
Dimas terus saja menjawab dengan santainya dan wajah polosnya,
"Nggak ada mom aku nggak ada memberi tau dia" jawaban yakin yang di peragakan Dimas.
Nisa yang sejak tadi terus bertahan memendam rasa kesalnya, dan sekarang ia merasa putus asa melihat Dimas yang masih saja terus tidak peka.
"Udah mas aku capek. Sampai kapan aku harus mendengarkan kisah cinta kalian?" ujar Nisa yang tiba-tiba membuyarkan kejujuran Dimas yang sangat menyakitkan itu. Nisa yang sudah kelihatan marah, namun Dimas malah kembali marah dengannya.
__ADS_1
"Kamu itu kenapa marah sih? Kamu itu terlalu lebay tau nggak!" bentaknya lalu pergi begitu saja meninggalkan Nisa.
"Bisa-bisanya dia malah bilang aku lebay?" ujar Nisa dalam hati, sembari mengepal kedua belah tangannya dan menghela napasnya dalam mendengar jawaban Dimas yang membuatnya tidak habis pikir.
Namun karena emosinya yang sudah sangat menumpuk di dada, Nisa pun memberanikan dirinya bicara, tudingan demi tudingan yang ia ucapkan, sehingga membuat Dimas terhenti dari langkahnya. mendengar ucapan Nisa, Dimas bukannya merasa bersalah namun malah marah pada Nisa, dengan modal kejujurannya yang selama ini.
Matanya yang terus saja melotot ke arah Nisa, setiap kali Nisa menjawab dan memberi tudingan demi tudingannya pada Dimas. sehingga membuat Dimas marah dan mulai memukul dan membanting setiap barang yang dia jumpai, Nisa merasa takut dengan sikap arogan Dimas. walaupun yang ia banting hanya lah barang-barang yang tidak mudah pecah. Namun membuat suara-suara yang keras yang membuatnya memilih Diam walaupun hatinya masih terasa sakit. Batinnya menangis namun tidak ada air mata yang ia teteskan.
__ADS_1
"Ayo sekarang bicara!"bentak Dimas dengan suara keras melihat Nisa yang diam dengan kepala tertunduk, menahan air mata yang sudah terasa penuh di kelopak matanya.
"Kamu jangan nuduh aku seenaknya lagi ya! aku sudah jujur sama kamu selama ini, aku capek harus bertengkar terus" ujar Dimas dengan suara keras dan matanya yang melotot.
Nisa sadar suaminya telah jujur selama ini tentang perasaannya namun itu sangat menyakitkan! Terkadang terlintas di pikirannya: Kenapa dia harus menikahi pria seperti Dimas? pria yang Pemarah, dan Emosian. Bicara Dimas yang selalu kasar membuat Nisa merasa bukan sebagai istri, tapi musuh bagi nya. Dimas memang tidak pernah ingin di salah kan, ia selalu merasa benar, walaupun ia salah.
Pertengkaran hebat terjadi hari itu. Nisa yang hanya bisa menangis setelah kepergian Dimas, menahan kesedihannya, Sejak kehadiran Fira rumah tangga Nisa tidak bisa tentram seperti dulu.
__ADS_1