
Aku nggak ingin kamu pergi Mas, gimana nanti jika kamu melampiaskan dengan wanita itu, gumam Nisa dalam hatinya.
Mungkin aku harus lebih sedikit bersabar,
Batin Nisa mencoba menenangkan dirinya.
Kini Nisa membiarkan Dimas yang asik dengan Ponselnya, Walaupun perasaan marah dan kesalnya kini sudah tidak terbendung lagi, ingin sekali Nisa meluapkan emosinya, tapi itu tidak ia lakukan.
Nisa membuat dirinya sedikit sibuk hari ini, dengan melakukan sedikit pekerjaan rumah, yang ditemani putrinya. Tingkah gemas yang di perankan Haifa membuat Nisa sedikit tertawa. Dan Sejenak pemikiran Nisa yang ingin marah, Kesal terhadap Dimas, kini hilang seketika. Dimas yang hanya sibuk dengan Ponselnya, hingga Lupa dengan keluarganya.
Untuk sekarang Nisa tidak begitu memikirkannya lagi, Nisa yang hanya fokus menemani putrinya saja.
................
Karena hari sudah menjelang malam
Di tengah kesusahan, dan kegundahan hatinya. Nisa mengajak putrinya mengerjakan shalat bersama tanpa suaminya.
Nisa merasa sedikit lega, Karena Haifa putrinya berada di sisinya, Pengobat luka yang sekarang Nisa rasakan walaupun sesekali air matanya mengalir tanpa tangisan, Melihat wajah putrinya membuatnya merasa tenang.
Nisa benar-benar menghabiskan waktu bersama putrinya hari ini,
__ADS_1
hingga Nisa merasa sangat lelah setelah membuat Haifa tidur pulas, Nisa pun pergi ke kamarnya untuk membaringkan tubuhnya.
Melihat suaminya yang masih tetap saja acuh padanya membuatnya menghela napas, Perasaan ingin Marah atau kesal terhadap suaminya yang sebenarnya sudah tidak bisa ia tahan lagi, Membuat nya ingin melakukan hal-hal yang seharusnya tidak ia lakukan, tapi Nisa hanya bisa memendamnya saja.
Kamu memang keterlaluan Mas, batin Nisa yang memandang dalam wajah suaminya,
Sekarang Nisa memikirkan bagaimana cara meraih ponsel Dimas yang sedang dimas pegang, Jika aku merampas dari tangannya sekarang, mungkin Dia akan marah besar, batin Nisa,
Oh~Tuhan
Apa yang harus aku lakukan, ujar Nisa memohon dalam hatinya,
Bagaimana cara aku membuat agar Mas Dimas tidak begitu marah? jika aku merampas ponselnya tiba-tiba, Pertanyaan di benak Nisa yang memutar otaknya,
Mungkin aku mengawali pembicaraan itu saja Antusias Nisa dalam hati,
"Mas! ",
Panggil Nisa lembut,
"Kamu sudah nggak marah lagi kan?" tanya Nisa senyum di wajahnya, dengan sedikit tingkah cengengesan,
__ADS_1
"nggak marah",
Balas Dimas dengan wajah polosnya,
Bagus lah kalau begitu, gumam Nisa dalam hati dengan pemikiran liciknya.
"Mas! Minggu ini aku mau keluar kota bersama Bu Evi," ucap Nisa datar
"Oh, yah? berapa lama?" tanya Dimas dengan Nada yang sedikit terkejut,
"Mungkin sekitar satu minggu Mas, boleh kan Mas?" rengek Nisa yang sambil memijat pergelangan kaki Dimas yang sebenarnya tidak Dimas suruh, begitu lah cara Nisa mengambil perhatian Dimas. Walaupun dia harus melakukan sedikit Akting yang membuatnya sangat jengkel,
"Nggak masalah!"
Balas Dimas yang masih saja fokus pada Ponsel yang berada di tangannya,
Iya ,memang tidak masalah, kamu pasti senang kan Mas? kamu bisa sedikit leluasa berhubungan dengan wanita itu, tanpa ada yang mengusik kamu, gerutu Nisa dalam hatinya,
"Bagaimana dengan Haifa? apa aku harus meminta Bu'Atin tinggal di sini selama aku pergi?" tanya Nisa lagi,
"Terserah kamu saja", balas dimas datar tidak perduli.
__ADS_1
"Gimana jika haifa di antar ke rumah neneknya saja?" saran Nisa lagi,