
Ya Allah ... aku sudah bersuami kenapa membayangkan pria lain? Ya Allah, ampunilah hambamu ini. Jauhkan aku dari godaan setan yang terkutuk. Aku tidak ingin hidup bergelimang dosa, karena itu aku berserah diri padamu ya Allah, hidup dan matiku hanya untukMu.
Hah ... Leka kamu jangan selingkuh. Memikirkan pria lain itu selingkuh. Apa tidak cukupkah kebahagiaan untukmu dengan berada di tengah-tengah anak dan suamimu? Leka berusaha mengingatkan dirinya agar tidak menjadi pribadi yang serakah. Masalah yang di hadapinya sekarang bersama suaminya masih lebih ringan di banding selingkuh, masih lebih ringan dosanya daripada selingkuh dan suaminya juga telah berusaha memperbaiki diri, tapi kenapa dia malah tergoda dengan pria lain? Kenzo memang sangat ramah, baik dan segalanya terlihat indah tapi belum tentu bersamanya masalahnya akan selesai. Setiap pilihan di dunia ini selalu ada sisi baik dan buruknya, yang penting bagaimana menyelesaikannya, bukan lari dari masalah karena itu hanya akan memperumit keadaan.
Setidaknya itulah yang di yakini Leka. Ia percaya akan hal itu dan itu sudah menjadi prinsipnya, tapi bagaimana kalau itu terjadi pada dirinya? Lebih sulit menasehati diri sendiri di banding menasehati orang lain. Ini perkara hati. Ia tak mungkin bisa melepaskan kalau hatinya ternyata terpaut pada Kenzo. Sejak kapan? Iapun tak tahu. Apa sejak pria itu menyatakan cinta padanya? Itu mungkin saja, tapi masalahnya sekarang ia harus bagaimana? Ia mencintai suaminya ... kan?
"Leka, maaf ya? Aku harus bertemu Papa malam ini." Aska masuk ke kamar Runi di mana Leka sedang menemani Runi nonton tv sambil menyuapinya makan.
"Kenapa pakaianmu rapi sekali? Bukannya pergi ke rumah orang tuamu?"
"Oh, bukan Papa minta aku datang ke hotel."
"Hotel? Mau apa?"
"Mmh, aku tidak tahu. Mungkin ketemu klien." Aska bicara begitu agar Leka tak khawatir karena ia sendiri juga tidak tahu untuk apa.
"Klien?"
"Soal pekerjaan."
"Oh." Leka mencium punggung tangan suaminya.
"Kita besok saja jalan-jalannya ya? Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Sepuluh menit kemudian, Leka ingat sedang mengisi daya baterai hpnya. Ia kemudian ke kamar untuk mengeceknya, tapi ... ia melihat hp Aska ada di atas tempat tidur. Apa Aska lupa menbawa hpnya?
Aska menyadari kehilangan hpnya ketika ia telah sampai di parkiran hotel. Ia yang biasanya meletakkan hp-nya di atas dasbor, tidak menemukannya di sana. Ia pasti telah meninggalkannya di rumah lagi. Kepalang tanggung ia sudah di sana dan sudah datang tepat waktu jadi ia tak mungkin pulang hanya sekedar untuk mengambil hp-nya. Ia nekat saja mencari tempat itu karena sudah tahu letaknya. Aska kemudian keluar dari mobilnya.
Di sebuah ruangan, Chris sedang beramah tamah dengan sebuah keluarga ketika Aska masuk. Yang mengejutkan, ada seseorang yang Aska kenal duduk bersama ayahnya di sana.
"Monique?(Monik)"
"Aska?"
__ADS_1
"Oh, kalian sudah saling kenal?" Ini membuat Chris senang.
Aska sedikit menundukkan kepala pada kedua orangtua Monique, ayahnya yang bule Perancis dan ibunya yang orang Indonesia.
"Monique teman SMPku Pa, temannya Salwa." Aska menerangkan.
"Oya?"
"Kan sempat beberapa kali datang ke rumah. Mungkin waktu itu Papa gak ada."
"Oh, begitu."
"Lalu ada apa ya Pa?"
"Oh, begini. Papa sedang mencoba menjajal kerjasama dengan Papanya Monique." Chris menunjuk Monique. "Kebetulan kalian saling kenal. Mungkin ini pembicaraan yang membosankan, jadi mungkin kau bisa ajak Monique jalan-jalan sebentar keluar."
Hah, perempuan ini lagi. Menyebalkan! Kenapa sih, harus ketemu dia terus belakangan ini.
Ya, Monique adalah teman sekelas Aska sewaktu masih SMP bahkan teman dekat adiknya Salwa. Dia satu dari sekian banyak gadis yang menggilai Aska, pria tampan yang selalu mengharumkan nama sekolah lewat pertandingan Basket atau kejuaraan Wushunya, tapi Aska hanya memandangnya sebelah mata. Tidak pernah sekalipun Aska mau dekat dengan gadis ini. Padahal Monique terbilang cantik. Kulit putih dan rambut keritingnya yang panjang di tata rapi menandakan bahwa ia sangat mengerti cara merawat tubuhnya dengan baik.
Monique terlihat sangat senang. Ia seperti ingin melompat mencapai Aska. "Ah, maaf Om kami keluar dulu."
"Mari Om." Aska pamit pada orang tua Monique.
Setelah Aska dan Monique keluar dari ruangan itu, Chris kembali beramah tamah dengan orang tua Monique.
"Kebetulan sekali mereka sudah saling mengenal, biarkan yang muda menemukan jalannya."
"Oh, iya benar." Sahut ayah Monique. Mereka kembali mengobrol.
Di luar, Aska bukan main kesalnya. Kalau bukan karena permintaan Papanya, ia tidak akan mau keluar bersama Monique. Belum apa-apa, wanita itu sudah melingkarkan tangan pada lengannya.
"Bisakah kita bersikap biasa-biasa saja. Jangan berlebihan seperti ini ...." Protes Aska berusaha bersikap sopan.
"Perusahaan orang tua kita akan menjalin kerja sama, kenapa kita tidak?" Ucap Monique sedikit manja. Ia tentu saja tidak bisa melewatkan kesempatan ini. Sejak bertemu di restoran tempo hari, ia merasa hati Aska mulai melunak padanya. Dulu saat mereka masih SMP Aska selalu ketus padanya, pada setiap apapun yang ditanyakannya. Kini melihat Aska mulai ramah padanya bukan tidak mungkin kesempatan meraih hatinya juga lebih besar. Apalagi orang tua mereka sepertinya memberi lampu hijau padanya untuk maju mendekati pria pujaannya itu.
__ADS_1
Hah, pecah kepalaku. Kenapa Papa kerja sama dengan perusahaan Papanya Monique sih? Apa tidak ada perusahaan lain yang lebih menarik dari pada perusahaan bule Perancis ini? Cih!
Ada seseorang yang mengamati mereka dari jauh. Seseorang yang mengenal Aska sangat dekat. Siapa lagi kalau bukan Zaki, teman dekatnya. Ia tanpa sengaja melihat Aska dengan Monique di lobi hotel. Kedatangannya ke hotel adalah untuk bertemu pengacaranya untuk membicarakan masalah perceraiannya dengan istri-istrinya.
"Aska? Dengan siapa? Apa itu istrinya? Waduh cantik juga. Mmh, rasanya tidak. Bukankah dulu dia cerita kalau dia menikah di kampung. Wanita ini berkelas dan bule pula. Aku rasa dia pergi dengan wanita lain. Wah, wah .... siapa ini?" Zaki segera mengambil hp-nya dan merekam apa yang dilihatnya. Kemudian ia mengirimnya pada hp Aska. "Ayo katakan padaku siapa dia?" Katanya sambil tersenyum nakal.
"Eh Pak, sudah lama nunggunya?" Pengacara Zaki menyentuh bahunya dari belakang.
"Oh, baru. Ayo Pak, kita ke restoran di sana saja." Zaki membawa pengacaranya ke arah yang di tunjuknya. Untuk sementara ia lupa telah merekam dan mengirimi hp Aska sebuah video, dan ia tidak tahu efek buruk apa yang telah di hasilkan dari video tersebut.
Leka saat itu ada di kamar. Setelah menidurkan Runi ia kembali ke kamarnya. Tanpa sengaja ia mendengar notif masuk di hp suaminya. Entah karena penasaran, ia membuka pesan itu. Betapa kagetnya Leka melihat video itu. Suaminya bergandengan mesra dengan wanita lain. Ia benar-benar marah dan merasa di bohongi. Padahal belum beberapa jam yang lalu suaminya mengatakan ingin serius dengan pernikahan ini tapi nyatanya semua itu hanya manis di mulut saja. Leka juga merasa, baru kali ini ia mengetahui sifat dan siapa Aska yang asli di luar sana. Seorang pembohong besar, seorang playboy dan semua yang di kategorikan sama dengan itu semua. Tak terasa air matanya menetes perlahan. Lalu pernikahannya yang sekarang ini di sembunyikannya, apakah juga karena ini? Karena kalau orang tahu pria itu telah menikah, Aska tak lagi bebas berkencan dengan banyak wanita.
Jadi ... apakah Aska mempertahankannya karena sudah punya anak darinya? Apakah Runi beban? Apakah dirinya juga sebuah aib?
Air mata Leka mengalir semakin deras. Ia tak lagi bisa berpikiran jernih. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya yang terlalu bodoh mempercayai semua mulut manis suaminya selama ini.
--------------+++-----------
Zack tak bisa tidur dalam kamarnya. Ia mengingat kembali saat ia melihat Lydia keluar dari kamar Mamanya dengan begitu cantik. Ia baru sadar, selama ini ia punya adik yang sangat cantik. Ia tak sabar ingin bertemu lagi dengan Lydia esok harinya, tapi entahlah. Lydia sudah di bawa Anna ke rumahnya yang satu lagi yang juga berada di Jakarta. Ia hanya harus sabar kapan lagi bisa bertemu dengan adiknya karena sangat sulit bertemu dengannya bila orang tuanya datang menjenguk. Padahal sehari-hari Lydia selalu bersamanya tapi entah kenapa ia tak rela bila ada yang membawa adik angkatnya itu berpisah darinya walau sehari saja dan itupun oleh orang tua Lydia sendiri.
Aska pulang hampir menjelang tengah malam. Sehabis makan malam dengan keluarga Monique, wanita itu dengan lancang mengatakan akan menonton bioskop dengannya di sebuah Mal. Tentu saja orang tua Monique menyerahkan pada Aska untuk menjaga Monique dan mengantarnya pulang. Aska tak bisa berkutik pula di depan Chris sehingga ia terpaksa mengikuti permintaan Monique menemaninya menonton bioskop di sebuah Mal yang di tunjuk wanita itu. Ia melakukan semuanya dengan terpaksa.
Pelan-pelan ia masuk ke dalam kamarnya dan dilihatnya Leka telah tertidur. Ia kemudian mandi dan berpakaian. Segera ia menyusup ke dalam selimut dan pelan-pelan bergeser dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Tiba-tiba Leka berbalik dan mendorong tubuh suaminya menjauh.
"Leka?"
"Pergi!"
"A-apa salahku?" Aska terkejut dengan penolakan istrinya padahal ia ingin memberinya surprise.
"Apa katamu? Apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun dengan apa yang sudah kamu lakukan? Apa menyiksa batinku itu belum cukup?" Leka terduduk menerangkan itu semua.
"A-apa sih? Ada apa? Apa salahku?" Aska masih belum tahu apa yang terjadi dengan istrinya. Ia ikut duduk mendengarkan itu semua.
"Kau masih ingin berapa lama lagi mau menipuku, Bang. Mau berapa lama lagi? Aku sudah lelah kau tipu terus-terusan." Air mata Leka mulai mengalir. Ternyata sedari tadi ia sudah menunggu suaminya dan ia berusaha menyiapkan hati saat ia memejamkan mata mendengar suaminya masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
"Leka, ada apa aku tidak mengerti?"
Leka mengambil hp suaminya di atas meja nakas dan melemparnya ke atas tempat tidur. "Lihat sendiri apakah kamu masih bisa berdalih!!" Mata Leka sudah sembab karena menangis begitu lama, dan sepertinya anak sungai itu akan segera kering karena sudah tumpah terlampau banyak.