
"Aku nggak boleh terlihat cengeng di depan Mas Dimas," batin Nisa. Ia pun dengan segera bangkit dari rasa keterpurukannya.
"Aku nggak suka kamu menghubunginya terus menerus Mas! jika ia perlu ia bisa menghubungi mu, bukan kamu yang harus menghubunginya lebih dulu!" ujar Nisa dengan nada lembut karena tidak ingin terlihat Egois. Lagi pula ia sadar akan penjelasan Dimas. Bahwa wanita itu adalah karyawan di kantornya pak Robin, dia menghubungi Dimas atas dasar pekerjaan saja. Tapi rasa cemburu Nisa yang sebegitu rupa membuat Nisa berasumsi yang bukan bukan. apa lagi setelah melihat perlakuan Dimas yang lebih membela wanita itu di banding ia.
"Pokoknya aku nggak mau kamu berhubungan dengan wanita itu lagi. kamu harus segera menghapus nomornya dari ponsel mu! Kamu nggak perlu menyimpannya!" Perintah Nisa dengan suara yang lembut dan masih terlihat tegar. Walaupun saat itu ia ingin menangis sekeras-kerasnya.
"Sudah lah aku nggak ada hubungan apa-apa dengannya. Minggir kamu!" ujar Dimas yang terus saja membela wanita itu, menepis Nisa yang berada di hadapannya dengan keras.
Nisa yang hanya bisa menghela napasnya dalam. Melihat perlakuan Dimas yang lebih memilih wanita itu di banding ia, Padahal ia hanya ingin Dimas menghapus Nomer ponselnya saja saat itu. Lagi pula Dimas masih bisa meminta nomornya kembali. Kapan saja jika dia ingin. Mereka juga pasti lebih sering bertemu di kantor tidak sulit untuk Dimas memintanya kembali. Hanya permintaan itu saja Dimas tidak ingin. Nisa hanya ingin tahu seberapa pentingnya wanita itu bagi Dimas.
__ADS_1
Melihat perlakuan Dimas yang sudah kelewatan membuat hati Dan perasaannya hancur. Kini ia lebih memilih diam walaupun tersimpan rasa sakit hati yang begitu dalam. Ketika melihat wajah Dimas saja membuat hatinya terasa nyeri sebab Amarah yang tidak bisa ia keluarkan. Hanya bisa kepalan tangan yang bisa ia lakukan.
"Ya tuhan apa yang harus aku lakukan? Agar hati ini ikhlas menerima semuanya? hamba belum siap harus melihat perselingkuhan mas Dimas" Do'a Nisa dalam hatinya dengan air matanya yang terus saja mengalir tanpa tangis. Dalam keadaan berbaring di atas tempat tidur posisi mereka yang saling membelakangi satu sama lain.
Di mana malam yang seakan mencekam bagi Nisa. rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya saat ini. Tak sadar ia tertidur dengan keadaan yang masih berpikir.
Dimas lebih awal bangun dari Nisa. Sehingga ia tidak ada waktu untuk sarapan pagi.
Dimas terlihat buru-buru saat pergi. tanpa menghiraukan Nisa yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Nisa yang terus saja berpikir tentang kejadian tadi malam. ia sangat mengingat perlakuan kasar Dimas terhadapnya yang tak bisa ia lupakan.
"Aku nggak boleh seperti ini. Aku masih punya haifa," ujar Nisa yang kembali bangkit dari keterpurukannya, dan tidak ingin larut dalam kesedihan.
Nisa menghampiri putrinya yang berada di kamar yang masih tertidur lelap. ia memandang wajah polos haifa. Dan membuatnya kembali menangis.
"Haifa, mama harus gimana? mama sedih," ujar Nisa dengan nada berbicara sedikit gemetar pada putrinya yang masih tertidur lelap.
Dua hari sudah berlalu, Nisa yang terus diam membuat Dimas semakin tidak nyaman, Sebab sikap Nisa
__ADS_1