
"Mama, Mama ayo dong kita main" tangan mungil itu membawa Nisa dan menyeret untuk mengikutinya, Nisa menghela napasnya dalam lalu mengikuti ajakan putrinya.
Sekarang Nisa di sibukkan dengan menemani putrinya bermain, terkadang air matanya jatuh tiba-tiba, ketika mengigat perilaku suaminya tadi, hanya itu yang bisa dia lakukan memendam rasa sakit hati yang teramat dalam terasa teriris, tercabik, ketika mengingat kejadian itu sangat menyakitkan.! Bagi Nisa sekarang Dimas adalah pria yang sangat kejam, bagaimana mungkin bisa tega memperlakukannya seperti ini, karena menyebut nama wanita itu saja, dia bisa setega ini sama istrinya sendiri. terutama ketika mengingat percikan "Ludah" itu yang sudah mengenai wajahnya. ingin sekali dia membalas perbuatan Dimas dengan membalasnya meludah juga.
"Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan?" mencoba membuang pemikiran jeleknya.
"Oh tuhan, cobaan apa lagi ini? sakit sekali rasanya menahan semua ini, nggak mungkin aku melakukan hal seperti itu juga pada mas Dimas" batin Nisa menghela napasnya dalam.
"Astaghfirullahalazim , Astaghfirullahalazim, Astaghfirullahalazim." kalimat itu, yang terus selalu Nisa ucapkan, ketika dadanya terasa sesak.
......................
Cukup lama Nisa menemani putrinya bermain walaupun dalam keadaan pikirannya yang tidak baik. Nisa pun membawa putrinya ke Kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
"Sayang ayo kita Bobo yah, sudah malam," ajak Nisa, tanpa penolakan dari Haifa. Nisa membaringkan putrinya di atas tempat tidur, serta menepuk lembut bokong putrinya, kini tak terasa air matanya pun mengalir, Haifa melihat tangisan itu,
"Mama, mama, ko atanya ada airnya?" tanya Haifa yang membuatnya merasa tak berhenti menangis.
"Nggak sayang, mata mama sakit sayang, tadi di masukin kecoa, Haduh sakit sekali sayang" gumam Nisa manja sembari mengucek matanya, kebohongannya benar-benar terlihat seperti kebenaran bahwa kecoa besar benar sudah memasuki matanya.
"Sini Ma Haifa ihat," sembari menatap wajah Nisa, Namun kecoa yang dia lihat tidak ada.
"Nggak ada Ma, Nanti coanya Haifa pukul ya ma, biar mati" ujar Haifa dengan antusiasnya.
"Ma kalau ayah di gigit juga gimana?" tanya Haifa lagi dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Biar aja sayang, biar matanya di masukin Kecoa besar, terus di masukin Lebah juga, biar di sengat. biar tau rasa" ujar Nisa dengan geramnya,
__ADS_1
"Angan Ma, asian Ayah nanti dia nangis" rengek Haifa yang tidak ingin ayahnya terluka.
"Ya sayang, ya sudah Haifa tidur yah" kembali merangkul Haifa lagi, sehingga membuatnya tertidur.
Setelah membuat putrinya tidur, Nisa pun kembali ke kamar, Lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Dimas, dengan posisi meraka membelakangi satu sama lain, Dimas yang masih saja asik dengan ponselnya. Kejadian tadi membuat mereka diam dan tak banyak bicara, mereka membisu satu sama lain. Dengan ke adaan berpikir Nisa pun kini mulai memejamkan matanya, dan akhirnya dia pun tertidur pulas, sekarang sudah berada di alam mimpi. Melihat Nisa yang sedang tidur pulas, Dimas bangun dari tidur nya, lalu ia bergegas ke kamar tamu untuk melakukan panggilan Vidio dengan fira, karena rasa jengkelnya terhadap Nisa.
Mereka berbincang-bincang hingga larut malam, banyak sekali topik pembicaraan mereka, dari membahas pekerjaan, hingga sekarang masalah hubungan intim.
"Mas kenapa belum tidur," tanya Fira melalui telpon vidio,
"Karena belum dapat jatah dari kamu" guraunya pada Fira dengan nada yang terdengar serius sehingga membuat Fira tertawa manja,
"Ih.... kamu itu yah mas" hik... hik.. hik.
__ADS_1
"Pasti nggak dapat jatah ya dari istrinya" goda Fira lagi.
"Ayo mas kita tidur sudah malam," ajak Fira hingga membuat mereka mengakhiri teleponnya. Dimas kembali ke kamar lalu membaringkan tubuhnya secara perlahan di sebelah Nisa yang sudah tidur lelap.