
"Mas, ini obatnya"
"Iya kamu taruh aja di situ, nanti aku minum," balas nya dengan mata terpejam dan suara yang terdengar mengantuk, Nisa memandang dan menghela napasnya dalam.
"Ia mas" Nisa pun menaruh dan meletakkannya di meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya. tersimpan rasa jengkel saat itu, melihat Dimas yang tidak langsung meminumnya, "aku sudah capek-capek nyariin obatnya, malah nggak di minum" maki Nisa dalam hati lalu menghela napas dalam.
__ADS_1
Tidak berapa lama Dimas pun tidur lelap, terdengar dengkurannya bertanda bahwa ia sudah berada di alam mimpi, Nisa memandang wajah Dimas yang terlihat lelah, dengan tubuhnya yang sudah tidak terlihat menggigil, setelah ia menghabiskan air Jahe tadi. Nisa pun menghampiri duduk tepat di samping Dimas, seketika muncul rasa IBA pada Dimas serta rasa Cintanya terhadap suaminya benar-benar ia rasakan saat itu, Walaupun perlakuan kasar Dimas yang masih saja selalu ia ingat, namun hilang begitu saja saat mengigat perlakuan lembut Dimas yang membuatnya meneteskan air mata, namun rasa tak percaya membuat butiran bening yang mengalir terasa dingin membasahi pipinya, terpikir tanda tanya di benaknya.
"Kenapa sih mas kamu selalu kasar sama aku, apakah kamu sudah nggak mencintai ku lagi? kamu tau nggak sih aku itu sayang banget sama kamu mas, tapi kenapa sih kamu itu nyebelin" Batinnya , lalu ia pun membaringkan tubuhnya tepat berhadapan, memandang wajah Dimas suaminya, menatap dalam wajah itu, Perlahan ia raih tangan Dimas yang lebih besar dari tangannya, tanpa membuatnya terbangun. Ia genggam telapak tangan yang besar dan lembut itu dengan kedua tangannya, Lalu ia tempelkan telapak tangan itu hingga menyentuh pipinya, dan kini kembali tangisnya pun pecah tanpa suara, hanya air mata yang terus saja mengalir hingga membasahi tangan Dimas yang ia sentuh kan di pipinya tanpa membuat Dimas terbangun.
"Mas kenapa sih kamu nggak pernah mengerti perasaan ku? kenapa harus aku yang selalu mengerti tentang kamu mas?" dan lagi pertanyaan yang ia tanyakan dengan orang yang tak mungkin akan mendapat jawabannya, karena Dimas yang sudah berada jauh di alam mimpi.
__ADS_1
"Gimana mas, kamu sudah baikan belum? " pesan yang terlihat dengan keadaan layar terkunci, dimana pesan tersebut kini membuat kembali dadanya terasa sesak, sehingga membuatnya kesulitan bernapas, hembusan demi hembusan napas ia tarik secara perlahan dan ia keluarkan dari mulutnya berulang-ulang. Berusaha menahan agar tangisnya tidak pecah, walaupun kini dadanya begitu sesak.
"Ternyata saat kamu sakit, kamu pun sempat mengirim pesan padanya mas, bisa-bisanya kamu memberi tahu dia," batin Nisa hanya menggeleng kecil melihat suaminya, kini rasa tak percaya, serta kecewa berkecamuk di dadanya, Napasnya sekarang sudah semakin tak beraturan, menahan rasa kecewa yang terasa menyakitkan,
Nisa yang hanya bisa tertunduk lesu memandang ponsel Dimas. dengan air matanya yang sudah terasa kering.
__ADS_1
"Tuhan apa yang harus aku lakukan? berikan kesabaran pada hati ini" do'a nya dalam hati.