
Mereka masuk ke dalam mobil. Setelah mobil berada di jalan, Aska mulai bicara. "Kamu jangan terlalu dekat dengan Kenzo. Dia itu biang masalah. Kamu lihat sendiri kan, dia duduk di belakang. Semua orang mengucilkannya."
"Aku juga duduk di belakang, dingin dan banyak nyamuk."
"Leka ...." Aska kini bingung bagaimana membetulkan kalimatnya.
"Maksudmu semua orang yang duduk di belakang di kucilkan. Iya kan?" Leka melirik suaminya.
"Leka, bukan begitu maksudku. Jangan terperdaya omongannya. Ia pintar memutar balikkan fakta dengan wajah polosnya itu. Nena saja ...." Aska tiba-tiba menghentikan kalimatnya, tapi terlanjur. Leka sudah mendengarnya.
"Siapa Nena?"
"Itu tidak penting. Yang penting, kamu percaya saja dengan omonganku."
"Omongan laki-laki yang bilang pada seluruh dunia, istrinya adalah pembantu?"
"Leka ...."
Dengan wajah dingin Leka sama sekali tidak mau melihat wajah suaminya. Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan hingga mereka masuk ke dalam apartemen, tapi ia memperhatikan cara suaminya bolak-balik ke apartemen dengan kunci kartu yang terlihat rumit untuknya. Kalau ia tidak punya kartu itu, ia tidak bisa bolak-balik masuk ke dalam apartemennya.
Leka segera membuatkan Runi susu tapi Aska terus saja berusaha meyakinkan Leka agar tidak mempercayai kata-kata Kenzo. Pria itu tidak tahu apa-apa saja yang telah Kenzo tanamkan ke dalam pikiran istrinya sehingga ia terlihat panik.
"Leka dengarkan aku ...."
"Aku malas mendengar bicaramu yang berlebihan itu. Aku tidak lihat dia seperti itu."
"Leka kau jangan naif. Orang itu ...."
"Sudah, aku bosan mendengarnya!" Leka mengangkat Runi yang berada di kursi sofa dan memangkunya. Ia kemudian memasukkan dot botol susunya ke dalam mulut anaknya.
Aska mencoba duduk di samping Leka. Ia mencoba strategi yang berbeda. "Leka ...."
"Di banding kau mengkhawatirkan orang lain, lihat dirimu dulu. Apakah kau sudah pantas di sebut orang baik," potong istrinya.
Aska terdiam. Dalam banyak hal, di dalam hati ia mengakui ia tidak bisa menang berdebat melawan istrinya. Banyak yang di katakan, ada benarnya sehingga ia sulit untuk menguasai jalan pikirannya. Apalagi Leka lebih tua darinya. Bukan itu saja, tapi pikiran Leka sudah lebih dewasa di banding Aska yang masih kekanak-kanakan dan sangat bergantung pada orang tua.
"Leka, tolong ... Saat ini aku ingin kita fokus terhadap pernikahan kita. Aku tak ingin ada orang yang mengganggunya."
"Lalu kamu mau aku apa?"
"Lebih percaya padaku di banding orang lain. Aku kan suamimu," kata Aska lembut.
"Kalau kenyataannya tidak bisa di percaya bagaimana?"
"Leka ...."
"Kalau itu terjadi pada Mamapmu bagaimana?"
"Apa?"
"Papamu mengatakan Mamapmu hanya seorang pembantu?"
Aska menelan ludah. "Itu tidak mungkin. Papa sangat mencintai Mamap."
"Dan kalau kau tidak, sebaiknya lepaskan aku."
__ADS_1
"Hei, kita punya anak, kau harus memikirkan itu."
"Anakmu saja harus memanggilmu Om, apa itu tidak gila!"
Aska terdiam sebentar. "Kenapa sih, kamu tidak mau mendengarkan aku saja?" Katanya merengut.
"Karena idemu gila, kau hanya memikirkan dirimu sendiri."
"Hei, kau tidak ada di posisiku, kamu tidak tahu!" Aska mulai marah dan bangkit dari duduknya. "Kau enak. Kalau kau pergi dariku kau masih punya tempat kembali, tapi aku. Kalau aku di coret dari daftar keluarga Jhonson, aku sama sekali tidak punya tempat untuk pergi sementara kau enak-enakan bisa kawin lagi dengan orang lain. Iya kan?"
Runi yang sedari tadi tak nyaman minum susunya, mulai menangis. Leka meletakkan susu botol yang tinggal setengah itu di meja dan menggendongnya.
"Kalau kau sudah tak tahan padaku kenapa kau terus pertahankan! Lepaskan saja aku agar KAU LEBIH BAHAGIA," ucap Leka kesal sambil mengoyang-goyangkan Runi di gendongan agar ia diam.
"Oh, kau mau pergi dariku? Pergi ... pergi! Ayo silahkan. PERGI, kalau kau senang!!" Ledekan sekaligus amarah keluar dari mulut Aska.
Tangis Runi rupanya membuat amarah keduanya semakin memanas. Leka yang memikirkan Runi yang terus menangis akhirnya mengalah dengan pergi keluar apartemen. Ia segera menaiki lift dan turun ke lantai bawah. Ia keluar gedung apartemen dengan berjalan kaki.
Dengan menahan sesak di dada, Leka terus berjalan ke mana kakinya melangkah. Butir air matanya mulai turun tanpa di minta. Ia melihat Runi yang mulai tenang dalam gendongannya, dan hatinya lega. Ia mencoba menghapus air matanya.
Tiba-tiba sebuah mobil mendekat dan berhenti di sampingnya. "Leka?" Kaca di sampingnya terbuka.
Leka harus menunduk melihat ke dalam, siapa yang memanggilnya. "Kak Kenzo?" Ia buru-buru menghapus air matanya.
"Kenapa kamu malam-malam sendirian di sini?" Tanyanya ramah. Ia melihat Leka menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa."
"Kalau mau jalan-jalan sebentar mencari angin, di seberang sana ada taman bermain." Kenzo menatap Leka. "Mau kutunjukkan?"
Leka terlihat ragu.
Wanita itu kemudian masuk ke dalam mobil dalam diam. Ia mengangguk sedikit pada Kenzo karena mau mengantarnya ke sana. Ia hanya menunduk.
Selepas mobil itu pergi, Aska sudah sampai di lantai bawah dan mencari Leka hingga keluar tapi tak menemukannya. Ia bingung harus cari ke mana.
Ia benar-benar kesal pada dirinya sendiri kenapa sampai bicara sekasar itu pada Leka. Padahal apa yang di katakan Leka benar tapi ego kelaki-lakiannya menahannya. Ia sebenarnya hanya ingin Leka sedikit bersabar karena sebulan itu tidaklah lama, tapi yang keluar dari mulutnya malah kata-kata kasar yang menyakitkan hati. Ia terpengaruh tangisan Runi yang membuatnya entah kenapa ikut mendidih dan tak bisa menahan emosi. Ini tidak seharus. Ini bukanlah yang diinginkannya.
Leka duduk dengan tertunduk di sebuah ayunan dari besi yang bergerak sedikit. Ia mendekap anaknya yang telah tertidur dipangkuannya. Kenzo datang mendekat dengan membawa 2 buah minuman kaleng dan memberikan satu pada Leka. "Ini jus jeruk." Ia membukakan tutupnya.
Leka mengambil dan meneguknya sedikit. "Maaf sudah merepotkanmu, mengantarku ke sini."
"Tidak apa-apa." Kenzo meneguk minumannya. "Apa kamu teringat suamimu?"
Leka melirik Kenzo sekilas, ia tidak tahu bagaimana menerangkannya.
"Apa Aska terlalu cerewet? Maaf."
Leka tersenyum sedikit.
"Kamu juga bisa kerja denganku kalau kamu sudah tidak betah lagi kerja dengannya."
Leka tersenyum pahit. Ia mengeratkan pelukannya pada Runi, dan menggosok-gosok lengannya sendiri, dingin.
Kenzo melepas jaketnya dan menutupi tubuh Leka dari depan dengan jaket itu sehingga Runi juga terselimuti.
__ADS_1
"Eh, tidak usah," ucap Leka enggan.
"Tidak apa-apa." Dengan membungkuk Kenzo merapatkan jaket itu di sekitar leher Leka. "Udara mulai dingin. Apa kau tidak ingin pindah ke dalam? Di belakang sana ada restoran yang buka sampai tengah malam." Kenzo menunjuk ke sebuah restoran di kejauhan. Ia kembali menatap Leka, dan posisi wajah mereka dekat. Wajah sendu Leka yang kemerahan di sekitar kelopak matanya membuat ia ingin mengusap air matanya, menghilangkan dukanya dan menggantinya dengan warna pelangi yang lebih indah. Wanita seperti ini, apakah tidak sadar bahwa dirinya seorang bidadari?
"A-aku pulang saja." Leka tertunduk. Ia sebenarnya masih bingung, tapi malam semakin larut. Tidak ada tempat baginya selain pulang. Runi juga harus tidur di kamarnya karena sudah malam, dan ia sebagai ibunya harus mengalah.
"Ok."
Namun air matanya masih ingin jatuh. Jiwa keibuannya kalah dari egonya sebagai seorang wanita, sebagai seorang manusia biasa dan ia hanya ingin menangis.
"Leka?" Kenzo melihat air mata Leka jatuh saat wanita itu berusaha berdiri.
Leka seperti kehilangan pegangan. Tubuhnya lemas dan hampir jatuh. Kenzo refleks mendekapnya. "Eh, maaf."
Leka melepas minuman kaleng yang di pegangnya hingga jatuh dan tumpah di tanah. Ia bahkan mencengkram baju kemeja pria yang berada di hadapannya itu. Kenzo menyadarinya saat ia ingin melepas dekapannya karena bajunya seperti tersangkut di depan. "Mmh?"
"Sebentar saja. Se-sebentar sa ...."
Kenzo kembali mendekapnya. Ia bisa mendengar wanita itu menangis terisak dalam pelukannya.
Tak lama tangisnya reda. Pria itu melepasnya pelan-pelan.
"Kau mau pulang?"
Leka mengangguk pelan dan menengadah. "Maaf aku tadi ...."
"Tidak apa-apa. Kita pulang sekarang."
Aska lelah berputar-putar di daerah itu tapi tak menemukan istrinya. Jadi dia ke mana? Apa ... jangan-jangan dia sudah kembali? Ah, mudah-mudahan ia sudah kembali. Aku harap begitu. Leka, kembalilah padaku ....
Saat ia sudah sampai ke gedung apartemennya dilihatnya Leka menunggu di depan pintu masuk. "Leka aku mencari ...."
Leka tak perduli. Ia segera masuk ke dalam gedung. Mereka masuk dalam diam, hingga ke dalam lift. Lift sangat penuh tapi Aska menariknya mendekat. Leka ingin menjauh tapi tak kuasa karena penuh. Ia terpaksa mendiamkan saja saat suaminya merengkuhnya dari belakang hingga orang-orang mulai turun di tiap lantai, wanita itu kembali menjauhi.
Saat masuk apartemen pun sama. Leka segera masuk dan menaiki tangga. Ia segera menidurkan Runi di tempat tidurnya. Ketika masuk ke kamar ia mengambil pakaian tanpa menoleh.
"Leka, apa kau sudah makan? Aku akan membelikanmu makanan delivery(pesan antar) kalau kamu masih lapar." Namun istrinya telah masuk kamar mandi tanpa bicara.
Aska tetap menunggunya hingga keluar dari kamar mandi. Saat istrinya muncul, ia malah bingung mau bicara apa.
Leka membersihkan wajah dan menyisir rambut. Tak lupa ia mengenakan deodoran, tapi setelah itu ia segera masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata.
"Leka ...."
"Pergi mandi sana, bukankah kamu tak suka orang yang belum mandi?" Leka yang tidur membelakanginya bicara tanpa menoleh.
Aska segera mengambil handuk dan mandi. Seperti biasa dia keluar kamar mandi dengan berhanduk. Ia melihat istrinya sudah memejamkan matanya. Segera ia berpakaian dan naik ke atas tempat tidur. "Leka ...." Ia berbaring sambil menyentuh lengan istrinya.
Leka menepis tangan pria itu.
"Tolong maafkan aku." Aska mencoba meraih tangan itu lagi, tapi wanita itu kembali menepisnya. "Iya, aku salah. Maaf."
Leka tidak menjawabnya hingga pagi menjelang.
Aska terbangun dan tidak mendapati istrinya di tempat tidur. Ia kemudian mencari Runi tapi ia tidak menemukannya juga di dalam kamarnya. Ke mana mereka berdua?
__ADS_1
________________________________________________