Sungai Rindu

Sungai Rindu
Berangkat


__ADS_3

Kenzo memandangi Aska yang sudah tertahan di pintu. Ia menoleh pada Leka. Wanita itu memberi izin Aska untuk bertemu Runi. Sempat insiden itu menjadi perhatian umum, tapi hanya sebentar. Setelah Leka mengizinkan pria itu bertemu anaknya, hanya lirikan ingin tahu dari orang-orang di sekeliling yang tersisa, memandanginya.


Aska memandang Runi dengan senyuman. Ia mencoba menggendongnya pelan. Awalnya gadis kecil itu sedikit canggung, tetapi melihat Kenzo yang tidak bereaksi ia kemudian diam.


Aska memperlihatkan Runi pada Monique. "Lihat! Anakku lucu kan?"


Monique terlihat gelisah berada di sana menatapi satu-satu, Kenzo dan Leka. Untuk apa aku di sini? Aska kenapa memperlihatkan anaknya padaku? Apa aku disuruh mengurusnya kelak? Aku tidak mau. Aku hanya mau mengurus anakku sendiri, batinnya.


Monique terlihat kesal dan meninggalkan tempat itu.


"Mo-monique?" Aska buru-buru menurunkan Runi. Ia langsung mengejar wanita itu yang terlihat ngambek. "Kamu kenapa, kamu ngambek, hah?" Genggaman tangannya menghentikan langkah wanita itu.


Mata Monique resah, memandang ke segala arah. Kesal membuatnya ingin menangis.


"Monique ...." Aska berucap dengan suara rendah sambil menatap mata wanita itu yang coba menghindar. Terlihat mata itu mulai berkaca-kaca. "Monique ...." Pria itu mendekat hingga dengan sendirinya wanita itu menyandarkan wajahnya pada dada bidang Aska yang kemudian mendekapnya.


Kenzo dan Leka melihat adegan itu tanpa bicara. Hanya, Leka berusaha menggenggam tangan prianya. Kenzo memandang genggaman tangannya dan menguatkan.


-----------+++-----------


Kenzo kembali berada di kamar bersama Leka dan Runi. Terdengar sedikit kegaduhan di kamar sebelah karena mulai ada pemindahan perabot kamar dan kegiatan lainnya. Kamar Runi mulai di kerjakan.


Ada beberapa boneka lucu yang dibeli Kenzo untuk Runi. Boneka karakter terkenal dari Jepang, My Melody dan Hello Kitty. Runi memainkannya di atas tempat tidur. Sesekali ia membawa boneka itu berguling-guling dan menyeretnya ke mana ia pergi. Kadang saat ia bosan, ia turun dari tempat tidur dan mengeksplor setiap jengkal sudut kamar, sekedar memenuhi rasa ingin tahunya.


"Runi!"


Gadis kecil itu berlari mendatangi Kenzo. Ia mendongak menatap pria Jepang bermata sipit itu.


"Kamu mau makan?"


"Mau." Runi mengangguk dan duduk di kaki Kenzo.


Leka cepat tanggap dengan membuka bungkusan makanan yang dibelinya tadi, di sebuah meja. Meja itu sementara di letakkan di sana karena mereka ingin makan di kamar. Leka menyuapi Runi. Ia juga membukakan bungkusan lainnya untuk makan malam Kenzo.


2 jam kemudian kamar Runi selesai di renovasi. Yang paling lama adalah melukis dinding kamar Runi oleh seorang pelukis wanita yang memakan waktu lama dan catnya belum begitu kering.


"Maaf cat dindingnya masih sedikit basah, tapi sebentar lagi sudah tak masalah," ucapnya dengan wajah kelelahan. Ia kemudian pamit.


Leka dan Runi terpesona melihat gambar dinding yang telah dibuat oleh pelukis itu, sangat mirip dengan film kartun aslinya dan sangat indah. Runi sampai memanggil Kenzo karena terheran-heran melihat gambar kartun itu cukup besar dan berada di kamarnya. "Papa, uh ... itu!" Ia menunjuk dengan jarinya.


"Iya, Nak. Kamu suka?" Kenzo mendekat.


Leka menoleh dengan wajah haru. "Terima kasih Mas, kamarnya jadi bagus sekali. Lukisannya juga indah."


Kenzo memeluk bahu istrinya membuat Leka tersenyum lebar.


Malam semakin larut. Hembusan angin semilir menerpa wajah seorang wanita berjilbab instan di jendela. Seiring ia menutup jendela kamarnya dekat balkon, ia melepas jilbab dan ikat kepalanya. Rambutnya yang panjang, jatuh terurai indah. Ia menoleh pada tempat tidur di mana suaminya telah menanti.


Ada degub jantung berpacu, bersamaan dengan langkah wanita itu menuju tempat tidur. Terdengar derit bunyi tempat tidur saat dinaiki. Senyuman yang menawan itu sedikit membuat aliran napas pria itu berbeda seiring Leka mengibaskan rambut panjangnya yang bergelombang ke samping. Lekukan leher yang indah, terlihat mulus dan menawarkan desiran surgawi.


Leka masuk ke dalam selimut dan bersandar di atas ketiak suaminya. Ia meletakkan tangannya di atas perut pria itu.


"Ta-tapi tubuhku masih belum sempurna." Kenzo mengingat lagi, bekas operasinya yang masih butuh beberapa kali lagi agar terlihat normal.


"Kenapa? Kamu masih malu?"


"Bu-bukan itu maksudku."


"Kau tidak mau?"

__ADS_1


"Leka ...." Kenzo menyentuh punggung istrinya.


Wanita itu sedikit mengangkat tubuh menghadap suaminya. "Apa yang kamu takutkan?"


"Aku tidak sempurna. Tanganku seperti ini."


Leka menyentuh gips itu.


"Tubuhku yang terkena luka bakar waktu itu ...."


Wanita itu menyentuh dada bidang pria itu hingga turun ke pinggang. "Aku sudah terbiasa denganmu Mas. Apa kamu belum mengerti?"


"Eh, maksudnya?"


"Aku tidak bisa melihat apapun ... kecuali dirimu yang aku suka." Tangan Leka sudah masuk dan menarik ke atas baju kaos Kenzo.


Kenzo terlihat panik karena belum siap. Ia bergerak resah. Wanita itu menyentuh leher suaminya. "Jangan takut. Aku istrimu."


"Mmh." Kalimat itu cukup membuat pria itu tenang walaupun ia harus menelan salivanya dengan susah payah, dan menatap mata indah yang mulai malam ini akan menjadi nakal dan dan sangat berbahaya.


Bibir ranum itu mengecup, mencoba rasa. Kenzo berusaha mendekap tubuh wanitanya tapi tak sanggup. Tangannya yang di gips menjadi kendala.


Pria itu kembali resah. "Aku sulit ...."


"Biar aku bantu. Katakan saja Mas ingin apa?"


Wajah Kenzo memerah. Leka pun dengan pipi kemerahan membuka pakaian sendiri dan pakaian suaminya


Belum apa-apa, napas Kenzo mulai memburu melihat yang apa terpampang di depan mata. Mengikuti instingnya ia mulai menggila. Leka membantunya melakukan gerakan-gerakan yang diminta suaminya hingga mereka bersama-sama mencapai puncaknya.


"Hah!" Napasnya hampir habis dan seketika tubuhnya lelah tapi senang luar biasa. Apa tadi itu? Bukankah itu ... "Ma-ma-maaf. Apa aku tadi terlalu memaksakanmu?" Wajah Kenzo kembali memerah karena malu.


"Oh ...." Pria itupun pelan-pelan ikut tersenyum, menarik selimut untuk menghangatkan keduanya. Rasa penasarannya pun terjawab sudah.


-------------+++----------


Sehabis sholat Subuh bersama, terdengar ketukan di pintu kamar mereka. Leka membuka pintu.


"Bu, ada Pak Arya dan Ibu Mariko di bawah."


"Oya, makasih."


Setelah melipat kain sholat, Leka dan Kenzo menuruni anak tangga menemui orang tua Kenzo. Arya, Mariko dan Ojiichan segera berdiri saat keduanya tiba di ruang tamu. Di samping mereka sudah ada koper yang akan mereka bawa pergi. Arya langsung menghampiri Kenzo. "Waktuku tak banyak. Ayah kemungkinan akan mengulur waktunya hingga seminggu jadi jangan mencari Ayah kalau Ayah tidak bisa dihubungi. Perhatikan saja adik-adikmu di sini."


"Lho, Ayah mau ke mana?"


"Paling Ayah honeymoon. Memang Ayah mau ke mana?" jawab Arya tertawa terbahak-bahak.


"Ayah ...." Kenzo terlihat kesal. Ia serius bertanya tapi Arya malah bercanda.


Pria dendi itu mencubit pipi Kenzo. "Memang ayah tak boleh cemburu padamu, hah?"


Kenzo menepis tangan Ayahnya. Arya menatap Kenzo lama membuat Kenzo bingung.


"Kenapa Yah?"


"Perhatikan wajah ayah dengan baik. Mungkin besok kamu rindu."


Kenzo terkekeh mendengar ucapan Arya. "Tidak mungkin Yah, aku kan sudah punya Leka."

__ADS_1


Leka tersenyum. Ia ikut senang melihat hubungan ayah-anak ini sangat akur. Mereka mengantarkannya hingga ke pintu depan.


"Biar diantar sopirku saja Yah, sampai bandara."


Mobil Kenzo datang menghampiri mereka di pintu utama. Arya, Mariko dan Ojiichan masuk ke dalam mobil dengan bantuan Bodyguard Kenzo yang memasukkan koper mereka ke dalam bagasi. Tak lama, mobil pun berangkat sambil membalas lambaian tangan.


Sepeninggal orang tua dan kakeknya, sepasang suami istri itu masuk ke dalam rumah mencari Runi.


"Aku biasa sarapan di rumah orang tuaku. Ayo kita bawa Runi."


Leka menurut. Setelah membuatkan gadis kecil itu susu, mereka bersama Baby Sitter dan Runi mendatangi rumah Arya.


Kenzo segera mengecek keadaan adik-adiknya dengan naik ke lantai atas terlebih dahulu. Ia mencari Tama ke kamarnya. "Kamu sedang apa, kok belum siap-siap berpakaian?" Dilihatnya Tama masih melilitkan handuk di sekitar pinggangnya dengan mata masih tertuju pada hp yang di pegangnya.


"Oh, Kakak," ucap Tama sambil menoleh cepat dan mata kembali ke layar hp. "Sebentar Kak."


"Ini waktunya sekolah, bukan main-main. Ayo letakkan hp-nya."


"Sebentar saja Kak, lagi seru nih. Nanti bonus sebentar lagi."


Kenzo merebut hp Tama. "Berpakaian dulu."


"Yah Kak, nanti mati!" Tama menunjuk hp-nya.


"Ngak ada! Nanti kamu telat sekolah." Kenzo segera keluar kamar.


Ia segera mengetuk kamar Aiko dan membukanya. "Mashaallah, Aiko."


Aiko duduk menghadap meja belajar sambil mengerjakan sesuatu. Ia hanya menoleh sekilas dan kembali menekuni tulisannya.


"Memangnya kamu semalam ngapain sampai tidak mengerjakan tugas sekolah, hah?"


"Niichan, aku baru ingat. Bantu aku mengerjakannya ya?"


"Aduh ...." Namun tak ayal di bantu juga tugas sekolah adiknya itu.


Saat keluar dari kamar dengan Aiko, Tama pun sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. "Mana Kak?" Ia menodongkan tangannya.


Kenzo memberikan hp Tama dan bersama-sama turun dari lantai 2.


"Ih, Runiii!" Aiko turun dengan berlari mendekati Runi yang berada di pangkuan Leka yang berada di samping meja makan. Gadis kecil itu menoleh menyaksikan Aiko turun dengan dot masih di mulut. Ia kemudian melanjutkan mengedot dari botol susunya.


Aiko duduk di samping Leka sementara Tama yang turun kemudian mendekati Runi dan melambai di depannya.


"Aku duduk di mana ini?" protes Kenzo dari belakang.


Terpaksa Tama pindah cari tempat duduk agak menjauh. "Yaelah Kakak, gitu aja gak boleh. Liat tiap hari juga!"


Kenzo hampir tertawa. Leka juga tersenyum simpul mendengar ocehan Tama. Tak lama mereka sarapan bersama.


------------++++-----------


Di sebuah klinik, Aska sedang duduk tafakur di samping Monique di sebuah bangku panjang ruang tunggu. Pria itu menoleh sekilas pada wanita kekanak-kanakan di sampingnya. Kenapa hidupnya harus berakhir dengan wanita seperti ini? Mimpi pun ia tak pernah berharap. Kenapa tuhan memberikan wanita seperti ini padanya? Ia memang salah pernah menyia-nyiakan Leka selama bersamanya tapi bukan berarti ia membencinya. Ia justru sangat mencintainya. Cinta yang datang terlambat membuat ia menyesal pernah menyakitinya. Apa sudah tidak ada kesempatan kedua untuknya dan Leka lagi bersama? Pasti ada kan? Ah sial, kenapa Leka melihat adegan itu kemarin? Ingin rasanya aku dorong saja wanita itu jatuh ke lantai dan mengejar Leka untuk memberi penjelasan. Kenapa hubungan kita semakin menjauh saja Leka ... cintaku.


_____________________________________________


Ada Author yang menulis novel pendek seperti yang satu ini. Penasaran? Kan, kan, kan?


__ADS_1


__ADS_2