Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Selamat jalan papa


__ADS_3

Setelah meminta ijin pada Riana untuk memasuki ruangan tempat papa Jordy dirawat, kini mama Indri berada didalam ruangan tersebut memandangi tubuh papa Jordy yang terbaring lemah.


"In?" ucapnya lemah, ketika mama Indri hendak menghampirinya.


"Mas, kenapa jadi seperti ini, apa yang terjadi?" wajahnya memperlihatkan raut iba dan kekhawatiran yang besar.


Sedangkan papa Jordy, memaksakan untuk tersenyum disela rasa sakit yang tengah menggrogotinya.


"Selamat atas pernikahanmu In, apa kamu bahagia?"


Mama Indri mengangguk, "Aku bahagia mas, sangat bahagia!"


"Aku harap selalu begitu."


"In aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf, atas dosa-dosaku terhadap kamu di masa lalu."


"Ini pasti sulit untuk di maafkan, mungkin juga tidak akan pernah bisa termaafkan." ucap papa, yang kemudian kembali terbatuk, sembari memegang dadanya yang mulai terasa sesak.


"Aku belum sempat membahagiakanmu ketika kamu masih menjadi istri sah ku, dan aku terlambat menyadari bahwa sampai saat ini aku masih mencintai kamu In."


"Tapi semuanya sudah terlambat, tak ada yang bisa aku perbaiki, dan tak ada juga yang bisa aku lakukan lagi."


"Maaf atas semua luka yang pernah aku tanamkan dalam hatimu In," tubuh lemah itu semakin terlihat tak berdaya.


"Mas jangan bicara seperti itu, aku ikhlas dengan semua yang telah terjadi, aku pun baru menyadari mungkin jalan kita memang harus seperti ini." Mama Indri mulai meneteskan air mata.


"Aku sudah maafkan mas, dan aku sudah ikhlas, mas nggak usah mikir macam-macam, mas fokus aja sama kesembuhan mas Jordy." lanjut mama Indri.


"Benarkah In, kamu sudah memaafkan aku?" papa mulai menangis.


Mama mengangguk, "Iya mas."


"Terimakasih banyak In, aku merasa sedikit lega sekarang." balasnya, bersamaan dengan batuknya yang mulai kembali mengeluarkan darah, membuat mama Indri berteriak histeris.


"M-mas, mas kenapa, bagaimana ini?" paniknya.


Namun, disela kepanikannya, ia bergegas keluar mencari bantuan.


"Ma, mama kenapa?" Ando menghampiri mama yang baru saja keluar dari ruang rawat papa dengan keadaan panik.


"I-itu An, papa kamu muntah darah, tolong panggilkan Dokter nak!" ucap mama Indri, sembari terduduk dikursi tunggu dengan susah payah.


Dan tanpa menunggu lama Ando segera memanggil Dokter yang diikuti satu perawat dibelakangnya.


"Tolong tenang ya, mohon tunggu diluar, kami akan memeriksanya terlebih dahulu." Ucap Dokter tersebut, ketika Ando memaksa ingin masuk.


Dan lima menit kemudian Dokter tersebut keluar dengan exspresi wajah yang susah di artikan.


"Gimana keadaan papa saya Dok?" Ando menghampirinya dengan perasaan cemas.


Sedangkan Dokter tersebut menghela nafasnya berat.


"Maafkan saya, dengan sangat menyesal saya harus sampaikan kabar ini, bahwa papa Anda sudah tiada."


"Beliau sudah meninggal!" lanjutnya.


Jderrr...

__ADS_1


Ando menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, bahkan air matanya sudah terjun tanpa sempat ia cegah.


"Nggak mungkin Dok, Dokter pasti bercanda kan?"


"Maafkan saya, saya permisi!" ucapnya, dan bergegas pergi bersama salah satu perawat wanita.


Sedangkan Ando masih membeku di tempatnya, terjatuh dengan keadaan lutut yang bertumpu menyentuh lantai.


"Papaaa....!!"


"Nggak mungkin!" ucapnya dengan tangisnya yang mulai pecah.


Sedangkan mama Indri menutup mulut tak percaya, apakah ia secepat itu mas Jordy pergi pikirnya.


"Kenapa kamu harus pergi mas?" Riana menangis tersedu-sedu.


****


Sore itu juga acara pemakaman papa Jordy segera dilangsungkan, tidak menunggu pihak keluarga lain yang masih dalam perjalanan menuju rumah papa.


Riana memang sempat tidak setuju, namun Ando bersikukuh agar papa segera di makamkan, lebih cepat lebih baik ucapnya. yang kemudian di setujui oleh Riana.


Pukul 17:21 acara pemakaman papa telah selesai, kini hanya tinggal ia sendiri yang masih berdiam disana, memandangi Nisan papa serta tumpukan tanah merah basah, yang ditaburi dengan bunga di atasnya.


"Selamat jalan papa, semoga papa ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya." ucap Ando pelan, dan kini ia kembali menangis, sembari menundukan wajahnya.


Duka ini terasa sangat mendalam baginya.


Sama sekali tak menyangka papa akan pergi secepat ini, padahal baru saja ia masih mengobrol dengannya.


Sejenak ia teringat kembali dengan obrolan papa yang terdengar serius dan dalam siang tadi, membuat kesedihannya kian bertambah.


Sama sekali tidak bermaksud memihak dan menghakimi salah satunya, karena bagi Ando, baik mama ataupun papa, mereka sama-sama orang tuanya.


Mama dan om Rendra, sudah membujuknya berulang kali untuk segera pulang, namun ia menolak, dengan alasan masih ingin menemani papa.


Pukul 17: 39 Ando kembali kerumah papa dan Riana, untuk membantu mempersiapkan acara tahlil, yang akan dilakukan sehabis magrib.


Sedangkan mama Indri dan om Rendra, pamit untuk pulang terlebih dahulu, karena memang jarak rumah mereka, kerumah mama Indri, terbilang lumayan dekat.


Seluruh saudara papa dan mama mulai berdatangan, dan mereka mulai berbisik dan bertanya-tanya mengenai tempat tinggal papa, yang baru mereka ketahui.


Terutama, tentang Riana, karena selama ini tidak ada satupun dari mereka yang mengenalnya.


Dan akhirnya mau tidak mau, Ando menjelaskan tentang kenyataan yang sebenarnya.


Meski pada akhirnya mereka semua terlihat syok dan tak percaya.


Dan membuat mereka melemparkan tatapan tak suka pada Riana.


....


....


Selesai tahlil, Ando berpamitan untuk pulang, karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya dirumah, ia yakin pasti Nada tengah menunggunya saat ini.


Ia sudah berbicara pada Riana sebelum pulang, bahwa besok ia tidak akan menghadiri tahlil sampai hari-hari berikutnya, karena ia akan mengadakan tahlil dirumahnya sendiri di Jakarta.

__ADS_1


Pukul 21:30 Ando baru saja sampai dirumahnya, nyelonong masuk, mengabaikan Nada yang mengulurkan tangan ketika hendak menyalaminya.


Membuat Nada merasa terheran-heran dengan sikap Ando yang tidak seperti biasanya.


Usai mandi dan berganti pakaian, Ando memeluk tubuh Nada dari belakang, ketika ia sedang menutup gorden jendela kamarnya.


Menghirup dalam-dalam Aroma tubuh Nada, yang membuatnya selalu merasa nyaman dan tenang.


Lalu Menempelkan ujung dagunya di bahu Nada.


Dan Nada berbalik menghadap kearahnya, ketika merasakan bahunya yang terasa hangat seiring dengan menetesnya air mata Ando.


"Abang nangis?" seru Nada, sembari mengusap kedua mata berair tersebut.


"Abang lagi ada masalah?"


"Kalau punya masalah cerita, jangan di pendam sendiri, biar abang ngerasa lega." lanjut Nada sembari menuntun Ando untuk duduk ditepi ranjang.


"Abang ihs, abang kenapa sih, cerita nggak, malah diem aja, aku tuh jadi bingung, abang maunya apa." Nada membrengut kesal.


"Papa meninggal sayang!" ucap Ando tiba-tiba dengan suara tercekat.


"Abang bercanda?" Nada menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Aku serius sayang, makanya aku pulang malem, dan nggak sempat hubungi kamu."


"Abang bohong, nggak lucu ih." namun matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku serius sayang!" menggenggam lembut tangan Nada.


"Kenapa abang baru ngasih tahu aku sekarang,?" Nada sudah mulai meneteskan air matanya.


"Maaf sayang, aku nggak mau buat kamu khawatir dan panik dirumah."


"Abang jahat! aku kan pengen lihat papa untuk yang terakhir kali."


"Sayang, maaf sayang!" Ando berusaha menenangkan Nada dan memeluknya.


"Apa yang terjadi sama papa bang?" seru Nada di sela isak tangisnya.


"Papa ternyata diam-diam kangker paru-paru, bahkan tante Riana yang serumah dengannya sama sekali tidak mengetahui keadaan papa." ucapan Ando terdengar sangat sedih di telinga Nada.


"Sayang mau kan bantu aku?" lanjutnya.


"Mengenai apa?" Nada mendongak, dengan wajah yang berurai air mata.


"Aku mau ngadain tahlil dirumah kita, karena aku nggak mungkin bolak balik kesana, sayang nggak keberatan kan?"


Nada mengangguk, "Kenapa abang harus bertanya, apapun keputusan abang aku pasti ikut kok."


"Kamu itu istri aku sayang, apapun yang akan aku lakukan, pasti akan meminta persetujuanmu terlebih dahulu."


"Iya bang!"


Lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada Ando, dan kini keduanya larut dalam kesedihan mendalam.


.

__ADS_1


.


__ADS_2