
Tidak berapa lama, teriakan haifa membuyarkan tangis Nisa
"Ma, Itu taman mainnya, ayo .." teriak Haifa yang sudah tidak sabar ingin turun secepatnya, setelah Nisa menurunkan Haifa, dia pun terlihat kegirangan dan berlari ke tempat bermain tersebut, Nisa tersenyum dan menggeleng kecil melihat tingkah putrinya. Hari ini tidak begitu banyak pengunjung yang datang, hanya beberapa anak saja.
"Makasih ya Lis kamu sudah mengantar kami ke sini, ujar Nisa dari luar mobil dan mendekatkan sedikit kepalanya ke arah kaca mobil yang terbuka.
__ADS_1
"Iya Nis Da.... "
Lisa berpamitan melambaikan tangannya, di balas dengan lambaian tangan Nisa juga, mobil pun terus melaju meninggalkan Nisa namun tangan Nisa yang terus melambai sampai mobil Lisa tak terlihat lagi. Nisa pun menemui putrinya yang sudah berada di tempat bermain, hanya ada beberapa anak saja, dan beberapa orang tua yang nunggu anak mereka di kursi yang sudah di sediakan, setiap kursi terdapat meja kayu persegi empat dan kursi panjang yang berhadap-hadapan, Nisa pun mengambil tempat duduknya yang tidak jauh dari pandangan putrinya. di tempat bermain tersebut terdapat sebuah cafe yang berdempetan dengan tempat bermain, kebetulan satu pemilik dengan Cafe.
Entah kebetulan, atau mungkin sudah rencana yang kuasa, saat Nisa sedang di rundung kesedihan, hatinya yang terasa hancur, bagai teriris, tercabik, semua di rasakan Nisa saat ini. napasnya sudah terasa sesak sehingga menghirup udara segar pun terasa sulit baginya, sesekali dia memukul dadanya secara perlahan tanpa menghiraukan orang di sekitarnya. Agar membuat napasnya menjadi lega Nisa memukulnya berulang-ulang. Entah sampai kapan dia bisa memendam rasa sakit hati dan bertahan? Hanya tuhan lah yang tahu, kini Nisa hanya bisa menyerahkannya pada tuhan. Nisa hanya terus berdoa agar masalah yang dia hadapi akan segera hilang dari ingatannya.
__ADS_1
Ketika Nisa sedang duduk dengan mata yang terus mengawasi putrinya, Namun pikirannya terbang entah kemana, Tiba-tiba sosok Diraz yang gagah perkasa datang menghampirinya.
"Hey Nis, ngapain kamu di sini?" sapa Diraz melebarkan senyumnya , Nisa sontak berdiri lalu membalas sapaan Diraz.
"A...a... aku nungguin putri ku Raz, itu dia yang pakai baju biru, yang lebih besar dari teman-temannya" sembari menunjuk ke arah putrinya dengan tingkahnya yang sedikit gerogi, dan bicaranya yang sedikit terbata-bata. sekujur tubuhnya terasa kaku dan keringat dingin, jantungnya memompa dengan sangat cepat mengedarkan darah yang mengandung oksigen dan nutrisi ke semua sel jaringan dan organ tubuhnya. Tak hanya itu saja urat-urat yang sudah rapuh dan rusak bahkan mungkin sudah hampir putus kini utuh kembali. Sekarang jantungnya bermasalah bukan karena menahan sakit hati, namun menahan bunga Cinta yang tumbuh bermekaran. Berhadapan dengan Diraz benar-benar membuatnya tak bisa berkata apa-apa, hanya pertanyaan yang berkecamuk di batinnya.
__ADS_1
"Benarkah ini? apa hanya mimpi? tidak, tidak aku nggak bermimpi, ini nyata, astaga apa ini? apakah kau memberi ku kebahagian dengan cara ini, ya tuhan ampuni aku." batin Nisa yang kini membuatnya sekejap hilang dari pemikiran yang sudah membuatnya hampir putus asa. Kini hanya ada bunga-bunga Cinta yang tumbuh bermekaran.
"Oh gitu yah?" balas Diraz menganggukan kepalanya serta senyum di wajahnya, Diraz yang terlihat tampan berdiri di hadapannya, mengenakan celana Jens pendek dan kaos polos berwarna Hitam