
Keesokan paginya, Nisa bangun dan membuka kedua matanya secara perlahan, ia merasakan ada rasa perih di kelopak matanya, ia pun segera bangkit dari tempat tidur untuk mengambil cermin.
Ternyata matanya terlihat sembab, "Mungkin karena aku nangisnya lama benget tadi malam" batinnya.
"Astagfirulahalazim, masa sih aku kerja dengan keadaan mata ku yang kaya gini"
"Semoga setelah mandi mata ku udah nggak sembab lagi" sambungnya.
Sebelum keluar kamar timbul rasa penasaran pada ponselnya lagi, lalu ia meraihnya di atas lemari Box pakaian.
Berharap ponselnya masih bisa ia nyalakan, Namun setelah berulang-ulang menekan tombol ON/OF ternyata sudah tidak bisa.
"Hem.... " Ia menghela napasnya dalam.
__ADS_1
"Kalau saja waktu itu ponsel ku aku simpan di tempat yang aman, mungkin Hp ku nggak akan rusak" sesalnya dalam hati.
Tapi rasa sesal itu membuatnya berpikir lain:
"Mungkin ini semua salah ku, Hp ini udah ku buat untuk hal yang nggak benar, makanya rusak," Itu lah yang ada di pikirannya sekarang membuatnya sedikit tenang walaupun di hati kecilnya terasa jengkel kala mengingat kejadian tadi malam.
Namun apa yang sudah terjadi tidak bisa di putar kembali.
Nisa pun menyudahi pemikirannya bergegas ke dapur untuk membuat sarapan, namun ternyata persediaan di dapur sudah hampir habis.
Tepaksa ia tidak memasak hari ini, tidak mau ambil pusing ia pun memilih berangkat kerja lebih awal, untuk sarapan atau makan Haifa untuk hari ini ia mengandalkan Bu Atin.
Lagi pula masih ada persediaan makanan yang bisa di masak di kulkas, begitulah yang ada di pikirannya.
__ADS_1
Ia pun segera mandi, tanpa membangunkan Dimas terlebih dulu, setelah mandi Ia mengambil seragamnya yang berada di kamar dengan keadaan pintu yang tidak terkunci, jadi dengan mudah ia masuk ke kamar tanpa membangunkan Dimas, ia masuk perlahan dan penuh hati-hati.
Setelah mengambil seragamnya ia keluar perlahan tanpa mengeluarkan suara.
Ia tidak ingin bertatap muka serta berbicara langsung dengan Dimas hari ini, untuk
menghindari itu semua, ia memilih berangkat awal, setelah ia meminta buk Atin ke rumahnya lebih pagi, Buk Atin pun menyetujui permintaannya.
Di tengah perjalan Nisa memikirkan cara bagaimana mendapatkan uang, karena selama ini Nisa tidak pernah menyimpan uang dengan jumlah yang banyak, gajih dari hasil ia bekerja ia pergunakan untuk keperluan rumah, dan uang belanja, terkadang sisanya untuk membayar Bu Atin pengasuh anaknya, hasil Dimas bekerja di berikan seperempatnya saja untuk menambah keperluan belanja dan lain lain, sisanya mereka tabung.
Namun semuanya di atas kendali Dimas, ATM yang berisi uang tabungan ada pada Dimas, Nisa hanya pegang ATM nya sendiri, Tidak pernah terpikir olehnya menyita atau mengambil ATM suaminya seperti orang-orang kebanyakan.
Sekarang ia benar-benar bingung mendapatkan uang, Jika ia minta pada suaminya sekarang, mungkin Dimas memberikannya, Akan tetapi Dimas pasti akan mengejek dan menyudutkannya.
__ADS_1
"Makanya jangan berani sama suami, kamu masih membutuhkan aku kan sekarang! " itu lah Kalimat yang ada di pikirannya.
Kini ia memilih diam dari pada harus mendengar kalimat itu. sekarang bagaimana cara mendapatkan uang tanpa memintanya dari Dimas, dan tanpa memakai uang belanja agar Dimas tidak curiga.