Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Penasaran


__ADS_3

"Aku mau nemuin seseorang dulu diluar, mau ikut nggak?" ucap Rendra, ketika pagi ini mereka tengah sarapan bersama di meja makan.


"Kalau aku nggak ikut, nggak apa-apa kan? aku lagi males keluar mas, pengen istirahat aja gitu dirumah." balas mama Indri yang hari ini memang wajahnya terlihat sangat lesu dan pucat.


"Ok, nggak masalah, tapi kamu nggak marah kan kalau aku keluar buat nemuin seorang perempuan, katanya sih teman aku dulu, dia nggak sengaja ketemu Gilang kemarin, betul begitu kan nak?" menoleh kearah Gilang, yang mendapat anggukan spontan darinya.


"Jadi perginya berdua, di temenin Gilang?" mama Indri kembali bertanya.


"Iya sama Gilang juga, kan dia yang tahu tempatnya ngajak ketemu, lagian lebih aman aja gitu kalau datangnya berdua, untuk menghindari fitnah juga, iya nggak boy?" mengusap pelan kepala putranya.


"Yaudah mas nggak apa-apa, tapi jangan lama-) lama ya, soalnya nanti siang aku mau kerumah Ando dan Nada, kangen sama si kecil Syahki."


"Tadi katanya mau istirahat?"


"Iya, sekarang aku mau istirahat, siangnya mau kesana."


"Wah, aku juga mau ikut dong, sama kangen juga sama si kecil, kira-kira udah bisa apa ya dia?" ucap Rendra antusias, meskipun baby Syahki bukan cucu kandungnya, tapi ia begitu menyayangi bayi tampan tersebut seperti cucunya sendiri.


"Gilang boleh ikut juga kan ma pa," timpal Gilang dengan mata berbinar.


"Boleh dong, kenapa enggak?" balas mama Indri, membuat Gilang tersenyum senang.


...


...


"Dimana katanya boy?" seru Rendra, ketika kini mereka sudah berada di salah satu Restaurant ternama di Bandung.


"Di meja nomor 21 katanya pa." balas Gilang, sembari membacakan chat yang dikirimkan Maya padanya.


"Ok, kita meluncur kesana." ujarnya dan berjalan terlebih dulu.


Rendra berjalan menghampiri meja dengan nomor 21, disana sudah ada seorang wanita berambut sebahu, sedang duduk membelakangi nya.


"Dengan bu Maya?" seru Rendra, sebelum menarik kursi yang berada di sampingnya.


Deg!


Rendra terlonjak kaget, ketika wanita yang bernama Maya itu menoleh kearahnya.


"Gimana kabarnya mas?" mengulurkan tangannya pada Rendra.


Meski kini perasaannya sedang berkecamuk, namun Rendra berusaha untuk mengendalikan diri.


"Gilang, tunggu sebentar disini ya, ada hal yang mau papa bicarakan sama tante Maya, sangat penting!"


"Sambil nunggu papa kembali, Gilang boleh pesan apapun yang Gilang mau." ucap Rendra, menoleh kearah putranya.


Gilang yang merasa keadaan disekitarnya mulai mencekam, kini hanya bisa menganggukan kepala, mengikuti saran sang papa.


"Ikut saya!" ucap Rendra datar, sembari berjalan terlebih dahulu.


Sedangkan Maya, hanya menurut mengikuti langkah Rendra, yang kini membawanya masuk ke sebuah Cafe yang terletak tidak jauh dari Restaurant tersebut.


"M-mas?" Maya lebih dulu membuka suara, setelah lama terjadi keheningan diantara keduanya.


"Kenapa kita harus ngobrol disini?"


"Lalu kita harus ngobrol dimana, menurut kamu?"

__ADS_1


"Didepan Gilang, agar dia syok dan sedih, begitu?"


Balas Rendra dengan tatapan sinis.


Karena Rendra yakin, mantan istrinya itu pasti sudah mengetahui siapa Gilang sebenarnya.


"Sekarang kamu udah banyak berubah ya mas, aku sampai kaget tahu nggak?" sambungnya, dengan wajah yang berubah sendu.


"Semua orang pasti bisa berubah, tergantung keadaan, dan tergantung kemauan."


"Masa lalu, mengajarkan saya tentang nilai kehidupan,"


"Kamu nyindir aku mas?"


Rendra tersenyum kecut, "Saya tidak menyindir!"


"Lalu?"


"Saya hanya mengatakan, kalau masa lalu mengajarkan saya tentang nilai kehidupan, bercermin diri, melihat kekurangan mana yang harus saya perbaiki."


"Ini sama sekali tidak ada kaitannya sama kamu," lanjutnya.


"Kamu udah bener-bener ngelupain aku mas?"


"Maksudnya?"


"Apa kamu udah nggak ada lagi perasaan cinta sama aku?"


Rendra terkekeh, sembari memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman, "Cinta,? cinta yang seperti apa?"


Maya terdiam, dan menelan ludahnya susah payah, mantan suaminya itu benar-benar sudah berubah dari sisi mana pun. batin Maya.


"Tapi nyatanya, saya tidak perlu melakukan apapun, untuk melupakan kamu, karena satu kesalahan fatal kamu dengan meninggalkan anak kita di panti asuhan pun, seketika sudah membuat saya lupa akan Cinta."


ucap Rendra dengan emosi yang mulai meluap, mengingat kembali kejadian 15 tahun silam.


"A-aku minta maaf mas, atas kesalahanku di masa lalu, tapi asal kamu tahu, selama ini aku tidak pernah mendapatkan ketenangan, selama ini aku selalu dihantui rasa bersalah, sama kalian berdua, kamu dan Gilang."


"Terus sekarang saya mau tanya, tujuan kamu mengajak saya bertemu untuk apa?" ucap Rendra sarkas, yang tanpa sadar membuat hati Maya merasa tersayat.


"Gilang, anak kita kan mas?"


Rendra kembali tersenyum kecut, "Sejak kapan kamu menganggap dia anak?"


"Mas?"


"Gilang anak saya dan Indri!"


"Mas?"


"Tidak ada yang pantas menjadi ibunya, selain Indri,"


"Masss?" air mata yang sejak tadi sudah menggenang dipelupuk matanya, kini lolos tanpa bisa dicegah.


"Aku ini ibunya, kamu nggak bisa ngelupain satu kenyataan itu."


"Heuh ibu,? ibu macam apa yang sudah membuang anaknya tanpa perasaan."


"Dulu aku khilaf mas!"

__ADS_1


"Dan sekarang kamu mau bilang menyesal,? terlambat!"


"Mas, tolong beri aku kesempatan, bantu aku agar bisa ngomong ke Gilang, kalau aku ini ibu kandungnya."


"Maaf, saya nggak bisa bantu apa-apa, yang harus kamu tahu Gilang bukanlah anak kecil lagi, dia sudah mengerti hal-hal sekecil apapun, jadi silahkan kamu pikirkan sendiri, bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan semuanya pada Gilang."


"Maaf, saya tidak bisa lama-lama berbicara dengan orang asing, khawatir akan menciptakan sebuah kesalah pahaman, dan memicu masalah baru dikeluarga saya, permisi!"


Deg!


"Mas?"


"Apa kamu bahagia dengan istri baru kamu sekarang?" seru Maya, yang berhasil memancing Rendra, kembali menghentikan gerakannya yang hendak bangkit dari duduknya.


"Tentu saja, saya sangat bahagia, dan saya merasa sangat beruntung memiliki istri seperti dia."


"Baiklah, saya pikir urusan kita sudah selesai, kasian


Gilang pasti sedang menunggu saya sekarang."


Tanpa menoleh lagi, Rendra bergegas melangkah meninggalkan area Cafe.


Sedangkan Maya, menatap nanar pada punggung tegap milik mantan suaminya tersebut.


..


"Udah pesan makanannya boy?" seru Rendra, mengagetkan Gilang, yang sedang asik berbalas chat dengan teman-temannya.


"Udah nih pa," menunjuk makanan yang berada dihadapannya.


"Papa lama ya?"


Gilang menggeleng, "nggak kok pa!"


"Papa sama tante Maya abis dari mana sih?"


"I-itu biasalah bahas masa lalu."


"Masa lalu apa?"


Gilang menatapnya dengan kening berkerut.


"Papa nggak bisa jelasin sekarang nak, tapi papa janji suatu hari papa akan beritahu semuanya pada Gilang."


"Hmmm, yaudah!"


Setelah menghabiskan seluruh makanan yang mereka pesan, akhirnya kini keduanya memutuskan untuk pulang.


Selama perjalanan pulang, Di dalam mobil hanya ada keheningan yang tercipta, Rendra yang biasanya banyak bertanya mengenai kegiatan Gilang, kini hanya diam membisu.


Gilang sempat menoleh beberapa kali, memperhatikan raut wajah sang papa, yang nampak bergeming dengan wajah datar.


Ia yakin, pertemuannya dengan bu Maya tadi, yang membuat sang papa menjadi seperti ini.


Hingga berbagai pertanyaan kini muncul, dan berputar didalam otaknya.


siapa sebenarnya wanita yang bernama bu Maya itu? batinnya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2