
"Jo, apa yang kau katakan?"
"Maaf Yah."
Arya memperhatikan Kenzo yang terlihat bingung. "Sudah berulang kali Ayah katakan kamu dan ayahmu tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan darah. Dia anggota parlemen yang jahat terhadap semua rekan bisnisnya dan perusak wanita ...." Kata-katanya terhenti. Ada ledakan emosi saat mengingat masa-masa waktu pertama kali ia menemukan Mariko yang cantik dan lugu itu. (Senandung Cinta Jilbab Reina 2)Seorang wanita yang berjuang mati-matian untuk hidup dari sejak kecil hingga bertemu Ayah Kenzo, Kenji Aratami. Pria tua yang jatuh cinta dengan gadis yang masih sangat muda. Mariko saat itu berpacaran dengan seorang Yakuza bernama Koshino Hiro, tapi dengan kelicikan dan kekuasaannya ia mendapatkan Mariko dan menyekapnya. Mariko berhasil kabur lari ke Indonesia dan tinggal bersama temannya, tapi kemudian ia menyadari dirinya hamil Tama.
Arya merasa bersalah menjelek-jelekan nama orang tua Kenzo karena biar bagaimanapun mereka tetaplah orang tua yang melahirkan dan membesarkan Kenzo. Pastinya Kenzo juga menyayanginya karena Arya pernah memergokinya masih menyimpan foto orang tuanya.
"Maaf Ayah tidak bermaksud menjelek-jelekan orang tuamu. Ayah tahu kamu pasti sayang mereka. Maaf ayah salah bicara." Arya berdiri dan mengusap pucuk kepala Kenzo. Pria itu hanya diam.
"Yang pasti kau sama sekali berbeda dengan Ayahmu. Kau punya hati. Tidak ada wanita yang akan menolak pria sepertimu. Apa lagi kau bisa bermain musik dan bernyanyi."
"Benarkah?"
"Mmh?" Arya melihat raut wajah berbeda pada wajah Kenzo.
"Ada seorang wanita yang membuatku berpikir ulang tentang itu."
"Itu?"
"Tidak menikah."
Arya mengangkat alisnya dan mulai menajamkan telinga. Ia kembali duduk. "Kau sedang ...."
"Apa aku boleh mengagumi senyumnya?"
Arya dengan pelan menyandarkan punggungnya pada kursi. "Mmh ...."
"Mengkhayal tentangnya?"
Arya melipat tangannya. "Lalu?"
"Mmh, apa lagi yang aku harus lakukan dengannya? Aku tak sabar memikirkannya." Kenzo bergumam sendiri. Wajahnya penuh dengan kesenangan. Sesuatu yang ia tidak tahu harus bagaimana mengekspresikannya.
"Siapa?"
"Tapi ayah janji jangan tertawakan aku ya? Dia hanya perempuan sederhana."
"Pasti orang yang spesial karena berhasil mengubah pendirianmu."
Kenzo tersenyum. "Itu Yah, pembantunya Aska. Leka."
Bagai tersambar petir Arya mendengarnya. Leka? Baru semalam mereka bertemu, bagaimana bisa ... begitu cepat ia ... Tunggu, tadi dia ke mana? "Kau tadi menemuinya?"
"Kok Ayah tahu?"
"Karena tidak biasanya kamu tidak sarapan bersama. Kau mencarinya?"
"Iya."
"Di mana?"
"Di pasar. Kan dia pembantu."
"Eh, ya benar." Wanita itu pasti istri Aska. Aku yakin itu dan Jo pasti tidak tahu, karena kalau ia tahu, ia takkan berani mendekati Leka. Jo sangat perasa, ia takkan berani dan tega mengambil istri orang, tapi ... kalau ia mau akan aku usahakan.
Ia sepertinya perempuan baik-baik tapi Aku harus pastikan dulu Leka tidak sama dengan Aska. Kalau memang ia harus mengikuti skenario suaminya berarti dia diperdaya. Aku akan buat mereka bercerai agar Jo bisa menikah dengan Leka. Mmh ... aku harus mulai dari mana dulu ya? "Ajak saja dia main ke rumah."
"Ayah tidak marah, aku menyukai seorang pembantu?"
"Oh, tidak. Pembantu juga manusia. Dia kan terpaksa jadi pembantu karena terdesak kebutuhan. Aslinya ia punya rumah makan, berarti ia bisa menjadi pengusaha. Wajahnya juga tidak seperti wajah pembantu. Pastikan saja ia menyukaimu."
Kenzo terdiam.
"Hei, semangat."
__ADS_1
"Iya, Yah."
Telepon berdering. Leka terkejut karena ia sedang memasak. Apalagi Runi berisik karena mendengar telepon itu.
"Undaaa, Unda ...."
"Iya, iya."
Mesin telepon itu ada di dekat meja makan sehingga ia dengan segera mematikan kompor dan mengangkatnya. "Halo."
"maaf Bu, di bawah ada paket. Ibu mau ambil ke bawah atau kami antar ke atas?"
"Untuk saya?"
"Untuk Ibu Jaleka Rasmin."
"Oh iya, saya."
"Bagaimana Bu?"
"Bisa diantar ke atas?"
"Nanti Ibu tolong bukakan pintunya."
"Iya, iya." Siapa yang mengirimiku paket ya? Bang Aska? Kok dia tidak bilang apa-apa tadi?
Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Leka menghampiri dan membuka pintu. Runi yang ikut mengekor Leka melakukannya dalam diam.
"Keranjang buah Bu." Kata petugas pengirim yang datang bersama satpam dari lantai bawah. Ia menyerahkan selembar kertas untuk ditandatangani. Setelah itu Leka mendapatkan paketnya.
"Makasih Pak."
"Sama-sama."
Setelah mereka pergi, Leka memeriksa keranjang buah itu. Ada kartu terselip di sana yang ia langsung bisa baca pesannya. 'Untuk Jaleka Rasmin. Semangat ya?' Leka yang penasaran, membuka bungkus plastik bening yang membungkus keranjang buah itu agar ia bisa melihat kartu itu, tapi setelah di bolak-balik tidak ada nama pengirimnya. Aneh, siapa yang mengirimnya?
"Oh iya ada apel ya? Nanti Bunda potong ya?"
Runi sudah berjinjit-jinjit sambil tangannya menyentuh kaki Leka. Ia sudah tidak sabar.
"Iya, iya sebentar." Leka menbawa keranjang itu ke meja makan dan mengambil pisau dan piring. Ia memasukkan Runi ke meja khusus batita dan mulai memotong apel. Apel yang sudah terpotong di masukkan dalam piring plastik di hadapan Runi hingga Runi bisa mengambil dan memakannya sendiri.
Leka masih bingung dengan kiriman itu. Orang yang tahu nama aslinya hanya sedikit. Suaminya dan ... Candi, tapi apa Candi tahu di mana ia tinggal? Memang sih ia pernah bilang ia tinggal di daerah dekat sini, tapi apa benar ia yang mengirimkan paket ini? Leka masih bingung dengan penemuannya ini.
Zack terus memandangi jam tangannya. Jam mahal tapi modelnya khas anak muda. Talinya berwarna-warni terbuat dari plastik dan anti air. Ia sangat senang mengenakannya.
"Dari tadi, dilihatin terus jamnya." Aiko berkomentar. Ia sedikit kesal karena ia juga menghadiahi Zack dengan jam tangan di hari ulang tahunnya, tapi pemuda itu lebih memilih jam tangan pemberian Lydia.
"Aku suka. Lydia memang pintar mencarikan barang yang bagus."
"Aku kan juga kasih kamu jam tangan, kenapa kamu tidak pakai?"
"Oh, itu tidak bisa di pakai sehari-hari. Kalau ini kan bisa." Zack melihat Lydia keluar dari kelasnya. "Lydi!" Panggilnya.
Zack menghampiri. Tinggal Aiko merengut karena selalu kalah dari Lydia.
--------------+++------------
Sehabis sholat Magrib, Leka melipat kain sholat dan sajadahnya. Tiba-tiba Aska masuk ke dalam kamar membawa bungkusan besar di tangan.
"Oh, sudah pulang Bang?"
"Aku membawa sesuatu untukmu." Aska memberikan bungkusan besar itu pada Leka.
"Apa nih bang?" Leka membukanya.
__ADS_1
"Sajadah dan mukena. Aku belum memberikan ini saat nikah kita dulu. Ini mas kawin pengganti uang yang aku pinjam waktu itu."
"Wah, bagus." Ia melihat mukena putih dengan bahan yang lembut. Juga sajadah yang lembut dan tebal.
"Ada lagi." Aska mendekat. Ia memperlihatkan sesuatu yang diambilnya dari kantong celananya. Sebentuk kalung dengan bandul batu berlian kecil berwarna kuning. "Kamu pasti cantik pakai ini. Aku pasangkan ya?" Pria itu memasangkan kalung berlian itu di leher istrinya dan melihatnya lagi melingkar cantik di sekeliling lekukan lehernya. "Kau sangat cantik pakai ini."
Leka tersipu-sipu mendengar pujian suaminya.
"Aku serius padamu kan? Bagaimana kalau kita makan di luar?"
"Bagaimana dengan Runi?"
"Kita bawa saja."
"Dia sudah mulai mengantuk."
"Tidak apa-apa."
Leka berganti baju dan juga mengganti pakaian Runi. Gadis kecil itu sedikit rewel dan setelahnya malah tertidur.
"Bang, dia sudah tidur. Sebaiknya besok-besok saja perginya, kasihan dia sudah tidur, nanti dia rewel di jalan malah tambah susah."
"Tidak apa-apa, percaya saja padaku." Aska tetap memaksa. Ia ingin membuktikan dan membuat Leka percaya bahwa ia bersungguh-sungguh.
Dengan berat hati, Leka membawa juga Runi yang telah tertidur.
Mereka kembali mendatangi Mal yang sama. Aska menggendong Runi dan sedang mencari-cari restoran yang ingin dimasukinya. Ia kemudian menemukan restoran yang sedikit lebih mahal dan masuk ke dalamnya. Tak dinyana, Aska bertemu seseorang yang di kenalnya.
"Kakak!"
"Aska?"
Monique dan Salwa yang sedang makan restoran itu, terkejut melihat mereka datang ke sana, terlebih Aska sedang menggendong Runi. Buru-buru Aska menyerahkan Runi pada Leka yang menyebabkan Runi terbangun. Karuan saja gadis kecil itu menangis. Aska bingung harus berbuat apa melihat Runi menangis, tapi ia tidak berusaha untuk menenangkan.
"Leka, tolong. Anakmu berisik ...." Kalimat yang di lontarkan Aska benar-benar membuat mata Leka mendelik. Wanita itu berusaha mendiamkan anaknya dengan wajah kesal.
"Kakak, jangan begitu. Kasihan Kak, anak kecil." Protes Salwa.
"Siapa, Sal?" Tanya Monique pada Salwa.
"Oh, pembantu baru Kak Aska."
Kalimat ini makin membuat Leka meradang.
"Aska, apa kabar? Udah lama ngak ketemu. Makan bareng yuk, kebetulan kita juga baru datang. Mau makan kan?" Tanya Monique pada Aska.
Aska melirik Leka. Rencananya buyar sudah melihat Leka begitu marah. Ia makin bingung.
"Pembantumu kenapa di bawa ke dalam sih, berisik anaknya nangis terus. Tolong suruh dia keluar karena mengganggu orang lain juga yang sedang makan di sini," ucap Monique enteng.
"Eh, iya mbak. Maaf." Leka tersenyum pahit dan membawa anaknya yang sudah mulai reda tangisnya keluar. Ia masih bisa melihat Aska di tarik mesra Monique untuk duduk bersama. Betapa menyakitkannya pemandangan itu.
Leka berjalan mondar-mandir di samping restoran bingung harus bagaimana sementara anaknya mulai tertidur. Sesak di dalam dadanya ingin ia tumpahkan tapi ia harus bersabar, karena tidak ada tempat untuknya menumpahkan rasa kesalnya saat itu. Sampai-sampai ia harus menggigit punggung tangannya agar tak menangis. Tiba-tiba Salwa muncul dan mendatanginya. "Mbak pasti belum makan. Ini ada bakpau mbak, buat ganjal." Salwa memberikannya pada Leka.
"Terima kasih."
"Maaf ya, mungkin agak lama."
"Iya, gak apa-apa."
Sepeninggal Salwa, Leka makan bakpau yang lumayan besar itu dengan air mata yang mengalir. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Karena malu sebab mulai ada yang memperhatikannya menangis, Leka berjalan kembali ke tempat di mana mobil Aska terparkir, dengan menunduk. Ia sudah tak kuasa menahan rasa sesak yang kian menumpuk. Ia bahkan bersembunyi berjongkok di samping mobil agar tidak ada yang bisa melihat ia menangis sendirian. Tanpa suara. Bahkan tersendak tanpa minum. Ia menepuk-nepuk dadanya agar hilang tersedaknya yang mulai menyakiti tenggorokannya.
________________________________________________
Ada lagi cerita CEO yang mengharu biru judulnya Tawanan Cinta CEO oleh author Irma Kirana. Yuk dari pada penasaran.
__ADS_1