Sungai Rindu

Sungai Rindu
Arti Ikhlas


__ADS_3

"Memalukan memang," ucap Kenzo dengan nada sedih.


"Pasti ini cinta pertamamu ya?"


"Eh, iya. Wanita ini menggagalkan semua rencanaku, Tad. Aku berniat untuk tidak menikah karena takut menyakiti hati wanita seperti yang Ayahku lakukan, tapi setelah aku bertemu dengannya aku tiba-tiba ingin menikahinya. Yang mengejutkan lagi, wanita itu telah menikah walaupun kemudian ia bercerai."


"Karena kamu?"


"Oh, bukan."


"Lalu?"


"Ia akan menikah lagi dengan mantan suaminya."


"Lalu?"


"Hah?" Kenzo tak mengerti maksud Ustad muda itu. Kenapa ia masih bertanya lagi.


"Lalu kenapa kau ceritakan itu padaku?"


"Ma-maksudnya?"


"Kau sebenarnya bingung apakah wanita ini penggoda atau wanita yang kamu inginkan, begitu kan? Tapi gerak gerikmu memberitahukan bahwa kau sudah tahu."


"Maksudnya?"


"Wanita penggoda itu bukan wanita baik-baik. Coba tanya dirimu sendiri soal ini, apa kau akan membantahnya? Hanya kamu yang tahu jawabannya."


Kenzo menunduk. "Tapi wanita itu akan menikah kembali dengan mantan suaminya," ujarnya sedih.


"Dan kau tak rela."


"Tidak, aku mengikhlaskannya."


"Kejadian ini memberitahukanmu bahwa kamu tidak ikhlas."


Akhirnya Kenzo mengakuinya juga. "Susah ikhlas, Tad. Biarlah mulut bicara ikhlas walaupun hati belum mampu untuk melakukannya. Nanti juga akan ikhlas dengan dengan sendirinya."


"Tapi diikuti dengan menghadapinya. Kau tidak menghadapinya, kau lari."


"Aku tidak tahu cara menghadapinya, Tad. Kalau dekat dengannya aku selalu tergoda."


"Teruskan saja."


"Apa?"


Pilihanmu hanya dua, kau melamarnya atau melihat ia menikah. Kau masih bisa melamarnya karena ia belum menikah."


"Aku mengikhlaskannya tapi tak sanggup melihat ia menikah."


"Ikhlas itu seperti daun yang jatuh ke tanah. Ia diam saja saat angin meniupnya, terlindas mobil atau terinjak sepatu. Jatuh di kubangan air, atau terbawa sapu pemilik rumah. Ia juga diam saja saat harus mengering di sudut rumah atau di bakar karena sudah menjadi sampah. Saat ia mulai menyatu menjadi tanah, ia akan menjadi pupuk yang akan membuat sebuah tanaman tumbuh dan mengeluarkan daun-daun baru. Keikhlasan itu melahirkan ke bahagiaan jika kita berlapang dada menghadapinya. Hadapi yang harus kamu hadapi dan jangan lari lagi. Kamu pasti akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan di ujungnya. Percayalah."


Kenzo terdiam. "Kenapa kalimat Pak Ustad bagus sekali seperti seorang penyair?"


Ustad itu tertawa. "Aku juga seorang penulis novel-novel islam."


"Oya?"


"Iya."


"Jo!"


Kenzo menoleh. Arya datang dan memeluknya dengan erat.


"Aduhh Ayah, sakit ...."


"Oh maaf, ayah tidak sengaja." Arya memandang Kenzo lekat-lekat, memastikan tidak ada yang kurang dari diri anaknya itu. Ada setitik bening air mata di sudut matanya yang mulai memerah.


Kenzo merasa bersalah. "Aku cuma pergi menenangkan diri saja kok Yah."


"Kau itu bodoh atau apa? Masa gara-gara wanita kau rusak dirimu seperti ini? Lalu keluargamu gunanya untuk apa?"

__ADS_1


Mata pria lembut itu semakin redup. "Maaf."


"Eh, kau sudah di periksa?" Arya memperbaiki matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Katanya tanganku retak."


"Lalu tubuhmu?"


Kenzo yang bersandar pada kepala tempat tidur, mengangkat sedikit kepalanya dan meletakkannya kembali. "Masih pusing kalau mengangkat kepala."


"Kepala?" Arya langsung panik.


"Dia tadi menolong saya, mengeluarkan saya dari mobil tapi dia kena pecahan mobil yang meledak. Saya minta maaf." Pria bersorban di sebelah Kenzo menjawab.


"Tapi tidak kena kepala kan ya?" selidik Arya.


"Tidak sih. Besi melayang itu mengenai punggungnya."


"Eh, Bodyguard-mu mana?" tanya Arya pada Kenzo.


"Eh, dia di luar. Kakinya luka. Satu meninggal, Ayah."


"Innalillahi wa innailaihi roji'un. Untung kau selamat Jo, tapi tetap saja kamu harus di periksa kepalanya. Eh, kenapa kau tidak minta ruangan. Kan bisa?"


Petugasnya sibuk dari tadi. Mereka juga baru memasang gips ini di tangan."


Arya kembali menatap Kenzo yang bersandar lemah pada kepala tempat tidur. Diusapkan dahi pria bermata sipit itu pelan. "Ya sudah, Ayah yang urus."


Ustad itu melihat betapa sayangnya Ayah Kenzo pada pria itu sampai-sampai ia mengkhawatirkan hal-hal kecil.


"Kenapa kalian tidak mirip ya?"


"Oh, dia anak dari istriku." ujar Arya agar pria itu tak curiga.


Arya akhirnya memeriksakan kembali Kenzo dan mendapatkan hasil memuaskan. Ia segera pulang membawa anaknya karena ia melihat mulai ada wartawan yang mengintai. Ia memulangkan Kenzo dengan taksi sementara ia mengekor dengan motornya di belakang.


Taksi sampai di rumah Kenzo setengah jam kemudian. Ia memberitahukan keluarganya tentang apa yang terjadi.


Mariko, Aiko dan Tama segera datang. Mariko segera menggantikan pakaian Kenzo dengan yang lebih santai. Mereka mulai berembuk.


"Ayah, besok aku pasti sudah sehat. Tidak usah."


"Justru besok badanmu pegal-pegal. Harus ada yang mengurusmu. Ya sudah, Ayah saja yang menginap di sini."


Kenangan itu kembali menguar, pada 12 tahun yang lalu, saat ia dikeroyok anak pemilik sekolah karena dekat dengan gadis incaran anak itu. Kenzo yang dilarikan ke rumah sakit ketika tiba-tiba pingsan, dan diketahui terkena gegar otak, dengan setia Ayahnya menungguinya di rumah sakit berbulan-bulan tanpa pulang ke rumah. Padahal waktu itu Mamanya sedang hamil Aiko dan tinggal di rumah bersama Tama yang masih kecil. Betapa besar pengorbanan Ayahnya waktu itu di rumah sakit melebihi orang tua kandungnya.


Ibu kandungnya saja dulu menelantarkannya dan sibuk bersosialisasi dengan teman sosialitanya hingga main ke luar negri karena balas dendam dengan Ayahnya yang sibuk dengan pekerjaannya hingga ketahuan selingkuh di luaran. Ia hanya ditinggali uang saja oleh orang tuanya sementara setiap orang tuanya saling bertemu, mereka selalu bertengkar. Ia sakit pun hanya pembantu yang menungguinya. Orang tuanya pun tak pernah tahu keadaannya.


Sempat merasa bersalah masuk dalam keluarga ini, karena Ayah kandungnya pernah menyakiti Mariko, Mamanya sekarang ini, ia salut pada pasangan suami istri ini yang tidak melihat masa lalunya dan menyayanginya sepenuh hati.


Mariko pulang bersama Aiko dan Tama.


"Ayah."


"Mmh." Arya melepas jaketnya dan berbaring di samping Kenzo.


"Aku bisa sendiri, Ayah. Ayah pulang saja. Kasihan Mama."


"Berdiri saja kamu tidak bisa, bagaimana mau ke kamar mandi?"


"Kamar mandi kan di dalam kamar. Aku bisa jalan pelan-pelan."


"Kalau kamu mau pakai jasa suster, ayah akan pulang!" Arya tegas menjawab sambil menatap lekat Kenzo menanti jawaban tapi pria bermata sipit itu hanya diam.


Sifat pemalu Kenzo ditambah tubuhnya yang tidak sempurna karena pernah terbakar itu yang membuat ia sulit memakai jasa suster. Ia berat mengatakan 'iya'.


"Ya sudah, ayah mau tidur." Arya segera masuk dalam selimut.


"Ayah ...."


"Apalagi?"

__ADS_1


"Ganti bajunya, bau."


Arya segera turun dari tempat tidur. "Ayah mandi saja. Pinjam bajumu ya?" Ia mulai membuka lemari pakaian Kenzo.


-----------++++----------


Terdengar suara hp berbunyi. Tanda notifikasi. Arya yang baru selesai sholat, mengeceknya. 'Maaf Pak, hari ini aku tidak bisa seharian kerja karena mengurus persiapan pernikahan.' Oh, dari Leka.


Arya kemudian menjawab, 'Tidak apa-apa, aku hari ini juga tidak masuk karena mengurus Jo yang habis kecelakaan.'


Leka terkejut membacanya. 'Kecelakaan? Kecelakaan apa Pak?'


'Kecelakaan mobil. Mobilnya hancur. Salah satu bodyguardnya meninggal dan Jo tangannya retak.'


Leka panik saat membacanya. Kenzo bagaimana? Apa tubuhnya luka? 'Di rumah sakit mana?'


'Di rumah'.


Arya sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Tinggal menunggu Leka datang ke rumah itu. Ia menatap Kenzo yang telah selesai sholat di atas tempat tidur. "Kau sudah selesai sholat?"


"Sudah Yah."


Arya membuka gorden kamar Kenzo. Matahari malu-malu keluar dari peraduannya. Tak lama pintu diketuk dan ia membukanya.


"Ada Ibu Leka di bawah Pak," ucap salah satu pembantu Kenzo.


"Suruh naik ke atas saja."


"Iya Pak."


"Ayah, Ayah memberi tahu Leka? Ah, Ayah ... Ayah coba tolong lihat wajahku, apa rambutku berantakan? Ck! Ayah ... kenapa merepotkan orang lain!" Kenzo panik sambil mengomel. Ia merapikan rambutnya tanpa cermin sambil memeriksa dengan jari, apa ada rambutnya yang kusut.


Arya mendekat sambil menahan tawa. Ia duduk di tepian tempat tidur sambil merapikan rambut Kenzo. "Sudah, ganteng."


"Ayah ...." Kenzo merengut.


Tiba-tiba, pintu yang terbuka diketuk seseorang. Kenzo dan Arya menoleh dan melihat Leka berdiri di sana. Wanita itu segera menyambangi mereka sambil meremas tangannya tanda cemas. "Kak? Kakak tidak apa-apa?"


Kenzo yang menyandarkan kepala dan punggungnya pada kepala tempat tidur mencoba menaikkan kepalanya. Ia menyipitkan matanya karena masih sedikit pusing.


"Sudah Kak, tidak usah bangun kalau belum bisa," cegah Leka.


Kenzo menurut. Ia meletakkan kembali kepalanya dengan lemah. Ia juga mulai merasakan pegal-pegal di sekujur tubuh. Benci rasanya, terlihat lemah di hadapan Leka.


"Kakak hanya retak di tangan saja?" tanya wanita itu.


Kenzo melirik Ayahnya dengan sebal. Pasti Ayahnya yang telah memberitahu Leka. Arya tersenyum tipis.


"Iya."


"Badannya gak apa-apa?"


"Gak apa-apa." jawabnya pelan.


"Dia kena tindih besi dari mobil yang meledak," terang Arya semakin melebarkan senyumnya.


"Oya?"


"Eh, tapi aku tidak apa-apa kok." Kenzo melirik Ayahnya dengan mata yang membulat sempurna.


Arya menahan tawa. "Karena itu dia tidak bisa mengangkat tubuhnya karena badannya sakit-sakit semua."


Kenzo kesal Arya mengadukan semuanya membuat Leka makin panik. Wanita itu meneliti tubuh Kenzo yang berada di hadapannya. Ada beberapa luka gores dan lebam sedikit di sekujur tubuh Kenzo membuat Leka semakin terenyuh.


Wanita itu sedikit membungkuk dan menyentuh lengan Kenzo yang di beri gips. Ia langsung bertanya, "Kalian sudah sarapan?"


Tiba-tiba kembali terdengar ketukan di pintu. "Ini sarapannya Pak," seorang pembantu Kenzo sudah membawakan sarapan mereka ke atas.


"Oh, saya sarapan di bawah saja." Arya menoleh pada Leka. "Tolong suapi Jo ya?" Ia mengedipkan mata nakalnya pada Kenzo.


"Oh, iya Pak."

__ADS_1


Ayah! Kenzo kesal pada Ayahnya. Ia benar-benar malu di hadapan Leka, tapi karena wanita itu yang akan menyuapinya ... Ah, nikmati saja keindahan ini. Kalau aku khilaf, ah ... hadapi saja kata pak Ustad. Hadapi ....


Pelan-pelan Kenzo menikmati sarapan paginya dengan perhatian Leka. Wanita itu, membersihkan ujung mulut pria itu dengan tisu, menunggunya selesai mengunyah, mengajaknya mengobrol dan sesekali tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria itu. Dunia serasa milik berdua. Tak terasa sarapan Kenzo habis juga.


__ADS_2