
"ya iya lah keberatan, ternyata kamu nemuin aku cuma untuk mendengarkan cerita kamu? apa nggak ada cerita lain? haduh bete banget sih!" sahutnya lagi dalam hati.
Dengan suara yang lembut sambil mendekatkan wajahnya ke arah telinga Nisa,
"Nis kamu tu sebenarnya cantik"
Diraz memuji tepat dihadapan Nisa lalu ia menatap dalam ke arah Nisa menunggu respon dari pujiannya.
Nisa hanya terenyuh mendengar kalimat yang tidak terpikirkan olehnya,
"Astaga, apaan sih nih Diraz apa nggak salah Diraz bilang aku cantik? " gumamnya dalam hati, ingin sekali rasanya ia menatap ke cermin saat itu juga.
Tetapi Nisa mencoba tidak begitu memperdulikan pujian Diraz yang hampir membuat pakaiannya kedodoran.
" Ah, kamu bisa aja Raz, udah deh nggak usah bilang gitu" sahutnya dengan santai mimik wajahnya datar, namun ia merasa jadi wanita paling cantik saat ini apa yang Diraz bilang tentang dirinya di luar dugaannya.
Mendengar pujian Diraz yang tidak pernah dia dapat dari Dimas.
Terlintas di pikirannya tentang kejelekan Dimas.
"Aku berdandan aja mas Dimas nggak pernah memuji ku, apa lagi aku nggak dandan hump..." Nisa pun menghela napasnya dalam.
Melihat Nisa yang terlihat acuh dan tidak perduli dengan pujiannya Diraz merasa tidak nyaman, melihat mimik muka Nisa yang terlihat santai, Diraz merasa pujianya sia-sia, ia pun mulai bicara dengan topik lain.
__ADS_1
...****************...
Kini tak teras berbincang mereka sudah terlalu lama, walaupun pertemuannya dengan Diraz membuatnya melupakan permasalahan yang sekarang dia hadapi, namun tiba-tiba terlintas lagi di pikirannya wajah Fira yang membuatnya seketika menyentuh keningnya.
"Astagfirulahalazim kenapa sih wajah itu muncul lagi" gumamnya perlahan.
Nisa pun seketika mengakhiri obrolannya.
Beralasan bahwa ia sedikit ada urusan, dan ingin cepat pulang, tanpa berkata apa-apa Diraz pun menyetujuinya.
Setelah kepergian Diraz Nisa segera membawa putrinya pulang.
Nisa menghubungi suaminya melalui vidio call namun tidak ada jawaban, lalu ia mengirim pesan dan juga tidak ada balasan dari Dimas.
Terpikir dengan sahabatnya Lisa, jika ia meminta Lisa menjemputnya Lisa pasti tidak keberatan, namun Nisa tidak ingin merepotkan sahabatnya lagi, ia pun mengurungkan Niatnya kini ia hanya bisa menunggu balasan Dimas.
Namun tiba- tiba ponselnya berdering suara panggilan masuk dari Dimas, Nisa pun segera menjawabnya, belum sempat ia bicara Dimas terlebih dulu meneriakinya.
"Halo mas, mas"
"Kamu tu ngapain sih pergi ke situ? lagian juga kamu kan bisa pakai kendaraan, ngapain pake di antar teman segala, aku lagi ada kerjaan!"
Tut.... tut... tut..
__ADS_1
Dimas memutuskan panggilannya sebelum mendengar jawaban dari Nisa.
Nisa menghela napasnya dalam dan mengucap kalimat istighfar.
"Astagfirulahalazim"
Karena merasa sangat kesal dengan jawaban Dimas Nisa mengirim pesan yang isinya:
"Mas! aku meminta mu baik-baik, tapi kenapa bicaramu kasar, bisa nggak sih kamu nggak bentak-bentak bicaranya"
Dimas membacanya namun mengabaikan pesan tersebut, itu sangat membuat Nisa semakin marah.
Hingga tak terasa bentakan keluar dari mulutnya, melihat tingkah Haifa yang merengek minta pulang, sambil menyeret-nyeret tangan Nisa yang tengah sibuk dengan ponselnya.
Sambil melepaskan genggaman Haifa, suara keras dengan matanya melotot kearah putrinya.
"Sebentar dong Fa, mama lagi hubungin ayah, bisa diam nggak sih kamu!"
Karena mendengar bentakan dan suara keras Nisa, perlahan Haifa mengeluarkan suara tangis yang membuat orang di sekitarnya berseteru memandang ke arah mereka.
Rasa malu menyelimuti pikirannya melihat orang di sekeliling menatapnya, ia pun berjongkok sejajar menatap putrinya, merayu hingga tangisnya berhenti.
Diraz yang sudah berkumpul bersama teman-temanya melihat Nisa dari kejauhan, karena sejak tadi jemputan Nisa belum kunjung datang lalu ia menemui Nisa dan menawarkan Dirinya untuk bisa mengantar mereka.
__ADS_1
"Nis ayo aku antar, sepertinya kamu nggak Ada yang jemput, kasian putri mu" suara lembut itu terdengar jelas.
"Iya Raz, makasih ya, suamiku sepertinya nggak bisa jemput" sahut Nisa dengan raut wajahnya sudah terlihat lesu.