Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Kejujuran


__ADS_3

"Gila, Villa lo keren juga An, cocok nih sesuai harapan gue banget, kapan-kapan boleh dong ya kita maen lagi kesini, hitung-hitung buat mendinginkan otak iya nggak bro!" seru Danang, terlihat heboh sendiri, ketika mereka tengah duduk-duduk santai diatas karpet di teras Villa.


"Yo'i," balas yang lainnya kompak.


"Serah lo aja, gue sih kagak keberatan, kapanpun lo semua mau maen kesini, ya dateng aja, gue nggak bakal larang, walaupun nggak ada gue, tapi lo semua nggak usah khawatir, Villa ini ada yang urus, bi Surti namanya, jadi nanti sewaktu-waktu kalian mau main, tinggal mintain aja kuncinya sama dia."


"Tuh rumahnya samping kebun cabe!" tunjuk Ando kearah kebun cabe yang berbuah sangat lebat.


Dan kelima sahabatnya mengangguk mengerti.


.....


"Oh iya, ada yang mau gue omongin ke kalian semua nih, gue rasa kalian semua berhak tahu sekarang!"


"Karena sebentar lagi kita bakalan lulus, jadi nggak perlu lagi ada yang gue sembunyiin dari elo semua!" ucap Ando dengan raut wajah yang terlihat serius.


"Anjir, roman-romannya lo ini keknya mau ngomong serius banget deh, apaan sih gue jadi kepo!" seloroh Danang, beringsut mendekatinya, sudah siap untuk mendengarkan.


"Gue sama Nada udah." Ando memperhatikan raut wajah sahabatnya yang terlihat sangat serius, menunggu ia berbicara.


"Married." lanjutnya.


"Eh sumpah lo ya, kagak lucu bercandanya." Pandu menatapnya tak percaya, begitu juga dengan yang lainnya, menelan ludah hingga terbengong-bengong.


Sedangkan Agil yang sedang meminum soda menyemburkannya tepat kearah wajah Beny.


"Anjirrr, muka gue, sial*n!" Beny mengusap kasar wajahnya yang terkena semburan soda.


"Gue bakalan ngadain resepsi, setelah gue lulus sekolah." lanjut Ando tidak menghiraukan rasa ketidak percayaan sahabatnya.


"Anjir, lo serius nggak sih?" Danang masih tak percaya.


"Ini buktinya!" balas Ando santai, sembari mengeluarkan 2 buku nikah dari saku jaketnya, yang kini jadi rebutan sahabatnya, yang sangat penasaran ingin melihat buku tersebut.


"Jadi bener lo udah nikah, 7 bulan yang lalu, udah selama itu dan kita baru tahu sekarang, gila bener-bener lo ya," Pandu tak terima.


"Sorry bro, gue baru jujur sekarang, lo tahu sendiri lah, gue masih berstatus pelajar, kalau guru-guru sampai tahu, habis riwayat gue, bisa-bisa gue dikeluarin dari sekolah."

__ADS_1


Dan Setelah lama mereka saling terdiam, mereka mengangguk mengerti, toh pada Akhirnya mereka tahu dari kejujuran Ando sendiri, bukan dari orang lain.


"Ok bro gue ngerti, selamat ya atas pernikahan elo sama Nada, gue doain bahagia terus sampai nanti." ujar Pandu beranjak dari duduknya, menghampiri Ando dan memeluknya, serta memberi tepukan beberapa kali di bahunya.


"Gue nggak nyangka sumpah, cowok terkeren di sekolah, udah ngelepas perjakanya gitu aja," Danang ikut memeluknya.


"Tapi lo nikah bukan karena kecelakaan, atau si Nada tekdung duluan kan?" seloroh pandu yang masih menyimpan rasa penasarannya.


"Bini gue emang lagi bunting sekarang, tapi itu Asli 100% halal lo ya, bukan terjadi karena sebuah kesalahan," balas Ando.


"Ok ok, gue percaya, lo bukan tipe cowok model begituan."


Pandu terdiam beberapa saat, dan detik kemudian ia membelalakan matanya, " Eh apa lo bilang tadi, Nada bunting, itu tandanya bentar lagi lo bakalan jadi bokap, Anjirrr, si Ando mau jadi bokap." seru Pandu dengan suara meninggi, melirik kearah sahabatnya yang lain.


"Berisik lo!" dengus Ando.


"Ini sih gila parah, lo tega banget sih bro sama gue, lo married dan bahkan sebentar lagi lo punya buntut, disaat gue masih bergelar dengan status jomblo abadi gue!" seru Danang berakting sedih.


"Ya itu derita lo!" timpal Ramon, menimpuk kepalanya menggunakan kulit kacang yang sedang dimakannya.


"Jadi kapan nih resepsinya, gue jadi kagak sabar, eh jangan lupa nanggep organ, biar kita bisa joged-joged." seloroh Beny.


Malam itu mereka habiskan untuk mengobrol-ngobrol serta sesekali bernyanyi dan tertawa terbahak-bahak bersama.


Momen indah kebersamaan bersama sahabat menjelang kelulusan, sekaligus merayakan kelegaan Ando, atas kejujurannya pada sahabatnya, tentang hal yang sudah lama ia sembunyikan.


Pukul 00:31 Ando memasuki kamar, ia tersenyum melihat pemandangan yang selalu terlihat indah di depan mata, Nada istri tercintanya tengah terlelap dengan damainya.


Ando menaikan selimut yang teronggok dilantai, kemudian menyelimuti tubuh Nada, mencium keningnya dalam dan lama, yang merupakan rutinitasnya setiap hari ketika menjelang tidur.


"I love you sayang!" ucapnya pelan, dan ikut merebahkan diri di sampingnya.


Ia berusaha untuk memejamkan matanya, namun tak kunjung tidur, dan ketika rasa kantuk tak juga muncul, akhirnya ia memutuskan untuk menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang, dan ketika tangannya tak sengaja menyentuh perut Nada, ia terbelalak merasakan tendangan yang berasal dari perut istrinya.


Dengan senyum terkembang ia beringsut, menempelkan kupingnya disana, "Hei anak ayah kok nggak bobo sih, mau nemenin ayah begadang ya nak?" dan ia kembali tertawa geli, ketika si janin merespon ucapannya, dengan kembali menendang-nendang.


"Aduuhhh, pinternya anak ayah, udah kenceng aja ya sekarang nendangnya."

__ADS_1


"Lagi dong nak!"


dan


Duk!


Lagi-lagi Ando tertawa, membuat tidur lelap Nada sedikit terusik.


"Abang belum tidur?" seru Nada serak, dengan matanya yang setengah terpejam.


"Belum, eh maaf ya sayang, jadi kebangun gini, bobo lagi gih." Ando menahan tubuhnya, ketika ia hendak bangkit.


"Haus bang!"


"Ok, aku ambilin."


.....


.....


.


Usai kepergian papa 3 bulan yang lalu, tanpa di minta siapapun, Ando memutuskan untuk membantu membebaskan Devan kakak tirinya, yang beberapa waktu lalu terseret ke dalam jeruji besi, akibat dari perbuatan buruknya.


Semarah apapun hatinya selama ini, nyatanya tidak mampu berdiam diri begitu saja, ketika Riana sang ibu tiri harus menghadapi kenyataan hidup sendirian, tanpa anak dan suami, ia teringat kembali akan mama Indri yang pernah mengalami hal tersebut selama beberapa tahun.


Membuat hatinya semakin tak tega, ia memang bukanlah dewa, tapi ia juga bukanlah seseorang yang kejam dan membiarkan begitu saja, ketika melihat hidup orang lain menderita.


Bagi Ando, masalah antara Riana, papa, dan mamanya, sudah ia anggap selesai, ia sudah memaafkannya, karena menyimpan dendam selama itu tidak akan mendatangkan kebaikan apapun.


Terutama ketika ia sudah mengetahui bahwa ternyata Gilang, yang selama ini ia anggap anak papa dan Riana, ternyata hanya anak angkat, dan lebih mengejutkan lagi bahwa hal terakhir yang ia tahu, bahwa Gilang anak kandung om Rendra, anak suami baru dari mamanya.


Yang kini tetap mendapatkan posisi yang sama, yaitu sebagai adik tirinya.


Ia sempat tertegun, mendengar kenyataan hidupnya yang akhir-akhir ini penuh kejutan, namun hati kecilnya kembali menyadarkan, bahwa semua ini sudah kehendak-Nya.


Bukan sebuah kebetulan, tapi sudah digariskan oleh sang maha kuasa.

__ADS_1


.


__ADS_2