
Dimas yang terlihat sedang mengotak atik ponselnya. "Iya, ini fotonya" ujar Dimas menyerahkan ponselnya ke arah Nisa dengan santainya, terlihat wajah bahagianya saat itu, wajahnya yang terlihat kusut dan murung kini hilang sirna. foto wanita yang terlihat jelas terpampang di ponselnya,
Nisa yang hanya bisa menahan rasa sakit hati dan kecewa pada saat ia memandang foto gadis yang selama ini sudah membuat suaminya berubah, ingin rasanya Nisa menangis sekerasnya, saat Dimas memperlihatkan foto gadis itu.
"Ya tuhan apa ini? bagaimana mungkin aku bisa mengetahui semua ini dari mas Dimas sendiri,
tuhan aku tidak sanggup melihatnya" batin Nisa yang sudah membuat matanya berkaca-kaca.
"Oh ini yah" Nisa memandang foto wanita itu dengan santainya, terlihat santai namun hatinya hancur bagai teriris-iris. tidak lain itu adalah "Fira."
"Biasa aja mas, cuma dandanannya aja yang sedikit menor" ujar Nisa meremehkan kecantikan wanita itu, padahal ia sadar kecantikannya, wanita itu memang terlihat lebih cantik dari Nisa karena polesan Mike up nya yang sedikit mencolok membuatnya terlihat cantik.
"berarti kamu benar mencintainya mas?" tanya Nisa datar sedikit menahan amarah dan air matanya.
Dimas tersenyum bahagia, bertanda bahwa ia benar-benar mencintai Fira.
__ADS_1
"Iya, sedikit" jawab Dimas dengan santainya dengan salah tingkah.
Setelah mendengar pengakuan Dimas, Nisa yang hanya bisa diam terpaku, dalam batinnya menangis, namun ia tetap terlihat tegar di depan Dimas, se akan tidak ada apa-apa. dan sekarang membuat Dimas semakin ingin memperkenalkan "Fira kepada Nisa.
terlihat wajah bahagia Dimas pada saat ia menceritakan tentang Fira.
Wanita yang sudah membuat tergila-gila. Fira bekerja di perusahaan pak Robin sebagai Administrasi keuangan. ia sering bertemu Dimas atas dasar pekerjaan. Pak Robin yang selalu memintanya menemui Fira,
penjelasan yang di berikan Dimas membuat Nisa percaya, walaupun masih tersimpan luka di hatinya.
"Ya nggak lah, aku nggak mungkin macam-macam sama dia. Dia juga perempuan baik-baik"
Lagi-lagi Dimas memberi pujian pada Fira yang benar-benar membuat perasaannya hancur berkeping-keping, bagai Ada pisau yang menyayat dan seakan ada aliran listrik menyerang dadanya saat itu. namun Nisa tetap terlihat tegar mendengarnya. Nisa yang hanya bisa tertegun diam, seolah-olah tidak ada apa-apa.
"Kamu nggak marah lagi kan?" tanya Dimas sembari menggodanya.
__ADS_1
Nisa hanya bisa membalasnya dengan senyum walau tersimpan rasa kecewa dan sakit hati di hatinya.
"Nggak mas aku nggak marah ko, aku senang kamu jujur,"
"Nah gitu dong, makasih ya sayang," ujar Dimas dengan manjanya sembari merangkul Nisa
Nisa merasa bahagia, atas perlakuan kecil Dimas yang tiba-tiba memeluknya.
"Aku mau nyamperin haifa dulu Mas!" Nisa pun membuyarkan pelukan mereka, beranjak dari tempat duduknya, pergi begitu saja meninggalkan Dimas dengan air mata yang dengan sendirinya mengalir tanpa tangis. sesekali ia menghapus dan mengusapnya dengan kedua tangannya.
"Mas, Aku sekarang istrimu, kenapa kamu tega Mas? kenapa? apa yang kurang dariku?" batin Nisa di setiap langkahnya menemui Haifa.
......................
Seminggu kemudian, Nisa sudah mengetahui hubungan Dimas dengan Fira. Dimas menghabiskan waktu dan hari-harinya berhubungan dengan Fira, rasa bahagia terlihat sekali di wajahnya.
__ADS_1