Suamiku Selingkuh Dariku

Suamiku Selingkuh Dariku
Hal kecil yang membuat bahagia


__ADS_3

Padahal ia merasa ingin pergi jalan-jalan setelah pulang dari kantor, terutama saat mengingat Diraz, " Gimana kalau aku ngajak Diraz jalan atau makan aja kali yah??" gumamnya.


Namun setelah mengingat ponsel Diraz yang sudah tidak tersimpan di ponsel barunya.


"Gimana caranya aku hubungin Diraz?? Nomor Hp nya saja aku nggak punya" terusnya lagi menghela napasnya dalam.


"Hum..........!!


"Mungkin tuhan tidak mengijinkan"


Itulah yang ada di pikirannya.


Ia pun memilih pulang, mengingat akan putrinya yang sudah menunggu.


...****************...


Setelah tiba di rumah Nisa melihat pemandangan yang tidak biasa, ia bingung harus merasa senang atau sebaliknya.


Terlihat Dimas yang sedang menemani putrinya di ruang tamu.


Dimas terlihat berbicara seperti dengan lawan main Haifa, Tapi raut wajahnya serta tatapannya nampak jelas terlihat berbeda, seperti ada beban yang sedang ia pikirkan.


Namun Nisa tidak perduli, perasaan benci pada suaminya masih tertanam kuat di hatinya.


Ia masuk tanpa memberi salam, dan tidak berbicara sepatah kata pun.


Haifa memberitahu kedatangannya pada Ayahnya.


"Ayah...!!!!"


"Ayah mama pulang" teriak Haifa.


"Lihat ayah mama pulang" lanjutnya lagi.


Dimas pun terpaksa menoleh karena Haifa memaksa dengan tangannya.


Entah kenapa perasaan bencinya begitu dalam saat melihat wajah Dimas yang seakan membuatnya muak, dan tidak ingin berlama-lama di hadapannya.

__ADS_1


Ia pun terus melangkah ke kamar untuk menganti pakaian.


Karena merasa sangat kesal ia membanting tasnya di atas kasur.


"Prak... ...........!!! "


Suara tas jinjingnya terpental dan terlempar jauh dari hadapannya.


"Ya Allah kenapa sih sakit banget rasanya mengingat kejadian semalam? kenapa aku benci sekali dengan mas Dimas?" gumamnya geram.


Tapi ia menyadari waktu akan habis begitu saja jika ia terus memikirkan Dimas suaminya.


"Astaghfirullahaladzim." ucapnya perlahan dengan suara yang lirih.


......................


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 5.00 sore, Nisa pun segera mengajak putrinya untuk mandi, setelah mengerjakan sedikit pekerjaan rumah.


"Haifa ayo kita mandi sayang... " teriak Nisa lembut pada putrinya.


"Iya ma bentar lagi" sahut suara indah Haifa dari kejauhan.


Suara teriakan canda dan tawa Haifa


terdengar jelas saat ia ingin melangkah ke kamar mandi.


Nisa pun merasa terharu, kala mendengar suara tawa itu, serta langkah kaki mungil putrinya yang berlari ke sana kemari.


Dan terkadang terdengar jeritan tangisnya, Entah apa yang sudah di lakukan Ayahnya sehingga ia menangis?? lalu tak lama lagi terdengar suara tertawa kegirangan.


Nisa pun seketika meneteskan air mata bahagianya, melihat kebahagian anaknya.


"Masya Allah, aku ingin rumah tangga ku bahagia seperti ini, tenangkan hati dan pikiran ku ya Allah " do'anya dalam hati.


Lalu ia mengucap kalimat istighfar berulang-ulang, karena merasa kebenciannya yang begitu dalam pada suami.


"Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim" ucap Nisa perlahan sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


Tidak berapa lama Dimas pun menyudahi permainannya, ia meminta agar Haifa segera mandi.


"Sudah sayang mainnya, Haifa mandi dulu ya sama mama, nanti kita lanjut main lagi ok!!" pinta Dimas pada putrinya.


Haifa pun pergi menemui Nisa di kamar mandi, Tapi bukan untuk mandi?? justru malah mempermainkan Nisa saat Nisa ingin meraihnya.


"Ma, buka pintunya" Menggedor-gedor pintu kamar mandi,


Setelah Nisa membuka pintunya ia pun berlari ke kamar menemui Dimas yang sedang memegang ponselnya.


"Haifa sini cepetan!" teriak Nisa yang sudah mengenakan handuk kimono sambil berlari mengejar Haifa yang terlihat senang mempermainkannya.


"Astaghfirullahaladzim...,..........., Haifa ......cepetan sini mandi!!, sudah sore!!" teriak Nisa yang sudah mulai emosi mengikuti permainan putrinya.


Nisa melirik Dimas yang sedari tadi tidak perduli, jadi muncul kecurigaannya saat Dimas yang terus saja fokus pada ponselnya.


"Paling juga ngeliatin Fira tuh!, Urusan sama aku saja belum selesai, malah ngurusin orang lain!!" makinya dalam hati, Nisa pun hanya bisa menghela napasnya dalam karena melihat ketidakpekaan Dimas padanya.


Perasaan kesal pasti ada saat itu juga, ingin rasanya mengusir Dimas keluar dari kamar, dan menyuruhnya pergi entah kemana.


Tapi ia masih saja tetap terus mengikuti permainan Haifa yang memintanya harus berlari ke sana ke mari.


Lagi-lagi hal kecil itu membuatnya merasa bahagia, kala melihat tawa Haifa yang terlihat lepas tanpa beban, putrinya tidak tahu sekarang masalah yang sedang ia hadapi, jika Nisa meluapkan emosinya sekarang mungkin akan mengancam kejiwaan putrinya nanti, ia tidak mau itu terjadi.


"Masya Allah aku bahagia sekali melihat putri ku tertawa, karena hal kecil seperti ini engkau berikan kebahagian untuk ku, masya Allah" ucapnya dalam hati sambil mengikuti permainan haifa yang terus membuatnya berlari.


Akhirnya permainan mereka pun selesai Nisa memandikan putrinya dan membawanya sholat, Nisa mencoba mengajarkan putrinya walaupun itu sulit di lakukan.


Selesai sholat Nisa seperti menemukan kedamaian di Hatinya, ia memberanikan diri bicara pada Dimas, namun setelah membuat putrinya tidur.


Dimas yang berada di kamar, terlihat asik dengan ponselnya.


"Mas, beliin aku Hp, kamu kan yang rusak in kemarin" Pinta Nisa jutek.


"Itu kan salah mu sendiri, makanya jangan berani sama suami" balas Dimas jutek pula.


"Iya mas!" ucap Nisa singkat lalu pergi begitu saja, karena mendengar jawaban Dimas yang tidak ingin membuatnya tambah emosi

__ADS_1


...****************...


__ADS_2