Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Menemui Juwita


__ADS_3

Hari demi hari Ando semakin disibukan dengan kegiatannya sebagai MABA (Mahasiswa Baru).


Bahkan kerap kali, ia tak mampu membagi waktunya dengan Nada sang istri tercinta.


Ia bersyukur karena di luar dugaannya, alih-alih marah, justru kini Nada yang semakin memberikan perhatian lebih untuknya.


Dan kini Ando sudah resmi menjadi mahasiswa di salah satu Universitas ternama di Jakarta.


"Maaf ya, sayang.. akhir-akhir ini aku sibuk terus, nggak bisa bagi waktu buat kamu, aku janji setelah ini bakalan lebih perhatiin kamu lagi." seru Ando, memeluk tubuh Nada.


"Aku ngerti kok bang, nggak apa-apa, abang yang giat ya belajarnya, biar cepet lulus." kekeh Nada.


"Berani ya, ngeledek suami? yakin deh, minta dihukum ini." Ando sudah menyatukan wajahnya dengan wajah Nada, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang berakhir dengan sebuah lum*tan dalam, penuh cinta dan menggebu.


"Ihs, Abaaangggg!" Nada mendorong dada Ando, yang enggan berhenti melahap bibir mungil miliknya.


"Kangen yang!" ucapnya, dengan suara yang sudah berubah parau, lalu tangannya terulur mengusap sisa saliva yang menempel di bibir sang istri.


"Abang ada kuliah pagi, nanti kesiangan kan nggak lucu, aku nggak mau punya suami yang nggak disiplin, berangkat gih!" Nada berusaha mendorong-dorong tubuh Ando, yang tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya.


"Coba aja kalau bisa!" ucap Ando santai.


"Abang berat ihs, banyak dosa tuh kayaknya!" tuduh Nada, membuat Ando kian tergelak keras.


"Yaudah deh aku berangkat dulu ya sayang, istriku yang cantik!" mengulurkan tangannya kehadapan Nada untuk disalami.


Dan ketika ia baru sampai diambang pintu, ia kembali menghampiri Nada, lalu memeluknya.


"Kok balik lagi?"


"Masih kangen yang!"


"Abangggggg!"


Ando hanya bisa meringis, menutupi kedua kupingnya, mendengar teriakan menggema dari sang Istri.


Namun semua itu lebih dari cukup memacu semangatnya, untuk memulai hari yang bahagia penuh cinta.


"Doain lancar ya sayang!" ucapnya, sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamarnya.


....


Sahabat Ando yang kembali bersama dibangku kuliah, hanya Pandu yang tersisa, sedangkan Danang, ia lebih memilih untuk kuliah di Jogja, tinggal bersama sang kakek.


"Ditempat baru lebih seger ternyata ya bro!"


"Banyak cewek-cewek bohay." lanjut Pandu.


"Apalagi yang ono noh," tunjuknya pada seorang Gadis yang menggunakan mini dress, memperlihatkan paha putih mulusnya, sedang duduk santai disebuah bangku, sembari membolak-balikan lembaran demi lembaran, buku yang di pegangnya.


"Kagak ***** gue!" balas Ando datar.


"Elahhhh, mentang-mentang udah punya bidadari dirumah!"


"Yaiyalah, bini gue udah yang paling Top bagi gue, nggak ada bandingannya sama cewek-cewek seantero kampus ini."


"Iya deh iya, tahu gue!"


Drrtttt...Drrttt..


"Hp lo getar tuh, angkat dulu siapa tahu penting, kali aja telpon dari bini lo." Seru Pandu, dengan mata yang Fokus memperhatikan segerombol gadis yang sedang berjalan melewatinya.


Ck!


Ando berdecak, kala melihat layar pintarnya tertera kembali nomor yang sama, yang beberapa hari ini mengganggu kenyamanannya, lagi dan lagi ia lupa untuk memblokirnya.


"Ada apa?" ucapnya datar, ketika telpon sudah tersambung.


"Aku pengen ketemu!" rengek seorang disebrang sana.


"Nggak bisa, gue sibuk!"


"kamu kok beda banget sih sekarang, jauh berbeda banget dari yang dulu." suaranya terdengar sedih.


"Karena gue yang dulu, sama gue yang sekarang itu beda, lo harus tahu itu."

__ADS_1


"Tapi aku pengen ketemu."


"Ok, dimana?"


"Aku yang nentuin tempatnya."


"Ok."


Dan panggilanpun terputus secara sepihak, siapa lagi kalau bukan Ando yang melakukannya.


"Siapa sih bro?" tanya Pandu penasaran.


"Masalalu, udah yu ah cabut, bentar lagi dosen mata kuliah datang tuh."


....


Seperti biasa, meski saat ini Nada sudah mulai kesusahan untuk bergerak, karena perutnya sudah sangat membuncit, ia tetap setia melayani kebutuhan suaminya, seperti menyiapkan baju, makan, serta menemani ia belajar serta segala sesuatu lainnya yang dibutuhkan suaminya.


Meski Ando berulang kali melarang, namun Nada tetap bersikukuh, karena ia masih merasa sanggup untuk mengerjakan semuanya.


"Kalau aku ajak keluar, kira-kira masih kuat nggak yang?" Ando mengelus perut Nada yang semakin terasa kencang jika disentuh.


"Mau kemana bang?" Nada memperhatikan raut wajah Ando, yang terlihat serius.


"Lusa, aku mau ngajak kamu kesuatu tempat, mau ya?"


"Sekalian mau mengenalkan seseorang."


Deg!


"Siapa?"


"Juwita."


Deg!


Nada berusaha untuk terlihat lebih tenang dihadapan Ando, dengan cara menelan ludahnya meski dengan susah payah, berulang-ulang menghela nafasnya yang terasa berat.


Baru kali ini ia merasa, jika Ando memiliki perasaan yang berbeda dengan perempuan lain.


"Aku sengaja mau ngenalin kamu langsung ke dia, biar semuanya nggak salah paham."


"Aku nggak mau dia berharap lebih sama aku, begitu juga dengan istriku, aku nggak mau kalau dia salah paham sama aku, dan mengira dimasa lalu aku mempunyai hubungan sepesial dengan dia."


"Maaf sayang maaf banget, selama beberapa hari ini, bahkan mungkin sudah sebulan yang lalu, dia sering menelponku, meski sering juga aku mengabaikannya."


"Mama yang ngasih nomor telpon aku, karena dia yang memaksa."


"K-kok bisa dia tahu nomor telpon mama?" akhirnya Nada memberanikan diri untuk bertanya.


"Dia sempat ketemu mama di mall,"


Nada mengangguk dengan perasaan sedih, ia tahu cobaan dalam berumah tangga itu tidak mudah, semuanya pasti mengalami.


Meski dengan masalah yang berbeda.


Saat ini, ia hanya bisa berdo'a semoga kedepannya ia dan Ando bisa saling menggenggam, bertahan dalam terpaan badai yang menggoyahkan.


"Aku minta maaf sayang, aku akan berusaha untuk meluruskannya, kamu percaya kan sama aku yang?"


Nada tidak menjawab, ia memilih memeluknya dan menumpahkan tangisnya di dada Ando.


Membuat Ando bingung bukan main, namun seperti biasa, Ando selalu memiliki cara untuk menenangkan hati istrinya.


"Aku nggak akan berpaling dari siapapun yang, cuma kamu yang aku mau, harus ingat lho kata Dokter Erin, jangan membebani pikiran, apalagi bersedih, nanti dedenya ikut merasakan yang di rasain bundanya, sayang emang nggak kasian sama Baby hm?" ucap Ando, sembari mencium kepalanya berulang-ulang.


Kemudian Ando menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, menciumi satu persatu kelopak mata istrinya yang basah.


"I love you so much!" bisiknya.


Dan selanjutnya, Ando membawa Nada menyelami lautan cinta yang membawanya pada pusaran kenikmatan yang tak tergambarkan.


Bergelora, dan memabukkan.


...

__ADS_1


...


"Bang?" Nada menahan tangannya ketika Ando hendak keluar, dan turun dari mobil.


"Kenapa sayang?" Ando melihat kecemasan yang terpancar jelas dari raut wajah istrinya.


"A-aku." Nada tertunduk, tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Nggak apa-apa sayang!" Ando menggenggam lembut tangan Nada, yang memilih berjalan dibelakangnya.


"Juwi," ucapnya, ketika berada di belakang seseorang yang sedang duduk dibangku kecil menghadap danau buatan, yang pagi itu terasa sejuk dan nyaman.


Gadis yang bertubuh langsing, serta berambut sedikit kecoklatan itu menoleh, dan tersenyum kearahnya.


"Ando, akhirnya kamu datang juga, aku kangen banget tahu nggak!" hendak memeluk tubuhnya, namun urung, karena Ando lebih dulu menahannya.


"Ju, gue udah married, tolong jangan bersikap kaya anak kecil seperti dulu, gue ingetin sama elo ya, kehidupan kita yang dulu dan sekarang itu jelas berbeda."


"Aku nggak percaya An, aku yakin selama ini kamu pasti masih nungguin aku kan, sama kaya aku yang selalu setia nungguin kamu."


"Nggak, elo salah besar ju." Ando menggelengkan kepala, tidak setuju dengan ucapan Juwita barusan.


"Tapi kenapa selama ini kamu nggak pernah upload satupun foto cewek, di akun sosial media kamu?"


"Karena selama ini, gue nggak punya cewek, dan gue nggak pernah pacaran!"


"Kamu kok tega banget sih sama aku An, kamu udah ingkar Janji tahu nggak?" ucap Juwita dengan mata berkaca-kaca.


"Aku nggak pernah janji Juwita." bentak Ando kesal.


"Aku tuh jauh-jauh dari Surabaya datang kesini cuma buat ketemu kamu An, tapi ini balasan kamu ke aku hah?"


"Gue nggak minta, dan gue nggak nyuruh, asal lo tahu!"


"Nih kenalin, ini Istri gue, Denada Sena Gantari namanya." Ando menarik pelan tangan Nada, yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


"Oh jadi ini istri kamu," ucapnya sambil terisak, Juwita menatapnya tak suka, pandangannya terarah pada perut Nada yang membuncit besar, karena kini usia kandungannya sudah memasuki usia 8 bulan.


"Kamu nikahin perempuan model apa sih An?" ia tertawa mengejek.


"Eh, maksud lo apa?" bentak Ando tak suka, dengan ucapan Juwita yang merendahkan Istrinya.


"Kamu dibayar berapa sih, sampai mau nikahin wanita hamil begitu, aku tahu An, tahun ini kamu baru lulus SMA kan, nggak mungkin dong kamu udah nikah disaat masih sekolah."


Ucapan Juwita barusan, sontak membuat kedua tangan Ando terkepal sempurna, bahkan kini rahangnya telah mengeras, menahan Amarah.


"Lo tahu kenapa gue mau nemuin elo disini?"


Juwita menggeleng.


"Karena gue pengen nyelesain kesalah pahaman ini secara baik-baik, gue nggak mau nyakitin perasaan perempuan secara berlebihan."


"Apa maksud ucapan elo barusan, gue nikahin dia karena dibayar, gila! sakit lo ya."


"Elo harus tahu, kalau anak ini." menyentuh perut Nada.


"Darah daging gue!" lanjut Ando.


"Dan elo jangan berpikir buruk tentang anak gue, dia hadir setelah gue melakukan ikatan suci dengan istri gue 9 bulan yang lalu,"


"Buang isi kepala kotor lo, mengenai keluarga kecil gue!"


"Gue nggak terima elo anggap rendah istri dan anak gue!"


"Aku nggak percaya An, aku nggak percaya kamu jadi berubah begini." Juwita berteriak histeris.


Sementara Nada sejak tadi hanya terdiam, lidahnya seakan kelu untuk berucap.


"Terserah!"


"A-aku minta maaf, tapi aku masih pengen temenan sama kamu boleh kan An?"


"Gue nggak berteman dengan perempuan!" balas Ando datar.


.

__ADS_1


.


__ADS_2