
Setelah selesai sholat pikirannya pun kini, terasa tenang, Entah mengapa perasaan jengkel terhadap Dimas kini berangsur hilang, Sholat memang sudah mengobati kegundahan hatinya dan permasalahan yang dia hadapi.
Kini Nisa hanya berteman kan putrinya di rumah, mereka habiskan malam bersama, bermain dan bercanda tawa, tak lama ketika mereka sedang bermain, terdengar suara mobil datang memasuki garasi,
"Ye Ayah pulang" seru Nisa di depan putrinya dengan cepat mereka berlari ke arah pintu, Dimas masuk dan disambut anak dan istrinya.
Mereka yang terlihat dengan girang menyambut Dimas, seperti halnya menunggu seseorang yang di nantikan telah tiba.
"Ayah, ayah" teriak Haifa, sembari menggandeng tangan Dimas membawanya masuk.
"Ayah ayi ana, ko ayah lama sih ulangnya, tanya Haifa yang membuat Nisa tersenyum pilu berada tepat di belakang mereka. melihat Dimas yang seakan tidak begitu perduli menyambut putrinya.
"Ayah pulang kerja lah sayang," sahut Dimas membohongi putrinya.
"Haifa main dulu ya sama Mama," Ayah mau ganti baju dulu," melepaskan genggaman tangan itu, Nisa pun mengikuti Dimas menuju ke kamar.
"Mas kamu dari mana?" tanya Nisa lembut
"Mengantar berkas untuk di tanda tangan pak Robin," Jawab Dimas datar.
__ADS_1
Menyangkut berkas kantor, Nisa sedikit sensitif,
karena dia yakin, pasti ada hubungannya dengan Fira, Namun Nisa masih sabar karena belum tau kebenaranya,
"Oh gitu yah, memangnya kamu ngambil berkasnya di mana sih mas? dari kantor yah," tanya Nisa lagi ingin tahu, namun Dimas enggan menjawabnya,
"Ah sudah lah aku mau mandi dulu" tolak Dimas dan langsung pergi ke kamar mandi.
Pertanyaan Nisa membuat mimik wajahnya berubah. di situlah muncul rasa curiga Nisa.
Nisa pun menunggu Dimas di kamar dengan perasaan jengkelnya, sebab bayangan Fira yang terus saja menghantuinya, Namun dia masih tetap tenang, mencoba menghela napasnya dalam, hembusan demi hembusan napasnya dia keluarkan secara perlahan dari mulutnya, dengan adegan tangannya turun naik, ke atas dan ke bawah, sekarang dia terlihat seperti pendekar yang habis mengeluarkan tenaga dalamnya.
Cukup lama Dimas berada di kamar mandi, tidak seperti Biasanya, entah apa yang dia lakukan, membuat Nisa semakin kesal menunggunya, sembari menunggu Dimas keluar, Nisa nyamperin Haifa yang sedang bermain di ruang tengah.
Dan akhirnya yang di tunggu-tunggu pun keluar, lalu Nisa mengikutinya dari belakang.
Karena rasa penasarannya Nisa pun bertanya lagi.
"Mas kamu dari mana sih ngambil berkasnya?"
__ADS_1
tanya Nisa dengan suaranya lembut.
Namun Dimas masih saja tetap enggan bicara
"Duh kami itu kepo banget sih" ujar Dimas ketus.
Namun Nisa tetap tidak putus asa, dia terus berusaha keras ingin tahu, mengikuti Dimas naik ke atas tempat tidur setelah mengenakan pakaiannya dia menyandarkan tubuh nya lalu meraih ponselnya, Nisa duduk tepat di hadapannya.
"Yah aku kan pengen tau aja mas, Gumam Nisa masih dengan suaranya yang lembut, sembari memandang ke arah Dimas yang hanya fokus pada ponselnya.
dan akhirnya Dimas pun menjawab.
"Aku tadi mengambil berkasnya di rumah Fira, tadi pak Robin nggak sempat tanda tangan, lalu Fira meminta ku mengambil dan mengantarkannya pada pak Robin," jelas Dimas.
Setelah mendengar penjelasan Dimas, amarah Nisa pun kian menggebu, bagaimana tidak dia membentak Nisa hanya ingin mengambil berkas di rumah Fira.
"Oh jadi kamu mau cepat ketemu Fira mas," Ujar Nisa dengan Sinis.
Terima kasih ya buat teman-teman yang masih mendukung cerita aku, tinggalin komentarnya ya 😊, jangan lupa Saranghaeyo
__ADS_1