
Leka sedikit heran melihat Aska sesiang itu ada di restoran. Apa dia tidak bekerja, tapi tidak seperti biasanya ia tidak bersuara. Apa dia sakit? Atau mungkin ini hanya untuk mencari perhatiannya saja? Sebentar lagi juga akan bilang 'Sayang' dan merayunya hingga ia harus tebal muka dan menutup telinga karena akan menjadi gosip oleh pegawai yang lainnya di restoran.
Ia sudah sering melihat para pegawai berbisik-bisik yang pastinya membicarakan tentang dirinya, tapi mau bagaimana, hidupnya memang seperti yang digosipkan mereka di tambah bumbu-bumbu pedas yang menyakitkan telinga. Ia tidak punya pilihan karena ia tidak bisa bekerja di luar sesuai keinginannya, seperti dulu berjualan di pinggir jalan dan menyewa rumah murah.
Sejak keluarga Chris tahu keberadaannya dan anaknya pastilah tidak akan mudah baginya untuk hidup mandiri. Apalagi keberadaan Aska yang sering berlebihan dalam bersikap di tempat kerjanya menjadikan gosip miring tentangnya semakin menjadi-jadi. Menjadi anak emas keluarga Arya, titipan anak orang kaya dan bahkan ada yang mencapnya sebagai simpanan orang kaya. Itu semua karena gosip yang beredar tidak pernah di konfirmasi sebelumnya. Tidak ada yang berani mengkonfirmasinya. Tak ada yang melihat jeri payahnya bekerja yang juga bagus di sana membuat pertemanannya dengan para pegawai di sana sepertinya hanya basa basi belaka.
"Bang, kamu sudah sarapan?" Leka melihat wajah Aska yang sedikit pucat.
Aska menggeleng. Ia sepertinya terlihat kurang sehat.
Leka mendatanginya. "Kau mau sarapan apa?"
Pria itu hanya diam dan memeluk Runi. Gadis kecil itu terlihat bingung karena di peluk sedemikian lamanya. "Om, Om!"
Aska segera melepas pelukannya. "Mmh? Ayah hanya lagi kangen sama Runi."
Sedikit aneh Leka melihat Aska yang datang dan menyempatkan waktunya untuk bersama Runi karena selalu ia yang menjadi fokus utamanya, bukan Runi. Sesuatu yang sudah lama ia harapkan dari seorang Aska, menyempatkan waktunya untuk bermain bersama Runi, anaknya. Biasanya ia datang, sibuk dengan hp-nya atau mengganggunya bekerja. Sekarang dengan diamnya pria itu membuat Leka sedikit lega walaupun tak ayal ia khawatir juga kalau pria itu sakit hingga tak banyak bicara.
"Sebentar aku buatkan ya?" Leka kembali ke dapur. Tak lama ia telah kembali ke luar dengan membawa baki berisi makanan untuk mantan suaminya.
"Ini Bang, nasi goreng dan telur mata sapinya. Tehnya teh tawar hangat. Cepat di makan mumpung masih hangat." Leka mengambil alih Runi.
Aska menurut. Ia menyendoki nasi gorengnya dan menyuapnya ke mulut. Ia terlihat bahagia dengan butiran air mata yang jatuh tanpa di minta. "Enak."
"Abang kenapa?"
Aska menggeleng. Ia kemudian pindah, yang tadinya duduk di hadapan Leka, kini berpindah ke sampingnya. Ia menyentuh tangan mantan istrinya itu. "Kamu cepat pulang ya? Aku semakin bingung sendirian di rumah tanpa kamu di sampingku. Pikiranku jadi terpecah ke mana-mana."
"Maaf Bang, aku gak bisa. Sekarang aku ingin fokus bekerja."
Terlihat wajah kecewa dari Aska. Ia tertunduk.
"Kalau Abang tidak bisa menungguku, Abang boleh kok menikah dengan orang lain. Aku gak bisa menjanjikan apa-apa."
Aska menggeleng. "Ngak. Aku gak ingin yang lain. Aku akan menunggumu Leka, karena aku hanya ingin dirimu."
"Maaf Bang, aku sendiri tidak tahu."
Aska meneruskan makannya, menyendokkan kembali ke mulutnya nasi goreng yang telah di sediakan Leka untuk dirinya. Ia begitu bingung. Akankah Monique datang menuntutnya?
Mudah-mudahan tidak ada benih yang terjadi semalam. Ada rasa bersalah pada Leka tapi hatinya tak ingin berpaling dari wanita yang paling dicintainya saat ini. Kau bukan yang pertama Leka, tapi aku ingin kau yang terakhir. Ya allah, bagaimana cara membujuknya agar ia tidak berpaling dengan yang lain?
"Leka, bagaimana kalau kita mengadakan pesta pernikahan? Aku juga akan mengurus surat-surat nikah kita nanti di KUA."
Leka hanya melihat mantan suaminya sekilas. Sepertinya tidak peduli. "Habiskan saja makanmu Bang." Ia kemudian menurunkan Runi dan memperhatikan gadis kecil itu berlari ke meja lain dan menghampiri salah satu kursi untuk bersandar. "Aku mau kerja dulu." Ia berdiri dan meninggalkan Aska sendirian.
Aska kesal. Kenapa yang terjadi malah semakin membuat ia dan Leka semakin menjauh. Padahal sebenarnya semua begitu mudah di depan mata. Ia tinggal membujuknya dalam 3 bulan ini kembali padanya tapi kenapa begitu susahnya. Di tambah tragedi semalam yang bisa sewaktu-waktu meledak di lain hari.
Seandainya saja ia tidak pergi malam itu, ceritanya hari ini masih sesederhana kemarin. Masih bisa membuatnya tersenyum. Masih bisa membuatnya membercandai hari ini karena tak ada Kenzo di sini. Namun kemarin ... Aska hanya bisa menghela napas panjang.
----------+++----------
__ADS_1
Hp Chris berdering. Ia mengambilnya di atas meja nakas. "Halo Ya."
"Aku hanya mau memberi tahu, Leka besok libur tapi aku tidak tahu apakah dia ada di rumah atau tidak karena dia tidak mengatakan rencananya."
"O ya, terima kasih. Mmh, pekerjaannya bagaimana sejauh ini?"
"Bagus. Dia sangat ulet bekerja. Bahkan banyak membantu pegawai lainnya menyelesaikan pekerjaannya. Kalau dia buka usaha sendiri, aku rasa ia akan cepat sukses karena ia cepat mengerti bagaimana caranya mengelola sebuah usaha restoran. Dengan tambahan skill untuk jadi pemimpin, mungkin ia bisa menjadi pengusaha."
"Wow, dia kan baru kerja padamu seminggu ini, kau bisa melihat sejauh itu?"
Arya tertawa. "Jangan meledekku Da, Uda malah yang lebih kompeten soal ini dari pada aku."
"Aku percaya penilaianmu."
"Ok, Da. Selamat Malam."
"Malam." Chris mematikan hp-nya. "Honey ...." Ia menggeser tubuhnya di tempat tidur mendekati istrinya.
"Aku sudah dengar. Besok Leka libur kan?"
"Iya, sebaiknya kita datang jam berapa Honey?"
"Siang mungkin, sambil membawa kado buat Runi."
"Mmh, boleh juga." Chris melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya. "Kita tengok mereka dan mungkin bisa mulai mengobrol dengannya.
Reina menoleh ke samping menatap wajah suaminya. "Kenapa kau mencukur brewokmu Sayang?"
Reina tersenyum lebar dan menyentuh rahang suaminya dengan lembut.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Kau pasti tetap ganteng di mataku dengan model apapun yang kau buat dengan wajahmu." kata wanita itu sambil mengusap rahang lelakinya hingga telinga dengan penuh cinta.
"Oh jelas. Aku akan pertahankan itu untukmu Honey." Chris meraih tangan istrinya dan menciumnya.
"Mmh senangnya ...."
---------+++---------
"Bu, ada tamu."
"Mmh? Siapa?" teriak Leka dari dalam kamarnya.
"Ibu Reina Bu, sama suaminya."
"Oh." Leka buru-buru memakai jilbab instannya dan keluar kamar. Dilihatnya Ani baru saja berlalu dari muka kamarnya sementara orang yang di sebut tamu sudah duduk di ruang tamu menunggunya. "Oh, maaf Bu, Pak. Rumahnya masih berantakan." Leka mendatangi Reina dan Chris dan mencium punggung tangannya. Ia melihat Runi sedang memeluk sebuah boneka baru, Teddy Bear berwarna pink. Sepertinya pemberian Reina, neneknya. "Eh itu dapat dari mana nak?" tanyanya menggoda Runi.
"Nenek." Runi memamerkannya pada Leka.
"Bilang apa?"
__ADS_1
"Ma kasih." Runi memeluk bonekanya.
Kalimatnya menerbitkan senyum di antara Reina, Chris dan Leka. Reina lalu mendekati Runi dan menggendongnya lalu kembali ke kursinya untuk memangku gadis kecil itu.
Runi sudah mulai terbiasa dengan Reina karena sering makan siang di restoran.
"Suka dengan bonekanya?" Reina bertanya pada si kecil. Runi membalasnya dengan tersenyum memamerkan giginya yang masih sedikit itu. Reina menyentuh hidung mungil gadis kecil itu saking gemasnya.
"Bapak, Ibu mau minum apa? Teh?"
"Oh, jangan repot-repot," sela Reina. "Kami cuma sebentar."
"Tidak apa-apa." Leka ke dapur dan meminta Ani membuatkan teh. Setelah itu ia kembali ke ruang tamu.
"Ini perabot rumahmu dari mana?" Chris sedikit heran dengan perabot rumah Leka yang terlihat mewah tetapi tidak baru. Ia menduga ini milik seseorang.
"Oh, itu milik ... Kenzo." Leka mencoba bicara hati-hati.
"Kenapa?"
"Eh, maaf Pak, saya ... tidak ingin dibelikan yang baru. Rasanya terlampau boros. Maaf ...." Leka merasa tak enak hati karena dengan lancang memilih sendiri perabot yang ingin dimilikinya waktu itu hingga menolak tawaran Chris.
"Oh, tidak apa-apa," ucap Chris santai. "Apa ada keperluan lain yang kamu butuhkan?"
"Mmh, aku rasa tidak ada. Apa yang bapak berikan sudah lebih dari cukup."
"Sebenarnya kami datang untuk melihat apa ada sesuatu yang lain yang kau butuhkan. Kami akan usahakan carikan," terang Reina tentang kedatangan mereka.
"Maaf, jadi merepotkan," Leka bersyukur mempunyai mantan mertua yang sangat baik. Ia pikir dulu suami istri ini sama rumitnya dengan mantan suaminya yang punya banyak aturan, apalagi Aska juga menggambarkan kedua orangtuanya sebagai orang yang sulit diajak kompromi dan galak hingga pria itu harus menyembunyikan pernikahan mereka, tapi ternyata tidak. Leka sendiri bingung melihat kenyataan ini, apalagi melihat ketulusan mereka membantunya.
"Tidak apa-apa," ucap Reina.
Ani datang kemudian membawa dua cangkir teh.
"Aku melihat kalian begitu berbeda dengan Bang Aska, tapi kalian sangat baik."
"Maksudmu wajah kami? Kami memang bukan orang tua kandungnya, apa Aska tidak menceritakan itu padamu?"
"Oh, Abang cerita tapi tidak menyangka saja kalian membesarkan Abang seperti anak sendiri."
"Seorang anak sebenarnya hanya membutuhkan siapa yang mencintainya, bukan siapa keluarganya. Pada waktu itu banyak yang meributkan soal status mereka, Salwa dan Aska karena dia anak dari almarhum suami. Aku tidak melihat ada pihak dari keluarga orang tuanya yang berniat mengambilnya dengan tulus. Jadi walaupun seharusnya aku melepas mereka tapi aku tidak melakukannya. Bagiku mereka sudah seperti anak-anakku sendiri jadi aku membawanya dan suami alhamdulillah mendukung." Reina menoleh pada Chris dan tersenyum.
"Aku tak menyangka, kalian benar-benar baik. Maaf aku pernah salah sangka pada kalian. Oya, mari Pak, Bu, di minum tehnya."
Chris dan Reina masih mengobrol sebentar sebelum akhirnya pamit.
"Bagaimana mereka tahu aku libur ya? Ah, mungkin Pak Arya yang memberi tahu," gumam Leka sambil menutup pintu depan.
Hari libur digunakan Leka untuk menemani anaknya di rumah. Runi sangat senang ia punya banyak waktu bersama ibunya bermain. Dari nonton tv, makan siang sampai tidur siang di temani oleh Leka. Hingga malam tiba, Aska menyambangi rumah Leka.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau libur hari ini, jadi aku kan bisa meliburkan diri."
__ADS_1