
Mobil Kenzo akhirnya sampai di rumah. "Tolong antar barang-barang ini ke kamarnya."
"Iya Pak." Bodyguard Kenzo membawa semua kantong belanjaan itu ke dalam rumah.
Leka mengikuti Kenzo dari belakang sambil menggendong Runi yang telah tertidur dalam gendongannya. Sampai di depan kamar pria itu, Kenzo memutar tubuhnya ke belakang. "Eh, sampai nanti sore ya?" Ia terlihat canggung, tapi seperti menantikannya.
Leka bersegera ke kamarnya dan masuk ke dalam. Kenzo juga masuk ke dalam kamarnya dan langsung menelepon ayahnya. "Yah, tolong lamar Leka untukku Yah."
Terdengar suara Arya tertawa di ujung sana. "Ada apa lagi kali ini, hah? Kau kenapa lagi?"
"Aku sungguh-sungguh ini Yah. Aku tidak sedang bercanda."
"Kenapa, kau seperti ketakutan kehilangan dia atau kau sudah tidak tahan?"
"Ayah!"
Arya kembali tertawa. "Ada apa sebenarnya denganmu?"
"Leka sepertinya berubah. Aku takut sekali Ayah. Apa mungkin dia akan meninggalkanku?"
Arya tiba-tiba khawatir dengan nada bicara Kenzo. "Hei, apa yang kau katakan? Memangnya Leka bicara apa?"
"Sebenarnya hari ini aku menawarkan mobil untuk dia pakai tapi dia bilang dia tak nyaman karena bukan barang miliknya. Lalu kemudian aku membalik penawaranku, aku pergi ke Mal dan mengajaknya ikut. Sempat kami makan, bertemu klien dan belanja, tapi tiba-tiba ia ingin segera pulang. Waktu di tanya, jawabannya membingungkan Yah, jadi aku begitu takut aku telah salah bicara dan dia akan meninggalkanku."
"Memangnya kau tanya apa padanya?"
"Aku hanya bertanya kenapa dia tiba-tiba berubah, dan dia bilang dia salah karena sudah keluar denganku. Dia sedang dalam masa iddah katanya, jadi tidak boleh keluar."
"Iddah?" Kenapa wanita ini bisa berbohong soal iddah?
"Iya, jadi berarti suaminya belum lama meninggal dong Yah."
"Berapa lama lagi iddahnya katanya?"
"Sebulan lagi."
Berarti dalam sebulan ini suaminya akan mengambilnya kembali, apa itu maksudnya? Apa suaminya telah menghubunginya kembali? Sial! Mungkin suaminya mulai mengaturnya kembali. Aska pasti berusaha agar Leka tidak terlalu dekat dengan Kenzo hingga anakku jadi ketakutan begini.
"Memang benar yang di katakannya itu. Coba kamu jangan berpikiran buruk dulu. Wanita dalam masa iddah tidak boleh dilamar jadi kamu sabar-sabar saja menunggu. Lagipula Leka tidak ke mana-mana kan, masih tinggal bersamamu?"
"Eh, ya ...."
"Sudah ... Sebulan itu tidak lama. Kau memang tidak boleh terlalu dekat dengan wanita ini karena dia sedang dalam masa iddah tapi hanya itu saja. Ok? Kecuali Leka bilang sendiri kalau ia tidak suka padamu."
"Eh, iya, Yah."
Arya menutup hp-nya. Mmh, bagaimana caranya mereka terhubung kembali? Arya melihat hp di tangannya. Eh, hp?
Leka sedang berbaring di tempat tidur menunggui anaknya yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba hp-nya berbunyi. Wanita itu terkejut kenapa Aska meneleponnya pada waktu sore begini? Ia memeriksa nama dan memang Aska yang meneleponnya. "Halo."
__ADS_1
"Leka, kamu habis dari mana saja tadi, hah?" Pertanyaan dengan nada tinggi dilontarkan Aska pada istrinya saat memulai percakapan telepon.
"Apa maksudmu?" Leka terduduk.
"Kamu habis dari Mal kan, bersama si brengsek itu?"
"Apa?" Leka terkejut. Bagaimana suaminya bisa tahu tentang hal ini?
"Jangan pura-pura bodoh! Aku punya foto-foto kalian berdua bersama di Mal dengan membawa Runi tadi. Begitukah cara kamu berselingkuh, dengan membawa Runi bersamamu, hah?" Aska semakin berapi-api.
"Abang, jaga bicaramu! Kamu sendiri yang tidak mau mengakuiku di luar rumah dan membiarkan aku pergi dengan Pak Arya, sekarang kamu mau menyalahkan aku? Ingat Bang, aku sampai sejauh ini telah banyak menutupi aibmu dengan ikut berbohong, itupun karena aku masih menghargaimu sebagai seorang suami. Sudah banyak hal yang tidak aku suka aku terima darimu, penghinaanmu, mulut kasarmu, tuduhanmu dan entah apalagi. Padahal aku sudah sabar padamu Bang, aku sudah sangat sabar. Apa kesabaranku ini saja belum cukup, hah? Harus sesabar apalagi aku padamu Bang, harus sesabar apalagi ...." Leka neteskan air mata.
Runi sedikit terusik. Leka segera mengusap pucuk kepalanya.
"Kau jangan mencari pembenaran ya? Di mana-mana wanita yang pergi dengan bukan suaminya itu namanya selingkuh!" Aska semakin berapi-api dengan menahan air matanya. Ia tengah berada di dalam mobilnya di parkiran Mal.
"Bang, kau yang ...."
"Kau mau aku datang ke sana, mengobrak-abrik rumahnya dan menggorok leher si brengsek itu, hah? Kau pikir aku tidak berani!" Akhirnya, jatuh juga setetes air mata Aska yang di tahannya sejak tadi.
Leka syok. Kenapa jadi begini? Bagaimana caranya suaminya tahu, ia pergi dengan Kenzo? Siapa yang telah memberitahunya?
"Aku tidak main-main Leka! Sekali lagi kamu pergi dengan si brengsek itu keluar, aku tak akan maafkan jiwanya! Aku akan patahkan seluruh tubuhnya dan akan aku buang jasadnya itu ke laut. Ingat itu baik-baik!!!" Aska menutup hp-nya dan menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya di atas stir. Ingin rasanya ia sudahi saja sandiwara ini dan mengambil istrinya ke sana, tapi ia ingat cita-citanya yang ingin menjadi GM HRD di perusahaan Chris yang sudah lama ia impikan. Hanya butuh 3 minggu lagi, dan ia harus tidak punya gosip miring sama sekali tentang kehidupan pribadinya atau belum apa-apa namanya akan di coret dari daftar pencalonan tersebut. Pedih rasanya saat pada akhirnya ia bisa mengakui ia telah jatuh cinta pada istrinya dan wanita itu tidak berada di sampingnya, dan tiba-tiba seseorang yang lain telah melihat istrinya bersama orang lain berikut dengan bukti foto yang ia terima. Walaupun cemburu telah benar-benar membutakannya tapi tak cukup alasan untuknya berani mengambil Leka kembali dari rumah Kenzo. Betapa menyedihkannya hidupnya. Pria yang payah.
Leka pun telah melipat kaki dan memeluknya. Ia meletakkan dagunya diatas lutut dan memandang lurus ke depan. Wajahnya cukup berurai air mata. Betapa tidak, setiap kali ia berbicara dengan suaminya mereka pasti bertengkar dan saling menyalahkan. Sepertinya kata damai itu jauh dari kehidupan rumah tangganya.
Aku tidak boleh takut dengan manusia tapi takutlah pada Allah. Suamiku mengancamku dan aku baru sadar mungkin dari mulut dialah Allah menegurku. Apa yang kulakukan sudah kelewat batas.
Aku memang tak pandai tinggal di kota yang bernama Jakarta ini. Mungkin tempatku bukan di sini. Setelah masalahku selesai dengan Bang Aska, aku ingin pulang kampung saja bersama Runi. Rasanya lebih bahagia hidup berdua, tanpa adanya laki-laki di samping kami.
Terdengar bunyi pesan masuk. Dari Aska. Isinya, foto-foto dirinya bersama Kenzo dan Runi. Ia bisa melihat betapa bahagianya dirinya bersama-sama dengan mereka berdua, sayang ia hanya bisa memilih satu. Di perbesarnya foto Kenzo hingga ia bisa puas memandanginya. Dunia memang tempat di mana tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan.
Kalau di pikir-pikir, siapa sebenarnya yang telah mengirimkan foto-foto ini pada Bang Aska?
Leka masuk ke dalam kamar Kenzo saat pria itu masih sibuk dengan laptopnya.
"Oh, jamnya mandi ya?" Kenzo melipat laptopnya dan segera menggeser tubuhnya hingga ke pinggiran tempat tidur. Dengan riangnya dia memasukkan laptopnya ke dalam laci nakas dan membuka baju kaos yang di pakainya, tentu saja masih dengan wajah tersipu-sipu.
Leka sebenarnya ingin tertawa tapi yang keluar malah senyum simpulnya. Pria ini terkadang terlihat seperti anak-anak dan kadang seperti orang dewasa. Dengan pesonanya yang lembut saat bicara, mendengarkan, bernyanyi bahkan saat tertawa sekalipun. Ia nyaris sempurna di mata Leka. Paket lengkap yang tidak semua orang punyai.
Leka mulai mengusapkan handuk hangatnya pada wajah Kenzo. Kulit putihnya terlihat kemerahan seketika. Namun sekarang Kenzo lebih berani menatap wajah Leka yang sedang membersihkan wajahnya sehingga Leka sedikit grogi.
"Eh, kakak kenapa?"
"Ah, tidak. Aku merasa kau pasti juga pintar memijit."
"Hah?"
"Ah, tidak. Lupakan."
__ADS_1
"Oh."
Leka menyelesaikan tugasnya. Kemudian ia mencarikan baju kaos baru untuk Kenzo.
"Kak." Leka melangkah mendekati Kenzo dengan baju kaos barunya.
"Mmh."
"Setelah selesai bekerja dengan Kakak, aku ingin indekos di luar Kak." Leka baru saja ingin memasangkan baju itu dari atas, tapi tiba-tiba tangan pria itu telah meraih kedua lengannya.
"Tidak, kamu tidak boleh keluar dari rumahku ...."
Leka menatap tangan Kenzo yang masih memegangi lengannya. Pria itu segera sadar dan melepaskannya.
"Kenapa, kan aku tidak lagi kerja dengan Kakak? Aku gak punya alasan untuk tinggal di sini lagi."
Ada, kalau kau mau jadi Nyonya Kenzo Wiraguna, tapi kalimat itu tidak bisa dikatakannya. Keluh. Wanita itu benar. "Eh, tapi kan kamu akan bekerja dengan Ayahku?"
"Iya, tapi akan menimbulkan gosip tidak enak kalau aku tinggal di sini walaupun banyak orang sebenarnya yang tinggal di sini."
"Eh, iya."
Setelah selesai Leka pun berlalu dari kamar Kenzo. Kembali pria itu menelepon ayahnya. "Ayah, Leka akan meninggalkanku ...."
"Apa? Katakan padaku apa yang terjadi."
Kemudian Kenzo menceritakan semuanya.
"Ok, besok Ayah akan bicara padanya."
"Bicara apa?"
"Serahkan saja padaku."
Jam 8 malam Salwa pulang dengan mulut mengerucut. Chris dan Reina mulai bingung di buatnya.
"Kok pulang-pulang merengut? Rojak mana, kok pulangnya pakai taksi?" Tanya Reina yang sedang mengobrol dengan Chris di ruang tv.
"Oh, dia lagi senang," cibir Salwa kesal mencium punggung tangan orang tuanya.
"Kenapa?"
"Dia sekarang naik pangkat jadi GM IT." Salwa masih merengut.
_____________________________________________
Karya Author Gupita. Pernikahanku, Pilih Aku Atau Dia. Ayuk pada kepoin yuk ....
__ADS_1