Sungai Rindu

Sungai Rindu
Pekerjaan


__ADS_3

"Lemah apa? Kau memang lemah habis operasi kah?"


"Seperti tidak bisa apa-apa dan terlihat payah."


"Kenapa itu penting, aku bukan siapa-siapa."


"Penting, apa yang kau pikirkan itu penting buatku."


Leka tertegun. Suaminya saja tak pernah mau mendengarkan suara hatinya, kenapa ada pria dari negara asing yang bukan siapa-siapanya begitu ingin mendengar kata hatinya. Kenapa nasib mempermainkannya sebegini rupa. Apakah dia godaan atau penyelamat hidupnya?


"Eh ... aku di sini untuk membantumu. Aku di bayar untuk itu. Kalau kau tidak suka aku tidak akan memaksa." Leka menunduk bingung. Ia hendak berdiri tapi Kenzo menahan lengannya.


"Baiklah, aku juga sudah lapar."


Akhirnya Leka menyuapi Kenzo makan. Pria itu sebenarnya senang disuapi oleh Leka, terlihat dari wajahnya yang berseri-seri, walaupun tadinya ia enggan tapi lama-lama ia menikmatinya.


Terdengar suara anak kecil menangis. Tanpa harus menajamkan pendengaran pun mereka bisa dengar.


"Sebentar, mungkin Runi." Wanita itu bergegas keluar. Ia segera masuk kamarnya dan menemukan Runi duduk di lantai sedang menangis. Rupanya ia jatuh dari tempat tidur. Setelah di periksa sepertinya tidak ada yang cidera, hingga Leka menggendongnya dan membawa ke kamar Kenzo.


"Oh Runi kenapa?" Tanya Kenzo khawatir.


"Jatuh dari tempat tidur, tapi sepertinya tidak apa-apa. Mungkin hanya kaget."


Runi yang melihat Kenzo juga kaget dan tangisnya mereda. Ia meyakinkan diri memang melihat pria itu.


Leka kembali duduk di tempat semula di tepian tempat tidur. Runi melihat Kenzo tak berkedip. Tangisnya terhenti seketika.


Kenzo memberi senyuman terbaiknya. "Kamu kenapa tadi sayang. Jatuh?" Tanyanya pada Runi.


Gadis kecil itu tak menjawab. Ia masih terkesima dengan kehadiran Kenzo.


"Sepertinya sudah tidak apa-apa. Runi kamu duduk di sini dulu ya, Bunda mau suapi Omnya dulu." Leka mendudukan Runi di belakang Kenzo.


"Papa!" Runi meralat ucapan Leka.


Leka dan Kenzo tertawa.


"Iya, iya, Papa." Leka tersenyum mendengar protes Runi. Ia menyuapi Kenzo kembali dan tanpa sengaja mata mereka sempat saling bertatapan, membuat jantung Leka berdesir dan pipinya kemerahan. Ini membuat ia malu.


Baru beberapa suap Kenzo makan lagi, ia seperti merasakan sesuatu. Ia berdehem sebentar. "E, sudah saja."


"Baru separo, apa sudah kenyang?"


"A-a-aku minum obat saja."


Leka melihat perubahan di wajah Kenzo. "Kamu tak apa-apa Kak?"


"O-obat saja tolong." Tangan Kenzo gemetar saat menunjuk botol obat di atas meja nakas. Leka segera mengambilnya. Pria itu menelan obatnya dan minum jus yang di berikan Leka. Ia segera berbaring di tempat tidur sambil menutup matanya dengan punggung lengannya.


"Kamu tidak apa-apa Kak?" Leka membungkuk memperhatikannya.


Namun pria itu tak menjawab. Tiba-tiba Runi menyentuh jemari pria itu yang tergeletak di sampingnya dan menangis.


Kenzo terkejut dan mengangkat punggung lengannya yang menutupi matanya. Rupanya ia sedang menahan sakit hingga mengeluarkan air mata. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya itu dari Leka.


"Runi, aku tak apa-apa. Aku hanya tidur." Terang Kenzo.


Melihat itu Leka cepat tanggap. Ia segera menggendong Runi dan membawanya keluar. "Omnya mau bobo dulu ya, kita keluar saja."


"Papa!" Ralat Runi masih sambil menangis.

__ADS_1


"Oh, iya Papa."


Melihat kondisi kenzo, Leka pun prihatin. Hanya doa yang bisa ia panjatkan untuknya.


Kenzo hanya bisa mendesah pelan. Di saat wanita itu datang, ia berada dalam kondisi terburuknya. Padahal ia sedang rindu-rindunya. Ia berada dalam posisi yang sulit, menerima atau menghindari keberadaannya. Operasi itu sebenarnya kejutan untuk Leka tapi wanita itu datang terlampau cepat. Ia tak punya persiapan apa pun selain pasrah pada tubuhnya yang kini ringkih.


Setengah jam kemudian, ada yang mengetuk pintu kamar Leka. Wanita itu buru-buru mengenakan jilbab instantnya. "Siapa?"


"Aiko Mbak."


Leka segera membuka pintunya. Ada Aiko yang memperlihatkan sebuah bungkusan di depan matanya. "Aiko bawain mainan sama biskuit, Mbak." Katanya menggoyang-goyangkan bungkusan yang di pegangnya.


"Aduh, jadi merepotkan ini ...."


"Ngak juga Mbak, malah aku yang merepotkan karena mau main sama Runi."


"Oh, iya masuk saja."


"Halo Dedek."


Runi hanya melihat saja Aiko yang datang mendekati tempat tidur. Gadis itu mulai duduk di tepian tempat tidur dan memperhatikan boneka kain yang di mainkan Runi. "Oh, Dedek punya boneka, Kakak punya mainan nih. Mau?" Aiko membujuk Runi dengan mainannya, kotak yang terbuat dari plastik yang berlubang di tiap sisinya. Lubang itu beraneka macam bentuk dengan isian yang beraneka macam pula. Aiko memperlihatkan bagaimana cara memainkannya dan Runi terhipnotis dengan mainan tersebut. Aiko menyodorkannya pada bocah kecil itu. Lama-lama Runi bisa di ajak bermain bersama.


"Ini Mbak biskuitnya, kita makan sama-sama."


"Oh, Mbak ambilkan minum dulu ya?"


"Oh, panggil saja pembantu, Mbak. Kan ada telepon kamar?" Aiko memberi tahu.


"Mmh?"


Aiko turun dari tempat tidur dan mendekati meja nakas. Di situ ada telepon yang bisa di gunakan untuk memanggil pembantu atau satpam. Aiko mengajarkan cara menggunakannya. Tak lama pembantu datang membawa nampan berisi minuman.


Leka benar-benar berusaha melakukan tugasnya. Ia kembali mengecek Kenzo untuk mandi sore tapi pria itu masih tertidur. Bajunya sedikit basah oleh keringat. Leka kembali ke kamarnya dan menanyakannya pada Aiko.


"Gak apa-apa?"


"Gak apa-apa Mbak, soalnya Onichan memang sebaiknya begitu. Dia kalau sadar suka kesakitan, tapi kalau lagi teler, ngak."


"Onichan?"


"Artinya kakak laki-laki, Mbak."


"Oh." Leka bingung juga mendengarnya.


"Mbak mau di bantu?"


"Eh, tidak. Mungkin Runi bisa Mbak titipkan padamu."


"Gak apa-apa Mbak."


"Maaf ya?" Leka segera pergi ke dapur. Ia merebus rempah-rempah untuk mandi Kenzo. Para pembantu hanya melihat saja apa yang di lakukan Leka. Setelah siap, ia membawanya ke kamar Kenzo.


Pria itu masih tertidur nyenyak. Leka mencoba membangunkannya dengan menepuk bahunya. Mata pria itu terbuka pelan.


"Oh, Leka. What are you doing?(Kamu sedang apa?)"


Eh, dia bicara bahasa inggris? Apa dia sedang teler? "Kakak mandi ya kak, sudah sore."


"Mmh? Nande?(kenapa?)" Pria itu menggaruk-garuk kepalanya.


Bahasa apa lagi itu? Oh, mungkin bahasa Jepang, dia kan orang Jepang.

__ADS_1


"Mandi Kak, bajunya sudah bau keringat." Leka mengambil handuk kecil yang tenggelam pada air dalam wadah plastik yang di bawanya. Ia kemudian memerasnya sekering mungkin. Di dekatinya kembali pria itu dan mulai mengusapnya pelan-pelan pada wajah pucat Kenzo. Mata pria itu terbuka lebar.


"Panas Kak?" Leka menjauhkan handuk kecil itu dari wajah Kenzo.


"Ah, tidak. Hangat. Bau apa ini ya? Wanginya enak."


"Rempah-rempah Kak. Di buka dulu ya Kak, bajunya. Mandi." Leka mendudukan Kenzo. Ia menarik baju kaos Kenzo ke atas, meninggalkan tubuh bidang Kenzo yang atletis di hadapannya. Ada sedikit perban yang melilit atas perut hingga bawah dadanya yang membuat Leka tak bisa melihat seberapa parahnya bekas luka bakar yang di derita Kenzo.


Sedikit berdesir hati wanita itu melihat tubuh tegap pria itu terbuka begitu dekat, tapi ia harus melakukan tugasnya. Ia mulai mengusap tubuh pria itu dengan handuk kecil dari leher kemudian dada. Pria itu hanya diam dengan mata setengah terbuka, sepertinya masih setengah sadar.


Leka kembali merendam handuknya.


"Kok berhenti?"


"Oh sebentar ya?" Leka kembali mengeringkan handuk itu dan mulai mengusap punggung Kenzo. Terbayang kembali cerita Arya tentang Kenzo dan bagaimana ia mendapatkannya luka itu, Leka menatap punggung pria di hadapannya itu dengan iba.


Berapa kali wanita itu membasahi lagi handuk itu hingga pria itu terlihat bersih dan segar. Leka mengambilkan pakaian pria itu di lemari pakaian. Cukup kaget Leka melihat isi lemari pakaiannya yang terlihat sederhana. Padahal punya banyak baju dari merek terkenal tapi pria itu selalu memilih model yang sederhana.


Leka memakaikan pria itu baju kaos putih yang masih baru. Setelah membaringkan kembali Kenzo, ia menelepon pembantu lewat telepon kamar untuk mengganti seprainya. Leka menungguinya hingga seprai dan bed cover di tempat tidur itu di ganti dengan yang baru.


-----------+++-----------


"Ok, ok." Chris menutup teleponnya. Matanya menyiratkan sesuatu. Ia mendesah pelan.


"Kenapa Da?" Tanya Reina yang masih mengunyah.


"Mmh? Hanya pekerjaan kantor."


"Hari sabtu ada yang kerja kantor?"


"E itu, ada yang harus di kerjakan," kilah Chris.


"Oh."


"Ma, aku nambah boleh Ma?"


Reina melihat piring Zack yang sudah kosong. Hanya ada remah-remah makanan tersisa di piring itu. "Oh, boleh sayang. Kamu mau pesan apa, pesan lagi saja."


Zack mengambil daftar menu. Ia mengecek apa lagi yang diinginkannya.


Leka makan malam berdua dengan Runi sambil menonton film kartun di kamarnya. Ruangan itu ternyata juga di lengkapi oleh tv yang tersembunyi di dalam rak yang tertutup. Mereka mengecilkan suaranya agar tidak mengganggu Kenzo yang masih tertidur di kamar sebelah. Sebentar lagi wanita itu akan memeriksa keadaan Kenzo, tapi setelah makan dan sholat Magrib.


------------+++-----------


Salwa menatap pria tampan di sampingnya. Seorang bule Jerman yang sangat fasih berbahasa Indonesia karena ibunya adalah orang Indonesia. Dia satu-satunya pacar Salwa yang bertahan lebih dari setahun pacaran dengannya. Sisanya, rata-rata bergaya hidup barat yang banyak berciuman dan bebas melakukan apa saja membuat Salwa hanya berpacaran dalam hitungan hari.


Betapa bangganya Salwa bisa berpacaran dengan Evan, pria bule yang di kenalkan teman Monique setahun yang lalu, karena pria itu banyak di gandrungi teman sekantornya tapi kemudian memilihnya menjadi pacar setelah Salwa menyatakan cinta padanya.


"Sayang, sebentar lagi kita sampai," ucap Evan dengan tersenyum manis pada Salwa.


Lift berhenti dan mereka keluar. Evan, pria bertubuh tinggi tegap, berkulit putih dengan rambut sedikit pirang itu menggandeng salwa di sebuah lorong. Salwa terkejut melihat ke mana mereka pergi.


"Kita dinner di mana?"


Mereka berhenti di depan sebuah kamar. Evans membuka kamar itu dan membawa Salwa masuk ke dalam.


"Bagaimana kalau kita istirahat dulu." Evan mulai membuka jas dan kancing bajunya.


_____________________________________________


Halo reader, author masih bersemangat menulis tapi jangan lupa beri vitamin author dengan like, komen, vote, hadiah dan juga coin. Jangan lupa favorit hatinya. Ini ada visual Aiko setelah melepas ikatan rambutnya. Salam, Ingflora💋

__ADS_1



 


__ADS_2