
"Pasti nggak dapat jatah ya dari istrinya" goda Fira lagi.
"Ayo mas kita tidur sudah malam, ajak Fira hingga membuat mereka mengakhiri teleponnya. Dimas kembali ke kamar lalu membaringkan tubuhnya secara perlahan di sebelah Nisa yang sudah tidur lelap.
......................
Keesokan paginya, Nisa bangun dan seperti biasa, Dia selalu menyempatkan waktunya untuk membuat sarapan pagi Dimas, walaupun sebenarnya dia tidak ingin.
Pagi ini dimas sedang tidak ingin makan masakan yang di buat Nisa, karena pertengkaran mereka tadi malam kini terasa membekas di hatinya, Namun Nisa tetap saja harus mengurus keperluan Dimas, dan menyiapkan keperluannya dengan berat hati, Seperti pakaian yang sudah selalu siap dan rapi di pakai Dimas, serta makanan yang selalu siap saji di meja makan.
__ADS_1
Mereka pun berangkat bekerja seperti biasa, namun hari ini tanpa pamit satu sama lain, seakan benar-benar terlihat seperti orang asing di rumahnya sendiri. bicara hanya seperlunya saja, menatap Dimas pun rasanya sudah tidak ingin, perbuatan Dimas tadi malam sangat membekas di hatinya. Nisa benar- benar sangat membenci Fira, kebencian yang sudah benar- benar Nisa rasakan saat ini, hingga membuatnya terpikir ingin memusnahkan wanita itu, jika saja mungkin ada Jin botol yang benar- benar ada di dunia nyata. Itulah yang Nisa rasakan ketika mengingat wajah Fira. Wanita yang paling sangat dia benci, ingin sekali dia mendaratkan tamparan keras ke wajah wanita itu, namun dia tidak bisa, di hati kecilnya selalu saja menolak perbuatan semacam itu.
......................
Mereka kembali ke rumah setelah menghabiskan waktunya di kantor, begitu juga Dimas, namun dia hanya sibuk dengan Fira, terkadang mereka bertemu karena pekerjaan, namun di samping itu, mereka bertemu atas dasar saling cinta.
Sudah beberapa hari lamanya, setelah kejadian itu, Nisa menjadi sedikit cuek dan dingin, hingga membuat mereka tidur secara terpisah, sudah tiga malam Nisa tidur di kamar Haifa, namun Dimas tidak perduli, entah kenapa malam ini tiba-tiba Dimas mengetuk pintu setelah Nisa tidur lelap.
Terdengar ketukan pintu dari luar.
__ADS_1
"Kenapa?" sahut Nisa dari dalam, dengan suara nya yang terdengar mengantuk.
"Buka pintunya"
Nisa pun bergegas membuka pintu, suaminya sudah berdiri di hadapannya,
"Tidur di kamar aja, ngapain kamu tidur di sini?" pinta Dimas dengan lembut.
"Nggak papa mas aku tidur di sini aja," balas Nisa lembut pula.
__ADS_1
"Udah tidur di kamar aja, ayo,..." ajak Dimas dengan sikap manjanya, dengan mimik wajah tanpa dosa, dia lupa akan perbuatannya kemarin. tangan besar itu pun mulai menyeret Nisa dengan lembut, namun terasa Kuat. Bagaimana tidak, Nisa mencoba bertahan namun tetap saja dia ikut terseret, jadi Nisa pun pasrah mengikutinya. Kini bukan hanya mengurus dan menyiapkan keperluan Dimas saja, dia juga harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. sekarang Nisa merasa di perlakukan suaminya bagai boneka, dia juga harus menuruti kemauan Dimas untuk melayaninya. apa yang sudah di perbuat nya selama ini, dia lupakan begitu saja. Nisa merasa benar-benar sudah tidak ada harga dirinya lagi sebagai wanita. Hanya tangis yang bisa dia lakukan, setelah apa yang di lakukan Dimas, dia tidak bisa berkata tidak, untuk menolak keinginan Dimas untuk melayaninya, bagaimana pun dia adalah seorang istri, kewajibannya melayani suami.