
Sedangkan permasalahan yang sedang dia hadapi sekarang juga sama, Nisa bingung harus menjawab apa.? Pertanyaannya yang seharusnya jadi pertanyaan Nisa:
"bagaimana?, apa yang harus aku lakukan?" Itu yang ada di benak Nisa,
Sekarang malah Ibu Evi yang bertanya, Nisa menggeleng kepala merasa tak percaya.
Permasalahan ia saja sekarang belum kelar. Sekarang ada masalah baru dari orang lain yang harus ia tanggung juga.
Ia hanya bisa ikhlas, walaupun itu sangat menjengkelkan baginya.
Nisa tidak mungkin membiarkan Ibu Evi sendiri, dengan masalah yang dia hadapi sekarang. Karena Ibu Evi adalah atasannya, Nisa mencoba mendengarkan dan menenangkan Ibu Evi, walaupun Nisa tidak ingin.
"Haduh~, Ini orang tua ngeselin banget sih!" gerutu Nisa dalam hatinya. Sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Kapan sih selesainya?" Batin Nisa meronta kesal.
Tidak berapa lama perbincangan mereka.
Ibu Evi pun mengakhirinya;
"Terima kasih ya nis, kamu ingin dengar curhatan saya", ujar Bu Evi ingin menyudahi curhatnya,
"Untung saja ada kamu, Tempat curhat saya Nis, Saya percaya sama kamu Nis, "ujar Bu Evi dengan perasaan lega, dan isak tangis nya pun sudah tidak ada lagi.
kini Bu Evi benar-benar merasa lega.
"Iya Bu. Sama-sama, Ibu tidak perlu sungkan bicara sama saya, saya akan selalu mendengarkannya." ujar Nisa basa-basi
__ADS_1
"Iya masalah Ibu selesai, saya malah nggak selesai-selesai" gerutu Nisa dalam hatinya kesal.
Lalu merekapun menyudahi pembicaraannya.
......................
Di kamar, Dimas yang sedang melakukan panggilan telepon.
"Maaf yah sayang aku tidak bisa menemui kamu hari ini, aku sedikit sibuk, kamu tidak perlu kuatir",
ujar dimas yang sedang berbicara lewat telpon dengan wanitanya sedikit berbisik.
"Aku ingin istirahat dulu ya" ujar Dimas lirih.
Balas wanita. "iya mas tidak apa-apa yang penting aku sudah tahu keadaan kamu sekarang, jadi aku tidak perlu kuatir lagi, aku kuatir banget sama kamu hari ini, sehingga aku lupa makan mas!, karena Nungguin kamu!, kamu sih tidak memberi tahu aku, coba saja kamu beri tahu aku, jika kamu sedang sibuk, akunya jadi tidak kuatir lagi," balas wanita dengan suara manja dan centilnya.
wanita : "mas kamu...
Dimas terkejut kedatangan Nisa yang tiba-tiba membuat Dimas memutuskan panggilannya, tanpa sempat mendengar kata- kata terakhir dari wanitanya.
"Telpon dari siapa tadi?" tanya Dimas basa-basi
Nisa yang melihat Dimas yang baru saja memutuskan panggilannya. Membuat Nisa kesal. Sehingga tidak menjawab pertanyaan Dimas, Nisa pun berpura-pura tidak mendengar dan mengabaikannya.
"Katanya kamu ingin istirahat Mas?
kenapa belum tidur?" tanya Nisa ketus.
__ADS_1
"Iya, Ini aku juga ingin tidur," balas Dimas datar lalu meletakkan ponselnya.
Dimas yang sedang terpikir memandang langit-langit kamar dengan tatapan mata penuh arti. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
Nisa yang berbaring di sampingnya merasa ingin tahu, Apa yang sedang di pikirkan suaminya.
"Kamu mikirin apa sih, Mas? sepertinya ada yang kamu pikir kan?" tanya nisa datar melirik Dimas,
"Nggak ada",
ujar Dimas yang tiba-tiba buyer dari lamunannya.
"Memangnya aku nggak boleh melamun? balas dimas ketus.
"Bukannya nggak boleh. Tapi aneh saja, kamu mikirin apa sih?" tanya Nisa ingin tahu lagi
"Atau jangan-jangan kamu mikirin wanita lain ya?" pangkas Nisa menerka pertanyaannya sendiri.
"Wanita apa sih? Kamu itu bikin kesal saja!" bentak dimas,
Lalu memalingkan wajahnya, hingga membelakangi Nisa yang ada di sampingnya, yang sedang menatapnya.
"*Kamu memang benar-benar sudah tidak peduli lagi mas, Akhir-akhir ini kamu hanya sibuk dengan wanita itu saja,
Aku rasa kamu sudah tidak mencintai aku lagi," batin Nisa yang ingin membuatnya meneteskan air mata lagi*.
"Siapa sih wanita itu? bagaimana cara aku mengetahuinya?" Tanya di benak Nisa
__ADS_1
Karena Nisa merasa sangat lelah, Nisa mencoba memejamkan matanya. Sedang dengan keadaan berpikir, dan akhirnya Nisa pun tertidur.