
Mencakar-cakarnya. Namun ia sadar itu perbuatan yang salah, tidak mungkin baginya untuk melakukan hal gila semacam itu, Dimas pasti akan marah besar. Lagipula bagaimana dengan pandangan orang- orang yang berada di sekelilingnya, ini akan membuat malu dirinya sendiri, menyerang orang yang tak salah, hanya karena rasa cemburu yang berlebihan.
"Ayo mas!" ajak Nisa dengan judesnya.
Dimas pun melajukan mobilnya, secepat mungkin pergi dari tempat itu, kebetulan gerbang masuk dan keluar jadi satu, ia pun merasa lega saat keluar dari taman, hembusan napasnya yang terlihat sangat jelas saat sudah sedikit jauh dari tempat itu.
"Gimana, Haifa senang nggak jalan-jalan sama Ayah dan Mama? tanya Dimas pada putrinya, yang sedang berada di pangkuan Nisa. pertanyaan Dimas yang tiba-tiba membuyarkan keheningan mereka,
"Ya, nanti kita ain itaman lagi yah, isana anyak eman-eman Haifa," bicara Haifa yang masih belepotan.
"Oke sayang" ujar Dimas dengan semangat mengacungkan jempol ke arah putrinya,
"Apaan coba, bukannya dari tadi kamu main Hp terus mas? kapan kamu memperhatikan Haifa?" maki Nisa dalam hatinya, melihat sikap polos Dimas benar- benar membuat dadanya terasa panas. Tanpa Dimas sadari Nisa menghela napas dalam serta menepuk dadanya secara perlahan untuk meredakan amarah yang terpendam di dadanya. Wajah Nisa yang terlihat cemberut memandang di sekeliling jalan dari dalam mobil, bagaimana tidak Dimas pergi begitu saja, meninggalkan masa piknik mereka tiba-tiba hanya karena wanita itu (Fira).
Tidak ada pembicaraan dari mereka satu sama lain, Dimas yang hanya fokus pada stir nya, cukup lama mereka diam membisu.
__ADS_1
tidak berapa lama mereka pun tiba di rumah,
Haifa yang sudah tertidur lelap karena kelelahan, Nisa menggendong dan membawanya masuk, wajah Nisa yang masih terlihat cemberut saat turun dari mobil, Namun Dimas tetap saja tidak peka,
Setelah selesai membersihkan tubuh Haifa dan membuatnya tidur, Nisa pun kembali ke kamar,
ia mengelus dada dan mengatur pernapasannya, bagaimana tidak rasa kesal serta jengkel yang sekarang sudah membara di hatinya sampai sekarang belum terungkapkan.
Tiba-tiba Dimas masuk dan menceritakan pertemuannya tadi saat di taman bersama Fira.
"Oh yah! di mana? ko aku nggak lihat sih mas?" balas Nisa dengan ketus, dadanya terasa membara saat mendengar nama Fira, lagi-lagi Dimas tidak menyadari itu.
Karena mendengar jawaban Nisa yang biasa dan tidak langsung marah.
Dimas merasa senang, den terus bertanya tanpa memikirkan perasaan Nisa.
__ADS_1
"Ngapain ya tadi Fira pergi ke sana mom" tanya Dimas ingin tau pada Nisa.
"Apa dia pengen melihat aku?" tanda tanya Dimas untuk Fira, namun ia pertanyakan pertanyaan itu pada Nisa.
"Mana aku tau, apa kalian sudah janjian Mas, kamu tadi berpura-pura kan mas, kamu hanya ingin menghindari dia aja kan?" tanya Nisa terus dengan ketus.
Namun Dimas hanya membalasnya dengan senyum, seakan ucapan Nisa lucu bagi nya sehingga membuatnya tertawa kecil,
" Ya nggak lah, mana mungkin aku janjian sama dia?"
"Terus ngapain dia ada di situ mas?"
Dimas terus saja menjawab dengan santainya dan wajah polosnya,
"Nggak ada mom, aku nggak ada memberi tau dia" jawaban yakin yang di peragakan Dimas.
__ADS_1