
"Pa," ucap Aska pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. "aku sangat mencintai Leka, a-aku harus menikah dengannya. Dengan Monique, aku akan bertanggung jawab pula dengan menikahinya." Ia melirik sekilas Monique dan orang tuanya yang sedang menunggu keputusan dari keluarga Chris.
"Mmh." Chris mendengus dengan kesal menampilkan sedikit tawa yang tertahan. "Menurutmu, apa Leka mau mendengarkan idemu itu?" Ia berusaha menahan emosinya walaupun terlihat sekali matanya mulai memerah karena marah.
Aska menyentuh lengan Chris pelan. "Pa, biarkan aku bicara dengan Leka. I-ia pasti mau mendengarkan dan menerima keputusanku ini, Pa. Ia wanita yang lembut. Tolong aku kali ini Pa ...." Ia memohon.
"Bagaimana kalau ia tidak mau?"
Aska turun dari kursinya dan bersimpuh di hadapan Chris. Ia pelan-pelan menyentuh lutut pria bule itu. "Pa, tolong ...."
Di dalam mesjid, orang-orang masih menunggu kedatangan pengantin prianya yang sudah seharusnya datang 30 menit yang lalu. Mereka mulai riuh mempertanyakan keterlambatannya sedang tanda-tanda kedatangannya juga belum ada.
Leka mulai gelisah dan bingung. Kenzo juga terlihat ragu-ragu dengan kotak di tangannya sedang Arya hanya memperhatikannya saja. Penghulu pun juga ikut gelisah karena ia harus berada di tempat lain, segera, sedang Awan, asisten Chris juga ikut bingung karena berulang kali menelepon Chris tapi tak diangkat. Ia menjadi pengurus acara pernikahan Aska di mesjid itu.
Leka melirik Runi di sampingnya dan kemudian memangkunya. Hanya gadis cilik itu yang bisa menghilangkan sementara rasa gelisahnya. Kenzo juga melihat Runi. Ia tersenyum melihat gadis kecil itu senang melihat keramaian yang berisi orang-orang yang di kenalnya dari kerabat Leka. Sebagian ibu-ibu atau wanita muda kerabat Leka menegur Runi karena mengenalnya saat tinggal di kampung dulu.
Aska, dia ke mana? Kenapa ia tidak muncul-muncul? Ada apa gerangan dengannya? Apa dia tidak sedang menipu Leka kan? Leka ... Kenzo menatap Leka dengan iba. Apa aku lamar saja ia?
"Oniichan, itu cincin nikah ya?" Adiknya Aiko, mencondongkan tubuhnya ke arah Kenzo melewati tubuh Arya.
Tak sengaja Leka melihat Aiko berbicara dengan Kenzo dan melihat pria itu menggenggam sebuah kotak kecil.
Sempat melirik Leka, Aiko yang bertanya membuat Kenzo terkejut. Apalagi melihat Leka melihatnya dengan kotak di tangan. Ia segera menyembunyikan kotak itu di samping tubuhnya.
"Kak, beneran Kak?" tanya Tama yang duduk di belakang mendekat.
Arya tersenyum melihat adik-adik Kenzo ingin tahu.
"Eh, mmh ...." Kenzo sedikit susah menerangkannya.
"Lamar aja Kak, Mbak Lekanya. Kak Aska kayaknya gak dateng deh!" bisik Tama dengan santai.
"Kamu itu pendukung Aska atau Jo, hah?" ledek Arya pada Tama.
"Aku pendukung Mbak Leka Yah. Kasihan Mbak Lekanya kalau gak jadi nikah. Ngak tau kenapa Kak Aska belum datang-datang."
"Aku juga," sahut Aiko.
"Kalau aku lamar, Askanya datang bagaimana?" Tanpa sadar Kenzo ikut bicara. Setelahnya, wajahnya bersemu merah. "Eh, maksudku ...."
"Terserah Mbak Lekanya. Lagi kenapa takut di tolak sih Kak? Laki-laki, kebal ditolak. Ditolak, cari lagi," jawab Tama menepuk-nepuk dadanya.
Arya langsung menjewer kuping Tama. "Eh, masih sekolah udah pacaran ya? Sama siapa?" Matanya membulat sempurna.
Aiko tertawa. "Syukurin ...." Ia bertepuk tangan.
"Aduuh ... Enggak Yah, enggak ... Cuma teori aja Yah." Tama menyentuh telinganya yang di jewer Arya.
Aiko makin tergelak. Mariko hanya tersenyum simpul bersama ayahnya melihat kelakuan anak-anaknya.
Leka melihat keriuhan keluarga Arya dari jauh. Saat itu, Kenzo memandang ke arah Leka dan mulai melirik kembali ke kotak yang berada di telapak tangannya. Leka melihat kotak itu dari jauh dan penasaran tapi ia tak bisa ke mana-mana.
Apa aku lamar saja ya? Belum sempat ia melakukan apa-apa, mobil pengantin datang. Semua orang menatap keluar mesjid. Kenzo kembali menyembunyikan kotak itu.
Chris keluar dari mobil itu tapi hanya sendirian. Ia masuk ke dalam mesjid dan mengedarkan pandangan mencari seseorang. "Oh, Kenzo!" Ia mendatanginya.
__ADS_1
Kenzo terkejut.
"Kamu kenapa?" Chris melihat tangan Kenzo yang diberi gips.
"Oh, dia kecelakaan beberapa hari yang lalu Da," Arya memberi tahu.
"Oh, kenapa kau tak memberitahuku?"
"Oh, belum sempat Da. Karena di rawat di rumah, aku menungguinya."
"Oh, begitu. Mmh, ayo ikut aku." Chris menarik lengan Kenzo dan terlihatlah kotak yang sedari tadi di genggamnya. "Apa ini?" Ia segera mengambilnya.
Kenzo terlihat panik, apalagi Chris langsung membukanya. Pria bule itu melirik Kenzo.
"O-om, aku bisa jelaskan ...."
"Ayo ikut aku!" Chris kembali menarik tangan Kenzo. "Kau juga Arya, aku membutuhkanmu." Ia memanggil Arya dengan jarinya.
Mereka mendatangi meja untuk ijab kabul.
Pak penghulu mendatangi mereka. "Bagaimana Pak? Pengantinnya jadi menikah gak?" Ia ingat Chris tapi tak melihat Aska.
"Sebentar Pak, saya mau bicara dulu." Chris memanggil Awan. "Tolong tahan penghulunya, aku sedang bicara."
"Oh, iya Pak." Awan segera mendatangi penghulunya.
"Tunggu sebentar ya?" Chris kembali berdiri dan mendatangi Leka, meminta wanita itu ikut duduk di tempat ijab kabul itu.
Walaupun bingung Leka menurut. Ia menyerahkan Runi pada Ani dan berjalan ke meja itu di bantu seorang kerabatnya memegangi kerudungnya yang panjang ke belakang agar tak terinjak atau tersangkut saat berjalan.
Chris mengarahkan Leka duduk di samping Kenzo. Arya, Kenzo dan Leka melihat heran pada Chris. Pria bule itu mulai duduk diantara mereka dan merapat.
Leka melirik Kenzo, terkejut.
"A-a-aku bisa jelaskan Om." Wajah Kenzo pucat pasi.
"Aku ingin kau berkata jujur padaku."
Kenzo memandang lurus pada Chris. "Iya ...."
"Jangan menyalahkannya Da karena aku yang membawanya." sela Arya. "Itu mungkin cerita lama tapi aku ingin ia lebih berani bertindak, karena itu aku membawa kotak itu."
"Kamu itu ...." Chris menyenggol bahu Arya dengan lengannya. "Jangan mengajari anak yang tidak benar dong. Kalau sudah ada ikatan, tidak bisa diputuskan secara sepihak. Itu tidak adil, namanya. Janji nikah itu sama seperti kontrak, harus kedua pihak yang memutuskan, baru benar."
Leka dan Kenzo saling berpandangan, bingung, lalu kemudian menatap Chris. Mereka tidak tahu nasib apa yang menanti mereka di depan.
"Leka," Chris menatap Leka. "I set you free, aku membebaskanmu. Aska aku rasa tidak bisa menikah denganmu karena ia dibutuhkan oleh wanita lain, kecuali kamu mau jadi istri pertama atau istri keduanya."
Arya, Kenzo dan Leka terkejut mendengarnya.
"Ada ... orang lain?" tanya Arya tak percaya.
"Nah, Kenzo. Kalau masih mau melamar Leka, silahkan ...."ujar Chris mendorong kotak kecil itu ke hadapan pria Jepang yang sedang melongo menatap Chris. "Mungkin bisa menikah sekalian hari ini, ya?" Ia mengedipkan matanya ke arah Arya.
"Apa?" Kenzo kini membulatkan matanya dengan sempurna.
__ADS_1
"Oh, iya. Kalau mereka mau sih ...." sindir Arya lagi.
Kenzo kini benar-benar bisa melamar Leka tanpa rintangan. Benarkah ini terjadi? Lalu bagaimana memulainya? Kenzo menelan ludahnya. Pelan, diambilnya kotak cincin itu, kemudian menatap Leka. Wanita itu dengan malu-malu menjatuhkan pandangannya ke bawah.
Kenzo memejamkan mata dan menyodorkan kotak cincin itu ke hadapan Leka. Ia benar-benar takut mendengar jawabannya. "Le-leka ... ma-maukah kamu menikah denganku?" Ia dengan gagap bertanya tanpa berani melihat.
Hening. Kenzo menunggu. Ia tidak tahu kalau sedang dijahili Chris dan Arya. Mereka memberi kode Leka untuk tidak menjawabnya sebelum pria Jepang itu membuka matanya.
Karena lama, Kenzo, membuka matanya. Leka yang tersenyum manis padanya akhirnya menjawab juga. "Iya."
"Oh, Leka. Kau menakutkanku ...." Kenzo mengelus dada sambil masih menggenggam kotak cincin itu. Jantungnya mulai reda setelah berdegup tak keruan.
Tamu yang melihat itu, bersorak sorai dan bertepuk tangan. Ternyata acara melamar Kenzo disaksikan banyak orang. Wajah Leka dan Kenzo sampai bersemu merah karenanya.
Kaum kerabat Leka menyetujui lamaran Kenzo hingga pernikahan segera dilangsungkan. Leka kembali ke posisinya, duduk bersama sanak saudaranya sementara Kenzo duduk berseberangan dengan paman Leka. Chris bertugas sebagai saksi dan menyaksikan pernikahan itu. Kenzo yang membaca janji nikah dari hp-nya, mengucapkannya dengan benar disambut oleh paman Leka hingga terjadilah ijab kabul itu. Penghulu menyatakan sah.
Tamu banyak bertepuk tangan, dan bersorak saat Leka kembali disandingkan dengan Kenzo. Terlihat wajah bahagia Kenzo yang tak terkira. Seperti mendapat durian runtuh, dalam sekejap Leka telah menjadi istrinya. Benar-benar keajaiban dari yang maha kuasa.
"Ayo cium istrinya!" teriak salah seorang tamu, di sambut tawa yang lain, tapi kemudian penghulu mengingatkan untuk tidak membuat keributan di dalam mesjid. Suasana kembali tenang.
Namun Kenzo ingin mencobanya. Ia ingin mencium kening istrinya tapi terhalang gips di tangannya. "Ah!" umpatnya kesal.
Leka tertawa kecil. "Ini Kak." Ia sedikit menundukkan kepalanya hingga dekat dengan wajah Kenzo.
"Mmh?" Pria itu segera mengecup dahi Leka, lembut. Ia bisa merasakan wanitanya nyata. Ia tidak sedang bermimpi dan mereka sudah menjadi suami istri.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan mata mereka bertemu. Hanya dengan begitu saja mereka terlihat bahagia.
"Aku pamit ya?" Chris berpamitan dengan Arya.
"Lho kok cepat Da?"
"Urusan Aska belum selesai. Ok?" Chris menyatakannya dengan senyum.
Arya bisa merasakan Chris sedang terlibat masalah yang serius dengan Aska. Ia juga turut prihatin. "Semoga cepat selesai ya Da."
"Terima kasih."
"Aku yang harusnya bilang terima kasih sama Uda karena menikahkan anakku dan juga merugikan Uda. Aku tahu Aska sangat mencintai Leka dan pesta ini seharusnya untuknya. Entah apa jadinya kalau ia tahu Leka menikah dengan Kenzo."
"Tidak apa-apa. Semua harus dilalui, tidak ada yang tidak bisa." Chris menepuk bahu Arya. Saat ia pergi meninggalkan mesjid, Kenzo mengejar pria bule itu.
"Om, tunggu!"
"Ya?"
"Terima kasih Om," kata Kenzo terengah-engah.
Chris mendekatinya. "Kan Om sudah bilang, Om sangat senang bila bisa menikahkanmu dengan seseorang, dan doa Om terkabul."
"Tapi Aska ...."
"Kalau kau terus merasa tak enak padaku, kau tidak bisa melangkah ke masa depan. Aska, dia punya takdirnya sendiri. Leka tanpamu, entah bagaimana hidupnya. Jangan ragukan dengan apa yang kau pilih karena hidup hanya sekali. Maka berbahagialah."
______________________________________________
__ADS_1
Ada lain novel Ria Aisyah yang masih ongoing tentang cerita siluman yang menikah dengan manusia, judulnya Tiger Wu. Cekidot, yang kepo.