Sungai Rindu

Sungai Rindu
Terperangkap


__ADS_3

"... begitu Bu."


Rita mematikan hp-nya. "Sial! Gagal lagi, brengsek! Heh ... pegawai tidak becus. Sudah dikasih tahu caranya tinggal dikerjakan saja eh, gagal. Bodoh sekali mereka! Siapa sih wanita itu? Heh!" Ia mengepalkan tangannya geram. Sebentar kemudian ia mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di depan dagu. Bagaimana lagi cara memisahkan mereka ya? Biar wanita itu bisa merasakan apa yang aku rasakan. Ditinggal dan dihianati suami seperti yang Candi lakukan terhadapku. Mmh ....


Arya memperhatikan, Leka seharian tak semangat bekerja. Lesu dan banyak menunduk. Hanya tawa Runi dan panggilannya yang sedikit menghiburnya.


Arya menghampirinya. "Kamu kenapa seharian ngak semangat? Kehilangan Kenzo atau kehilangan Aska? Atau malah kehilangan dua-duanya?" ledek Arya hampir tertawa. Namun ini hal yang sensitif. Leka terlihat masygul.


"Eh, kok jadi sedih? Aku kan cuma bercanda," ucap Arya lagi.


Leka mengangkat kepalanya. "Aku merasa bersalah Pak, karena masalah aku dan Aska, nama keluarga Bapak ikut terseret. Kenzo juga pergi pasti karena aku ya Pak?"


"Oh, karena itu ...." Arya tersenyum. "Tidak usah dipikirkan. Aku tahu situasimu, aku mengerti. Di luar sana orang yang membencimu akan tetap membencimu biar seribu kebaikan telah kau perlihatkan, tapi sebaliknya orang yang mencintaimu akan tetap mencintaimu walaupun kau pernah tergelincir pada satu kesalahan fatal yang pernah kau perbuat. Jadi saranku, jadilah diri sendiri saja. Cintai dirimu, sebab seberapa besar orang mengecammu diluar sana, tetap hanya kamu yang tahu apa yang sudah kamu lalui, perasaanmu, jeri payahmu dan masalahmu. Mereka belum tentu bisa mengerti alasan dan perbuatan yang telah kau lakukan dan belum tentu juga setegar dan sebijak kamu dalam bersikap."


Leka mulai tersenyum.


"Lagipula jadi dewasa itu tidak ada khursus dan sekolahnya. Trial and error. Mencoba dan gagal, dan itu dilakukan terus menerus. Itulah cara jadi dewasa. Semua orang pasti pernah berbuat salah, tapi yang penting ada usaha untuk memperbaikinya."


"Apa Kak Kenzo kalau perjalanan bisnis, lama ya Pak?"


"O iya."


"Sampai sebulan?"


"Katanya?"


"Iya."


Arya hanya tertawa pura-pura. Apa perjalanan bisnis kali ini sepanjang itu? Dia belum pernah melakukannya. Apa itu penting? Atau caranya untuk kabur dari kenyataan ini? Kenzo ... mau sampai kapan kamu akan terus berlari seperti ini?


"Ayo kita mulai makan malamnya." Mariko membawa baki berisi makanan ke meja yang disandari Baby Sitter Runi. Menyusul Leka membawa baki berikutnya. Tak lama mereka makan di meja yang sama.


Monique memapah Aska yang cukup berat baginya hingga resepsionis. Cukup sulit baginya memapang pria itu karena jalannya juga tidak lurus. Ia sendiri membawa tas jinjing yang berbentuk kotak merk luar negeri yang membuatnya semakin kerepotan bergerak.


"Bisa di bantu Ibu?"


"Mau pesan kamar ya?"


"Double bed Ibu?"


"Single. Hanya untuk teman saya."


"Maaf Ibu, singlenya sudah penuh Ibu."


"Ya sudah." Monique mengeluarkan kartu hitamnya.


Tak lama kemudian, ia memapah Aska hingga depan pintu kamar dan membukanya. Ia kembali memapah pria itu hingga ke tempat tidur.

__ADS_1


"Hah ... pinggangku sakit. Kenapa kau berat sekali sih?" keluh Monique mengusap pinggangnya.


"Kau akan meninggalkanku? Semua orang meninggalkanku ... hu huu." Aska kembali menangis.


"Jadi maumu apa?" Monique duduk di tepian tempat tidur.


Aska pun berangsur duduk. "Temani aku di sini. Aku kesepian ...." Rengeknya. Ia menyentuh tangan Monique.


"Tapi bukannya kamu tidak suka padaku?" Monique melihat tangannya yang di sentuh Aska. Ia ingin sekali menggenggam tangan pria itu.


"Jadi kau pun sama dengan mereka semua. Pada akhirnya semua orang ingin meninggalkanku ...." Aska menarik tangannya dan mulai menunduk.


"Tidak, bukan begitu." Monique meraih tangan pria itu. "Aku menyukaimu Aska tapi kau ...."


"Kau membenciku ...."


"Tidak bukan begitu, Aska. Aku mencintaimu, tapi kau ...."


"Kau membenciku ...."


"Aku tak pernah membencimu. Aku tak bisa."


"Kau membenciku ...." Setetes air mata Aska jatuh dari sudut matanya.


Monique iba. Ia mengusap air mata Aska yang melintas di pipi. Pria itu meraih tangan Monique yang menyentuh pipinya. Ia mencium tangan itu lembut.


Monique bimbang. Ia tahu Aska sedang mabuk dan pria itu tidak tahu apa yang dilakukannya. Ia butuh keberanian. Kembali ia menyelami bibir pria itu dengan bibirnya dan terlihat pria itu tidak menghindarinya sama sekali. Ia kembali menghentikannya.


"Ahhh ...." Monique semakin bimbang. "Panaaas ...." Ia mengipas lehernya dengan tangannya. "A-aku makan saja." Ia segera beranjak berdiri dan mengambil daftar menu di atas meja dekat tv.


"Kau akan meninggalkanku?"


"Eh tidak, aku hanya pesan makanan. Apa kau lapar?"


Aska hanya diam, ia menatap Monique seperti mengiba.


Aska, jangan buat aku bingung!!! Jerit hati Monique. Ia berusaha duduk membelakangi pria itu.


Setelah memesan makanan wanita itu memeriksa mini bar. Ada air mineral, minuman kaleng dan bir. Karena pikirannya yang tidak menentu membuat ia mengambil bir. Minuman kaleng itu segera dibuka dan diminumnya. Ia mondar-mandir dengan minuman di tangan.


Setelah makanan datang Monique berusaha fokus pada makanan yang hendak di makannya. Aska yang merasa tidak diperhatikan, merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia hanya diam.


Monique berusaha untuk tidak peduli tapi hasilnya ia hanya sanggup menghabiskan separuh dari makanannya, sisanya ia khawatir pada Aska. Kembali ia menyambangi tempat tidur tapi kali ini ia mendapati penolakan dari Aska. Pria itu membelakanginya.


Monique bingung harus bagaimana. Ia kemudian hanya bersuara. "Sudah ya, aku pulang dulu."


Tak ada suara. Perlahan wanita itu berdiri dan meninggalkan Aska. Ia mengambil tasnya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba pria itu meraih pinggangnya dan memutar tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan. Masih dalam keterkejutan, Aska mendorongnya jatuh ke atas tempat tidur. Pria itu menghimpit tubuhnya. "Kenapa kau MENINGGALKANKU, kenapa kau MENINGGALKANKU, hah???" teriaknya tepat di depan wajah Monique. Dari matanya yang memerah, menetes air matanya.


"A-aska?"


Pria itu langsung menyatukan bibir mereka, dalam. Monique bisa merasakan kemarahan yang meledak-ledak dan nafsu yang berkobar-kobar. Tangan Aska yang mulai menggerayangi tubuh wanita itu membuat Monique panik. Ia berusaha menepisnya tapi tak bisa. Kekuatan tangan pria mabuk itu lebih besar dan ia harus menerimanya. Ia pasrah. Airmatanya mengalir begitu saja tanpa tangisan. Ia begitu mencintai pria itu dan merelakannya. Sesudahnya iapun menikmatinya.


Ia tahu, setelah ini pria itu tidak akan mengakuinya. Biarlah saja itu menjadi masalahnya nanti. Paling tidak ia bisa mengenang malam itu sebagai malam terindah di mana pria itu pernah membalas cintanya.


---------+++---------


Aska terbangun dengan kepala yang berat. Ia terkejut melihat seorang wanita tidur di pelukannya. Yang lebih mengejutkan lagi, ia mengenali wanita itu dengan baik. Ia Monique, teman sekolahnya dulu yang masih menyukainya hingga kini, tapi ia sama sekali tidak ingat bagaimana Monique ada di pelukannya dan dalam keadaan tanpa busana di dalam selimut berdua dengannya. Apa yang terjadi semalam?


Ia juga tidak mengenali di mana ia berada. Sebuah tempat seperti kamar hotel. Hotel?Bukankah semalam ia pergi ke hotel? Lalu ... Ia kemudian tak tahu bagaimana menyambung ceritanya.


Tubuh wanita dalam pelukannya itu bergerak, pria itu panik. Dengan segera ia menggeser tubuh wanita itu. Matanya segera mencari pakaiannya yang tergeletak di karpet kamar dan segera dipakainya.


"Aska ...."


"Kenapa aku bisa tidur di sini? Kau menjebakku ya?" tuding Aska pada Monique sambil berpakaian.


Monique segera bangun dan melilit tubuhnya dengan selimut. Ia merengut kesal. "Enak saja! Kau yang dijebak oleh teman-temanmu, kau menuduhku. Aku menolongmu dari mereka yang membuatmu mabuk tapi kau malah memaksaku tidur denganmu ...."


Penjelasan Monique membuat Aska syok. Ia panik. "Apa mungkin aku memaksamu ...." Ia bergumam sendiri. "Ah, tidak. Tidak mungkin. Kau jangan membohongiku Monique!" Aska kembali menuding wanita itu.


"Ya ampun, kau tega sekali. Aku membantumu dan sekarang kau menuduhku?" Air mata di sudut mata wanita itu mulai menggenang. Menjadi korban saja sudah cukup, kini ia dituduh menjebak.


Aska menghadap wanita itu dengan masih ke bingungan. Ia akhirnya datang dengan sebuah keputusan. "Demi kebaikan bersama, kita lupakan kejadian semalam. Aku anggap kau mabuk dan kita sama-sama alpha. Tidak pernah ada kejadian semalam dan mulai sekarang kita kembali ke kehidupan kita masing-masing. Ok? Kalau kau berusaha menuntutku, aku anggap kaulah yang telah menjebakku, jelas?"


Monique geram. Secara tidak langsung Aska telah menuduhnya menjebaknya dan secara halus mengampuninya. Ini benar-benar berat sebelah. Ia juga korban!


Aska segera keluar dari tempat itu, kepalanya masih sedikit pusing. Namun ia masih bisa menyetir mobil hingga ke apartemennya. Sempat ia mandi dan kemudian berbaring di atas tempat tidur.


Lambat-lambat ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Potongan gambar yang muncul di kepala coba disatukannya. Ia mulai ingat undangan datang ke hotel itu dan minum sesuatu yang membuat dirinya pusing. Kemudian memeluk wanita di sebelahnya walau samar. Ia ingat Monique datang tapi tak begitu jelas. Sepertinya ia sempat menggebrak meja. Astaghfirullah alazim. Sepertinya wanita itu bicara benar. Tak mungkin ia bisa memeluk wanita sembarangan tanpa sebab. Ya, saat itu ia sudah mabuk. Sialan! Mereka menjebakku. Apa maksudnya? Apa ada dendam pribadi pada Leka? Sial, kenapa aku bisa-bisanya kena jebakannya. Hah! Mana tidur dengan Monique lagi.


Bahkan perlahan Aska mulai ingat telah mencumbu Monique di tempat tidur. Ah, bagaimana bisa ia tidur dengan tipe wanita yang paling dibencinya, ini sudah keterlaluan!


Dilihatnya jam menunjukkan waktu pukul setengah sebelas. Leka harusnya sudah berada di restoran saat ini. Ia malas pergi ke kantor karena sudah terlambat dan moodnya sedang tidak baik. Ia memilih pergi ke restoran tempat mantan istrinya berada.


Di sana ia bertemu Runi. Entah kenapa ia begitu kangen pada gadis kecil itu.


Aska menarik sebuah kursi. Di pangkunya gadis kecil itu. Runi bukan sebuah kesalahan, tapi ia berharap tidak ada anak dari hasil sebuah kesalahan yang ia perbuat. Ia mendekap gadis kecilnya erat.


____________________________________________


Terima kasih masih terus membaca karya author receh ini. Ini ada visual Monique yang cintanya sedalam samudra untuk Aska. Jangan lupa terus dukung Author dengan vote, like, komen dan hadiah. Terlebih koin. Salam, Ingflora. 💋


__ADS_1


Monique


__ADS_2