
"Candi?" Leka terkejut. "Bagaimana kau bisa menemukanku?"
"Oh, aku tak sengaja melihatmu dari mobilku. Aku ingin memastikan karena kebetulan aku beli bubur di seberang sana." Candi menunjuk ke seberang jalan yang merupakan restoran masakan Cina.
"Oh." Leka benar-benar pusing. Sebenarnya kedatangan Leka ke Jakarta adalah untuk menghindari Candi. Candi adalah tipe pejuang tanggung yang tak kenal kata menyerah dalam hal apapun. Pendidikan, olahraga bahkan perusahaan ayahnya maju berkat Candi. Ia membuat banyak kantor cabang selain di Jakarta. Dulu Leka luluh karena perjuangannya yang pantang menyerah waktu itu. Tidak hanya membuat hatinya terpikat, Leka juga mengaguminya. Namun sekarang beda, ia telah menikah. Sulit baginya melakukan hal lain karena status yang mengganjalnya dan suami tidak bersamanya. Saat ia bertemu dengan Candi terakhir kali, ia sadar ia harus menyelesaikan masalahnya dulu dengan suaminya, setelah itu ia baru bisa memikirkan hal yang lain.
"Kamu ternyata mendengarkan permintaanku juga." Candi tersenyum senang.
"Oh, tidak begitu." Leka terlihat gugup. "Aku hanya ...."
"Ya, ya ... tidak apa-apa kalau aku bukan alasannya." Candi tetap terlihat senang. Boleh aku makan di sini?"
"Eh, bukannya tadi beli bubur?"
"Oh, itu untuk nenekku di rumah."
"Mengapa kamu tidak mengantarnya? Mungkin dia sedang menunggunya." Secara halus Leka mengusirnya.
"Rumahku kan dekat dari sini, kenapa harus buru-buru?"
"Apa?"
"Rumahku di samping komplek ini."
Astaga, yang kuhindari malah dekat dari sini tinggalnya. Lalu aku harus pergi ke mana lagi? Dunia rasanya sempit sekali.
Candi mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Ia kemudian memesan makanan. "Mungkin minum es teh dan makan ayam goreng seperti dia juga boleh." Candi menunjuk makanan yang sedang di makan Nizam.
Karuan saja Nizam panik karena baru saja menguping pembicaraan mereka sehingga ia mengalihkan pandangan serius pada piring makannya.
"Nasinya apa? Aku ada nasi uduk."
"Oh, itu aku mau."
Leka segera menghidupkan kompor yang berada di tempat dagangannya, memilih daging ayam dan memasukkannya ke dalam minyak panas. Sambil menunggu ayam selesai di goreng ia membuatkan minuman.
"Berarti kamu baru sampai ya?" Candi memulai pembicaraan.
"Begitulah," jawab Leka malas.
"Bagus juga tempatmu tinggal. Strategis untuk jualan, tapi tempat jualanmu ini harus di perbaiki. Aku bisa membantumu memberikan modal untuk ...."
"Candi maaf," Leka sangat hafal siapa Candi. Ia bisa membius seseorang masuk perangkapnya. Menyanjungnya, membujuknya, memberi begitu banyak kebaikkan hingga tak bisa menolaknya. Di situlah, ia akan menguasaimu, mengendalikanmu dan mengaturmu. Karena itulah ia cocok jadi pebisnis karena selalu berhasil.
Candi hanya diam. Ia memperhatikan Leka yang mengambil nasi ke piring dari sebuah wadah. Ada satu hal dalam hidupnya yang ia sesali teramat sangat. Melepas Leka pergi dari sisinya. Belum pernah dalam hidup ia melepas sesuatu yang ia dapatkan dengan susah payah, dan permintaan orang tuanya sebagai anak yang patuh dan sayang pada orang tua, ia mendengarkan. Ia melepas wanita itu dan menikah dengan pilihan orang tuanya. Apa yang terjadi? Rumah tangganya berantakan. Ia yang setiap hari menyibukkan diri dengan pekerjaan, makin kecanduan hingga sulit pulang ke rumah. Setiap pulang hanya diisi dengan pertengkaran dengan istrinya yang tak kalah cantik dari Leka karena dirinya tak pernah memperhatikan istrinya. Ia tak bisa memulai apapun walau telah mencoba. Ia menyesali dirinya yang telah menyerahkan pilihan hidupnya pada orang tua. Harusnya saat itu ia berjuang memperjuangkan Leka. Bukankah selama ini ia selalu memperjuangkan apapun, tapi kenapa saat bersama Leka ia tidak memperjuangkannya? Satu kebodohan besar yang pernah dibuatnya, tapi kemudian ia melihat peluang lain. Memisahkan Leka dengan suaminya ... segera. "Mmh, enak sekali sambal yang kamu buat. Bagaimana kalau kita kerjasama ...."
"Terima kasih Candi, tapi untuk saat ini aku tidak berniat untuk berbisnis."
"Kau sudah bertemu dengan suamimu?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu di mana dia tinggal."
"Apa?" Candi menghentikan makannya. "Kau tidak tahu di mana dia tinggal?"
"Dia pergi begitu saja karena terburu-buru dan hanya meninggalkan ATMnya saja padaku."
"Tidak juga nomor telepon?" Tanya Candi penasaran.
"Tidak. Itulah ...." Jawab Leka resah.
"Mau ku bantu?"
__ADS_1
"Mmh, tidak usah." Leka tersadar tak sengaja berkeluh kesah pada Candi.
Si kecil Runi mendatangi dan meraih rok Leka. "Unda ...." Ia mendongak dan merengek memberi tahu.
"Kenapa, kamu sudah lapar?"
Runi mengangguk.
"Sebentar, Bunda gorengkan ayam ya?"
Kembali Runi mengangguk.
"Halo cantik." Sapa Candi yang melihat kesempatan untuk mendekati anak Leka.
Runi menoleh, tapi ia bersembunyi di balik kaki Leka.
"Sini duduk sama Om," bujuk Candi. Ia menepuk-nepuk kursi kayu di sampingnya.
Runi bergeming.
"Sudah, duduk sana sama kak Nizam. Nanti Bunda masak dulu."
Runi kembali ke tempatnya dengan berlari dan Nizam dengan sabar menemani. Leka mulai menggoreng ayamnya.
Cuaca siang itu mulai terik. Seorang pemuda tengah meletakkan kepalanya di pangkuan seorang pria bertubuh atletis. "Ayah ... capek Ayah, aku ingin istirahat onegai(ku mohon)." Rengeknya.
"Eh, lihat adikmu tuh masih semangat larinya." Pria itu menunjuk seorang anak perempuan yang berlari di lapangan kecil di hadapannya. Rambut panjangnya yang di kepang dua, melambai-lambai di belakangnya.
"Kak Tama, ayo!" Gadis kecil itu mengacungkan tangannya ke atas. Ia memang semangat berlari hingga napasnya seperti tak ada habis-habisnya.
"Ck, ah! Dia kan anak-anak, Ayah. Jangan samakan aku dengan dia." Tama memeluk pinggang Arya dan membenamkan kepalanya pada perut Ayahnya itu.
Mariko tertawa. Ia duduk di samping Arya sambil bermain hp. Walaupun begitu ia mendengar semua keluhan anak lelakinya yang tidak suka berolah raga itu.
Tiba-tiba Aiko datang dan menendang tubuh Tama. Bugh! "Iya nih!"
"Eh, Aiko. Jangan begitu. Jangan main tendang-tendang begitu, kamu perempuan Aiko." Nasehat Mariko. Menghadapi kedua anaknya ini, Mariko sedikit rumit. Pasalnya Aiko yang sudah kelas 6 SD ini sangat tomboi padahal sudah di dandani lebih feminin sedang Tama lebih cerewet dan rewel walaupun sehari-hari dia banyak diam. Berbanding terbalik dengan adiknya, padahal ia sudah kelas 1 SMA. Walaupun mereka sering bertengkar, mereka sangat akur.
"Ayah, Aiko Yah!" Tama segera duduk dan mengadu pada Arya.
"Ck, Aiko ... jangan." Arya melirik Aiko.
Aiko malah tertawa. Tama segera berdiri dan mengejarnya dan Aiko pun lari menghindar.
"Gimana, follower(pengikut) kamu mulai banyak?" Arya melirik Mariko yang mulai asyik main hp.
"Lumayan. Ini ada produk mayones mau mensponsori di postinganku Mas."
"Bagus dong."
"Iya." Untuk mengisi waktu luang, Mariko sering membuat bento(bekal makanan) yang bentuknya lucu-lucu dan ia posting di salah satu aplikasi di internet, tapi makin hari penggemarnya makin banyak sehingga akhirnya ia menjadi seorang blogger makanan dengan banyak pengikut. Mereka senang dengan karya-karya Mariko yang sering di kirim lewat postingan.
Sebentar kemudian Tama menyerah. "Panas Yah! Kita makan yuk Yah!"
Aiko kembali menendang Tama dari belakang. Bugh!
"Ini bandel banget sih. Aiko!"
Aiko tertawa sambil berlari kembali. Tama kembali mengejarnya.
Arya tertawa. "Sudah yuk, kita makan." Ia menarik tangan istrinya. Wanita itu segera mematikan hp-nya dan mengikuti suaminya.
"Ayah, kita coba makan di tempat lain ya Yah? Bosan makan di restoran Ayah," Ucap Tama pada Arya yang sedang menyetir.
"Ya, mau makan di mana?"
__ADS_1
Tama menengok ke luar jendela mobil. "Itu Yah. Ada yang jual pecel ayam, baru. Sepertinya enak Yah." Ia menunjuk ke luar jendela.
"Mmh?" Arya meminggirkan mobilnya. "Itu?"
"Ih, awas lho kalau gak enak." Aiko menusuk pipi Tama dengan telunjuknya.
Tama menepisnya. "Apa sih, anak kecil." Ia mencubit pipi Aiko. Gadis itu menjerit dan memukul bahu Tama.
"Ahaha ... dapat. Rasain!"
Aiko mengerucutkan mulutnya. Arya memutar dan menyeberangkan mobilnya hingga parkir dekat dengan lapak pedagang itu. "Sudah lama juga gak makan pecel lele. Kamu mau sayang?" Ia menoleh pada Mariko.
"Lele ikan kan? Ayo!" Mariko pun turun diikuti yang lain. Ia masuk ke dalam tenda terpal dan melihat sudah ada orang di sana. Seorang pria, seorang pemuda dan seorang anak kecil. Pria itu baru saja menyelesaikan makannya sedang pemuda itu menyuapi bocah kecil di sampingnya.
"Ini Leka uangnya, kembalinya ambil saja." Jawab pria itu sambil berdiri.
"Ini terlalu besar." Leka menerimanya dengan segan.
"Tidak apa-apa nanti aku kembali." Pria itu keluar dengan cepat hingga wanita itu tak sempat bicara.
"Mbak, pecel ayamnya." Tama sudah tak sabar dengan berdiri di depan etalase tempat makanan. "Ini, aku mau yang dada." Ia menunjuk ayam potong yang di mau di balik kaca.
"Yang lain?" Leka mencemplungkan ayam itu ke dalam minyak goreng yang mulai panas.
Ayam dua, lele dua. Aiko, kamu ayamnya apa?" Tanya Arya pada Aiko.
"Sama, dada juga kayak Kakak." Namun mata Aiko sedang asyik melihat bocah kecil yang sedang bermain boneka di sampingnya. "Dedek, namanya siapa?" Ia menyentuh pipi bocah berjilbab itu. Tentu saja gadis kecil itu terkejut dan berpegang pada Nizam di sampingnya. Bocah itu menatap tegang pada Aiko.
"Dedek ...." Panggil Aiko lagi.
"Namanya Runi Kak," jawab Nizam di sampingnya.
"Eh, kenapa sih gangguin anak orang." Tama mencolek bahu Aiko.
"Lucu anaknya."
"Ih, sok tahu!"
"Memang bener."
"Sok tahu!"
"Sudah bertengkarnya, aduh kalian berdua ini!" Arya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di tempat lain, Aska sudah sampai di rumahnya.
"Kak!"
"Mmh? Ada apa Zack?" Aska yang baru datang menoleh ke arah Zack yang berlari-lari mendatanginya. Lydia juga mengikutinya.
"Kak beli es krim yuk Kak, mumpung libur."
"Aku juga mau Kak," sahut Lydia mengikuti Zack.
"Sudah pada makan belum?" Tanya Aska menatap kedua adiknya.
"Sudah Kak."
"Sudah." Lydia meraih tangan Aska.
"Tapi Kakak belum."
"Ya ...." jawab keduanya.
Aska tergelak.
__ADS_1