Sungai Rindu

Sungai Rindu
Mengintai Pengintai


__ADS_3

"Kalian melakukan itu?" Arya hampir tak percaya dan menoleh ke belakang. Kedua anaknya Aiko dan Tama tersenyum padanya. "Tumben cerdas anak Ayah." Ia tertawa. "Lalu dia bilang apa?"


"Ayah di suruh istirahat, gak boleh kerja. Kalau bisa, tahan Ayah biar gak kerja," cerita Tama.


Arya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Kalian itu ... tapi Ayah gak ikutan ya?"


"Beres Yah!" Tama mengangkat jempolnya. "Oya, kata Kakak, Kakak akan bayar ganti rugi pada perusahaan itu Yah, asal Ayah bisa istirahat."


"Oh, begitu?" Arya menatap ke depan dengan wajah serius. "Padahal ini cuma lebam saja dan terkilir. Orang proyek terlalu berlebihan membawaku ke rumah sakit, sampai di rontgen segala lagi. Kalau kasus seperti ini hanya perlu pergi ke tukang urut, selesai." Mmh, apa Kenzo akan memeriksa proyekku ya? Dia tak boleh tahu kalau proyek ini berasal dari Jepang. Dia pasti akan cari tahu nama perusahaannya. Aku harus minta asistenku menyembunyikan semua yang berhubungan dengan proyek itu, tapi aku tidak bisa menelepon di hadapan anak-anak karena anak-anak juga tak boleh tahu.


Arya menatap anak-anaknya, Tama dan Aiko dari cermin kecil di depannya. Mereka terlihat bahagia karena akan segera bertemu Kakaknya Kenzo.


"Tapi Mas istirahat dulu hari ini," ucap Mariko yang sedang menyetir mobil. "Nanti aku panggil Mbok Minah deh, tukang urut deket rumah Rojak, biar cepat diurut."


"Iya, iya."


---------+++----------


"Pak Arya sakit?" Leka melihat pesan yang di dapat dari Mariko. "Sakit apa ya?" Ia menutup hp-nya. Namun ia tak bisa berpikir banyak karena tamu restoran mulai banyak mendekati makan siang. Ia mencoba mengurusnya sendiri.


Sementara Arya yang berada di dalam kamar, membuka hp-nya setelah istrinya mengirim pesan pada Leka. Ia menelepon. "Gus, itu data mengenai proyek yang sekarang tolong dimasukkan semua ke lemari besi ya Gus. SEMUANYA. Jangan sampai ada yang ketinggalan."


"Oh, iya pak. Hitung-hitungannya juga?"


"SEMUANYA, tanpa terkecuali. Oya, kalau anakku ke sana, Jo, tanya tentang perusahaannya, bilang saja proyek itu berasal dari Amerika, ok?"


"Iya pak."


Arya menutup hp-nya.


Istrinya pun juga baru selesai menelepon tukang urut. " "Nanti setengah jam lagi, karena ia masih ngurut di rumah yang lain."


"Ok."


Mariko menatap suaminya dengan tanda tanya di kepala. "Kenapa merahasiakan perusahaan ini?"


"Ini riskan Mariko. Kalau aku menolak, mereka pasti akan curiga. Yang penting Jo tidak tahu dan mereka tidak saling kontak. Itu saja."


Mariko menghela napas.


-----------+++----------


Mariko datang selepas Magrib ke restoran.


"Ibu ... kenapa ke sini? Pak Arya gak ditemani Bu?"


"Mmh? Oh, dia bukan sakit seperti itu." Wanita itu tersenyum. "Dia jatuh diproyek tapi hanya keseleo. Dua hari juga sembuh. Tadi sudah di urut kok."


"Oh, alhamdulillah. Aku pikir sakit apa." Leka bernapas lega.


-----------+++--------


Candi tak sengaja bertemu mobil Aska di jalan. Ia hapal mobil pria itu karena sering mengintai pria itu di apartemennya, tapi sudah lama ia tidak pernah melihat Leka keluar apartemen itu baik sendiri ataupun dengan Aska. Apakah Leka dilarang pergi keluar rumah sama sekali oleh suaminya?


Karena penasaran, Candi membuntuti mobil Aska dengan mobilnya hingga mobil itu masuk ke sebuah komplek pertokoan. Mobilnya ikut masuk ke pelataran parkir dengan berjarak dan ia memarkirkan mobilnya agak jauh dari mobil Aska. Ia melihatnya masuk ke dalam restoran. Cukup lama ia menunggu di perparkiran tapi Aska tak kunjung keluar. Penasaran, ia mengintip ke dalam berdiri di antara antrian panjang. Betapa terkejutnya Candi melihat Leka bekerja di restoran melayani tamu.


Leka pakai celemek restoran? Berarti dia kerja di sini kan ya, tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya keluar dari apartemen? Apa yang terjadi sebenarnya?


Candi kembali ke mobil dan menunggu mereka pulang. Cukup lama ia menunggu, tapi akhirnya ia melihat Leka dan Aska pulang bersama Baby Sitter Runi. Kembali Candi membuntuti mereka pulang.


Candi terkejut melihat arah jalan pulangnya berbeda. Mobil Aska bergerak lurus, padahal seharusnya berbelok bila ingin ke apartemen. Kenapa mereka lurus ke sana? Bukankah apartemen di ...


Candi semakin penasaran hingga mobil Aska masuk ke sebuah perumahan sederhana. Ia membuntuti terus hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah rumah mungil yang asri. Leka turun bersama Baby Sitter yang menggendong Runi dan mobil pun pergi.

__ADS_1


Eh, kenapa suami Leka meninggalkan mereka di rumah ini? Bukankah mereka .... Ah, apa mereka sudah bercerai? Benarkah itu? Candi tersenyum lebar. Kenapa aku baru tahu sekarang? Sejak kapan mereka berpisah? Kenapa Aska masih menjemputnya? Mmh, berarti Leka meninggalkannya. Apa benar mereka sudah bercerai ... atau mereka baru pisah?


Candi melipat tangannya di belakang kepalanya dan bersandar di sandaran kursi mobil. Hari tiada yang seindah hari ini. Sekarang ke depannya segalanya begitu mudah. Tinggal meyakinkan Leka dan kalau wanita itu bilang 'yes', ia akan jadi milikku. Mmh, dia kerja di restoran ya? Ok, kita lihat saja nanti.


Pria itu menghidupkan mesin mobilnya, ia mencoba melintas di depan rumah itu dan kemudian memutar balikan mobilnya. Dia punya penjaga rumah, sepertinya. Apa ini rumah sewa yang disewa Aska? Mmh, ok. Satu informasi telah kuketahui. Bagaimana Kalau aku yang lebih dulu mengambil mantan istrimu Aska? Mobil Candi melesat meninggalkan perumahan itu.


------------+++----------


Pagi itu Leka sudah bersiap dengan Baby Sitter Runi mengendong gadis kecil itu berangkat kerja. Mereka keluar pagar dan Leka menutupnya.


Candi yang sedari tadi menunggu di mobil tak jauh dari sana segera menegakkan punggungnya. Belum sempat ia menghidupkan mobil, sebuah mobil menghampiri Leka dan Ani.


"Leka, kamu mau ke restoran?"


"Ah, Ibu. Iya Bu." Leka mendekati mobil dan membungkukkan badan melihat ke dalam.


"Ayo sini, aku antar," Mariko menawarkan diri.


"Ah, Ibu. Aku jadi merepotkan."


"Tidak apa-apa. Ibu sudah tidak ke mana-mana lagi."


Leka kemudian masuk ke dalam mobil bersama Ani dan Runi.


"Ah, sialan! Ada yang mengantarnya lagi!" gumam Candi.


Mobil Mariko pun berangkat, tapi ternyata mobil Candi mengekor di belakang hingga ke parkiran restoran. Candi, memarkir mobilnya agak tersembunyi. Setelah mengantar Leka dan Baby Sitter-nya, mobil Mariko kembali ke luar.


Candi menimbang-nimbang apa yang ingin di lakukannya, kemudian ia turun. Ia menyambangi restoran itu.


Leka sedang memeriksa persediaan di dapur saat Candi datang. "Oh, ada tamu." Ia menyadari seseorang datang. "Candi??" Matanya membulat sempurna.


"Halo Leka ...."


"Kau bekerja di sini?"


"Mmh ... iya." Leka terlihat bingung.


"Kenapa suamimu membiarkanmu bekerja di sini?"


"Candi ...." Leka melangkah maju. Ia terpaksa harus menceritakannya.


"Kau sudah cerai kan?"


Langkah Leka terhenti. Bagaimana ia tahu ini? Apa dia menduga-duga?


Tiba-tiba Candi meraih tangan wanita itu dan membawanya ke salah satu meja terdekat dan menarikkan kursi untuknya. Terpaksa Leka duduk. Candi duduk di sampingnya. "Berarti kamu sudah sendiri. Bagaimana kalau aku datang padamu?"


"Maaf aku masih masa iddah."


"Oh, maaf. Berapa lama lagi?"


"Satu setengah bulan lagi, tapi itu tak penting. Aku ...."


"Itu penting bagiku. Aku ingin kau kembali padaku."


Leka menatap pria di depannya. Ia ingin mengatakannya dengan tepat agar Candi tak berharap banyak. Ia mengungkapkannya pelan-pelan dengan menyatukan tangan dan telunjuk. " Candi ... bagiku kau adalah masa lalu. Aku tidak bisa kembali ke masa lalu."


"Ada masalah apa dengan masa lalu?"


"Kau tidak memperjuangkanku."


Kalimat itu sungguh menghujam pria itu dalam, membuat ia menyadari satu hal, yang hampir-hampir membuat ia sulit menelan ludahnya. "Apa kau masih terluka?"

__ADS_1


"Aku tidak ingin membicarakan itu sekarang. Aku masih masa iddah." Leka berdiri dan meninggalkannya.


"Bagaimana kalau sekarang aku memperjuangkannya?"


Tepat saat itu Leka berhenti di samping Candi. Ia diam sejenak. "Tidak ada gunanya Candi, bagiku itu sudah cerita lama." Ia benar-benar meninggal Candi pergi ke arah dapur.


"Aku akan memperjuangkanmu Leka. Aku janji. Aku takkan menyerah!" teriak Candi.


Teriakkan itu membuat mau tidak mau orang-orang di dapur menoleh mendengarnya. Leka tidak peduli. Yang ia tahu, besok akan ada gosip panas yang akan siap kembali merusak nama baiknya.


Candi akhirnya pergi. Ani dan Runi yang baru keluar dari toilet, tidak tahu apa yang terjadi.


Setelah mobil Candi pergi, seseorang yang sedang memata-matai Candi di mobil yang lain di tempat parkir, segera menelepon. "Halo Bu."


"Iya."


"Dia pergi menemui wanita itu di restoran. Sepertinya wanita itu bekerja di sana."


"Bekerja di sana? Tak mungkin lah. Mungkin ia pemiliknya."


"Eh, ya. Mungkin begitu Bu."


"Ok, terima kasih." Rita menutup hp-nya. Nah, sekarang apa yang harus ku lakukan?


-----------++++-----------


Pagi itu seperti biasa, Leka sudah siap-siap dengan Ani di luar rumah berangkat kerja. Biasanya Leka memesan 2 ojek untuk mereka berdua pergi ke restoran. Ani menepi menunggu Leka. Baru saja wanita itu hendak menyeberang, mobil Candi datang dan berhenti di depan rumah Leka. Candi turun menghampiri wanita itu. "Ayo Leka, aku antar kau ke tempat kerjamu." Ia membukakan pintu mobilnya yang berada di sisi Leka.


"Tidak usah. Aku bisa berangkat sendiri."


"Leka ...."


"Maaf Candi. Aku tidak bisa." Leka menghindar dan pergi meninggalkannya, tapi kalah cepat dengan tangan Candi yang sudah menyambar tangan wanita itu. Ia menggenggamnya erat.


"Candi ...."


"Kau ikut saja."


"Tidak, aku tidak mau. Lepaskan aku Candi ...."


"Ada yang aku ingin bicarakan."


"Sudah tidak ada, Candi. Tolong mengertilah."


"Leka ...."


"Jangan memaksa wanita." Sebuah tangan menangkap tangan Candi untuk melepaskan. "Lepaskan."


"Kakak ...." Leka terkejut.


Candi dengan kesal melepas genggamannya.


"Ayo Leka, kau mau naik mobilku?" Kenzo menggandeng tangan wanita itu masuk ke dalam rumahnya. Masih dalam keterkejutan, Leka mengikuti saja ke mana pria itu membawanya. Ani yang menggendong Runi mengekor di belakang.


Kenzo membukakan pintu mobil untuk Leka di depan dan membantu menutupnya, kemudian ia berjalan memutar memasuki pintu di sisi yang satunya. Ani di bukakan pintu oleh satpam rumah Kenzo.


Leka hampir tidak percaya pada penglihatannya. Kenzo sudah kembali? Pria itu datang dengan penampilan yang berbeda.


______________________________________________


Terima kasih masih terus membaca karya receh Author ini. Ini visual Kenzo yang sudah mengganti penampilan sedikit lebih sederhana. Jangan lupa beri vitamin Author dengan like, komen, vote, hadiah dan koin. 😁salam, Ingflora💋


__ADS_1


__ADS_2