
Chris terkejut melihat kedatangan pengantin baru bersama Baby Sitter-nya ke rumah, pagi itu. Ia menyambut mereka dengan senang hati. "Eh, tumben datang pagi-pagi nih penganti baru. Ada angin apa? Ada keluhan?"
Leka dan Kenzo tersenyum lebar mendengar komentar Chris. Mereka mendatangi meja makan.
"Maaf nih, mengganggu sarapannya kalian semua," sapa Kenzo dengan ramah dengan menyatukan kedua tangannya.
Salwa hanya menatap mereka, sedang Reina menawarkan makanan. "Ayo sarapan."
"Eh, udah Tante. Aku hanya berkunjung sebentar saja kok Tan," ucap Kenzo sopan.
"Ayo silahkan duduk dulu." Chris menarik kursi yang berada di sebelahnya.
Kenzo memberi kesempatan istrinya untuk duduk di sebelah Chris agar pria bule itu bisa melihat cucunya dari dekat.
"Hallo, my little one. How are you?(Halo, gadis kecilku. Apa kabarmu?)" Chris tersenyum pada Runi yang mulai mengenal Chris sebagai salah satu keluarganya.
Gadis kecil itu masih menatap Chris dengan pandangan lugunya. Ia memeluk boneka pemberian Chris waktu itu, teddy bear berwarna pink.
"Bagaimana dengan kalian berdua? Apa sudah saling bisa beradaptasi?" Chris menatap Leka dan Kenzo bergantian.
"Alhamdulilah Om, berkat bantuan Om kami bisa menikah," ucap Kenzo yang masih sangat menghormati ketulusan Chris dalam membantunya. Kalau saja Chris tidak melepaskan ikatan janji nikah itu pada Leka, entah apa yang akan terjadi pada mereka setelah itu.
"Tidak usah berkata seperti itu. Om hanya melakukan apa yang seharusnya Om lakukan, tidak lebih. Itu sudah sewajarnya."
"Selamat ya? Maaf aku tidak datang ke pestamu saat itu karena di sini suasananya juga lagi sedang kacau Kak Kenzo. Maaf ya?" ucap Salwa menyesal.
"Oh, tidak apa-apa. Aku mengerti kok." kenzo dengan wajah semringahnya.
"Sekali lagi, selamat ya?"
"Iya. Terima kasih Salwa." Kenzo mengeluarkan dompetnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu hitam dan menyodorkannya pada Chris. "Ini Om, kartunya aku kembalikan. Ini kartu yang Om berikan pada Leka."
"Oh, kenapa Leka tidak menyimpannya?" Chris malah menginginkan Leka tetap memegangnya.
"Kan ada aku suaminya Om," terang Kenzo lagi. "Aku tahu maksud kebaikan Om tapi Leka sudah jadi tanggung jawabku Om, sekarang. Jadi Om tak usah khawatir. Kami juga akan menengok Om dan Tante sesekali waktu agar Runi juga bisa mengenal kakek dan neneknya dari dekat."
"Baiklah." Chris mengambil kartunya. "Oya, ayahmu sudah berangkat ya?"
"Ke Jepang? Sudah Om, tadi pagi. Mudah-mudahan tidak ada delay(penundaan pesawat) agar cepat sampai ke sana. Sepertinya Ayah juga mau liburan."
"Liburan? Bukannya kalau liburan Ayahmu selalu membawa anak-anaknya?"
"Oh, ini mau honeymoon katanya," Kenzo mengatakannya sambil tertawa.
"Ngomong-ngomong soal honeymoon, bukankah kalian yang harusnya lebih dulu memikirkannya?" ledek Chris pada Kenzo.
Pria Jepang itu tertawa. "Namanya juga nikah mendadak Om, masih dipikirkan mau honeymoon ke mana. Mungkin nanti tunggu Ayah pulang, tapi Ayah kembalinya juga masih lama."
"Masih lama?"
"Iya, katanya mungkin seminggu."
Arya tidak pernah meninggalkan anaknya selama itu. Apa benar ia pergi untuk honeymoon atau sekedar jalan-jalan? Tapi sampai seminggu ... Ada apa dengannya?
__ADS_1
Kenzo kemudian berpamitan. Chris juga ikut keluar mengantar istrinya dulu, baru berangkat ke kantor. Mobil mereka berpisah karena berlainan arah.
Di kantor, Chris kedatangan Redi. Redi adalah mantan Asistennya dulu yang menikah dengan salah satu mantan Sekretaris Direksi di sana, dan ternyata mantan Sekretaris itu adalah anak orang kaya. Redi mengelola perusahaannya sendiri dan kini ia datang bertandang ke kantor Chris, mantan bosnya dulu di perusahaan ini.
"Hei, apa kabarmu?" Chris menyambutnya di depan pintu ruang kerjanya.
"Baik Bos."
Chris tertawa. "Kenapa kau memanggilku Bos? Bukankah kau sekarang juga telah menjadi Bos juga?"
"Soalnya, sampai sekarang aku masih belajar dengan Bapak mengenai bisnis. Jadi aku harus panggil Bapak apa? Suhu?"
Chris makin terkekeh. "Yang benar saja. Memangnya aku mengajarkanmu apa? Ilmu silat? Holly cow ....(ya ampun)"
Mereka kemudian duduk berseberangan di kursi sofa sambil berbicara berbagai macam hal sampai Redi membicarakan seseorang yang mereka kenal yang sudah lama tak terdengar kabarnya.
"Bapak sudah dengar tentang meninggalnya Koshino Hiro?"
"Apa? Ko-shi-no Hi-ro?" Chris mengeja nama itu. Ingatannya kembali ke masa lampau di mana pertama kalinya ia mengenal pria itu di kantornya. Tentu saja ia tidak bisa melupakan perkenalannya dengan pria mantan kekasih Mariko itu karena pria itu telah mengobrak-abrik ruang kerjanya demi untuk bertemu Mariko yang saat itu kabur dari rumah sakit. Pria itu juga sempat menyandera seluruh karyawannya di gedung itu hingga beberapa hari. Saat itu, pria yang merupakan Kepala Yakuza nomor satu di Jepang itu akhirnya kabur dari gedung kantor Chris dengan tanpa membawa hasil dan langsung pulang ke Jepang.
Namun ada hal lain yang ia tahu tentang seorang Koshino Hiro. Ia dan keluarganya adalah saksi terbunuhnya Kenji Aratami, Ayah Kenzo oleh pria itu di sebuah taman 12 tahun silam. Ia saat itu berada di dalam taksi dan melihat sendiri bersama Reina, Aska dan Salwa bagaimana Koshino menghabisi Ayah Kenzo dengan sekali tusukan oleh pedangnya dan itu ia ceritakan pada Arya dan Mariko. Ia tidak tahu apakah Arya atau Mariko menceritakan hal ini juga pada Kenzo karena pria itu termasuk anak yang rapuh sebab selama bertahun-tahun ia tidak bisa melihat di mana orang tuanya dikubur ataupun juga kembali ke rumahnya demi menutupi jejak orang lain mengetahui masih adanya anak keturunan Aratami yang masih hidup.
"Iya, Yakuza itu meninggal karena di bunuh."
"Oya?" Apa kepergian Arya kali ini ada hubungannya dengan itu?
"Tidak di ketahui siapa yang membunuhnya sebab seorang Yakuza adalah sebuah mesin pembunuh dan pasti sudah banyak orang yang ia bunuh sehingga keluarga korban juga pasti banyak yang berlomba-lomba ingin menghabisi nyawanya. Sampai sekarang misteri tentang kematiannya masih di selidiki polisi. Masih belum ketahuan motif dan pelaku hingga kini."
"Jadi, bagaimana sebenarnya ia meninggal?" Chris penasaran.
Mobil Aska sampai di sebuah gedung besar berlantai 3. Ia mencari tempat parkir yang nyaman.
"Itu, langsung saja masuk terus. Di sana di depan dekat pintu masuk ke lobby." Monique memerintah.
Aska menurut. Ia memarkirkan mobilnya di perparkiran mobil direksi, kemudian mereka masuk. Di pintu masuk, satpam sudah membukakan pintu untuk mereka. Kemudian mereka segera naik lift ke lantai atas.
Mmh, perusahaan ini tidak sebesar perusahaan milik Papa tapi tak apalah! Paling tidak aku jadi Raja di sini dari pada jadi Pengawal di perusahaan Papa. Papa sangat disiplin akan banyak hal membuat aku tak bisa bernapas di sana. Di sini mungkin mereka bisa memberiku banyak kebebasan dan kelonggaran karena aku calon menantu mereka.
Aska merapikan bajunya di dalam lift. Tiba-tiba Monique mendekat membantu. Untung saja hanya mereka berdua di dalam lift hingga kecanggungan Aska tidak terlihat oleh orang lain.
"Terima kasih."
Monique memberi semangat dengan senyuman.
Pintu terbuka. Terlihat sebuah lorong 2 arah dan Monique berbelok ke arah kiri. Aska segera mengikuti. Setelah melewati beberapa pintu hingga ujung, mereka memasuki sebuah ruang kerja direktur.
"Papa! Aku tadi sudah ke Klinik Pa," ucap Monique saat bertemu Papanya yang sedang bicara dengan Asistennya di depan sebuah meja. Keruan saja kedatangan Aska di kantor itu menyeruak tanya di benak para karyawan yang lain yang ada di ruangan itu. Mereka memandangi pria itu dengan pandangan heran karena mereka belum pernah melihat Aska sebelumnya.
Pria bule itu segera menghentikan pembicaraan dengan stafnya dan beralih pada Monique. "Oh, benarkah? Ayo, ayo masuk ke ruangan Papa."
Aska acuh saja saat tatapan aneh dari karyawan di sana mengiringi langkahnya ke dalam ruangan direktur. Apa pedulimu, minggu depan kantor ini akan jadi milikku!
--------+++--------
__ADS_1
Kenzo pulang dari menjemput Aiko. Kedatangannya langsung di sambut Runi di restoran.
"Papa!"
Kenzo mencolek hidung Runi. "Uh, anak Papa. Main apa tadi?"
Runi memperlihatkan boneka teddy bear yang masih diseretnya.
Karena tangannya yang masih di gips, Kenzo tak berani menggendong Runi bila tak ada yang membantunya. Ia hanya menggandeng Runi ke dalam restoran walaupun harus sedikit membungkuk.
Aiko yang melihat itu langsung berinisiatif menggendongnya. "Sini Niichan, biar Aiko gendong." Gadis itu kemudian bermain dengan Runi.
Di sore hari, setelah makan siang mereka pulang. Aiko lebih dulu diantar oleh bodyguard Kenzo, baru kemudian keluarga kecilnya. Tak lama Tama juga pulang ke rumah dengan motornya.
Hingga malam tiba. Malam yang selalu di tunggu pasangan baru seperti Leka dan Kenzo. Memadu kasih berdua.
Leka sudah naik ke atas tempat tidur. "Mas mau makan?"
"Apa? Aku tidak lapar."
"Ya, jangan sampai seperti kejadian kemarin lagi, setelah melakukan itu, Mas kelaparan."
"Oh, itu? Jangan terlalu mengkhawatirkan itu karena sekarang aku tidak lapar. Nanti saja kalau aku lapar. Kemarin itu, aku terlalu bersemangat hingga kehabisan tenaga dan akhirnya merasa lapar. Ayo, sini cepat!" Kenzo terlihat bersemangat. Pipinya kemerahan tetapi wajahnya begitu gembira. Ia seperti kecanduan akan apa yang dilakukannya kemarin bersama istrinya. Leka tersenyum manja.
Baru saja Leka menggeser tubuh mendekati sang suami, sebuah ketukan membuyarkan semuanya. Leka segera turun dan mengenakan jilbab instannya. "Sebentar!" Ia membuka pintu. "Aiko?"
"Mbak, hari ini aku tidur di sini ya? Aku sepi gak ada Mama sama Ayah."
"Oh." Leka menoleh pada Kenzo.
"Di sini Niichan tidur sama Leka. Kamu di kamar sebelah saja."
"Yaaa ...." Aiko terlihat protes karena biasanya kalau Ayah mereka pergi, ia biasa tidur dengan Kenzo.
Terdengar derap kaki seseorang menaiki tangga. Aiko menoleh. Tiba-tiba muncul wajah Tama yang terengah-engah dan berdiri di belakang Aiko. "Aku juga ya?"
"Aduuuh ...." Seketika kepala Kenzo pusing melihat kedua adiknya berdiri di pintu. Apa yang harus ia lakukan?
Leka hanya bisa tersenyum memandang keruwetan wajah suaminya.
Terdengar suara telepon berbunyi. Hp Kenzo. Pria itu dibantu Leka mengangkat telepon dari Arya, Ayahnya. "Halo Ayah."
Seketika, tanpa aba-aba, Aiko dan Tama mendekat dan langsung menaiki tempat tidur. Kenzo merasa kesal karena Leka masih berdiri di sampingnya. Wanita itu menahan tawa melihat wajah kesal suaminya.
"Oh, ada Aiko dan Tama juga di situ," ucap Arya melihat dari hp itu wajah kedua anaknya yang lain.
Rupanya Kenzo melakukan video call, sesuatu yang biasa dilakukannya setiap salah satu dari mereka keluar negri.
"Leka mana?"
______________________________________________
Kisah klasik selalu indah, walau berulang kali di baca. Ini ada rekomendasi novel karya Author Tyatul yang menarik untuk di simak. Cekidot!
__ADS_1