Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Tanda tangan


__ADS_3

Bandung..


"Mas jordy capek ya?" Tanya Riana saat mendapati suaminya tengah berbaring diatas sofa dengan mata terpejam.


"Hmmmm.." Ia bangun memposisikan tubuhnya untuk duduk bersila.


"Devan kemana?"


"Biasa mas, ikutan balap motor sama teman-temannya."


Papa Jordy beranjak meraih cangkir yang berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas, yang di sediakan Riana, lalu menyesapnya secara perlahan.


dan menyimpannya kembali ditempat semula.


Ia menghembuskan nafasnya yang terasa berat.


"Ri, bisa nggak sih kamu lebih tegas lagi terhadap Anak itu, aku perhatikan makin hari tingkahnya selalu ada aja, kemarin mabuk-mabukan sekarang balapan, mau jadi apa sih anak itu."


"Aku fikir mungkin dia ingin menikmati masa mudanya mas."


"Menikmati masa muda yang bagai mana sih Ri, jelas-jelas masa mudanya di habiskan buat hal-hal buruk kaya gitu." Papa Jordy beranjak dari duduknya melangkah menuju kamar.


"Nggak ada bedanya kan sama Ando!"


Mendengar nama Ando disebut, sontak ia menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya menghadap Riana.


"Jelas beda, bahkan jauh berbeda!"


"Oh jadi sekarang kamu mulai beda-bedain Antara Devan dan Ando gitu mas?" ucap Riana dengan intonasi tinggi.


"Kamu yang mulai Ri, bukan aku!"


"Kamu berubah tahu nggak sih mas."


"Berubah bagaimana, aku masih Jordy yang sama Ri."


"Kamu tuh yang berubah, nggak kaya biasanya kamu marah-marah gitu!" lanjut papa Jordy.


"Apa benar kamu udah nggak tinggal serumah sama Indri mas?"


"Tahu dari mana?" ucapnya dengan kening mengkerut, lalu menatapnya heran.


"Tinggal jawab aja, bisa kan mas!"


"Iya, aku memang udah nggak serumah sama Indri hampir 7 tahun."


"K-kenapa?" Riana melongo tak percaya.


"Besok lagi kita bahas, sekarang aku ngantuk butuh istirahat!" tanpa menunggu respon Riana ia segera memasuki kamar, melemparkan tubuhnya keatas temapt tidur.


Masalah yang bermunculan akhir-akhir ini membuatnya tak bisa berfikir dengan jernih dan tidak menemukan cara mengatasinya, ditambah pekerjaan yang menumpuk membuatnya merasa lelah berkali lipat.


....


Di tempat lain Ando sedang bersenandung ria mendengarkan lagu favoritnya, sesekali bibirnya ikut bergerak menyanyikan lagu tersebut.


Well, you done done me and you bet I felt it


I tried to be chill, but you're so hot that I melted


I fell right through the cracks


Now I'm trying to get back

__ADS_1


Before the cool done run out


I'll be giving it my bestest


And nothing's gonna stop me but divine intervention


I reckon it's again my turn


To win some or learn some


But I won't hesitate no more, no more


It cannot wait, I'm yours


Hmm (hey, hey)


Well, open up your mind and see like me


Open up your plans and, damn, you're free


And look into your heart, and you'll find love, love, love, love


Listen to the music of the moment, people dance and sing


We're just one big family


And it's our God-forsaken right to be loved, loved, loved, loved, loved


So I won't hesitate no more, no more


It cannot wait, I'm sure…


...I'm yours-josen mraz...


Ia hanya ingin menenangkan diri sembari mencari cara untuk melancarkan misinya.


Usai mengantar Nada tadi pagi dari Rumah sakit, pulang kerumah baru yang diberikan mama Indri. ia langsung berangkat sekolah, dan meminta izin pulang sore pada Nada.


"Yang, jangan nungguin aku ya, mungkin aku pulangnya agak sorean!" Ucap Ando sembari mengelus kepala Istrinya.


"Kamu mau kemana?"


"Pergi kemana"


"Ish jangan macam-macam ya awas!"


Begitulah rentetan kalimat yang di ucapkan Istrinya saat ia hendak berangkat sekolah tadi pagi.


Namun ia hanya menanggapinya dengan senyuman.


Lalu pergi meninggalkannya bersama mama Indri yang juga ikut menjemputnya dari rumah sakit.


Ando meraih benda pintarnya dari saku celananya, dan menelpon seseorang yang membuatnya geram akhir-akhir ini.


Begitu telponnya tersambung, tanpa basa-basi terlebih dahulu ia langsung mengutarakan apa yang di maksudkannya.


"Ando mau ketemu!"


"Ando tunggu jam 3 sore Ini, di kencana Cafe!"


lalu menutup telponnya secara sepihak, tanpa menunggu respon dari seseorang yang berada di sebrang sana.


........

__ADS_1


Pukul 15:10 sore, Ando sudah berada di Kencana Cafe, Namun sudah 10 menit ia berada disana, orang yang ditunggunya tak juga muncul menunjukan batang hidungnya.


Berulang kali ia menghubungi nomor Handphone nya namun selalu tidak Aktif.


"Awas aja kalau sampai nggak datang!" gumamnya. sembari meminum Americano pesanannya, yang baru saja diantarkan oleh pelayan Cafe.


Kreettt..


Suara bunyi kursi yang ditarik, membuatnya menoleh kearah suara.


"Sorry papa telat," Ucapnya yang langsung mendudukan dirinya diatas kursi tepat di hadapan Ando.


Yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Ando.


"Langsung aja!" ucap Ando datar tanpa expresi.


"Ada yang mau Ando omongin, tolong di cerna baik-baik!"


Papa Jordy memandangnya dengan tatapan penuh tanya.


"Tolong tanda tangani ini!" mengeluarkan kertas bersampul coklat kearah sang papa, yang dia Ambil dari dalam tasnya.


"Apa ini?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Surat cerai mama dan papa."


Membuat papa jordy mengerjap tak percaya.


"Kenapa kamu lakuin ini sama papa Ando?" Ucapnya dengan suara yang sedikit keras. hingga mengakibatkan beberapa pengunjung Cafe saling melirik kearahnya.


Ando tersenyum sinis, "heuh Kenapa, papa bilang?"


"Papa lupa sama semua yang udah papa lakuin ke Ando dan mama!" Ucapnya dengan rahang mengeras.


"Tolonglah Ando kasih papa kesempatan untuk memperbaiki semuanya, papa belum siap pisah sama mama kamu!" Dengan tatapan memohon.


Cih!


"Memperbaiki apanya, semuanya sudah hancur pa, nggak ada yang bisa di perbaiki, dan lagi Apa papa bilang barusan, belum siap pisah!" Ando tertawa sumbang.


"Bukannya sudah 7 tahun lamanya mama sama papa pisah, lalu apa bedanya sama sekarang Ck!"


"Papa jangan serakah dong, jangan egois, cuma mementingkan diri sendiri, nggak pernah memikirkan perasaan Ando sama mama."


"Ando, kamu sekarang mulai berani ya sama papa, mengambil keputusan sepihak tanpa mempedulikan papa!" bentaknya.


Ando tersenyum kecut, "Aku bukan Ando yang dulu pa, Ando yang selalu penurut, Ando yang selalu menghormati papa, sekarang udah nggak ada lagi!"


"Aku tidak mengambil keputusan sepihak, tapi dari dua pihak yaitu mama, lepaskan mama, mama berhak bahagia!"


"Laki-laki seperti papa tidak pantas mendampingi hidup mama,"


Plaaakkkk...


Satu tamparan keras, menghantam pipi mulus Ando.


"Anak kurang ajar, Beraninya kamu berkata begitu sama papa, dasar anak tidak tahu di untung, saya menyesal mempunyai Anak seperti kamu, kamu dan mama kamu emang sama aja, nggak berguna!" Ia meraih kertas yang tergeletak di Atas meja, lalu menandatanganinya dengan penuh emosi.


Plukk.


Ia melemparkannya tepat diwajah Ando.


Lalu beranjak pergi dengan emosi yang meluap-luap.

__ADS_1


__ADS_2