
Diraz terlihat tampan hari ini, aura ketampanannya terpancar bagai ada sinar saja di wajahnya, sehingga membuat mata enggan berkedip, entah itu karena rasa suka Nisa yang tidak pernah terungkap selama ini atau karena pantulan cahaya lampu saja? atau mungkin memang mata Nisa yang sedikit rabun.
Diraz mencoba menawarkan dirinya agar bisa duduk bersama Nisa.
"Sepertinya kamu sendiri, mau aku temani?"
Tanpa berpikir panjang Nisa pun menyetujui permintaan Diraz
"Iya Raz, silahkan duduk aja, aku memang lagi sendiri"
Diraz pun mengambil tempat duduknya pas berhadapan dengan Nisa, kedekatan mereka membuat Nisa merasa serba salah, bibirnya ingin bicara, namun ia bingung harus memulai dari mana.
Matanya liar ke sana kemari dan tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang sedang tidak gatal. begitu juga diraz hanya mengaduk-aduk minumannya yang tadi ia bawa dari Kafe.
Mereka berdua terlihat bagai dua pasangan yang baru pertama kali bertemu, "Jatuh cinta pandangan pertama" itulah kata-kata yang pantas untuk mereka namun terhalang karena status Nisa yang sudah bersuami, Nisa tertunduk sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya, rasa kuatir dan bingung kini bercampur aduk di kepalanya.
"Nis kamu nggak pesan minum? aku pesanin yah, kamu tunggu di sini aja"
__ADS_1
Dia tersenyum ke arah Nisa lalu pergi tanpa menanyakan minuman apa yang Nisa pesan.
Tingkahnya yang spontan memesankan Nisa Minum sebelum Nisa memintanya, membuat Nisa hanya bisa tersenyum geli merasa tak percaya.
Setelah kepergian Diraz, Nisa melamun sambil menaruh tangannya di bawah dagu, menatap ke arah cafe dengan pemikirannya.
"Gimana ya supaya aku nggak deg degan dan tetap tenang di dekat Diraz? lagian juga kenapa Diraz di sini?"
"huh.... aku harus berusaha tenang, walau gimana pun aku sudah bersuami. tegas Nisa perlahan
Tidak menunggu lama Diraz pun datang membawa dua gelas minuman dingin dan meletakkannya di meja.
Diraz menatap Nisa saat Nisa memandangnya dengan penuh tanda tanya "Ini untuk putrimu"
Nisa terdiam mendengar ucapan Diraz yang seakan tahu isi pemikirannya.
Nisa hanya bisa tersenyum, tak pernah terpikir di benaknya tentang putrinya nanti akan merasa haus. Diraz benar tak lama Haifa pun datang menghampiri mereka, setelah menghabiskan minuman yang tadi Diraz pesan ia pun kembali bermain.
__ADS_1
Begitu banyak cerita yang mereka bicarakan hari ini, namun yang sangat berkesan bagi Nisa saat Diraz mengucapkan kata-kata yang tidak pernah terpikir olehnya.
"Nis kamu mau dengar cerita nggak?"
"Cerita apa Raz?" tanya Nisa datar.
"Sebenarnya sih ini masalah pribadi aku, aku nggak tau mau cerita sama siapa? bingung, mau aku simpan, rasanya tu nggak enak banget, lebih baik aku kasih tau kamu yah" gumam Diraz dengan sedikit memelankan nada suaranya.
"Oh gitu ya Raz, cerita aja nggak papa ko Raz" sahut Nisa basa basi, dengan pemikiran di kepalanya yang sudah tidak karuan.
"Dia mau cerita apa ya? apa dia mau curhat tentang pacarnya? atau mungkin tentang kehidupannya? haduh, nggak banget sih dengarnya, jangan sekarang dong, aku juga masih ada masalah Nih! " gumamnya dalam hati, ia pun mulai merasa tak nyaman mendengar cerita Diraz namun ia berusaha tetap tenang.
"Benar Nis aku boleh cerita, emangnya kamu nggak keberatan?" tanya Diraz lagi dengan ekspresi wajahnya yang terlihat serius.
"Iya Raz, aku nggak keberatan cerita aja, nggak papa ko"
"ya iya lah keberatan, ternyata kamu nemuin aku cuma untuk mendengarkan cerita kamu? apa nggak ada cerita lain? haduh bete banget sih!" sahutnya lagi dalam hati.
__ADS_1