Sungai Rindu

Sungai Rindu
Hidup Baru


__ADS_3

Aska masuk dari pintu yang sengaja di buka dengan memanggul beras dalam kemasan plastik besar di bahunya. Ia juga membawa beberapa bungkusan plastik di tangannya yang lain. Ia menurunkannya di dekat Leka. "Aduh, bajuku kotor deh."


"Bang kamu kuat sekali ...."


Aska melirik istrinya sekilas. Ia ingin menjawabnya tapi entah kenapa pikirannya melenceng ke arah lain. Ia segera mengambil air mineral dingin dari lemari es untuk meredakan pikirannya yang mulai tak karuan.


"Aku cuci bajunya Bang."


"Jangan cuci malam-malam!" Bentak Aska. Ia sendiri bingung dengan emosi yang tiba-tiba tak terkendali.


Leka juga sama terkejutnya. Ia kemudian meneruskan menyusun bahan makanan ke dalam lemari es tanpa berkata apa-apa.


Aska segera menutup pintu dan sekilas melihat Runi minum dari susu botolnya sambil berbaring di sofa. Ia segera menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Ia kemudian teringat sesuatu. Bukankah ia tadi ingin memasang interkom yang baru di belinya? Aska kemudian turun kembali dan mencarinya di antara plastik-plastik belanjaan di atas meja, dan setelah itu mengambil tangga. Ia membawa semuanya ke atas. Tidak butuh waktu lama ia segera kembali turun membawa tangga. "Sudah aku pasang interkomnya. Nanti jangan lupa tidurkan dia di sana."


"Iya." Leka membereskan plastik-plastik yang tersisa dan kemudian mengecek Runi yang telah tertidur. Ia menggendong Runi sambil meletakkan botol susunya di meja makan kemudian membawanya ke lantai 2. Ia membaringkan Runi di tempat tidur barunya dan pelan-pelan menutup pagar tempat tidurnya.


Sudah selesai. Sekarang aku akan tidur dengan suamiku. Rasanya aneh. Padahal dulu aku mengimpikan bagaimana rasanya setelah sekian lama tidak bertemu. Apa mungkin karena terbiasa tidur dengan Runi?


Leka keluar kamar dan masuk ke dalam kamarnya dengan Aska, tapi pria itu tak ada. Ke mana dia? Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Aska masuk dengan hanya memakai handuk yang terbalut dari pinggang ke bawah. Tubuh atletisnya dengan sedikit berotot terlihat sangat menggiurkan membuat Leka segera memalingkan wajahnya ke arah lain dan naik ke atas tempat tidur. Ia masuk ke dalam selimut.


Pria itu sedang menggosok-gosokkan kepalanya dengan handuk kecil karena habis mencuci rambut. Ia sempat melihat Leka yang sudah masuk ke dalam selimut. Ia lalu melangkah mendekati lemari dan segera berpakaian.


Kenapa dia berpakaian di sini sih? Kan bisa di kamar mandi. Oya, ini rumahnya.


Aska naik ke atas tempat tidur dan melihat Leka yang menutup tubuh hingga wajahnya dengan selimut. Ia mengetuk kepala istrinya dengan jari telunjuknya. "Kamu tidak mandi?"


"Mmh?" Leka menurunkan selimutnya dari wajahnya.


"Cepat mandi, aku tak suka bau keringatmu. Aku bisa-bisa tak bisa tidur nanti." Pria itu kemudian memunggunginya.


"Ah, ya." Leka kemudian turun dari tempat tidur.


"Ambil saja handuk baru dari lemari."


"Iya." Leka menurut. Diambilnya handuk baru dari dalam lemari dan sekaligus pakaian ganti. Ia kemudian mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar. Aska ternyata telah menunggunya di atas tempat tidur.


"Mau apa Bang?"


"Ini hp-mu. Katanya mau belajar memakainya?"


"Oh, iya Bang." Leka meletakkan handuknya di tempat jemuran handuk di kamar. Ia kemudian bergabung dengan Aska di atas tempat tidur.


Aska menatap Leka.


"Kenapa Bang?"


"Kau belum pakai deodoran ya?"


Leka menciumi tubuhnya. "Kan sudah mandi Bang. Sudah gak bau."


"Tapi tidak wangi."


"Ada, bau sabun nih ...." Leka mendekatkan lengannya pada wajah pria itu tapi suaminya bergeming.


"Itu akan segera hilang. Ayo sana, pakai dulu."


Aduh, kenapa dia rumit sekali? "Iya, iya ...." Leka segera turun.

__ADS_1


"Sekalian wajahmu, bersihkan."


Hah, kenapa dia secerewet ini sih? Leka mau tak mau harus membersihkan wajahnya. Setelah selesai, ia kembali naik ke tempat tidur.


Aska tertawa.


Masih belum puas apa? Ada lagikah?


"Rambutmu tidak kau sisir?"


"Kan mau tidur Bang?"


"Mentang-mentang mau tidur, kamu membiarkan rambutmu berantakan?"


Kesal rasanya tapi Leka terpaksa turun kembali dan menyisir rambut panjangnya. Setelah itu ia kembali. "Ada lagi Bang?"


"Tidak. Ini ...." Aska mulai mengajari istrinya memakai hp itu.


"Tidak usah banyak-banyak Bang, aku tidak ingat. Yang mudah saja. "


"Oya sudah." Aska memberi tahu hal-hal yang mudah pada istrinya kemudian mereka pergi tidur.


Awalnya Leka sulit tidur, tapi lama-lama akhirnya ia tertidur juga. Aska terbangun kemudian, karena tangannya secara tidak sengaja menyentuh tubuh istrinya. Ia kaget, tapi lama-lama ia kembali ingat bahwa ia kini tidak tidur sendirian. Ada orang lain yang menemaninya tidur.


Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya itu. Cantik, tapi apa ia mencintainya? Dirinya adalah pria yang selalu di kelilingi banyak wanita cantik teman sekantornya tapi ia tidak tertarik. Pesonanya sebagai pria tampan yang cuek ini menjadi magnet tersendiri yang membuat banyak wanita ingin dekat dengannya. Dari dulu begitu. Ada yang terus terang atau sembunyi-sembunyi menyatakan cinta padanya. Apalagi semua orang tahu ia adalah anak pemilik perusahaan Famindo Grup, Christian Jhonson, tapi pernikahannya yang tiba-tiba dengan Leka mengguncang hidupnya. Seakan tuhan tidak adil padanya, takdir membuat ia menikah dengan orang yang baru di kenalnya, padahal di saat yang bersamaan ia masih belum bisa menghapus nama seorang gadis di hatinya. Nena.


Memang sudah lama sekali ia tidak memikirkan nena entah sejak kapan. Sepertinya sejak menikah dengan Leka. Sepertinya begitu, karena sejak meninggalkan wanita ini Aska terus di kejar rasa bersalahnya. Tidur dengan wanita ini sudah kewajibannya sebagai suaminya tapi apakah meninggalkannya ini yang membuat ia merasa bersalah? Ia juga tidak tahu.


Yang pasti sekarang, ia ingin mengurangi rasa bersalahnya dulu pada wanita ini dengan memberikan apa yang di butuhkannya dan setelah itu, entahlah ... biarkan jalan takdir yang bicara.


Di raihnya tangan istrinya yang lembut dan hangat dan diciumnya. Ia juga mendekatkan wajahnya pada istrinya dan mencium keningnya.


Aku tidak tahu apa yang kurasakan padamu, tapi tidur di sampingmu tidaklah seburuk yang aku pikirkan.


Leka terbangun. Ia berusaha menajamkan pendengaran. Sepertinya Runi tidur dengan nyenyak hingga ia kembali tidur. Nyaman sekali tidur di kasur milik Aska yang empuk itu walaupun pakai selimut tebal tapi ia tidak kepanasan karena ada AC yang mendinginkan ruangan.


Untuk sesaat Aska diam hingga yakin Leka telah tertidur. Ia kembali memutar tubuhnya menghadap punggung istrinya.


Maafkan aku. Aku juga korban di sini yang tidak bisa menentukan sikap karena semuanya serba tiba-tiba untukku. Kamu juga pasti akan melakukan yang hal yang sama bila ada di posisiku. Sulit menentukan sikap bila kita tidak tahu jawabannya. Maafkan aku.


-----------+++-------------


Aska terbangun sendirian. Bukankah ada Leka? Di mana dia? Ia kemudian turun dari tempat tidur.


Tiba-tiba terdengar suara tangis di interkom kamarnya. Aska segera mendatangi kamar Runi.


Gadis kecil itu kaget melihat pria itu memasuki kamar dan mendatanginya. Ia masih menangis dan bingung.


"Sini Om gendong." Aska mengulurkan tangannya.


Sebenarnya Runi tidak mau di gendong pria itu karena tidak kenal, tapi karena berada di ruangan yang asing baginya dan tidak menemukan Leka di sana, ia membiarkan dirinya di gendong pria itu yang sepertinya orang baik. "Undaaaaaa ... huaaa ...." Ia masih menangis.


"Iya kita cari Bunda ya?" Ucap pria itu lembut. Ia menyeka pelan air mata Runi yang membasahi pipi.


Aska membawanya turun ke lantai satu. Leka ternyata sedang memasak.


"Oh, Runi sudah bangun?" Leka hendak menggendongnya tapi Aska menjauhkannya.


"Kamu pasti tadi pegang-pegang cabe ya? Buatkan saja susunya."

__ADS_1


"Ini sudah." Leka memperlihatkan botol susunya di tangan. Ternyata karena sudah rutin, Leka sudah mempersiapkannya.


Aska langsung mengambilnya dan memasukkan dotnya ke mulut Runi. Hilang tangisnya tapi tangan Runi masih meminta di gendong Leka.


"Bunda masak dulu ya, nanti ya?" Aska memperhatikan Leka memasak.


"Kamu masak apa?"


"Empal goreng sama sayur bayam."


"Ada sambelnya gak?"


"Sambel terasi bang."


"Mmh."


"Kenapa Bang? Abang mau makan?"


"Iya."


"Sebentar Bang, lagi di goreng."


Aska keluar dari dapur dengan masih menggendong Runi dan memegangi botol susunya sedang Leka menyiapkan di atas meja makanan yang sudah matang.


"Bang, gak usah di gedong, dia bisa minum susu sendiri. Tidurkan saja di sofa seperti kemarin."


Aska menurut. Ia meletakkan bantal dan membaringkan Runi di atas kursi sofa seperti kemarin malam. Wajah Runi yang tegang karena di gendong Aska mulai mencair. Ia memegang sendiri botol susunya.


"Ini Bang, makan."


Aska segera mendatangi meja makan. Semuanya telah di siapkan sehingga ia langsung makan. Ia makan dengan lahap. "Tolong tambah minumnya dong."


Leka keluar dari dapur. "Apa Bang, minum? Dingin apa biasa? Mau teh apa kopi?"


"Yang seperti ini saja, air putih."


Leka mengambil gelas Aska.


Pria itu juga menambah nasinya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Ia begitu bersemangat makan karena makan yang ia suka tersedia di meja. Ia tidak perlu lagi terburu-buru keluar di pagi hari hanya untuk mengejar sarapan pagi di jalanan.


"Abang baru bangun? Sudah sholat Subuh Bang?"


"Oh, iya lupa." Aska tersenyum sambil mengunyah makanannya.


"Astaghfirullah alazim."


"Iya sebentar, aku selesaikan makananku dulu."


"Cepat Bang."


"Iya ... aku kan kaget tadi dengar Runi nangis jadi lupa." Kilah Aska.


Leka memeriksa Runi yang ternyata sudah menghabiskan susu botolnya.


Segera setelah makan Aska ke lantai 2 mandi dan bersiap berangkat ke kantor.


----------+++--------


Pak Nirwan menatap Aska yang duduk di hadapannya. "Ini kenapa kemarin menghilang, biasanya paling lama kamu 2 jam sudah kembali."

__ADS_1


"Maaf Pak kemarin saya sudah gak kuat lagi jadi langsung pulang. Ngak enak badan juga." Aska berbohong. "Kalau tidak percaya, bapak bisa lihat CCTV di apartemen saya Pak, saya gak ke mana-mana kecuali istirahat di rumah." Ia berani bicara begitu karena pasti Bapak itu tidak akan memeriksanya.


Pria itu masih memperhatikan Aska. "Ya sudah aku maafkan karena kali ini kamu datang tepat waktu ke kantor."


__ADS_2