
Aska masuk. "Mamap mana?"
"Sudah pulang."
Aska menatap istrinya. "Kamu tidak bicara yang aneh-aneh kan pada Mamap?" Ia membuka kopiah sholatnya.
"Tidak. Mau bicara apa, aku cuma ngobrol biasa."
"Ya, sudah."
Leka telah menyediakan makanan di atas meja makan dan Aska langsung mendatanginya. Ia mengambilkan minum untuk suaminya.
"Kamu kenapa tidak makan?" Aska memperhatikan piringnya hanya satu.
"Aku sudah makan dengan ibumu."
"Oh." Aska menarik kursi. "Tapi, temani saja aku makan. Aku tidak ingin makan sendirian."
Leka melihatnya aneh, tapi ditemaninya suaminya makan.
Di sebuah jalan perumahan, melintas sebuah mobil sedan berwarna abu-abu. Seorang polisi wanita tiba-tiba muncul dari arah lain dan menyetop mobil itu yang berpenumpang 2 orang anak. Zack dan Lydia yang baru pulang sekolah.
"Mmh, ada apa lagi sih ini?" Sopirnya terlihat bingung karena ia merasa tidak melanggar peraturan di jalan sedang bodyguard di sebelahnya bersiap-siap dari segala kemungkinan.
"Maaf Pak." Wanita itu mendatangi jendela kaca mobil sopir dan menyapanya.
"Iya, Bu."
"Anda membawa siapa?"
"Oh, anak majikan saya."
"Hati-hati Pak, banyak kejadian penculikan anak akhir-akhir ini."
"Oh, iya Bu."
"Coba, boleh saya periksa anaknya Pak." Wanita itu berjalan ke belakang mobil.
Lydia memperhatikan wanita itu dan tiba-tiba menyerobot ke arah tempat Zack duduk karena wanita itu mendekati jendela Zack. Pemuda itu menyetopnya. "Lydi, jangan ke sini. Bahaya! Biar kakak saja."
Namun Lydi tidak mendengarkan. Ia membuka jendela itu. "Mommy!"
Wanita itu tertawa. "Kenapa kau selalu tahu penyamaranku?"
"Aku tahu itu Mommy."
"Anakku pasti tahu ibunya ya? Waduh payah deh kalau Mommy mau kasih surprise buat kamu."
"Mommy datang itu sudah surprise buat aku."
Anna berjalan kembali ke depan. "Sebentar Pak saya ambil koper saya dulu."
Dari balik semak, ia mengeluarkan kopernya. Bodyguard mereka telah keluar dari mobil dan membantu Anna mengangkat koper lalu memasukkannya ke bagasi di belakang. Anna masuk dan duduk bertiga di kursi penumpang.
Lydia menyentuh baju ibunya. "Mommy keren, tapi Mommy ambil baju siapa lagi kali ini?"
Anna tertawa. "Kamu ternyata makin hari makin pintar saja ya?" Ia mengusap pucuk kepala Lydia.
"Apa kabarmu Zack?" Ia beralih pada Zack.
"Baik Aunty.(Tante)"
"Kalian akur-akur saja kan?"
"Iya Aunty."
"Syukurlah." Ia juga mengusap pucuk kepala Zack.
Di mobil, Anna melepas topeng karetnya yang melekat di wajahnya dari wajah seorang wanita yang sedikit galak menjadi wajah seorang wanita yang lembut. Ia terpaksa merobeknya karena sulit dibuka.
Zack dan Lydia melongo melihat bagaimana Anna berganti rupa. Mereka tidak tahu bahwa dulu Anna pernah menjadi agen rahasia sebelum menikah dengan Rafi, ayah Lydia. Ayah Annalah yang membantunya berhenti jadi agen rahasia dan kini ia bekerja di sirkus milik keluarga ibunya.
Mobil pun sampai ke rumah Zack. Di rumah, ternyata mereka bertemu Reina.
"Assalamualaikum. Reina? Kamu gak ke mana-mana?"
"Eh, Anna. Waalaikum salam. Apa kabarmu?"
__ADS_1
Mereka berpelukan.
"Baik." Anna melepas pelukan.
"Aku baru dari tempat Aska, mau ke toko bunga, tapi melihatmu datang ke sini, lebih baik aku menemanimu hari ini karena ini momen langka."
"Masa?"
"Tentu saja, jarang-jarang kamu ke sini."
"Itu kan untuk menengok anak sekaligus refreshing. Liburan."
Zack dan Lydia meninggalkan ibu mereka dan naik ke lantai atas untuk bertukar pakaian. Tak lama, mereka sudah kembali turun.
"Mommy makan apa?" Tanya Lydia melihat Anna makan cake yang terlihat lezat.
"Oh, Mama tadi di kirimi cheese cake strawberry sama klien Papa. Lydi mau?" Reina menawarkan.
"Stroberi? Mau Ma!"
"Zack?"
"No. Zack makan nasi aja. Tadi Zack belum makan nasi."
Reina dan Zack ke dapur bersama-sama, kemudian mereka mengobrol di meja makan.
"Lydi, rambutmu sangat tebal. Kamu tidak ingin rambutnya diikat." Anna menyentuh rambut Lydia yang tebal.
"Kan sudah di jepit Mom. Ini jepitannya di kasih sama Kak Kenzo. Bagus ya Mom? Jangan diikat nanti rontok." Protes Lydia. Ia menyuap potongan cheese cake-nya ke mulut.
"Tapi apa kamu gak dijahili anak-anak, punya rambut sepanjang dan setebal ini?"
"Oh, sering," sela Zack sambil tertawa. "Panggilannya si Kribo atau si Kusut di sekolah."
"Kakak ... Kakak jangan cerita-cerita ah!" Lydi mulai merengut.
Zack tertawa lebih keras.
"Mungkin kamu harus mulai merawat rambutmu." Terang Reina.
"Bukan begitu. Mama lihat di sekolah anak-anak perempuan seumuran kamu sudah pintar merawat diri. Setidak mereka punya bedak dan lipgloss dalam tasnya. Rambutnya juga potong pendek sedikit biar tidak mengganggu aktivitas di sekolah."
"Betul itu," Zack masih terkekeh.
"Ah ... gak mau. Kakak ...." Lydia mulai merengek.
Zack makin terpingkal-pingkal. Ia tidak bisa bayangkan, adiknya yang mulai kalem belakangan ini berdandan dan di potong rambutnya karena sejak dulu Lydia tidak suka berdandan. Apalagi dipotong rambutnya. Harus bertengkar dan menang dari dia dulu, baru bisa di potong rambutnya. Belakangan Lydia pakai jepitan pemberian Kenzo saja sudah hebat dan lebih feminin kelihatannya.
"Tapi wajahmu tidak jelek Lydia. Coba kalau rambutmu di tarik pakai penggulung, pasti lebih cantik," ujar Anna, ibunya.
"Aku punya. Apa kita cobakan saja padanya?"
"Mmh, boleh juga."
"Aku coba dandani dan kau gulung rambutnya?" sahut Reina dengan bola mata membulat.
"Boleh."
"Ok."
Keduanya berdiri dan membawa Lydia ke kamar Reina.
"Eh, Kakak ... Aku mau diapain ini? Mommy ... Mama ...." Lydia protes.
Zack bukannya prihatin malah semakin keras tawanya seiring Lydia dibawa ke kamar Reina. Ia tidak bisa membayangkan lydia di dandani seperti tante-tante, berdandan berlebihan dan berjalan dengan hak tinggi. Pasti ia makin tertawa terpingkal-pingkal. Ini saja ia harus memegangi perutnya karena sakit saking gelinya tertawa.
Sehabis makan Zack main bola basket sendirian di taman belakang. Ia sebenarnya penasaran sekaligus kesepian tak punya teman bermain karena sehari-hari biasa bermain dengan Lydia.
Yang di tunggu akhirnya keluar. Lydia dengan wajah barunya, tapi Zack tidak bisa tertawa. Ia terkejut, karena Lydia terlihat cantik.
"Gimana Zack? Lydia cantik kan?" Tanya Reina pada Zack.
"Iya ...." Tanpa sadar Zack menjatuhkan bola basket yang di pegangnya ke lantai.
"Oh, kita berhasil ya?" Anna menggenggam tangan Reina erat.
Lydia telah berubah menjadi gadis cantik walaupun berkulit gelap. Rambutnya tergulung rapi jatuh di samping tubuhnya. "Zack, apa aku terlihat cantik?" Tanyanya lugu.
__ADS_1
"Ah iya, cantik." Jawab Zack masih sambil memandangi adiknya yang berubah seketika menjadi seperti orang lain.
"Ah, bohong!" Ucap Lydia sambil merengut.
"Iya, bener. Kakak gak bohong."
Lydia melirik Zack dengan masih curiga.
"Sudah, kamu sehari-hari begini saja. Tadi kan sudah diajari. Kan gak susah kan?" Tanya Anna
"Mmh." Lydia berpikir sejenak sedang Zack menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.
"Katanya kamu mau merawat diri." Reina menyemangati. Ia kemudian melirik Anna. "Anyway,(lagipula) kenapa kamu pakai pakaian polisi begini. Siapa yang kamu bohongi lagi hari ini?"
Anna tertawa.
-------------+++----------
"Kakak masih belum sadar ya?" Tama masuk ruang perawatan dan melihat Kenzo terbaring tidur di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Ditangan telah di tempel suntikkan jarum infus dengan selang yang tersambung ke botol infus yang di gantung di samping tempat tidurnya. Di dalam ruangan itu sudah ada Mariko, Arya dan juga Aiko.
"Kamu ke mana sih, pulang sekolah bukannya pulang?" Arya mengomeli.
"Ya, operasinya mendadak sih, mana aku tau ...."
"Kamu membantah terus. Kakakmu ingin cepat-cepat sembuh, itu." Arya bersuara sedikit keras.
Aiko menendang kaki Tama.
"Aduhh ...." Tama melirik Aiko. "Iya maaf." Jawabnya merengut.
Arya kembali melihat Kenzo. Keinginan kerasnya untuk menjadi lelaki normal pasti di picu oleh rasa cintanya pada wanita itu sementara wanita itu bisa membalas cintanya atau tidak, ia masih belum tahu. Arya menghela napas.
Aska dan istrinya sholat ashar bersama diimami Aska, setelah itu Leka mencium punggung tangan suaminya. Runi masih sedikit asing dengan keadaan yang barunya, melihat Leka, ibunya dengan pria asing dan di ruangan yang asing pula tapi ia mulai belajar beradaptasi dengan rumah itu dan pria yang ia panggil 'Om'. Ia yang berjalan mengitari pria itu dan ibunya saat mereka sholat, kini berhenti saat ibunya duduk dan menyalami pria itu. Ia bersandar pada ibunya.
Leka melipat pakaian sholatnya demikian juga Aska.
"Sekarang kita naik ke tempat tidur."
"Buat apa Bang?"
"Tentu saja untuk keakraban kita. Aku kan belum mengenalmu dan Runi dari dekat."
Aska naik ke tempat tidur disusul Leka dan Runi. Mereka duduk berdampingan bersandar pada kepala tempat tidur. Runi didudukan di tengah mereka. Awalnya Runi dan Leka sedikit canggung, tapi Aska mencairkannya dengan memperlihatkan video film anak-anak pada Runi sehingga ia terlihat fokus pada layar hp, sedangkan Aska menarik pinggang Leka mendekat padanya dan mencium kening istrinya. "Bersandarlah padaku, aku ingin jadi sesuatu untukmu."
Leka menatap dalam kedua manik mata suaminya yang terlihat sangat romantis sore itu, apakah ia bisa mempercayainya?
"Kau tidak percaya padaku? Mau kubuktikan nanti malam?"
"Eh, apa?"
Aska menyentuh dagu istrinya dan menariknya mendekat. "Aku sepertinya mulai melihat padamu, Leka. Apa kau merasakannya?"
"Mmh?"
Manik mata mereka saling bertemu. Aska menyatukan bibir mereka agar bahasa cinta mereka bisa saling di pertautkan tapi tiba-tiba telepon berdering. "Sial! Siapa sih yang ...."
Runi berdiri dan menunjuk hp Aska yang di sandarkan di bantal. "Uh, uh ...."
Aska mengambilnya. Ia melihat nama yang tertera dan terkejut. Papa?
"Halo Pa?"
"Kamu bisa datang malam ini ke hotel langganan Papa?"
"Mmh, ada apa ya Pa?"
"Ada yang mau Papa bicarakan ke kamu."
Aska melirik Leka, bingung. Ia menggaruk-garuk pucuk kepalanya. "Ok, Pa. Jam berapa?"
Sementara itu Leka terlihat panik. Ia memalingkan wajahnya dari wajah suaminya karena bingung. Saat bibir mereka saling bersentuhan, ia memejamkan matanya dan saat itulah ia terbayang wajah Kenzo.
_______________________________________________
Terima kasih reader yang masih terus membaca novel ini. Jangan lupa dukung terus author dengan like, komen, vote, hadiah dan koin agar author bisa terus semangat berkarya. Ini visual Lydia setelah di make over Mama dan Mommy.
__ADS_1