
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Dimas pun kembali ke kamar, dengan leluasanya Nisa menumpahkan kesedihannya melalui air matanya tanpa tangisan, ia tidak bisa berbuat apa-apa, Hanya bisa menahan rasa sakit dan kecewa karena mendengar kejujuran dari suaminya membuatnya tidak bisa marah.
setelah selesai dari cuciannya Nisa pun segera menghampiri Dimas yang berada di kamar.
"Mas" panggil Nisa lembut.
"sebenarnya , aku itu nggak suka melihat kamu bertemu sama dia" Ujar Nisa dengan melas, mata sayup serta suara yang sedikit manja.
"Aku kan nggak ada hubungan apa-apa sama dia, kami bertemu karena pekerjaan aja" jelas Dimas.
__ADS_1
"Kamu mau aku berhenti bekerja?" Acam Dimas
Sehingga membuat Nisa terdiam dan berpikir.
"Mas Dimas Sudah jujur, aku nggak boleh cemburu seperti ini," batin Nisa, walupun di hati kecilnya masih tersimpan rasa kecewa, melihat suaminya menemui wanita lain hanya karena pekerjaan.
Seminggu kemudian,
Setelah satu minggu bekerja, pikiran Nisa yang Terasa suntuk karena menghabiskan hari-harinya di kantor, ia pun bermaksud mengajak dan membawa anak dan suaminya ke taman wisata yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, hanya membutuhkan satu jam perjalanan, hingga mencapai tempat tujuan. Dimas pun menyetujui ajakan Nisa, walaupun hati dan pikiran Dimas sekarang tidak bersama mereka.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat tujuan, mereka mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat, Nisa membentangkan sebuah tikar yang sudah ia persiapkan sejak kemarin, Nisa pun membawa sedikit makanan dan cemilan untuk mereka makan di sana. Banyak para pengunjung di sekitar mereka, yang tujuannya sama seperti mereka. Banyak anak-anak seusia Haifa bermain dan berlari, Haifa anak yang tidak pemalu, dia mudah akrap dengan teman sebayanya, Nisa hanya bisa memantaunya dari Kejauhan.
Lalu Dimas membaringkan tubuhnya di atas tikar yang sudah Nisa persiapkan, udara di situ terasa sejuk karena banyak pohon-pohon besar rindang sebagai pelindung mereka, rumput hijau yang bersih membuat pengunjung berasa nyaman, tak kala banyak pengunjung yang datang pada hari itu, Nisa merasa bahagia, saat memandang Dimas berada di sampingnya, berasa seperti keluarga kecil yang sempurna. walaupun ia tahu, Dimas yang tidak terlihat bahagia, pikirannya melayang entah kemana, Dimas yang hanya sibuk dengan ponselnya saja.
"Mas aku tau, pikiran mu sedang tidak bersama kami sekarang, mungkin sedang pada wanita itu," batin Nisa yang membuat matanya hampir berkaca-kaca.
Hampir dua jam sudah tidak terasa mereka menikmati udara taman tersebut, serta suasana di sekitar taman, Haifa yang masih saja asik bermain dengan teman sebayanya, sesekali suara pekikan Nisa yang terdengar keras memanggil Haifa yang sedang bermain, yang tidak pernah lepas dari pandangan Nisa.
Tiba-tiba terlihat beberapa perempuan yang terlihat sedikit muda usianya dari Nisa, sedang membentangkan tikar nya sedikit jauh, tepat di seberang Nisa. Mereka yang sambil tertawa bercanda gurau. hingga membuat Dimas terkejut dan canggung, dan melirik ke arah suara tersebut. Suara tawa yang tidak asing bagi Nisa jelas terdengar kuat di telinganya, tidak lain itu adalah suara "Fira," Nisa memang belum sedikit kenal sosok Fira Namun sempat pernah mendengar status-status yang sering Dimas dengar di ponselnya, tidak lain itu ada lah suara Fira, lagipula Dimas juga sudah pernah memperlihatkan foto Fira sebelumnya. Wajah yang sangat Nisa ingat,
__ADS_1