
Setelah pulang dari kantor, Dimas yang selalu sibuk dengan ponselnya, Makan, Minum, dan Tidur, ponselnya tidak pernah lepas dari genggamannya, sesekali ia tersenyum dan tertawa, saat membalas pesan dari Fira.
Namun Nisa tetap tidak mau ambil pusing, ia terus bertahan walaupun hatinya terasa sakit. hari-harinya sekarang di habiskan bersama putrinya, senyum dan tawa Haifa lah membuat Nisa tegar. Walaupun sesekali ia menitikkan air matanya tanpa tangisan.
Pagi itu, ketika Nisa sedang membereskan sisa-sisa perlengkapan masaknya di dapur, Dimas yang sedang menyantap masakan yang sudah terhidang di atas meja.
"Mas gimana pekerjaan mu? apa baik-baik aja?" tanya Nisa yang tiba-tiba membuyarkan keheningan mereka. dengan tangan yang sedang mencuci sisa perlengkapan masaknya di wastafel cuci.
"Ya, baik-baik aja" jawab Dimas tanpa menatap Nisa
__ADS_1
"Terus bagaimana dengan pak Robin?" tanya Nisa lagi berpura-pura.
"Ya gitu lah, dia masih aja main sama perempuan." Dimas memang sering menceritakan tetang perselingkuhan pak Robin pada Nisa.
"Bagaimana dengan Fira? perempuan yang tempo hari kamu sukai Mas?" tanya Nisa datar, Namun dadanya terasa sakit ketika menyebut nama perempuan itu.Bagaimana tidak, perempuan yang sangat paling Nisa benci, dan sekarang ia sebut namanya, rasanya sangat menyakitkan.
Melihat Nisa yang terlihat biasa, saat mengetahui perasaan nya, Dimas pun dengan santainya menceritakan pertemuannya dengan Fira kemarin pada Nisa.
"Menurut kamu gimana? dia suka nggak sih sama aku?" tanya Dimas dengan santainya pada Nisa, bagai orang yang sedang bertanya pada sahabatnya saja.
__ADS_1
Nisa menyadari perilaku Dimas menunjukan bahwa ia benar-benar sudah jatuh cinta dengan Fira sekarang, namun dia sedikit Naif, bagi Dimas tiada hari tanpa Fira.
"Aku nggak tau mas" jawab Nisa dengan ketus. namun Dimas tidak menyadari sikap Nisa yang terlihat kesal.
Dimas sering berhubungan dengan Fira melalui ponsel saja, di kantor lah tempat mereka sering bertemu dan bertatap muka, karena Dimas yang sudah berstatus menikah, membuatnya sedikit kesulitan, Namun ia tidak putus asa. ia terus saja mendekati Fira, dan mengabaikan perasaan Nisa. walaupun ia tahu Nisa tidak menyukainya namun ia tidak perduli.
Tidak terasa, lagi-lagi air mata Nisa jatuh setetes demi tetes mengenai piring-piring dan gelas yang berada di tangannya, dengan segera ia mengusapnya dengan pergelangan bahu atasnya sebab tangannya yang di penuhi dengan busa sabun.
"Mas sebenarnya aku nggak suka yah kamu berhubungan terus sama dia" ujar Nisa dengan ketus dengan kepala tertunduk, piring dan gelas yang menjadi saksi kesedihannya tetes demi tetes air mata yang terus saja keluar dari kelopak matanya, mengenai piring dan gelas yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Aku kan nggak ada hubungan apa-apa sama dia, kamu nya aja yang terlalu berasumsi yang bukan-bukan. dia itu wanita baik- baik ko'" ujar Dimas, dan lagi-lagi kata pujian pada Fira yang membuat dadanya terasa sesak, pembuluh darah seakan serasa menyempit tiba-tiba, pujian yang sangat menyakitkan bagi Nisa.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Dimas pun kembali ke kamar, dengan leluasanya Nisa menumpahkan kesedihannya melalui air matanya tanpa tangisan, ia tidak bisa berbuat apa-apa, Hanya bisa menahan rasa sakit dan kecewa karena mendengar kejujuran dari suaminya.