Sungai Rindu

Sungai Rindu
Bujukan


__ADS_3

Leka mematikan hp-nya. Ia kemudian memasukkan hp itu ke dalam tas sambil merapikan gendongannya pada Runi. Tak lama, terdengar bunyi langkah kaki berlari mendekat.


"Leka, kenapa kamu menunggu di sini? Baru saja aku mau mengajak kamu makan malam. Adikku dan temannya sudah pulang."


"Aku tak selera," jawab Leka ketus dan memandang ke arah lain.


"Ya ... jadi aku belikan makanan untukmu pulang." Aska memperlihatkan kantong plastik yang di pegangnya pada Leka.


Mmh ... memang gak niat kan?


Aska membuka mobilnya dan meletakkan makanan itu di kursi belakang. Mereka kemudian naik mobil yang bergerak pulang.


"Leka, maaf. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku mohon, berhenti ngambeknya. Kau masih ingat kan perjanjian kita, aku berusaha mematuhinya. Aku sangat berterima kasih kamu mau melakukannya tadi. Leka ...."


Wanita itu tak menjawab. Ia hanya makin memeluk Runi erat.


Ya Allah, aku harus bagaimana? Bertemu dengannya bukan kebahagiaan yang kudapat tapi kesedihan yang beruntun. Aku menyesal telah mencarinya, tapi demi sebuah status aku harus kuat. Runi, aku ingin membahagiakannya, kasihan kalau tidak punya ayah, tapi Aska begitu juga padanya. Akankah ia berubah setelah sebulan ini? Ia seperti tak punya nyali dengan hanya bicara dengan orang tuanya. Apa aku minta cerai saja darinya, apakah itu tidak dosa? Pikirannya yang terus berkecamuk di kepala membuat ia tidak mendengarkan kata-kata suaminya yang terus saja bicara di sepanjang perjalanan mereka menuju ke rumah. Otak Leka buntu.


Sesampai di apartemen, Leka membaringkan Runi di tempat tidurnya. Setelah masuk kamarnya Leka segera mengambil pakaiannya dan menggantinya di kamar mandi. Setelah selesai, ia mendatangi tempat tidur dengan mengambil selimut dan juga bantal.


suaminya yang menunggu di atas tempat tidur terkejut. "Leka kamu mau ke mana?"


Wanita itu tak menjawab. Ia segera keluar dan masuk ke kamar Runi. Leka tidur di atas karpet karet dan menyelimuti dirinya di sana.


Karpet karet itu sudah cukup baginya di banding tidur di atas kasur empuk mewah tapi tak bahagia. Di ingatnya kembali saat-saat ia dulu tidur di rumahnya di kampung yang begitu di rindukannya. Saat-saat di mana ia hanya mampu membeli sepotong tempe atau tahu tapi ia bisa tidur nyenyak di malam hari. Semua terlukis bahagia di kepalanya. Kenapa tempat tidur indah yang di miliki para orang kaya tak bisa membuat mereka malah tidur nyenyak? Aturan-aturan yang mereka buat sendiri menjebak mereka di dalam kehidupan yang menyakitkan. Kehidupan yang terlihat indah di luar tapi sangat melelahkan untuk menjalankannya di dalam.


Air mata Leka sudah kering. Masih jauh untuk menuju satu bulan, dan ia harus menyiapkan mental jiwa raga untuk menuju waktu yang telah di tentukan Aska. Entah apa jadinya hatinya saat itu. Ia tidak punya kuasa, hanya suaminya saat ini yang menjadi pedomannya kini.


----------+++----------


Di pagi secerah itu, Leka kembali berkutat dengan masakan di dapur. Hanya panci dan penggorengan yang membuatnya semangat kembali menjalani pagi.


Runi seperti biasa berbaring di sofa sambil mengedot dari botol susunya yang ia pegang sendiri.


Aska sendiri turun sedikit terlambat dengan sudah berpakaian lengkap. Ia mendatangi meja makan. Semua sudah tersedia di meja tapi tanpa Leka. Istrinya sepertinya lebih senang sibuk di dapur ketimbang menemani dirinya.


Aska langsung makan. Ia tidak ingin bertemu dengan istrinya dan bertengkar karena itu bisa mengurangi nafsu makannya. Soalnya ia tak tahan lapar dan tidak ingin sarapan dengan mencari makanan di luar.


"Leka ...." Aska berdiri setelah menghabiskan sarapannya. Ia mencari istrinya ke dapur. Leka sedang memeriksa lemari es saat suaminya menghampirinya.


"Mmh, eh???" Leka yang hendak menutup lemari es, terkejut. Tiba-tiba Aska meraih pinggangnya mendekat ke tubuh pria itu. Wajah mereka saling berhadapan.


"Mmh ...." Pria itu menyeringai. "Apa aku tidak boleh melihat wajah istriku?"


Leka terlihat bingung mendengar pernyataan Aska.


"Aku sudah menikah denganmu jadi seluruh dirimu itu milikku kan?"

__ADS_1


"A-apa?"


Aska tidak menjawab. Ia mengecup kening istrinya. "Sampai nanti malam. Assalamualaikum." Ia mengambil tangan istrinya dan menempelkan punggung tangannya pada wajah istrinya.


"Waalaikum salam." Apa maksudnya itu?


"Oh, aku meletakkan uang belanja di atas meja ya?" Sahut Aska tanpa menoleh. Ia melambaikan tangannya di udara.


Namun hari itu Leka tidak pergi berbelanja. Bahan makanan masih cukup di dalam lemari es, tapi itulah yang membuat Kenzo resah. Sepanjang pagi ia menunggu di seberang pasar tapi Leka tak kunjung datang. Ia sangat kecewa. Kembali ia mendatangi kantor Ayahnya.


"Ayah kau sedang apa?"


"Mmh, sedang lihat laporan. Tumben sepagi ini, ada apa?"


Kenzo masuk dan kembali duduk di kursi di hadapan Arya. Sekilas orang tidak akan percaya bahwa mereka Ayah dan anak karena umur mereka yang hanya terpaut 17 tahun. Mereka terlihat seperti kakak beradik.


"Ayah, aku belum bertemu dengannya hari ini."


"Kenapa?"


"Dia sepertinya tidak ke pasar."


Arya tersenyum. Kenzo anak yang lugu. Ia selalu menceritakan apapun yang di alaminya pada Arya kecuali kalau ada yang menjahatinya. Ia begitu karena mewarisi harta kekayaan dari Ayah kandungnya yang sangat berlimpah hingga ia tidak perlu bersusah payah mencari uang, malah ia bingung bagaimana cara menghabiskan kekayaan orang tua yang tak pernah putus-putus dari laba 3 perusahaan Ayahnya itu yang terletak di Jepang dan Itali. Bahkan banyak perusahaan yang berlomba-lomba ingin bergabung dengan perusahaannya sementara Kenzo sendiri tidak peduli dengan perusahaan warisan orang tuanya itu. Kalau tidak karena Arya, yang membantunya mencari CEO yang bisa mengelola perusahaan, sementara ia mengerjakan yang lain.


Kenzo sebenarnya lebih memilih melakukan hal-hal yang bersifat seni di banding hal lainnya, mengingat harta orang tuanya yang melimpah membuat ia tidak perlu kerja keras untuk melakukan apapun. Uangnya terus mengalir menyebabkan Kenzo menjadi pria tanpa tujuan hidup kalau tidak ada campur tangan Arya dalam hidupnya.


"Kenapa? Rindu?" Ledek Arya pada anaknya yang paling besar ini.


Kenzo merengut, mengingatkan Arya akan Mariko, istrinya. Gaya Jepang keduanya sangat kental mengingat mereka dibesarkan di Jepang, beda dengan Tama dan Aiko yang dibesar di Jakarta.


"Hei, kamu laki-laki. Jangan kalah karena rindu. Masa tidak bisa bertemu dengannya sehari, kamu uring-uringan seperti ini? Apa kamu tidak punya kegiatan lain? Pria tanpa pekerjaan itu gak keren."


"Memang seperti itu?" Kenzo balik bertanya dengan polosnya.


Sebenarnya Kenzo pengecualian. Ia tidak perlu bekerja karena uangnya melimpah tapi maksud ucapan ayahnya ini adalah punya kesibukan yang tidak membuatnya terbawa arus perasaan yang sedang mengawan entah ke mana.


"Kamu cari kegiatan yang bisa membuatmu melupakan sejenak kegalauanmu itu." Arya menahan tawa. Baru kali ini ia melihat Kenzo bingung karena wanita. Biasanya ia sangat tidak peduli. Banyak juga wanita yang menyukai Kenzo karena dia ramah dan juga pintar menyanyi dan memainkan alat musik. Sesuatu yang alami bakat juga hobinya.


"Kegiatan apa ya?"


"Coba sekali-sekali kamu kerja yang serius. Urusi pekerjaanmu."


"Kalau itu aku bosan. Tiap hari harus menanyakan keuntungan terus. Aku kasihan pada mereka kalau perusahaan sedang tidak untung banyak, seakan-akan itu kesalahan mereka. Aku tidak kuat melihat wajah mereka yang ketakutan." Begitulah Kenzo. Hatinya sangat lembut.


"Ya sudah, coba kamu temani Mama di rumah. Mungkin dia sedang membuat model bento(makanan bekal) baru untuk dikirim ke akunnya di rumah."


"Oh, boleh juga. Aku jadi lapar."

__ADS_1


"Kau belum sarapan?"


"Belum."


"Ya Allah. Saat lapar kau masih bisa rindu?" Ledek Arya sambil tertawa.


--------------+++------------


Pagi itu di bagian HRD semua orang terlihat sibuk, tapi tidak dengan Aska. Ia dipanggil atasannya.


"Ya Pak, ada apa?"


Pria berperawakan sedikit gemuk itu memintanya untuk duduk lewat kode matanya. Aska pun duduk.


"Aku minta kau ke pabrik sekarang. Inspeksi beberapa pekerjaan penting di sana karena bos membutuhkan datanya, jadi kau tulis laporannya besok."


Aduh, Papa mau apalagi sih? Hah ... Aku pasti pulang malam deh. Padahal aku sedang ingin bicara dengan Leka karena mungkin amarahnya sudah reda. Mmh, susah sekali wanita, membujuknya. Sudah memberinya banyak hadiah, masih saja ngambek. Di beli yang agak mahal, juga sama saja, tidak berubah. Maunya apa sih Leka sebenarnya, pusing aku .... "Iya Pak." Aska pun keluar ruang kerja atasannya.


"Kenapa Ka, disuruh ke pabrik lagi? Asyik, lembur lagi." Zaki meledeknya sambil tertawa.


Aska yang memperlihatkan wajah kesal, hendak menendang Zaki. Tentu saja pria itu segera menghindar sambil tertawa terbahak-bahak. "Salah sendiri kenapa jago karate, jadi dikirim ke pabrik deh!" Ia kembali tertawa.


Sehabis makan siang, Leka membawa Runi berjalan-jalan di sekitar apartemen. Ia kemudian ingat taman di seberang jalan di mana kemarin dulu Kenzo pernah membawanya. Leka ingin membawa Runi ke sana karena hanya di sanalah ia bisa membawa anak-anak. Daerah di sekitar apartemen tidak cocok untuk anak-anak karena banyak gedung dan jalan besar. Ternyata ada juga orang-orang yang tinggal di apartemen yang membawa anaknya bermain di sana, hanya saja mereka warga asing jadi Leka tak berani menyapanya.


Ayunan kebetulan kosong, karena anak lain sedang sibuk bermain prosotan. Leka menduduki ayunan itu sambil memangku Runi. Ia mendorong ayunannya dengan kaki hingga ayunan itu berayun maju mundur. Runi menyukainya. Ia tersenyum di pangkuan ibunya. Leka pun senang melihat anaknya bahagia.


"Leka?"


Leka menoleh ke samping dan terkejut. "Candi?"


"Oh, benar ternyata kamu."


Leka benar-benar terkejut hingga tidak bisa mengeluarkan suara.


"Apa kamu tinggal dekat sini?" Candi mendekat.


"Apa? Bukankah kau yang mengirim ...." Kalimat Leka terhenti.


"Mengirim apa?"


"Ah, tidak ...."


_______________________________________________


Ada lagi rekomendasi novel yang mengambil setting di Korea oleh Author Chika Ssi, judulnya My Seoul : Love Is Gone. Penasaran? Ayo langsung di lihat saja.


__ADS_1


__ADS_2