
"Waduh ~bisa hancur tu pintu!" ujar Nisa yang sambil mengelus dadanya.
Nisa tidak berhenti begitu saja, dia terus mengikuti dan mengejar Dimas.
"Mas kamu jangan marah dong!" bujuk Nisa.
Sekarang Dimas tidak tahu lagi harus berbuat apa? Nisa yang terus saja membuntuti nya.
"Jika Nisa meminta ponsel ku sekarang apa yang harus aku lakukan? sedangkan pesan ku tadi malam aja, belum sempat ku hapus. Aku tidak mungkin mengeluarkan ponsel ku dan menghapusnya sekarang.
Bagaimana? jika tiba-tiba Nisa merebutnya?" gumam dimas perlahan yang membuatnya sekarang bingung dan menjadi salah tingkah.
Lalu Dimas menyalakan televisi, yang sebenarnya tidak ingin dia tonton .
"Mas!"
panggil Nisa lagi dengan lembut, lalu menghampirinya, dengan menyentuh tangan Dimas sedikit memijatnya, yang sebenarnya tidak dimas suruh.
................
"Kenapa kamu tiba-tiba marah sih Mas? Aku kan cuma bertanya," ujar Nisa mengulang pertanyaannya dengan suara manja.
"Jika memang benar kamu nggak ada apa-apa, kamu nggak perlu marah!" ujar Nisa dengan nada menekan.
"kamu nggak marah kan Mas?" tanya Nisa melebarkan senyumnya
Nisa memang tidak ingin kelihatan marah di depan dimas, ia berpura-pura tidak tahu apa-apa, walaupun sebenarnya ia sangat ingin marah.
__ADS_1
"Aku nggak marah! Aku hanya kesal Kamu itu pertanyaannya ada-ada saja," balas dimas dengan melemahkan suaranya.
"Kenapa tadi aku langsung marah saat Nisa bertanya? Nisa pasti Curiga, haduh," sesal Dimas dalam hati.
Sambil mengganti Chanel TV , entah Chanel apa sebenarnya yang sedang ia cari?
"Nggak jelas!"
"Hahaha, Mas Dimas, Mas Dimas, kamu itu ketauan sekali ya bohongnya," tertawa Nisa dalam hati melihat tingkah Dimas yang salah tingkah, yang tadinya Nisa ingin marah kini buyar seketika,
"Ya udah, Sini aku pinjam ponselnya!" pinta Nisa memaksa sambil mengulurkan tangannya.
"Nggak mau!" menepis tangan Nisa, lalu ia beranjak dari tempat duduknya.
Pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih, lalu Dimas meminum satu gelas penuh dengan sangat cepat. Seperti orang yang sangat kehausan, walau sebenarnya ia tidak merasa haus.
Setelah minum, Dimas pun melangkah sedikit cepat ke arah luar hingga Nisa tertinggal di belakang nya,
"Sini! aku pinjam sebentar saja Mas!" ujar Nisa sedikit memaksa.
Nisa memang tidak ingin mengucapkan atau mengeluarkan nada marah.
Bahkan ini membuat Nisa merasa lucu dengan sikap Dimas yang terlihat kekanakan,
"crek!
Dimas membuka pintu dengan sangat keras,
__ADS_1
Dimas terperanjat melihat Ibu Atin yang sudah berdiri di depannya, begitu juga Ibu Atin
"Maaf Pak"
ujar Bu Atin menganggukkan kepalanya, dan sedikit tersenyum karena merasa tidak nyaman. Bu Atin sedikit segan pada Dimas, walaupun usianya Bu Atin lebih tua dari mereka.
"Barusan aja, saya ingin mencet bel nya,"
"Nggak apa-apa Bu, silahkan masuk!.
balas Dimas dengan senyum mempersilahkan
Ibu Atin,
Ibu Atin masuk dan menyapa Nisa yang ada di belakang Dimas
"Bu Nisa"
Sapa Bu Atin sopan
Nisa hanya membalasnya dengan senyum saja,
Ibu Atin meninggalkan mereka ke dalam untuk melanjutkan pekerjaannya,
"Huh,~untung aja ada Ibu Atin," batin Dimas merasa lega,
Dimas meletakkan ke dua tangannya di pinggang dan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, seperti orang berolah raga.
__ADS_1
Huh!~ segar sekali pagi ini, membuat hati jadi tenang~
ujarnya mengolok Nisa karena melihat wajah cemberut Nisa.