
Ia melangkah perlahan namun pasti, Kini sudah terlihat dari kejauhan sosok Dimas yang berada di meja makan, kepalanya tertunduk menikmati Mie goreng yang barusan ia buat.
Terlihat dari kejauhan punggung Dimas yang bersembunyi di balik kursi, semakin ia mendekat semakin rasa takut itu menyelimuti hatinya.
Jantung terasa dag dig dug tidak karuan, takut jika Dimas akan meneriakinya Nanti, belum lagi jika piring yang berisi Mie itu melayang.
Begitulah yang ada di pikiran Nisa, yang belum tentu kebenaranya.
Sekarang ia pun tepat berada di depan Dimas di antara dua kursi kosong kiri dan kanan.
ia berdiri tepat di hadapan Dimas seperti seseorang yang sudah siap mengintrogasi.
Ia mematung sejenak, dengan posisi kedua tangannya ia lingkarkan.
"Apa mas Dimas sudah membaca semuanya? tapi kenapa dia nggak marah?" pikirnya dalam hati.
"Mas Dimas, Hp ku kamu yang ambil yah" tanya Nisa lembut, namun terdengar marah.
"Mas Dimas!"
"Mas, kamu dengar nggak sih!" teriak Nisa lagi dengan suaranya yang sedikit keras.
Namun Dimas tetap saja diam, seakan tidak ada orang dan suara yang ia dengar.
"Mas Dimas!" teriak Nisa lagi untuk meyakinkan pendengar Dimas.
"Mas Dimas!"
__ADS_1
Seketika Dimas menghentikan makannya dan melepaskan sendok dan garpu yang dia pegang hingga mengeluarkan suara.
"klenteng"
''Kamu nggak lihat aku makan!"
"Iya aku tau, kasih tau aja Hpnya di mana biar aku ambil" Sahut Nisa dengan suaranya yang keras pula.
Dengan keadaan tertunduk Dimas menarik ulur nafasnya berulang-ulang.
Terdengar seperti orang yang selesai lari maraton.
Melihat Dimas yang mulai ingin marah Nisa pun memilih diam.
Dimas terlihat seperti harimau ingin menerkam, siapa saja yang melihatnya pasti akan lari terbirit-birit.
Padahal bukan karena ia takut hanya saja Nisa tidak ingin perkelahian saat makan.
Gimana jika Dimas membanting piringnya tiba-tiba? bukan kah di situ terdapat rizki yang harus di syukuri?.
Lagi pula setelah Dimas makan ia masih bisa bertanya tentang ponselnya.
Nisa menunggu Dimas di kamar, tentunya dengan pemikirannya yang sudah tidak sabaran ingin mendapatkan ponselnya kembali.
"Awas kamu mas, ko ada ya orang di dunia ini seperti Mas Dimas?" maki Nisa.
Setelah selesai makan Dimas pun merebahkan tubuhnya di dekat Nisa, dengan kedua kakinya ia bentangkan selebar mungkin, matanya terpejam satu tangannya ia taruh di atas dahi, Nampak raut wajahnya terlihat seperti orang yang sedang lagi ada masalah serius.
__ADS_1
Nisa melirik dengan perasaan puas.
Batinnya berkata "Rasain kamu Mas pasti kamu kesel kan tadi sudah lihat chat-chat aku dengan Diraz"
"Mas Hp ku mana sih? kamu kan yang ambil" tanya Nisa kesal.
Dimas masih saja diam dengan posisi tidurnya.
"Mana Hp ku mas? ngapain sih pakai acara diambil segala? sini balikin! " Nisa menyodorkan tangannya ke arah Dimas.
"Aku bilang nggak ya nggak, kamu sudah puas kan main Hp seharian?" tolaknya dengan keadaan matanya yang masih terpejam.
"Emang kenapa sih kamu tu repot banget? aku aja nggak pernah marah, kamu main Hp seharian, terus chatan sama perempuan lain aku juga nggak marah"
Sana tu urusin pacar kamu Fira, kasian kan dia sekarang pasti nungguin kamu, jadi mulai sekarang nggak usah sok sok an ngurusin aku!" bicara Nisa yang sedikit mengejek.
Dimas menghela napasnya dalam.
Ia terlihat tidak terima saat Nisa menyebut Nama Fira.
"Kenapa? kamu marah aku menyebut Nama Fira?" ejek Nisa lagi, hingga membuat kemarahan Dimas semakin menjadi.
Seketika Dimas bangun dari tidurnya, dengan mata yang melotot menghadap Nisa.
Melihat Dimas yang mulai marah, Nisa pun mengalihkan pembicaraan.
Meminta agar Dimas mengembalikan ponselnya lagi.
__ADS_1
"Ya sudah, sini mana Hp ku" pinta Nisa lagi menyodorkan tangannya,