
Setelah melewati berbagai macam drama serta tas yang tertinggal di meja makan ulah Ando, kini Nada bernafas sedikit lega, karena mobil yang ditumpanginya sudah mulai melesat menuju Rumah sakit ibu dan anak tempat ia akan bersalin.
"Aduh bang, sakit banget!" Nada kembali merengek menggenggam tangan Ando, ketika rasa mulasnya semakin kuat dan beraturan.
"S-sabar yang, bentar lagi nyampe kok, Mang lebih cepet dong!" Ujar Ando melirik sekilas kearah jok depan dimana mang Jajang sedang fokus menatap jalanan sembari mengemudikan mobil.
"Iya den, siap den!" balas mang Jajang, sembari mempercepat laju kemudinya.
"Shshhhhssssshh... shshhhsssssshh.." berulang kali Nada merintih, sembari menarik dan membuang nafas secara perlahan.
"Sabar ya sayang, sabar!" Ando terus menggenggam tangannya, berusaha untuk menyalurkan kekuatan pada Nada, walau ia yakin, hal tersebut tak dapat mengurangi rasa sakit, yang tengah dirasakan sang istri.
Setelah sampai di Rumah sakit, Ando sudah disambut oleh para petugas medis, yang sudah mempersiapkan brankar untuk Nada, serta Dokter Erin yang juga sudah siap-siaga menunggunya.
Meski kepanikan yang luar biasa tengah melanda hatinya, rupanya saat di mobil tadi Ando masih sempat terpikirkan untuk menghubungi Dokter Erin terlebih dahulu.
Khawatir Dokter Erin sedang sibuk mengurusi pasien yang lainnya, karena ia tak mau jika istrinya terlambat untuk ditangani.
Nada dibawa kedalam ruangan observasi terlebih dahulu, untuk mengecek bukaan serviks.
Namun, tidak lama kemudian Nada dipindahkan keruang bersalin, karena bukaan sudah lengkap, dan sudah waktunya bayi untuk dilahirkan.
Sedangkan Ando diminta Dokter Erin untuk masuk kedalam, menemani sang istri untuk berjuang melahirkan anaknya.
Dengan tubuh gemetar, serta langkah yang terasa berat, Ando berusaha sekuat tenaga, serta meneguhkan hati agar terlihat baik-baik saja didepan Nada.
"Baik, kita mulai ya mbak Nada, ikuti aba-aba saya!" seru Dokter Erin, ketika air ketuban Nada sudah pecah dan menyembur keluar.
"Mas Ando, beri semangat untuk istrinya ya, jangan tegang, rilexs aja!"lanjut Dokter Erin, sembari tersenyum kearahnya.
"Ayo, tarik nafas dalam-dalam, buang perlahan.. dan dorong!" seru Dokter Erin memberi aba-aba pada Nada, yang kemudian diikuti olehnya.
"Semangat sayang, semangat!" Ando berulang kali menciumi keningnya, dengan air mata yang berderai, ini merupakan pengalaman pertamanya, mendampingi seseorang yang hendak melahirkan.
Terlebih ini adalah istrinya, yang sedang berjuang untuk menghadirkan buah hatinya kedunia.
Setelah melewati Usaha keras, Nada mengejan dengan penuh perjuangan antara hidup dan Mati, akhirnya pukul 12:33 anak pertama mereka lahir kedunia dengan keadaan selamat dan sehat.
"Alhamdulillah, bayinya laki-laki sehat dan tampan." seru Dokter Erin, menyerahkan bayi tersebut kearah Nada untuk di dekap dan di beri IMD (INISIASI Menyusu Dini).
Nada meneteskan air mata haru melihat mahluk kecil yang berada didekapannya, dan kini sedang mendusel, mencari sumber kehidupannya.
Sedangkan Ando hanya terbengong-bengong layaknya orang syok dan kebingungan.
Antara sedih, terharu, bahagia, dan rasa tak percaya menjadi satu.
.......
Setelah mengadzani anaknya, Ando keluar dari ruangan bersalin dengan wajah lelah dan lusuh, dua kancing baju bagian teratasnya hilang, memperlihatkan goresan bekas cakaran, serta rambut acak-acakan, membuat penampilannya kini terlihat sangat tak karuan.
"Nak Ando, gimana Nada nak,?" mama Sarah berlari menghampirinya dengan raut cemas, ditambah melihat penampilan Ando membuatnya semakin merasa khawatir.
"Iya Nak, bagaimana keadaan Nada?" sambung papa Abidzar, yang tak kalah khawatir.
Meski bingung karena kehadiran mama serta papa yang tiba-tiba berada disana, ia tetap menjawab pertanyaan mereka.
"Alhamdulillah ma pa, Nada baik-baik aja, sekarang lagi istirahat, bayinya udah lahir, dan jenis kelaminnya laki-laki." balas Ando tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah papa kita punya cucu laki-laki." jerit Mama sarah kegirangan.
"Iya ma, ahh papa seneng banget, ayo kita lihat cucu kita ma!" ujar papa menarik tangan Mama Sarah.
"Jadi bayinya udah lahir den?" seru bi Mimin dan mang Jajang antusias.
__ADS_1
Ando mengangguk, "Udah mang bi,"
"Alhamdulillah!" ucap mereka bersamaan.
"laki-laki apa perempuan den?"
"Alhamdulillah laki-laki."
"Yaampun punya jagoan baru kita, terus Aden, itu kenapa dadanya banyak goresan kaya gitu?" bi Mimin tak bisa lagi menahan rasa penasarannya, melihat penampilan Ando yang kini jauh berbeda dari sebelum masuk ke Ruang bersalin.
Ando yang duduk bersender dikursi tunggu menoleh sekilas kearah bi Mimin sembari tersenyum kecut.
"Kena sasaran bi!" balasnya sembari terkekeh.
"Aduh den yang sabar ya, mamang juga waktu istri mamang melahirkan dulu, pernah ngalamin kaya gitu, dijambak, dicakar, muka di uyel-uyel, beuuhhh itu selesainya, perih semua!" seloroh mang Jajang sembari tergelak.
"Ya wajarlah digituin doang mah, apalagi yang jadi istri Jang, uhh sakitnya nggak ada duanya kalau mau tahu, perjuangan antara hidup dan mati banget."
"Makanya, para suami itu harus bisa menjaga perasaan istrinya, jangan sampai menyakiti, sudah sakit fisiknya, kamu tambah sakiti hatinya juga." lanjut bi Mimin.
"Iya bi, saya mah nggak pernah nyakitin dia, wong saya nya aja jarang pulang, gimana mau nyakitin!" kekeh mang Jajang.
"Ah, Jajang kamu bisa aja!"
Sedangkan Ando diam-diam merenungi ucapan bi Mimin barusan, terutama saat mengingat kembali wajah istrinya yang seperti sangat kesakitan, ketika hendak mengeluarkan anaknya tadi,
Masih terngiang-ngiang dikepala.
Namun anehnya, setelah anak itu lahir, justru tak ada lagi tanda-tanda sakit ataupun sedih diwajah Nada, yang ada hanya senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
Wanita tangguh, luar biasa!
Ia berjanji dalam hati, mulai sekarang akan lebih mengutamakan istrinya dibanding yang lain.
"Iya den, bibi yang kasih tahu tadi waktu di mobil, karena bibi pikir Aden nggak bakalan sempet, tadi aja waktu dirumah panik sendiri terus." kekeh bi Mimin.
"Iya bi, makasih banyak, saya emang sama sekali nggak kepikiran kesitu." balasnya meringis malu.
"Ibu Indri sama pak Rendra juga sedang perjalanan menuju kesini den, mungkin agak telat katanya, karena jalanan sedikit macet."
"Bibi ngabarin mama juga?"
"Iya atuh den, masa ada kabar bahagia nggak dikasih tahu."
"Yaampun bi, makasih banyak lho, saya nggak tahu deh kalau nggak ada bibi."
"Iya den, santai aja atuh ih ari si aden."
....
Pukul 19:17 setelah selesai membayar administrasi, Nada beserta bayinya sudah diizinkan pulang, meski tadi Ando sempat membuat ulah kembali, karena lupa membawa dompet, beruntung ada mama Indri jadi semuanya masih bisa teratasi.
Dan ketika sampai dirumah, suara gelak tawa dari mama, papa, terdengar menggema memenuhi ruang keluarga, menertawakan cerita bi Mimin, tentang Ando yang kebingungan dan salah tingkah, ketika Nada mengalami kontraksi siang tadi.
Namun Ando memilih tak peduli, ia melengos pergi menemui istri dan bayi mungilnya.
"Yang!" ucapnya, Ketika pintu kamar sudah terbuka dan menampilkan sosok Nada yang sedang memberi ASI pada bayinya.
"Abang, jangan berisik dedenya mau bobo." seru Nada menempelkan telunjuk dibibirnya.
"Eh,"
Ia sempat mencium kening Nada, sebelum akhirnya memilih untuk duduk disisi ranjang disamping Nada.
__ADS_1
"Hallo anak ayah, haus ya nak?" menekan pelan pipi sang bayi menggunakan telunjuknya.
"Yah, sekarang punya saingan deh!"
"Maksudnya?" Nada menatapnya dengan kening berkerut.
"Tuh!" tunjuk Ando menggunakan dagunya mengarah pada dada Nada, yang sedang dihis ap oleh sang bayi.
"Abangggg!" mencubit pinggangnya gemas, membuat Ando tergelak keras.
"Tuh kan jadi bangun lagi, abang berisik sih!"
Gerutu Nada, yang justru selalu terlihat menggemaskan bagi Ando.
Ando menggenggam lembut sebelah tangan Nada, lalu diciumnya berulang kali.
"Yang!"
"Hmmmm."
"Makasih banyak ya yang, kamu udah berjuang buat anak kita, aku bangga banget sama kamu sayang."
"I love you." lanjutnya.
"Ihs, apaan sih bang! Kenapa harus bilang makasih segala, ini kan memang udah menjadi qodratnya perempuan ya seperti ini."
"Tetap aja, aku harus ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya sama kamu yang!"
"Udah ihs, abang ngomong apaan sih!"
"Yaudah, kalau begitu sekarang kita bahas nama si baby ya!"
"Abang udah nyiapin namanya?"
Ando mengangguk, "Gimana kalau kita kasih nama Arsha El-syahki Arsenio."
Nada menoleh dengan mata berbinar." Boleh bang! panggilannya Syahki ya."
Ando tersenyum, " Iya sayang."
"Hallo baby Syahki kesayangan ayah?"
Seru Ando mengelus hidung mungil sang bayi.
"Ganteng ya yang, kaya Ayahnya." lanjut Ando dengan kepercayaan dirinya yang luar biasa.
Membuat Nada mendengus kearahnya.
"Abang mau gendong?"
"Emang boleh?"
"Ya boleh."
"Tapi aku takut yang!"
"Kenapa?"
"Bayinya kecil banget."
"Abaaangg!"
.
__ADS_1
.