
Nisa pun menyerahkan kuncinya langsung ke tangan Dimas, dengan cepat ia menyentak kunci tersebut dengan keras dan pergi begitu saja, melewati Nisa yang berada di depannya, lalu Mengepak tubuh yang tengah berdiri tegap itu, sehingga membuatnya tergeser dari tempat ia berdiri, Nisa memandang ke arah Dimas dengan geram melihat perlakuan kasarnya.
"Astagfirullahalazim Mas" Gumam Nisa sembari menyentuh dadanya, berusaha menahan air matanya yang sudah hampir jatuh. Bu Atin yang sedang berdiri di sudut sana, tak sengaja melihat perlakuan kasar Dimas pada Nisa yang selama ini hampir tidak pernah dia lihat, Dimas pria yang sangat baik dan ramah, merasa tak nyaman berada di tengah-tengah situasi menegangkan itu bu Atin pun pergi. karena Nisa sudah terlanjur melihat bu Atin dengan rasa tak nyaman Nisa menyanggah langkah Bu atin, dengan senyum terpaksa di wajahnya.
"Bu Atin Haifa mana?" Seru Nisa yang membuat bu Atin terhenti dan menoleh ke arah nya.
"Ada Bu di dalam," Balas Bu Atin sedikit senyum tak nyaman juga di wajahnya. Nisa pun langsung menemui Haifa putrinya,
"Sayang mama pulang," seru Nisa
"Ye.....Mama ulang" seru Haifa pula, mendengar teriakan mama nya, dia pun berlari ke arah Nisa yang sudah membentangkan tangannya dan berjongkok dari kejauhan, lalu dia meraih putrinya dan memberikan beberapa ciuman di pipi putrinya yang mungil itu.
"Kamu main apa sayang?"
"Ain itu mah, Ain asak-asakan, Ayo ain sama-sama" ajak Haifa menyeret tangan Nisa.
"Sebentar ya sayang Mama ganti baju dulu," Haifa pun membiarkan mamanya pergi.
Nisa masuk ke kamar, dan langsung duduk di atas tempat tidur, dengan kaki yang bergantung di lantai, dengan kedua tangannya menutup wajahnya.
__ADS_1
"Hik... hik.. hik" tangisnya pun kini kembali membasahi pipinya, rasa jengkel yang tak bisa dia keluarkan, membuat air mata terus saja mengalir, hanya ini yang bisa dia dilakukan, "menangis."
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu
"Tok... tok.. tok,"
Dengan cepat dia bangun, serta mengusap air Matanya.
" Bu saya pamit pulang ya," terdengar suara ramah bu Atin meminta ijin.
"Oh iya bu Atin, saya lagi nggak pakai baju nih" sahut Nisa dari dalam, dengan terpaksa dia berbohong karena tidak ingin bu Atin melihatnya yang sedang menangis.
"Iya bu atin, makasih ya bu atin" Nisa pun membalasnya dengan ramah.
Bu Atin yang sudah keluar, terlihat dari balik kaca, panggilan bu Atin tadi membuatnya mengakhiri tangisnya. Tiba-tiba dia di kejutkan lagi dengan Haifa, membuka pintu dan nyelonong masuk kamar.
"Mama, mama ayo dong kita Ain, ajak Haifa,
"Bentar Yah sayang mama ganti baju dulu."
__ADS_1
Selesai menganti seragamnya Nisa pun menemani putrinya bermain, dan sekarang dia di sibuk kan mengurus Haifa, walaupun terkadang Dimas terlintas di pikiran nya.
Karena hari sudah sore, dia pun seperti biasa melaksanakan sholat. Hari ini dia mengajak putrinya sholat bersama.
"Haifa sholat ya sama Mama," ajak Nisa lembut mengajak putrinya.
"Nggak mau" rengek Haifa
"Loh ko nggak mau sih sayang entar Allah marah lho, kalau Haifa nggak sholat" rayu Nisa manja pada putrinya.
Dan akhirnya merekapun sholat bersama,
Haifa yang sudah memakai mukena rapi, berdiri di sebelah Nisa, sesekali matanya Mendelek ke arah Nisa bahkan ketika Nisa sujud dia naik di punggung Nisa sambil tertawa cekikikan.
"Hik... Hik... hik"
Sampai berulang-ulang dia lakukan, hingga akhirnya selesai,
"Haifa kalau mama lagi sholat nggak boleh di naikin ya" peringatan Nisa dengan sedikit nada marah.
__ADS_1