
"Huh! lelah sekali" gumam Dimas yang sambil menggeliatkan tubuhnya. Mencoba ingin sedikit mencuri perhatian Nisa yang masih saja terlihat dengan wajah cemberutnya, Ia merenggangkan kedua kakinya hingga selebar mungkin, sehingga menyentuh kaki Nisa yang berada disampingnya. Posisi Nisa yang tersandar dengan matanya yang fokus mengarah pada televisi.
Tapi nisa tetap saja acuh. Melihat satu kaki Dimas yang Dimas taruh di atas kakinya. Nisa ingin Dimas memulainya lebih dulu. Walaupun Nisa sedikit *j**aim** , ia memilih sedikit diam walaupun ia tidak ingin.
Nisa juga sengaja membiarkan satu kancingnya terlepas, di bagian dada***. Sehingga membuat belahan dadanya sangat terlihat begitu jelas.
"Aku ingin mas Dimas tergoda dengan penampilan ku seperti ini," harap Nisa dalam hati yang masih saja dengan wajah cemberutnya.
Karena melihat Nisa yang hanya diam Dimas pun mengambil ponselnya. Walaupun sesekali ia hanya bisa melirik Nisa.
Nisa selalu menunggu perhatian Dimas,
Ia ingin sedikit komentar dari Dimas tentang penampilannya malam ini. Tapi karena kejadian kemarin membuat Dimas enggan bicara.
__ADS_1
"Mas Dimas kamu itu Batu atau apa sih? Kamu nggak lihat aku sudah berpakaian seksi gini? apakah kamu nggak ingin menyentuhku?" gerutu Nisa dalam hatinya. Dengan belahan dada yang sengaja ia perlihatkan.
Nisa benar-benar ingin melupakan kemarahan sekaligus rasa jengkel di hatinya. Ia berharap dengan cara ia bersikap dingin akan membuat Dimas berkata jujur padanya, dan mengakhiri kemarahannya.
Karena melihat wajah cemberut Nisa Dimas pun mengurungkan keinginannya untuk bisa bercinta dengan istrinya malam ini. Padahal ia sangat ingin sekali menyentuh Nisa saat itu, apalagi melihat Nisa yang sedang berpakaian seksi, dengan dadanya yang terlihat menonjol keluar. Membuat napsu birahi Dimas menggebu, tapi ia takut Nisa akan menolaknya.
"Hah sudah lah aku nggak mungkin mengganggu Nisa malam ini, Mungkin lain kali saja. Entar dia mengamuk nggak jelas!" batin Dimas. Ia pun mengurungkan keinginannya dan mulai memejamkan matanya walaupun masih dalam keadaan berpikir. Sambil membelakangi Nisa yang ada disampingnya.
Melihat Dimas yang tidak perduli membuat
"Kamu memang benar-benar keterlaluan Mas! bisa-bisanya kamu mengabaikan ku" gerutu Nisa dalam hatinya lagi. Sambil meremas remote TV yang ada di tangannya.
Malam itu memang tidak ada obrolan atau pembicaraan dari mereka. Yang ada hanyalah prasangka jelek satu sama lain. Membuat mereka saling diam.
__ADS_1
Pada akhirnya mereka yang hanya ingin mendapat perhatian satu sama lain, Membuat mereka bersikap menjadi saling dingin.
Hampir setiap hari sebelum kepergian Nisa mereka tidak banyak bicara. Mereka bicara hanya seperlunya saja. Dimas pun menjadi sedikit acuh. Ia berharap Nisa yang terlebih dulu meminta maaf padanya atas kejadian kemaren. Walaupun itu murni kesalahannya.
Namun Nisa juga tidak melakukannya. Nisa ingin Dimas lah yang memulai pembicaraan terlebih dulu.
Prasangka buruk Mereka satu sama lain, membuat mereka melupakan status hubungan mereka sebagai suami istri, mereka yang terus saja dengan egonya. masing-masing mereka ingin mendapat perhatian terlebih dulu.
......................
Sudah beberapa hari setelah kejadian itu. Tiba lah saatnya akan kepergian Nisa ke luar Kota bersama Bu Evi. Nisa menghubungi Ibu Atin pembantunya. Memintanya agar bisa tinggal di rumah, Merawat Haifa dan suaminya selama kepergiannya keluar Kota.
"Bu Atin ini ada sedikit uang belanja selama kepergian saya," ujar Nisa lirih sambil menyerahkan uang tersebut pada bu Atin.
__ADS_1
Bersambung dulu ya gaesss!!