
Seketika Dimas bangun dari tidurnya, dengan mata yang melotot menghadap Nisa.
Melihat Dimas yang mulai marah, Nisa pun mengalihkan pembicaraan.
Meminta agar Dimas mengembalikan ponselnya lagi.
"Ya sudah, sini mana Hp ku" pinta Nisa lagi menyodorkan tangannya.
"siapa Diraz?" Tanya Dimas ketus.
"Bukan urusan mu, nggak usah tanya-tanya"
"Siapa bilang bukan urusan ku, Aku ini suami mu" Tegas Dimas.
Nisa memalingkan wajahnya, merasa jengkel kala mendengar Dimas menegaskan status dirinya sebagai seorang suami.
"Suami? suami macam apa? suami yang suka selingkuh? itu nggak pantas di sebut suami." gumam Nisa perlahan, Namun terdengar Dimas dengan jelas.
Dimas pun menjadi marah mendengar perkataan Nisa yang seakan tidak menghargai dirinya sebagai suami.
__ADS_1
Ia pun bangkit dari tempat tidur lalu meraih ponsel Nisa di lemari yang tadi ia sembunyikan.
"Siapa Diraz!" tanya Dimas lagi dengan wajahnya yang sudah terlihat emosi sambil mengotak atik ponsel Nisa yang berada ditangannya.
Nisa mendekat dan mencoba meraih ponselnya lagi.
"Udah deh nggak usah buka Wa, sini Hp ku" pinta Nisa paksa sambil menyodorkan tangannya, namun Dimas tepis sekuat tenaga.
"Siapa Diraz!?" tanya Dimas lagi.
"Diraz itu teman sekolah ku dulu waktu SMA, emang kenapa?!" jawab Nisa ketus.
"Sejak kapan kamu mengganggap ku istri mas? aku merasa nggak pernah jadi istri mu, aku hanya istri bohongan aja kan, aku nggak pernah mendapat perlakuan sebagai istri" Nisa mencoba meyakinkan status dirinya di hadapan Dimas, dengan suara dan tingkahnya yang sedikit mengejek, tanpa ia sadari itu membuat Dimas semakin marah.
Melihat tatapan serta raut wajah Dimas yang kelihatan marah, tentunya membuat Nisa gemetar.
"Ya Allah ampuni aku jika kata-kata ku sudah menyakitkan perasaan Mas Dimas. Batin Nisa memohon.
Tiba-tiba saja Dimas membanting ponselnya kelantai, di saksikan Nisa yang berdiri di depannya
__ADS_1
Nisa sejenak tercengang melihat ponselnya yang tiba-tiba Dimas banting ke lantai, Dimas membanting nya dengan keras, hingga beberapa bagian terpental entah kemana.
Lalu Nisa pun segera mencari dan raih satu persatu bagian dari ponselnya yang lepas tadi, ia mencari ke sana ke mari, seperti orang yang sedang mencari "Siput" di laut dengan kelopak matanya yang sudah terasa penuh dengan air mata.
Ia meratap sambil memegang ponselnya, mencoba menyalakan kembali, namun semuanya sia-sia, ponselnya benar benar sudah tidak bisa di gunakan lagi.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia merasa ini semua salahnya.
Air matanya terus saja menetes, bukan karena ponselnya yang rusak Namun karena "Fira" lah Dimas tega melalukan ini, begitulah anggapan Nisa.
"Apa lagi yang akan terjadi setelah ini? gara-gara wanita itu sekarang Hp ku jadi korban" makinya dalam hati.
"Mungkin sekarang dia sedang senang, bahkan tertawa, sedangkan rumah tangga ku hampir berantakan" ia kesal namun mencoba tenang.
"Astaghfirullahaladzim," Berulang-ulang Nisa mengucap kalimat itu.
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah, dadaku rasanya sakit sekali" rintih Nisa dengan air matanya yang terus mengalir, di sisi lain ia ingin berontak saat itu juga, namun di sisi lain ia tidak ingin melanjutkan pertengkaran.
Tapi sekarang ia merasa puas, sebab apa yang ia pendam selama ini akhirnya bisa ia keluarkan, walupun tidak sepenuhnya.
__ADS_1