
Aska menyodorkan hp-nya pada Runi. Lagu anak-anak yang terdengar dari hp Aska menarik hatinya. Gadis kecil itu sempat memiringkan kepalanya penasaran ingin melihat video apa yang di putar di hp pria itu.
"Sini," panggil Aska.
Runi hanya menoleh sebentar dan kemudian fokus pada layar hp. Aska menunggu sesaat sambil menerima suapan istrinya. Ia menunggu Runi tenggelam dengan apa yang di tontonnya lalu pelan-pelan menggendong dan mendudukannya di sampingnya. Gadis itu masih terhipnotis video dalam hp yang di sandarkan ke bantal oleh Aska. Sambil mengusap kepala anaknya, Aska mengajaknya bicara. "Kamu suka lagu ini sayang?"
Runi bergeming. Ia sibuk mendengarkan lagu dari hp Aska. Sebentar kemudian ia sudah menggoyang-goyangkan kepalanya, lalu badannya dan mulai menggerakkan tangannya. Aska bertepuk tangan pelan mengikuti musik lagu itu. Kemudian lagu itu usai. Saat Aska mencari lagu lainnya, Runi melihat pria itu dengan wajah bingung.
"Nih, ada lagi." Aska meletakkan lagi hp-nya ke tempat semua.
Gadis kecil itu kembali menonton. "Uh ... uh ..." Runi menunjuk hp Aska dan menoleh pada pria itu. "Om ... Om ...."
Aska terlihat senang hingga hampir menangis terharu. "Oh, akhirnya kamu memanggilku Om." Ia mengusap pucuk kepala bocah itu.
Bodoh. Orang lain saja sudah di panggilnya 'Papa', dan kamu bangga dipanggil 'Om' oleh anakmu sendiri? Kamu benar-benar orang tua yang aneh!
Aska melihat makanannya hampir mau habis di tangan istrinya. "Leka, aku mau tambah lagi. Aku masih lapar, semalam belum makan."
"Iya, iya." Leka turun dan tak lama ia kembali dengan makanan yang sudah terisi penuh di piringnya. Ia kembali duduk di tepian tempat tidur dan menyuapi suaminya.
"Leka nanti kalau sore aku agak sehatan, kita makan di luar ya?"
"Ngak usah, malas ah!"
"Lho, kenapa?"
"Nanti kamu makan sama orang lain lagi. Lalu untuk apa aku ikut? Pergi saja sendiri!" Ucap Leka kesal.
Aska terdiam. "Kita ganti Mal saja."
"Apa?"
"Mal di Jakarta kan banyak. Mau ya?"
Leka merengut. Aska menarik bahu istrinya dan mencium keningnya. "Mau ya Sayang?"
Di panggil begitu, luluh juga hati Leka. Akhirnya ia mengangguk.
"Ok!" Aska terlihat senang. Ia kembali membuka mulutnya untuk makan.
"Papa!"
Aska terkejut dan menoleh pada Runi. Leka pun demikian.
Runi menunjuk-nunjuk hp Aska.
Pria itu memastikan pendengarannya. "Apa?" Ia menoleh pada Leka. Wanita itupun kehilangan kata-kata.
Runi menunjuk-nunjuk video yang dilihatnya. Aska dan istrinya melihat video itu, video seorang pria yang sedang memainkan piano.
"Oh, mungkin orang itu nyanyi papa-papa." Terang Leka menyembunyikan kepanikan.
"Oh, aku pikir dia memanggilku 'Papa'." Aska terlihat lega.
Ya itu pasti tidak mungkin, karena kamu tidak menginginkannya, iya kan, batin Leka kesal.
Sementara itu, Kenzo yang menunggu di seberang pasar kembali kecewa. Leka, kamu kenapa tidak ke pasar hari ini? Apa Aska sudah mengajakmu ke supermarket untuk belanja? Mmh, semoga aku beruntung bisa bertemu kembali denganmu hari ini. "Ayo Dan, kita pulang ke rumah."
Leka sedang sibuk di dapur ketika tiba-tiba suaminya berlari turun.
"Leka, Mamap mau datang ke sini," terang Aska.
"Apa?"
"Barang-barangmu di kamar, cepat singkirkan! Pindahkan ke kamar Runi."
"Oh, iya." Leka segera mematikan kompornya. "Bang, jaga Runi di bawah ya?" Leka bergegas naik.
Runi yang sedang berjalan mengitari ruang tamu sambil memeluk boneka kainnya melihat ibunya menaiki tangga. Ia pun mengikutinya tapi langkahnya terhenti melihat Aska berdiri di depan tangga.
"Eish, mainnya di sini saja."
Runi berbalik dan berlari ke arah ruang tamu. Ia bersembunyi di balik sofa dan mengintip Aska yang tersenyum padanya.
Leka memindahkan barang-barang kosmetiknya dan sisir yang berada di atas meja rias ke dalam sebuah kotak. Juga mengambil handuk yang tergantung. Sepertinya tidak ada yang perlu dipindahkan karena bajunya berada di dalam lemari. Tak mungkin rasanya ibunya Aska memeriksanya hingga ke dalam lemari. Leka pun berlalu sambil membawa kotak itu ke kamar Runi.
__ADS_1
Aska membukakan pintu untuk Reina.
"Lho kata Papa kamu sakit?" Reina melihat wajah anaknya yang terlihat sehat-sehat saja.
"Kemarin kehujanan Map, lembur terus roda mobil terperosok ke lobang di jalan. Aduuh, pulang capek. Demam pula semalam." Kilah Aska.
Reina mencubit pipi Aska.
"Aduuh, Map ... sakit." Aska menyentuh pipinya.
"Banyak alasan kalau mau kerja. Bagaimana mau naik jabatan kalau begitu?"
"Map ...." Aska merajuk sambil menundukkan matanya.
"Kamu harus rajin, kan sekarang lagi dipromosikan? Kalau tidak, jabatan itu bisa melayang ke orang lain."
"Iya Map."
"Nih, Mamap bawakan Rendang. Kemarin Mamap masak ini." Sebuah wadah tertutup di sodorkan pada Aska.
"Wah, makasih Map." Aska begitu senang. Sudah lama ia tidak makan masakan Mamapnya itu.
Reina masuk ke dalam apartemen. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Aska.
Reina melihat Runi di ruang tamu. "Eh, siapa ini?" Ia membungkuk dan memberi senyum pada Runi.
Gadis kecil itu terlihat bingung. Leka yang hendak menuruni tangga melihat Reina masuk ke dalam rumah. Bergegas ia turun dan mengambil Runi. "Ah, maaf Bu, anak saya main ke sini."
"Ah, tidak apa-apa," sahut Reina dengan senyuman.
"Ibu mau minum teh mungkin."
"Oh boleh."
Runi di turunkan di dekat meja makan, sementara Leka ke dapur memasak air. Ternyata Reina duduk di meja makan bersama Aska.
"Ini namanya siapa ya?" Tanya Reina pada Runi.
"Ayo, sini Runi. Salam sama Oma," panggil Aska.
"Oma? Seperti anak mu saja!" Reina tertawa.
Aska yang telanjur bicara, bingung sendiri. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Eh, Mamap nanti makan siang di sini?"
"Apa tidak terlalu lama ya?"
"Maksudnya?"
"Lah, kamu tidak sholat Jum'at, sekarang kan hari Jum'at."
"Oh, iya. Aku lupa."
Leka meletakkan cangkir teh di atas meja makan. Sebelum ia sempat bicara, Runi memeluk kakinya. Segera wanita itu menggendongnya.
Terdengar suara azan.
"Eh, itu sudah azan, jangan sampai terlambat." Reina melirik jamnya.
Aska melirik Leka. Ia sangat tidak ingin meninggalkan istrinya berdua ibunya karena takut Leka salah bicara tapi waktunya sangat mendesak.
"Cepat Aska, jangan telat," desak Reina.
"I-iya." Akhirnya dengan berat hati, Aska berlari ke lantai atas untuk persiapan sholat.
"Coba kamu duduk di sini, aku mau lihat anakmu, bolehkah?" Tanya Reina ramah.
Leka bingung karena Aska sudah naik ke lantai atas sedang ia tak bisa menghindar lagi bicara dengan ibu Aska. "Iya Bu." Ia menarik kursi di samping Reina.
"Oh, lucu sekali anaknya. Namanya Runi ya?"
"Iya Bu."
"Bagaimana?"
__ADS_1
"Bagaimana apa Bu?" Leka kembali bingung.
"Paketnya?"
"Oh ... itu Ibu yang kirim buat saya?" Leka bernapas lega.
"Iya, kami prihatin mendengar cerita tentangmu jadi-ini inisiatif suami saya sih, mengirimimu paket itu."
"Oh, aku takut Bu karena gak ada nama pengirimnya, dikira ada yang memata-matai kami."
"Oh." Reina tertawa.
Aska turun dari lantai atas dengan terburu-buru. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Aska sudah mencapai pintu dan keluar.
"Bagaimana kalau kita makan sekarang saja."
"Kita?" Tanya Leka lagi.
"Temani saja Ibu makan karena Ibu gak bisa lama-lama di sini. Ibu harus kembali ke toko bunga."
"Tapi kalau eh, Pak Aska tanya gimana Bu?"
"Tadi sudah Ibu bilang padanya."
"Eh, ya Bu." Leka akhirnya menyiapkan makanan di meja makan.
Setelah Sholat Jum'at, orang-orang satu-satu keluar dari mesjid. Aska sering bertemu Kenzo di mesjid tapi mereka tidak saling menyapa kecuali ada Arya di sana.
Hari itu Arya ke mesjid bersama Kenzo dan pulangnya pun bersamaan. Ia sempat bertemu Aska dan ngobrol sebentar, kemudian mereka berpisah. Namun dari sejak awal mereka berangkat, Arya memperhatikan bahwa Kenzo banyak diam. Bahkan saat pulang dari mesjid.
Mobil sampai ke rumah Arya namun Kenzo turun dan menyebrang pulang ke rumahnya.
"Jo ...."
Kenzo seperti tidak mendengar panggilan ayahnya. Baru kali ini Arya bingung melihat sikapnya. Kenzo seperti sedang memikirkan sesuatu.
Kenzo memang sedang memikirkan sesuatu. Ia masuk ke dalam rumah tapi langsung mendatangi piano. Ia membuka tutupnya dan memainkannya pelan-pelan.
Terbayang kembali wajah Runi yang lucu yang menatapnya dengan manik mata yang bergerak jenaka. Juga bibir kecilnya yang memanggilnya 'Papa'. Kemudian wajah Leka, ibunya yang bermata indah, juga tak luput dari bayang-bayang yang mengikutinya terus beberapa hari ini. Mereka merupakan bayang-bayang masa depan yang ingin ia raih. Dapatkah aku menggapainya?
Kenzo menghentikan permainan pianonya. Ia segera menutup piano itu dan berdiri. Ia bergegas ke rumah orang tuanya.
Arya baru saja hendak memilih makanan ketika Kenzo masuk. "Oh, Jo. Kamu mau makan?"
"Yah, aku mau operasi."
Arya dan Mariko terkejut. Ini adalah hal yang sudah lama sekali tidak pernah di bahas karena Kenzo sangat sensitif soal ini dan selalu menolak untuk di operasi. Mereka akhirnya tidak pernah membicarakannya lagi.
Ini mengenai malam di mana hidup Kenzo berubah karena ia menyaksikan sendiri orang tuanya mati di bunuh. Ia juga terkena tusukan tapi hanya pada pakaiannya saja sedang ia syok dan ketakutan sehingga ia pingsan. Saat ia terbangun, rumah sudah di bakar penyusup, tapi ia berhasil menyelamatkan diri dengan susah payah dan tubuhnya sempat cidera terbakar dibagian perut atas pada saat kejadian.
Kenzo sempat dioperasi sekali, tapi sejak itu ia tak mau lagi dioperasi. Padahal untuk mengembalikan tubuhnya ke bentuk semula ia butuh beberapa kali lagi operasi.
Arya dan Mariko menatap Kenzo dengan wajah heran.
"Kamu sungguh-sungguh Jo?" Arya mencoba memastikan pendengarannya.
"Memang kenapa?"
"Karena Leka?"
"Aku hanya ingin terlihat normal."
"Kamu memang normal."
"Tapi aku ...." Kenzo menatap perutnya sendiri dengan sedikit malu. "Merasa seperti zombie."
Arya memamerkan senyum lebarnya. "Yang penting sekarang kamu mau operasi."
"Iya."
"Alhamdulillah."
__ADS_1
Kenzo menarik kursi dan makan bersama.