepala ranjang, dengan Nada yang duduk berselonjor disampingnya.


"Itu kan dulu, sekarang Gue sibuk Raffa," Ucap Nada, Menyingkirkan tangan Raffa dari pundaknya.


Lalu ia terkesiap saat melihat sepasang mata tajam sedang menatap kearahnya. dibalik celah pintu yang sedikit terbuka.


Nada pun melompat dari atas tempat tidur, tanpa mempedulikan Raffa yang menatapnya heran.


"A-ando?" ucapnya dengan suara bergetar, ia yakin saat ini pasti suaminya salah paham.


"Siapa?" tanyanya dengan ekpresi datar.


Tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Ando, ia segera menarik tangan suaminya berhadapan dengan Raffa.


"Raffa, kenalin ini suami gue Ando namanya, dan Ando kenalin, ini adik sepupu aku namanya Raffa!" menautkan tangan keduanya tanpa persetujuan dari sang pemiliknya.


"Wohooo, ini kakak sepupu baru gue, Handsome and amazing!" Teriak Raffa memeluk tubuh Ando posesif.


"Gila gila, keren banget sumpah!" Lanjutnya setelah mengurai pelukannya, menatap takjub pada sosok dihadapannya sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Ando yang semula tegang menahan emosi, kini mulai melunak setelah mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya.


Tersenyum tipis menanggapi celotehan dan tingkah Raffa yang menurutnya sedikit agresif.


Raffa memutari tubuh Ando, sembari mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuknya, meneliti penampilan Ando dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Lo masih Sma, benar nggak sih tebakan gue!" memandang Ando dengan kening berkerut.


Pasalnya saat ini Ando sedang menggunakan celana sekolah abu-abunya meski bagian atas menggunakan Hoodie menutupi kemeja seragam sekolahnya.


Ando mengangguk. "Iya bener, ni baru pulang!"


Dan Jawabannya sontak Membuat Raffa mematung ditempatnya, tidak menyangka tebakannya yang asal-asalan ternyata memang benar adanya.


"Serius lo!" ucapnya dengan mata terbelalak.


Raffa dan keluarga lainnya memang tidak tahu setatus Ando, mereka hanya tahu Nada sudah melangsungkan akad pernikahan, dan mereka juga tidak sempat hadir, karena akad nikahnya di adakan secara mendadak.


Dan setelahnya mengakibatkan keluarga Nada dan papa Ando salah paham, karena dianggap tidak mengundang dan juga mengabari.


Namun papa Nada memberi tahu, bahwa beberapa bulan lagi akan di adakan resepsi, yang akhirnya membuat semuanya menghela nafas lega.


"Tapi cocoklah sama Nada, dia kan mukanya masih unyu-unyu gitu!" Raffa tergelak sendiri dengan ucapannya.


"Kapan-kapan main lah kerumah gue, nggak jauh kok, dulu pas bini lo ini belum Kaw- "


Plaakk..


Nada memukul pundaknya, membuat Raffa sedikit meringis, saat melihat mata Nada yang juga sedang memelototinya.


"Married maksudnya, elaahhh salah ngomong dikit gue!" ucap Raffa sembari mengusap-usap pundaknya.


"Ck, Kebiasaan ni Anak, kalau ngomong tuh musti dikasih peringatan dulu, baru bisa di filter."


"Ok ok, jadi gini ya, emmhhh.. mau di panggil apa nih Abang, mas, kakak atau apa?" menyenggol tangan Ando dengan sok akrabnya.


Ando tersenyum tipis menggidikan bahu "Terserah enaknya gimana."


"Abang aja ya, bang Ando gitu, lucu nggak sih Nad,?" melirik kearah Nada.


"Giliran ke gue aja, nggak ada sopan-sopannya lo, dasar adik durhaka." Nada memasang wajah kesal.

__ADS_1


Raffa meringis, menyengir kuda. "Mau emang


di panggil mbak?"


"Ogah!" Ucapnya beranjak pergi meninggalkan suami dan sepupunya dikamar.


"Yaudah." Raffa menggidikan bahu tak peduli.


Sepeninggalnya Nada, keduanya asyik mengobrol, menceritakan banyak hal, keakraban yang membutuhkan waktu sangat singkat.


Drrttt..drrttt..


Ia merogoh benda pipih dari dalam saku celananya.


Papa Calling....


Ck!


Ia berdecak kesal, masih ingat dirinya rupanya! batin Ando. menyimpan kembali Handphone nya yang tak lagi bergetar.


Drttt..drttt..


Papa Calling ....


Lagi-lagi dari nomor yang sama.


"Angkat dulu bang, siapa tahu penting, gue ke dapur dulu laper!" ucap Raffa yang langsung bergegas pergi.


"Hallo!" terdengar suara panik dari sebrang sana, tapi bukan suara papanya.


"Kenapa?" balas Ando datar.


"I-ini Ando kan?"


"Ya."


Tubuh Ando mematung, "Papa." ucapnya lirih.


"Saya segera kesana, tolong sherlock tempatnya." ucapnya sembari mengakhiri panggilannya secara sepihak.


Ia bergegas mengambil pakaian dan menggantinya, bahkan tidak mempedulikan perutnya yang sudah keroncongan minta diisi, karena belum makan apapun sejak pagi.


Kemudian Ando menghampiri Istrinya yang sedang melempar lelucon dengan Raffa sepupunya.


"Yang, aku harus ke bandung sekarang juga, kamu jaga diri baik-baik ya!" Mengecup kening istrinya dengan terburu-buru.


"Lho kok mendadak, mau ngapain?"


"Ntar aku ceritain, Raffa nginep sini aja temenin Nada ya!" melirik kearah Raffa yang hendak menyuapkan Mie instan buatan Nada barusan.


"Wokeh." balasnya dengan mulut penuh.


"Makan dulu ya,"


Ando menggeleng, "Aku buru-buru."


"Ihs kebiasaan!" ucap Nada sembari meraih dan mencium punggung tangan suaminya.


"Raf, titip!"


Raffa mengangguk kemudian mengangkat dua jempolnya. "Aman!"


Setelah kepergian suaminya, Nada mengambil mangkok berisi mi Instan yang sebetulnya ia siapkan untuk suaminya.


"Nad, enak ya kalau udah kaw-"

__ADS_1


Plaakkk..


Lagi-lagi Nada memukul Raffa, tapi kali ini mengenai punggung tangannya yang berada diatas meja makan.


"Aww..Gila lo, galak banget! Ngidam apa sih enya lo dulu, ngidam tanduk banteng kali ya!"


"Cakep sih cakep, tapi kelakuannya nggak banget, bang Ando mau aja ya punya bini model lo." Lanjut Raffa.


"Ihs keluar lo, nyebelin banget! makanya lo kalau ngomong tuh di filter dulu, jangan Asal ceplas-ceplos." Ucap Nada bersungut-sungut.


"Tadi kan gue cuma mau ngomong, enak ya kalau udah ka-"


Raffa kembali menghentikan ucapannya, kala melihat mata Nada yang melotot hampir keluar.


"Iya iya, busyet deh takut gue!"


"Gini lo, kalau udah married tuh kayaknya enak ya, makanan udah ada yang nyiapin, terus apa tuh namanya, kalau mau pergi ada yang sun tangan, terus cium kening istri, ya contohnya kaya lo barusan gitu." Raffa mengerling kearahnya.


"Diem lo anak kecil, fokus aja lo sama kuliahnya jangan mikirin berumah tangga dulu."


"Elaahhh, laki lo juga masih Sma lebih parah dari gue, terus apa lo bilang Anak kecil?"


"Dan anak kecil ini, mata sucinya udah terkontaminasi sama anak dewasa yang nggak tahu malu bermesraan di depan anak kecil ini!" Cerocos Raffa sembari memberengut kesal tak terima.


"Iya sorry ya, ade kecilku." tersenyum palsu kearah Raffa.


"Nggak gue maafin!"


"kok lo gitu sih?"


"Udah ah gue ngantuk Nad, pen bobo siang. dimana kamar tidur buat gue!"


"Kebiasaan lo emang nggak hilang-hilang ya, tiap abis makan pasti tidur!"


Membuat Raffa meringis malu, namun detik kemudian tergelak sendiri.


"Di sebelah kamar gue, awas lo salah masuk kamar!"


"Iya iya,"


.............


Ando mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, isak tangis seorang wanita yang menelponnya tadi jelas menandakan sebuah kekhawatiran besar.


Ia sudah menduga-duga banyak hal buruk yang terjadi mengenai keadaan papa


di dalam fikirannya, meski ia mencoba menepisnya berulang kali, tapi tetap tak bisa.


Hatinya memang marah bercampur benci pada sosok yang di panggilnya dengan sebutan Papa tersebut.


Namun hati nuraninya tidak mampu berlaku egois, Papa tetaplah papa baginya, dan mungkin selamanya akan tetap seperti itu.


Meski berulang kali papa menyakitinya, tapi ia tak mampu untuk tak peduli, terlebih pada kondisi papa yang saat ini terdengar mengkhawatirkan.


Dan disinilah ia berdiri saat ini, di depan Rumah sakit terbesar di bandung. sesuai alamat yang dikirimkan wanita yang sempat menelponnya tadi siang.


Setelah bertanya pada petugas rumah sakit dan meminta izin menjenguk papa nya, ia bergegas menuju ruangan yang disebutkan oleh petugas tadi.


Di luar ruangan yang bertuliskan Ruang operasi. ada 1 orang anak laki-laki remaja dan satu orang perempuan seumuran mamanya sedang duduk di kursi tunggu, berpelukan sambil menangis.


Lalu ia mengurai pelukannya saat menyadari seseorang yang berdiri menatapnya penuh tanya.


"A-ando bukan?" tanyanya hendak berdiri, sembari menyeka sisa-sisa air matanya menggunakan sapu tangan yang berada digenggamannya.


"Ya, anda siapa?" tanyanya Datar.

__ADS_1


"S-saya Riana, dan ini anak saya!"


"Istri papa?" Ucapnya, ia tak mungkin mengatakan selingkuhan papa bukan, batin Ando.


__ADS_2