Sungai Rindu

Sungai Rindu
Pengalihan


__ADS_3

"Ini."


Leka mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami.


"Sudah usaha?"


Leka menahan tawa sedang Kenzo tampak tersipu-sipu.


"Ayah, kamu bicara apa?" ucapnya kesal.


Arya nampak terkekeh. "Udara di bulan Maret ini sangat segar masuk musim semi di sini, jadi mulai banyak bermekaran bunga sakura. Cocok buat ayah yang mau pacaran lagi sama Mama. Kamu ke sinilah honeymoon sama istrimu pasti ia suka."


Kenzo melirik Leka. "Eh, iya Yah."


"Eh, kamu sudah memikirkan mau honeymoon di mana?"


"Tidak tahu Yah, tanganku masih seperti ini." Kenzo melirik gips yang berada di depannya. "Kadang leherku pegal digantung tangan sebentar saja."


"Itu, tak lama. Paling 3 minggu lagi akan membaik. Sabar saja. Eh, mana dua perusuh itu, ayah ingin bicara."


Kenzo menghadapkan layar pada kedua adiknya di sampingnya. Mereka seperti bersiap-siap mendengarkan sesuatu.


"Hei! Kenapa kalian mengganggu acara kakakmu sama Leka, hah? Itu acara orang dewasa jadi sebaiknya kalian pulang!" hardik Arya dari hp Kenzo.


"Ayah ... aku sepi gak ada Ayah di rumah," rengut Aiko.


"Ayah, aku takut kalau gak ada Aiko di rumah Yah," Tama memberi tahu.


"Kalian ... ada aja alasannya. Sekarang kalian harus belajar mandiri. Oniichan sudah punya keluarga sendiri. Mereka butuh privacy(kehidupan pribadi) jadi kalian harus tahu menempatkan diri. Ia bukan milik kalian saja tapi juga ada istrinya." Arya berusaha membuat Aiko dan Tama mengerti.


"Aku mau sama Oniichan ...." Aiko memeluk Kenzo.


"Aku takut Yah, sendiri." Aku Tama.


"Hah ...." Arya menghela napasnya dengan kasar.


Kemudian muncul wajah Leka di layar hp. "Tidak apa-apa. Hanya malam ini saja. Besok mereka akan belajar tegar. Iya kan?" Ia menoleh pada Aiko dan Tama.


Keduanya segera mengiyakan, hanya Kenzo yang terlihat tak rela. "Leka ...."


"Oh, ya sudah kalau begitu. Mmh ...." Arya sepertinya sedang berpikir sejenak.


"Apa Yah?" Kenzo menatap layar dengan lebih dalam.


"On the second thought(kalau di pikir-pikir lagi) Mungkin honeymoon di Paris lebih bagus."


"Lho kenapa?"


"Rasanya lebih aman."


"Oh."


Akhirnya malam itu diakhiri dengan tidur di 2 kamar berbeda. Kenzo dengan Tama dan Leka dengan Aiko di kamar lain. Kenzo tampak merengut tapi Tama membesarkan hati dengan memeluk lehernya.


"Aku akan menjaga Kakak semalaman."


"Tak perlu!" ucap pria itu kesal dengan berusaha melepas pelukan adiknya.


Tama berusaha tersenyum semanis mungkin agar Kenzo menerimanya, dan seperti yang sudah diduga Kakaknya menerima walau dengan wajah masam.


Beda dengan Leka yang penuh kasih sayang pada Aiko karena ia belum pernah mempunyai adik perempuan. Tidak butuh waktu lama, mereka berdua tertidur bersama.


Pagi-pagi sekali kedua adik Kenzo sudah kembali ke rumah Arya. Mereka bersiap untuk berangkat sekolah. Leka kembali ke kamar.


"Leka ...." Kenzo memanggil istrinya dari tepian tempat tidur. "Sini ...." Ia bersuara lemas.


"Kenapa Mas?" Leka menghampiri.


"Aku rindu pelukanmu semalam."


Wanita itu segera memeluk prianya dengan senyuman hangat bak mentari. Hanya pelukannya yang bisa mengurai rasa rindu karena terpisah dan tidak tidur bersamanya semalam. Pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya.


Kenzo menatap Leka. "Kiss me.(cium aku)" pintanya penuh harap.

__ADS_1


Leka mengecupnya.


"I love you,(Aku cinta padamu.)" ungkap Kenzo lagi.


"I love you." Leka mengikuti.


"I miss you.(aku rindu padamu)" Kenzo meraih tubuh istrinya dan mendekapnya dari samping.


Mereka menyatukan kening. Kehangatan mengalir seiring rindu menemukan sungainya. Sungai rindu.


-------------+++---------


Runi sangat senang dengan kereta bayi miliknya. Saat ia berada di bawah, ia mendorong kereta itu ke mana-mana dan saat ia berada di dalam kereta bayi itu, ia bisa tidur-tiduran sambil bermain boneka. Ia terkadang bisa minum susu dan tidur di sana.


Sekarang ia sedang asyik bermain di rak bawah kereta di mana ia bisa menyimpan boneka dan Ani meletakkan tas berisi pakaian ganti dan peralatan botol susu milik Runi.


Tiba-tiba seseorang meraih tubuh mungilnya dari belakang dan menggendongnya.


"Runi, Sayang." Pria itu tersenyum.


"Om, Om!"


Leka terkejut. Aska datang diam-diam ke restoran dan menggendong Runi. Kedatangannya diketahui Ani tapi wanita itu diberi isyarat agar diam tak bicara. Di luar ada bodyguard Leka, tapi mereka berpikir Aska adalah tamu restoran.


"Halo Leka, kau semakin cantik saja," sapa Aska penuh kerinduan. Menatap Leka yang tak tergapai dan telah menjadi milik orang lain.


Seandainya waktu bisa diputar, seharusnya ia tak pernah mengucapkan kata cerai karena kini ia merasakan betapa sulitnya ia kembali pada wanita yang telah mencuri hati dan menyembuhkan luka batinnya ditinggal kekasih pertamanya Nena. Leka adalah yang terbaik. Ia menyadari itu sekarang. Namun, wanita inipun lolos dari genggamannya. Ia hanya bisa menyesali kebodohannya di masa lalu dan bertekad berjuang untuk mendapatkan wanita itu kembali. Kali ini ia tak boleh gagal. Tak boleh ... gagal.


Aska mendudukan Runi di atas meja pesanan. "Kau tak marah aku datang kan?"


Leka tak menjawab. Ia hanya memandang Runi dan Aska bergantian.


"Apa aku boleh pesan minuman?"


"Pesan saja," jawabnya tanpa menoleh. Ia sedang memeriksa pekerjaan pegawai lain pada sebuah kertas yang di pegangnya.


"Menunya mana?"


"Aku kan sedang pegang Runi ...."


Alasan yang dicari-cari ... Leka mendesis kesal. Sepagi ini dia di sini, apa dia tidak bekerja? Aduh, Mas lama tidak ya, ikut rapat di sekolah Aiko? Wanita itu kemudian mengambilkan untuk Aska, buku menu yang diminta. Saat ia meletakkannya di hadapan pria itu, Aska langsung meraih tangannya.


"Leka, sebentar. Aku mau bicara."


"Mau bicara apa?" Genggaman Aska begitu kuat hingga ia tak sanggup menarik tangannya kembali.


"Kalau aku bawa Runi jalan-jalan, kau mau ikut?"


"Lepaskan tanganku," Leka berusaha lewat tangannya yang satu lagi tapi tak berhasil.


"Aku tanya, kau mau ikut jalan-jalan tidak?" Aska seperti tak peduli kesusahan Leka, ia ingin jawabannya segera.


"Bang, lepaskan aku."


"Pak ...." Ani mencoba menengahi.


"Kau diam, jangan ikut campur urusanku brengsek!" umpat pria itu kesal. Ia kembali fokus pada Leka.


Runi terlihat kaget dan bingung.


"Leka ...."


Sebuah tangan meraih lengan Aska yang mencengkram tangan wanita itu. Pria itu menoleh.


"Mau kau apakan istriku?" Kenzo dengan wajah garang.


"Mas ...."


"A-aku hanya ingin mengajak Runi jalan-jalan. Mungkin Leka ingin ikut." Aska berkilah dan masih belum melepas tangan wanita itu.


"Lepaskan tangan istriku!" bentak Kenzo marah.


Sepertinya Aska mengganggap pria Jepang itu lemah. Terlihat dari cara ia meremehkan Kenzo. "Aku hanya bertanya ...."

__ADS_1


Sebuah serangan cepat dari sikut Kenzo, mengenai dada Aska. Pria itu akhirnya melepaskan Leka.


Aska mengusap dadanya. Pukulannya lumayan sakit karena tepat di tulang iga. "Ka-kau bisa Wushu juga?" Ia tercengang. Selama ini ia mengira Kenzo sama dengan Tama, tidak bisa ilmu bela diri hingga ia punya banyak bodyguard dan penjaga.


"Heh! Kau pikir untuk apa aku jadi anak Arya Wiraguna? Kau, apa yang kau dapat dari Om Chris?"


Ledekan itu sungguh menyakitkan. Kenyataan bahwa mereka berdua sama-sama anak yatim piatu dan takdir yang membuat Kenzo selalu lebih beruntung darinya. Kenapa tuhan menempatkannya di posisi yang paling buruk sedang Kenzo yang terbaik? Apa salahnya sampai harus menerima kenyataan pahit ini?


Runi ketakutan hingga Leka menggendong dan memeluknya. Bodyguard Leka sudah datang dan menarik Aska keluar. "Apa sih, sensitif banget. Aku kan cuma bertanya? Apa salahnya?" jawab pria itu santai.


Dalam hati, Aska mengumpat habis Kenzo. Kenapa pria itu seperti menyedot habis semua keberuntungannya, dan mengambil semua harta miliknya. Runi, Leka, besok entah apa lagi. Lama-lama ia bisa gila. Hidupnya kini seperti manusia buangan. Tak ada yang mencintainya lagi. Tak ada. Kecuali aku mendapatkan leka kembali.


Aska merapikan baju dan segera naik ke mobil. Mobil itu kemudian bergerak keluar perparkiran.


Leka merapatkan tubuhnya pada suaminya. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kenzo. "Mas, kemana? Kenapa lama," tanyanya resah.


"Maaf. Maafkan aku." Kenzo mendekap istrinya erat.


---------+++--------


"Oh, kau di sana." Chris menghampiri meja Rojak dan duduk di seberangnya. Ia kemudian melihat menu yang berada di atas meja. "Ayo, kamu mau pesan apa? Pesan saja."


"Maaf, aku lancang. Tadi sudah pesan duluan Pak!"


Chrs tertawa. "Ok. Berarti Bapak harus buru-buru pesan ya?" Pria bule itu segera memesan makanannya, kemudian ia menatap lurus ke depan. "Aku dengar kau bertengkar lagi dengan Salwa. Ada apa?"


"Oh, tidak ada apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? Salwa terlihat murung akhir-akhir ini. Mulai dari masalah Aska dan masalahmu sekarang ini."


"Bener Pak, aku tidak punya masalah apa-apa dengan Salwa."


"Lah terus, kenapa dia murung sekali belakangan ini dan kalian jarang pulang bersama?"


"Oh, itu. Aku memang belakangan jarang pulang cepat karena pekerjaan Pak. Mungkin itu yang membuat Salwa terlihat seperti itu. Aku sudah memberi pengertian padanya tapi dia tidak dengarkan."


"Kenapa kalian tidak menikah saja?"


"Saat Bapak menawarkan soal perusahaan, esoknya aku langsung melamarnya, tapi ya gitu ... Salwanya tidak mau. Aku pikir ia mungkin punya kandidat yang lain."


"Maksudmu ... Ada orang lain yang di taksirnya? Oh, tidak-tidak-tidak. Seleranya selalu buruk dan orang bule."


Rojak tersenyum. "Bapak kan orang bule?"


"Bukan begitu, mmh ... Sudahlah. Kau mengerti apa maksudku kan?"


Rojak kembali tersenyum. "Hidup itu gak bisa di paksakan Pak. Mungkin aku bukan jodoh anak Bapak, jadi aku terima saja."


Chris menatap Rojak. "Bukankah aku sudah minta kamu untuk berusaha? Kenapa kamu jadi gampang menyerah?"


"Segala sesuatu yang di paksakan itu, bisa berakibat buruk nantinya Pak."


Chris menatap pria di depannya, dalam. Ia menghela napas. "Sebenarnya masalah kalian cuma di pekerjaan kamu yang mulai sibuk hinga mengabaikannya. Sejauh ini, berarti ia masih memikirkanmu Rojak."


"Maaf Pak, tapi kan perusahaan bukan milikku Pak, jadi aku tidak bisa seenaknya."


Walau diam Chris masih memandangi wajah Rojak, pria sederhana pekerja keras itu. "Bagaimana kalau kau berhenti bekerja dan bekerja padaku?"


"Pak, aku kan belum tentu jadi menantu Bapak, jadi aku tidak mungkin berhenti bekerja begitu saja."


Chris kembali diam dan menatap Rojak lekat. "Ok, aku akan menanggung semua resikonya."


"Eh, maksud Bapak?"


"Aku akan siapkan kamu jadi penggantiku, pemilik perusahaan. Bagaimana?"


"Apa?"


_____________________________________________


Kisah perjodohan selalu jadi pemenang di hati pembaca. Author Age Nairie meramunya dalam kisah Samudra Nayna. Cekidot!


__ADS_1


__ADS_2