
Kenzo masuk restoran saat Chris sedang mengangkat Runi ke atas dengan kedua tangannya. Gadis itu menjerit kesenangan. Pria itu segera menurunkan gadis kecil itu dan mengusap pucuk kepalanya yang berjilbab. "Ternyata anak sekecil kamu lucu juga dipakaikan jilbab ya? Seperti boneka. Mmh ...." Ia menyentuh hidung Runi. "Gara-gara kamu, aku di panggil Kakek sekarang."
Runi tersenyum dengan memamerkan giginya yang jarang.
"Ih, gemes Kakek lihatnya." Chris mencubit pipi Runi lembut.
"Jangan dicubit Da, nanti susah makan," Reina memberi tahu.
"Itu mitos Ma."
"Itu beneran."
"Reina ...."
Pertengkaran mereka sedikit banyak membuat Leka tersenyum hingga menyadari kehadiran Kenzo di sisinya.
"Oh, Kak. Aku akan bayar sendiri sewa rumahnya." Leka memperlihatkan kartu hitam yang di pegangnya.
Chris bisa melihat betapa senangnya Leka saat bicara dengan Kenzo, tapi sepertinya pria itu canggung.
"Oh, kau tinggal berikan saja pada Ayah, nanti tinggal di proses."
"Oh, gitu." Leka kemudian menyodorkan kartu itu pada Arya. "Ini Pak, tolong di proses."
"Om, Tante ...." Kenzo menyapa Chris dan Reina kemudian berdehem. "Aku periksa dapur dulu Om, permisi." Ia buru-buru ke dapur.
"Oh, iya. Aku masih belum menyelesaikan pekerjaan." Leka segera berdiri dari kursinya dan menundukkan kepala. "Maaf, Pak, Bu." Lalu berlari ke dapur.
Leka langsung mengerjakan pekerjaannya memeriksa barang masuk yang tertunda sedang Kenzo memeriksa pekerjaan pegawainya.
"Jadi sudah selesai kan?" tanya Arya pada Chris.
"Mmh, untuk sementara ya? Mmh ... kami juga ingin coba berkunjung ke rumahnya beberapa hari lagi untuk memeriksa apakah ia membutuhkan sesuatu yang lain."
"Mmh, boleh saja."
"Eh, tapi jangan bilang padanya, nanti dia harus repot menyiapkan sesuatu untuk kami."
"Oh ... ya terserah saja. Tidak masalah."
Tiba-tiba seseorang muncul di restoran dan terlihat keheranan. "Papa?"
"Aska, kamu ke sini juga. Mau ketemu Leka?"
Aska menyambangi Chris dan Reina dan mencium punggung tangannya. "Iya Pa, Map."
"Ya sudah, Papa sama Mamap ke toko dulu." Chris berdiri dan menyerahkan Runi pada Baby Sitter-nya. Ia kemudian bersama-sama Reina meninggalkan restoran. "Pergi dulu Ya."
"Iya Da," Arya mengangkat tangan.
Pria itu melihat saja Aska masuk ke dapur. "Aku ke dapur dulu Om." Dan mengejutkan Leka. "Sayang ...."
"Eh, kamu jangan ke sini."
Semua pegawai restoran dan Kenzo ikut menoleh.
"Bang, kamu di luar saja. Ini tempat kerja aku." Leka mendorong Aska ke luar dapur.
Merasa malas melihat adegan mereka berdua, Arya pun keluar dari restoran.
Aska meraih tangan Leka. "Sini, aku mau bicara sebentar." Ia menarik Leka ke meja terdekat. Mereka menarik kursi di sana berhadapan.
"Apa?"
"Jangan gitu dong Sayang, aku mau kamu bekerja di kantor Papaku gimana?"
"Itu bukan tempatku, aku tidak mau."
"Nanti aku ajari ...." ujarnya setengah merengek.
"Abang ...." bisik Leka malu, karena rengekan Aska takut di dengar pegawai lain.
__ADS_1
Namun memang terdengar dan mengganggu konsentrasi pegawai restoran yang sedang bekerja. Ada yang penasaran, ada yang menganggapnya berlebihan. Ada yang tidak tahan, seperti Kenzo, tapi Aska tak peduli.
"Kan kalau kau kerja di perusahaan, aku bisa setiap saat melihatmu. Antar jemput kamu. Yang lebih gampang lagi kalau kita serumah, kita bisa ...."
"Tidak. Aku sekarang sedang bekerja, jadi jangan ganggu aku." Leka berdiri.
Aska meraih tangan Leka. "Ya sudah, sekarang aku mau pesan minuman. Tolong beri tahu aku minuman yang enak dong." Ia melihat menu. Leka akhirnya terpaksa membantu.
Runi yang melihat Leka sedang duduk, menghampirinya. "Unda ...."
Leka segera menggendongnya.
Aska menyentuh tangan mungil gadis kecil itu. " Sini, gendong sama Ayah." Ia menyodorkan tangannya.
Runi bergeming. Ia hanya menunjuk pria itu. "Om, om!"
Kenzo benar-benar tak tahan. Ia melepaskan celemeknya dan meninggalkan restoran hingga ke parkiran. Ia butuh udara segar karena dadanya ingin meledak saking sesaknya. Ia mengusap sebagian wajahnya.
Kenapa hidupku seperti Otousan(ayah), mencintai wanita milik orang lain. Padahal itu paling kuhindari. Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang lain. Aku bukan orang seperti itu, tapi kenapa jadi begini? Apa Like father like son(pribahasa yang artinya : sifat yang menurun dari orang tua) yang berarti aku tak bisa mengubahnya? Apa ini karmaku karena anak Otousan? "Aggh." Ia menjenggut rambutnya karena kesal. Kenapa aku bisa jatuh cinta padamu, Leka?
"Kenzo!"
Kenzo menoleh. Ternyata Chris sedang melambaikan tangan dari beranda toko bunga. Ia memanggil Kenzo dengan tangannya. Terpaksa Kenzo mendatanginya. "Iya Om?"
"Duduklah di sini temani Om mengobrol."
Kenzo menarik kursi di depannya.
"Kamu suka pada Leka kan?"
Kalimat itu langsung menohok pria blasteran Jepang itu. "A-aku tidak bermaksud merebut ...."
"Merebut Leka dari anakku. Aku tahu. Kisah hidupmu mirip denganku."
"Eh, apa?"
"Aku juga menyukai istri orang Kenzo, sama sepertimu."
"Tante Reina?"
"Ta-tapi aku tidak ...."
"Merebut istri orang? Aku juga tidak! Aku hanya bisa suka tanpa bisa melakukan apa-apa, tapi nasib kemudian berpihak padaku. Aku tidak mendoakan yang buruk-buruk tapi suami Reina kemudian meninggal hingga aku bisa menikah dengannya."
"A-a-a ...." Kenzo menunduk. "Aku bukan orang seperti itu Om, maaf. Aku takkan ...."
"Aku tahu kau orang seperti apa ...."
Kenzo segera mengangkat wajahnya. Matanya memerah. Ia benar-benar merasa tidak enak pada ayah Aska. "Aku tidak akan ...."
"Cinta itu anugrah, dari Yang Maha Kuasa. Dia diberikan pada manusia untuk memberi rasa tenang, damai dan bahagia jadi ikhlas saja. Kembalikan pada Sang Pemilik. Ia akan menuntunmu menemukan jalannya."
"Tapi aku ti-tidak akan ...."
"Siapa yang tahu akan masa depan? Aku ingin sekali hadir di pernikahanmu dan menikahkanmu dengan seseorang." Chris menepuk pundak Kenzo.
"Ah, Om ...." Kenzo tersenyum dengan sangat terpaksa. Ia tentu saja tetap merasa tak enak pada Chris.
Di hari libur seperti itu, makan siang adalah saat teramai di restoran itu. Leka dan Kenzo, bahu membahu menyelesaikan pesanan yang datang silih berganti tak henti-hentinya. Bahkan membuat Aska mulai cemburu.
Dua orang pasangan muda sedikit terlambat ke restoran dan harus mengantri, tapi yang wanita terlihat sedang hamil. Leka melihatnya dan menghampiri mantan suaminya. "Kau tidak pesan makanan?"
"Aku menunggumu, aku ingin makan denganmu."
"Kalau begitu, kursinya diberikan untuk orang lain saja." Salah satu kursinya di tarik Leka keluar.
"Eh, jangan. Ini untukmu." Aska menahannya karena kursi yang tersisa tinggal satu. Yang satunya lagi di duduki Ani yang sedang menggendong Runi.
"Ini untuk ibu hamil yang lagi ngantri Bang ...."
Aska tetap menahannya. "Salah sendiri kenapa datang telat?"
__ADS_1
"Aku yang mau kasih, aku kan gak duduk." Leka mencoba menarik.
"Ngak!"
Leka memukul tangan Aska dengan keras.
"Aduuuh ...."
Pegangan Aska terlepas sehingga Leka bisa menarik dan memberikan kursi itu pada ibu hamil yang sedang mengantri.
"Oh, terima kasih mbak." Wanita itu duduk sambil tersenyum.
"Oh, gak apa-apa."
"Terima kasih," sang pria mengucap kemudian.
Leka hanya menganggukkan kepala dan kembali ke dapur. Ia sempat melihat mantan suaminya merengut menatapnya.
Setelah antrian habis dan yang makan di tempat juga tinggal beberapa orang, Leka baru bisa bernapas lega. Saat itu sudah mendekati pukul 3.
"Lekaaa ... kapan kau makan, aku sudah lapar." Wajah Aska terlihat suntuk.
"Aku kan tidak minta kau menungguku Bang." Leka mencapai meja. "Sekarang pesan saja makanannya. Eh, kamu belum sholat Zuhur ya?"
"Belum."
"Eh, ayo sholat." pinta wanita itu.
"Iya." Aska berdiri dari kursinya. Ia melangkah ke arah pintu belakang.
Kenzo hanya menatap Aska yang terlihat kesal karena Kenzo melihat ia diminta Leka untuk sholat lebih dulu.
"Ani juga belum ya? Maaf ya? Sini biar aku yang gendong." Leka mengambil alih Runi yang telah tertidur.
Ani pun pergi ke pintu belakang.
Leka duduk di kursi yang di duduki Ani dan mulai melihat menu. Kemudian ia mengangkat tangannya memanggil Kenzo. "Kak, boleh minta tolong gak?"
"Iya?" Kenzo menghampiri. Ia mencatat pesanan Leka.
Sambil menunggu makanan, Leka mengusap punggung Runi yang tertidur di pangkuannya.
Aska kemudian kembali bersama Baby Sitter Runi. Wanita itu duduk dengan memisahkan diri karena tidak ada kursi lagi.
"Eh mbak. Duduk di sini, kenapa duduk jauh-jauh?" Leka memanggilnya.
Mulut Aska mulai mengerucut. "Sudah! Dari tadi kamu mengurus orang terus. Urusin aku dong!" protesnya.
"Kita kan bukan mahram, aku tidak punya kewajiban mengurusmu!" terang Leka kesal.
Aska mengiba, mengenali kesalahannya. "Lekaa, maaf." Ia menyentuh tangan mantan istrinya. "Makan sama aku ya?"
Sementara orang-orang di dapur banyak yang mengintip mereka berdua termasuk Kenzo. Pria itu menyadari belakangan ada beberapa pegawai yang memperhatikan Leka dan Aska selain dirinya.
"Hei, jangan mengintip urusan orang!" Kenzo menghalaunya dengan kain serbet.
"Bapak juga ngintip." tunjuk Padi ke wajah Kenzo.
"Ah, tidak ...." elak Kenzo dengan wajah panik.
"Iyaaa ...." Padi tersenyum masih sambil menunjuk.
"Sudah, pergi kerja sana!" Pria Jepang itu mengibaskan serbet sekali lagi di hadapan pegawainya hingga mereka bubar. Ia sendiri masih sempat melihat kebersamaan Leka dan Aska yang makan siang di satu meja.
Melihat risih, tapi tak melihat merasa ingin tahu dan kemudian sakit hati. Perulangan yang membuat hati Kenzo gamang tapi tak bisa menghindarinya. Sungguh tak bisa, kalau soal Leka. Kenapa wanita ini punya magnet yang sangat kuat yang membuat ia sanggup menanggung luka yang tak berdarah ini. Jawabannya tak ada. Ia hanya sanggup menjalaninya saja sampai ke batas yang ia mampu lakukan. Entah sampai kapan.
Sehabis Magrib, kerumunan orang kembali banyak. Leka dan Kenzo kembali mengurus pesanan dari yang di bawa pulang, delivery hingga makan di tempat. Untungnya saja, pesanan tidak sebanyak tadi siang. Dengan cepat antrian terurai, tinggal mereka yang makan di tempat yang sedang dibuatkan makanannya.
Kenzo melepas celemeknya. "Aku pulang duluan ya?" katanya pada Leka.
Aska yang duduk tak jauh dari dapur, segera menghadangnya. "Eh, enak saja kau pulang duluan. Leka kau suruh beres-beres?"
__ADS_1
"Jangan begitu Bang, dia bosku," bela Leka.
"Maaf, besok aku berangkat pagi, untuk penerbanganku ke Milan, jadi aku harus persiapan," terang Kenzo.