Sungai Rindu

Sungai Rindu
Cemburu


__ADS_3

Aska mengambil hp-nya dan melihat ada kirim video dari temannya Zaki. Ia membukanya. Betapa terkejutnya Aska melihat video itu. "Sialan, dia ada di sana lagi." Aska bergumam sendiri.


"Sekarang Abang mau bilang apa?" Kini Leka dengan berani bertanya kembali dengan nada marah dan air matanya yang belum lagi kering.


"Leka, ini tidak seperti yang kau lihat." Aska berusaha memelankan suaranya. Ia berusaha menurunkan emosi istrinya yang begitu berapi-api padanya.


"Kau mau aku buta atau bagaimana?" Benar-benar panas hati wanita itu mendengar suaminya masih saja berusaha mengelak.


"Leka, ini benar klien Papa. Kadang kita sering bertemu dengan orang yang tidak menyenangkan, tapi aku bisa apa?"


"Klien apa, itu kan teman saudara kembarmu yang bertemu kita tempo hari? Kenapa kau masih saja terus berbohong." Suara wanita itu sudah mulai seperti orang yang kalap.


"Iya, tapi itu benar klien Papa, aku tidak bohong. Aku juga baru tahu tadi Leka, sumpah."


"Lalu kenapa kemarin waktu bersama adikmu, kamu mau digandeng olehnya?"


"Ini untuk penyamaran pernikahan kita. Aku tidak mau adikku curiga."


Leka memejamkan mata sejenak, menahan amarah yang bergejolak. Pria itu selalu menganggap benar apa yang dilakukannya padahal itu sudah menyakiti hati orang lain dan ia belum juga sadar. Bagaimana cara menerangkan padanya agar ia mengerti?


"Bang, kenapa kita harus menyembunyikan pernikahan kita, sampai sekarang aku masih belum mengerti." Pada jeda Leka berusaha mengambil napas.


"Leka, aku sudah menerangkan berulang kali padamu aku ingin kau mengerti."


"Mengerti apa?"


"Mengerti situasiku."


"Situasi apa? Situasi yang bisa aku lihat sekarang adalah abang ingin bebas berkencan di luar sana dan itu satu-satunya alasan yang masuk akal menurut Leka, Bang."


"Itu tidak benar Leka." Aska langsung menyentuh lengan istrinya, tapi segera di tepis oleh wanita itu. "Leka, aku sungguh tidak berbohong padamu. Aku melakukan itu karena dalam sebulan ini akan ada penempatan baru untuk posisi GM, posisi yang jauh di atasku dan aku sedang di promosikan oleh kantor. Aku tidak ingin ada gosip aneh-aneh yang menjatuhkan namaku dan aku berharap aku bisa mendapatkan posisi itu agar kita hidup lebih baik lagi dari sekarang."


"Bagiku Bang, hidup kita sudah cukup baik. Tanpa jabatan itu kita pasti baik-baik saja."


"Tapi aku harus hati-hati membicarakan ini pada orang tuaku, karena aku takut mereka marah dan mencoretku dari daftar keluarga. Aku menikah tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan dengan orang yang tidak aku kenal, kau mengerti kan maksudku?"


"Apa kau pikir aku ini aib bagimu?" Air mata Leka kembali berderai. Ia sangat takut suaminya mengatakan 'iya' sebab hatinya belum siap menerima kenyataan itu. Ia sendiri menyesal telah menanyakannya hingga ia terpaksa harus mendengarnya dengan tegar walau dalam hati kecilnya ia ingin suaminya berbohong.


"Tidak, tidak begitu maksudku Leka. Aku ... aku hanya merasa kita perlu persiapan. Aku kan punya keluarga yang mesti aku lindungi yaitu kalian berdua."


"Lalu kenapa kau sering menyakitiku berkali-kali? Kenapa kau membiarkan aku seperti pembantu kalau itu hanya untuk pura-pura? Aku tidak mengerti Bang, aku benar-benar tidak mengerti." Kembali Leka menangis. Aska berusaha mendekat dan ingin memeluknya tapi Leka cepat berdiri. Ia mengambil bantal dan selimutnya.


Dengan cepat Aska turun dan memeluknya dari belakang. Menahannya agar tidak pergi. "Jangan pergi Leka, aku mohon. Bagaimana kalau Runi melihat matamu bengkak seperti itu, nanti dia takut. Sudah, di sini saja ya?" Ia membujuknya dengan suara lembut.


Leka meronta tapi suaminya makin mengeratkan pelukannya. Kali ini pria itu benar-benar tidak akan membiarkan Leka pergi. "Leka, kalau kau membenciku, tidak apa-apa tapi jangan pergi. Tetaplah di sini, karena aku ingin anak kita tidak tahu apa yang terjadi padamu. Dengarkan aku karena aku suamimu. Aku berusaha yang terbaik untukmu, kau mengerti?" Bisiknya pelan.


Leka hanya bisa menangis. Ia terpaksa harus menurut dengan hati tak rela karena ia masih sangat kesal pada suaminya. Saat pria itu melepas pelukannya pelan-pelan dan ingin menghapus air matanya, wanita itu mendorongnya menjauh. Aska berusaha tetap kokoh berdiri dan menunggu hingga istrinya naik kembali ke atas tempat tidur lalu iapun menyusul. Leka memunggunginya.


Pria itu tahu Leka masih belum puas dengan jawaban darinya tapi hanya itu yang bisa ia berikan sekarang pada istrinya. Ia belum bisa menjanjikan apa-apa padanya.


"Bang ...." Ucap Leka, masih memunggungi suaminya. "Padahal ... kalau kau tidak punya apa-apa lagi, aku akan tetap bersamamu. Asal kau mau hidup jujur. Kita bisa mengusahakan semuanya berdua bersama. Kita bisa jualan pecel lele bersama, aku rasa itu lebih bisa membuat hidup kita bahagia dari pada hidup berpura-pura begini, Bang." Leka berusaha menyelesaikan sisa tangisnya.


"Aku tidak sependapat denganmu. Sudah, dengarkan saja keinginan suamimu ini. Dukung aku, itu saja permintaanku."


Lalu dunia mereka kembali di datangi hening hingga pagi datang menjelang.

__ADS_1


Pagi itu kembali Leka bergelut dengan panci-panci di dapur. Hanya panci-panci itulah yang mampu menenangkan hatinya saat ini.


"Leka, aku mau ngajar, kamu mau kuantar ke pasar?" Aska mencapai meja makan.


"Tapi aku belum mandi Bang. Eh, abang ngajar apa?" Leka mengeringkan tangannya di celemek.


"Ngajar Wushu. Mandilah, aku tunggu."


"Wushu? Pencak silat ya?"


"Iya seperti itu. Ayo, cepatlah pergi mandi."


"Eh, iya Bang." Leka segera menggendong Runi yang berbaring di sofa. Susunya telah habis. Ia membawanya ke lantai atas.


Setengah jam kemudian Aska menurunkan Leka dan Runi di pasar. Ia kemudian melajukan mobilnya ke arah tempat latihan.


Di pasar Leka sedikit bingung. Entah kenapa ia tiba-tiba berharap ada kemunculan Kenzo di sana. Padahal pasar bukan tempat pria itu bekerja dan ia baru sekali itu bertemu Kenzo di pasar entah apa sebabnya. Ia berusaha menghapus harapan sesaat yang sangat menyesatkan itu dan mulai fokus belanja.


Di meja makan, Zack sedari tadi belum juga menyelesaikan sarapan paginya. Chris sampai heran dibuatnya. "Zack, what happened with you?(Zack, ada apa denganmu?)"


"Kenapa sih, Papa cuma bikin satu Zack?"


"Apa?" Chris sampai menoleh mendengarnya. "Kamu bicara apa?"


"Bikin adek dong buat Zack, Lydia kan punya orang."


Chris tertawa terpingkal-pingkal begitu juga Reina, hanya Zack yang terlihat masih merengut.


"Zack, kalau adikmu sedang tidak ada, kamu kan bisa main ke rumah temanmu," ucap Reina memberi alternatif.


"Zack sayang, bermain itu juga ada batasnya kan?"


Zack menatap Reina. "Iya, tapi aku ingin adikku kembali. Rasanya lama sekali."


Reina tertawa. "Ya sudah, bantu Mama di toko mau?"


Zack mengangguk lemah.


-----------+++----------


Leka telah menyelesaikan tugasnya memasak, tapi kemudian ia ingat masakannya semuanya bersantan dan tidak baik buat Runi hingga ia teringat kafe di seberang apartemen. Ia kemudian membawa Runi dan pergi ke sana.


Kafe itu sedikit ramai di sabtu pagi itu. Leka sedikit mengantri sebelum mendapat giliran membeli roti yang diinginkannya. Setelah membeli roti ia keluar. Ia hampir menabrak seorang pria karena terburu-buru tapi pria itu malah memanggil namanya.


"Leka?"


"Oh, Candi ...."


"Kau tinggal di mana?"


"Oh, maaf aku buru-buru."


Namun pria itu menghalanginya melangkah.


"Candi ...." Leka memperbaiki gendongannya pada Runi.

__ADS_1


"Di mana?"


"Di apartemen di depan. Sudah kan?"


Candi baru saja memberi Leka jalan ketika tiba-tiba seseorang datang dan meninju wajah pria itu dengan keras hingga jatuh tersungkur. Leka benar-benar kaget, Aska sudah ada di antara mereka dengan muka garang. Ia menunjuk Candi yang sudah tersungkur di trotoar dan bicara dengan nada marah. "Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mendekati istriku lagi tapi masih saja kau berusaha mengganggunya. Apa kau mau kuhajar sekali lagi, hah?"


Ia sudah mengangkat tinggi-tinggi kepalan tangannya tapi Leka segera menyentuh lengan suaminya sambil berbisik. "Bang, banyak yang memperhatikan kita Bang."


Aska segera menyadari orang mulai datang berkerumun karena mereka berdiri dekat pintu masuk kafe.


Dengan cepat Aska meraih lengan Leka dan membawanya menyebrangi jalan. Ia terus menariknya hingga masuk gedung apartemen dan menunggu di depan lift. "Kenapa kau masih saja bertemu dengan pria itu, hah?" Aska berbisik dengan nada marah yang di tahan. "Kau lihat, aku sampai keceplosan bicara." Katanya kesal.


"Aku tidak mencarinya, aku baru saja bertemu dengannya di pintu kafe tadi," bisik Leka membela diri.


"Jangan bohong! Aku mendengar sendiri kau memberitahu tempat tinggalmu tadi padanya." Aska masih sengit memarahi istrinya.


Ada beberapa orang bergabung menunggu lift sehingga saat Leka hendak kembali bicara, Aska menghentikannya dengan mencengkram lengannya.


"Aah ...."


Aska memberi kode dengan mata agar tak bicara. Mereka kemudian diam hingga sampai ke dalam apartemen mereka.


"Kenapa kau masih berhubungan dengannya?"


"Aku tidak berhubungan dengannya."


"Kau jangan bohong! Bagaimana bisa dia datang menemuimu kalau tidak kau yang mengundangnya, hah?" Suara Aska mulai meninggi.


"Mana aku tahu, aku baru saja bertemu dengannya." Ia merapikan gendongannya pada Runi. Gadis kecil itu terlihat gelisah. Ia mulai sering melihat ibu dan pria itu bertengkar.


"Oh, jangan-jangan selama ini kau selingkuh dariku di belakangku ya, pantas saja kau minta kunci rumah, agar kau bisa dengan mudah keluar masuk menemuinya, ya kan?" Ejek Aska lagi.


Leka kesal di tuduh berselingkuh. Ia mendorong suaminya karena itu. "Aku tidak serendah itu!" Bungkusan plastik belanjaan rotinya jatuh ke lantai. "Kau yang berselingkuh, kau pula yang menuduhku berselingkuh, suami macam apa kau!"


Plak!


Leka bisa merasakan panas di pipinya. Aska panik, ia terlihat menyesal. "... Leka, aku ...."


Saat itu, Leka benar-benar putus asa. Ia sudah berusaha memberitahu suaminya tapi sepertinya sia-sia. Pria itu seperti sudah gelap mata. Air matanya yang hangat turun tanpa diminta.


"Leka maafkan aku ...."


Namun Leka sudah tak peduli. Ia kembali lari ke arah pintu dan turun lewat lift yang masih kosong. Kepalanya benar-benar buntu. Tak henti-hentinya air matanya keluar padahal ia sudah berusaha menahannya. Ia membetulkan gendongannya pada Runi.


"Unda ...."


"Iya nak, Bunda tidak apa-apa." Ia menghapus air matanya dan bergegas keluar saat pintu lift terbuka. Ia hanya perlu ketenangan. Ia hanya perlu berjalan sebentar dan ....


Tiiin!


Ia hampir menabrak sebuah mobil. "Ah, maaf!"


"Leka?"


Pak Arya?

__ADS_1


__ADS_2