Sungai Rindu

Sungai Rindu
Keputusan Sepihak


__ADS_3

Kenzo terkejut, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa karena itu ayah Runi.


"Runi Sayang, ini Ayah," ucapnya selembut mungkin pada Runi.


Namun Runi seperti menolak untuk digendong olehnya. Ia menghentak-hentakkan kakinya ingin turun.


"Eh, Bang. Turunkan dia. Dia tidak mau!" Leka yang menyadari kehadiran Aska segera meminta pria itu menurunkan Runi karena sepertinya gadis kecil itu tidak menyukainya. Ini juga pertama kali bagi Leka mengetahui reaksi Runi yang berbeda.


Kenzo sebenarnya ingin mengambil Runi dari tangan Aska melihat penolakan Runi tapi ia terkendala tangannya yang di gips dan ia bukan ayah Runi. Ia juga serba salah berada di antara hubungan yang telah berlalu dan Runi sepertinya menjadi tameng Aska untuk bisa datang di antara mereka.


"Oh, ok. Aku turunkan. Kau tidak perlu panik seperti itu Leka, aku kan Ayahnya." Pelan-pelan Aska menurunkan Runi.


Gadis kecil itu segera berlari ke arah Kenzo dan memeluk kakinya. Baby Sitter-nya langsung mengambilnya.


Aska menatap Kenzo dengan tatapan tajam menghujam. "Jadi kau ajarkan anakku untuk membenciku ya?"


"Bang, jangan sembarangan menuduh orang!Lihat dirimu sendiri kenapa Runi mulai tidak suka padamu. Itu pasti karena sikapmu itu juga padanya. Kau hampir tidak pernah menyentuhnya, dan menganggapnya boneka yang bisa dibawa ke sana kemari." Leka mulai dengan argumennya.


"Kenapa aku di persalahkan, aku kan Ayahnya?"


"Jadi seorang ayah tidak lantas terhubung kalau kau tidak mencobanya." Leka akhirnya benar-benar keluar dari dapur.


"Aku-aku kan mencobanya." Aska berusaha dengan bantahannya.


Leka terlihat diam. Tentu saja karena ia tidak bisa memaksakan sesuatu bila pemilik diri tidak mau mengusahakannya.


Pelan-pelan Aska menyadari kesalahannya. Ia kan datang untuk bicara baik-baik dengan mantan istrinya, tapi kenapa lagi-lagi mereka terjebak dengan pertengkaran yang sama padahal ia berniat datang untuk membujuknya. "Eh, Leka ... Apa kau masih marah padaku ... karena tidak datang di acara ijab kabul waktu itu?" Dengan suara rendah, ia hati-hati bicara.


"Aku sudah tidak memikirkannya lagi." Leka berlalu dari hadapan Aska dan duduk berseberangan dengan suaminya.


Kenzo berusaha untuk tidak ikut campur dengan diam tapi tak ayal ia gerah juga melihat Aska sepertinya berusaha berbaikan kembali dengan istrinya di depan matanya tapi rasa itu berusaha ia tahan selama Aska tidak keterlaluan. Dilihatnya kedua Bodyguard-nya mulai mendekati mereka dari arah luar.

__ADS_1


"A-aku punya penjelasan untuk itu jadi seharusnya kau tidak buru-buru memutuskan untuk menikah lagi dengan orang lain." Dengan melirik Kenzo, suara pria itu semakin mengecil.


"Dengar Bang, aku sudah tahu tentang kondisimu dari Ayahmu dan ia sendiri yang membebaskan aku untuk memilih. Ia juga menikahkan kami. Sekarang kamu mau menjelaskan apalagi?"


"Eh ...." Aska seperti tidak mau menyudahi pembicaraan itu. "Wanita itu, itu sebuah kesalahan jadi aku ingin kau mengerti."


"Mengerti apa? Masalah kita sudah berlalu Bang dan aku sudah menganggapnya selesai kecuali untuk Runi."


"Karena itu, demi Runi kembalilah padaku."


"Hei, aku tersinggung ya? Dia istriku sekarang!" Kenzo berdiri dengan marahnya. Sudah sekian menit ia menahan gejolak di dada. Bodyguardnya segera menghampiri Aska dan menariknya keluar.


"Hei, tunggu! Aku belum selesai bicara dengan mantan istriku. Hei!!" Aska meronta-ronta agar diizinkan bicara tapi permintaannya sudah tak didengar. Kedua Bodyguard Kenzo membawa Aska hingga keparkiran. Pria itu masih mengumpat dan berteriak dengan kesal tapi mereka tak peduli. Yang mereka pikirkan adalah memastikan pria itu naik ke mobil dan meninggalkan tempat itu.


Leka mendekati suaminya dan memeluknya. "Makasih sudah membantuku." Ia meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya. Kenzo mengusap pucuk kepala istrinya dan memeluknya. Pelukan wanita itu menenangkan gejolak di dada yang sejak awal sudah mulai mendidih melihat kedatangan Aska.


"Tentu saja. Kau kan istriku. Aku akan melakukan apapun demi kamu, Leka," ucapan suaminya itu makin menyejukkannya.


Aska mendatangi rumah orang tuanya dengan hati kesal. Di sana sudah ada keluarga Le Blanc di ruang tamu bersama Reina dan Chris.


Aska terpaksa duduk dengan mereka. Ia duduk sambil menundukkan wajahnya. Monique menatap pria itu iba, tapi ia butuh suami untuk kehamilannya itu dan ia tak pernah bermimpi, Askalah yang akan menjadi suaminya kelak. Ia memang menyukai Aska tapi juga tidak ingin menikah dengan cara seperti ini. Terpaksa menikahinya karena ia hamil anak Aska. Ia ingin Aska juga mencintainya.


"Karena semua sudah ada di sini, kita langsung saja pada pokok persoalan. Kita sekarang tidak usaha membicarakan yang telah berlalu dan saling menyalahkan karena dengan begitu kita tidak akan menemukan titik temu. Sekarang saatnya merangkul dan saling menyemangati agar kedua calon pengantin ini bisa menempuh hidup baru dengan semangat baru dan saling menguatkan. Bagaimana denganmu Albert?"


Pria bule Perancis itu terlihat serius dan menyambut baik niat Chris itu. "Tentu Chris, aku mendukung itu. For their best choice.(untuk pilihan terbaik mereka) Aku harap putriku bahagia dengan pilihan kita."


"Oh, ok. Jadi, bagaimana kalau kita percepat saja menikahnya jadi Sabtu depan, pestanya nanti terserah anda, diadakannya kapan."


Keputusan Chris itu membuat Aska menoleh. Secepat itu ia harus menikahi Monique, wanita yang paling dibencinya sejak sekolah SMP dulu, membuat ia pusing kepala. Ini benar-benar berat sebelah! Ia yang terpaksa membiarkan mantan istrinya itu menikah dengan musuh bebuyutannya Kenzo, kini ia harus menikah dengan wanita yang paling ia benci, Monique Le Blanc. Betapa tidak adilnya hidup ini. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itu perumpamaan yang paling pas dengan nasibnya saat ini.


Ingin rasanya ia berlari saat itu ke suatu tempat yang amat jauh. Apalah daya ia bukanlah pria yang pintar mencari rupiah. Apalagi dolar. Ia sangat bergantung pada Chris, Papanya. Hidup jadi orang miskin, ia tak mampu. Selain gengsinya tinggi, ia sangat takut dihina miskin mengingat traumanya ia pada saudara-saudara Ayahnya dulu yang tidak menyukai ia dan Salwa dan ingin mempekerjakan mereka diladang demi untuk menebus hutang Ayahnya pada mereka. Padahal Ayahnya dulu adalah Kakak tertua dan sering membantu saudara-saudaranya di kala mereka sedang kesulitan saat Ayahnya hidup makmur bersama Ibunya. Sejak Ayahnya berhenti bekerja sebagai kepala pabrik karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, begitu juga kehidupan keluarga yang mulai redup karena Ibunya meninggal dunia karena kecelakaan dan tak lama Ayahnya menikah lagi dengan teman sekantornya Reina.

__ADS_1


Dulu Salwa dan Aska tidak begitu menyukai Reina karena wanita itu Ibu tirinya dan Ayahnya selalu membelanya tapi Reina membuktikan bahwa ia menyayangi anak-anaknya dengan membanting tulang mencari pekerjaan hingga bertemu dan bekerja di perusahaan Chris. Setelah Ayahnya meninggal dunia, Reina tetap membawa mereka ke dalam kehidupan perkawinan keduanya dengan Chris. Itulah yang menyebabkan Salwa dan Aska sangat menyayangi Reina. Mereka sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya kini, Chris dan Reina.


"Eh, Aska. Coba kamu pergi ke taman belakang dan mengobrollah dengan Monique tentang rencana kalian ke depannya," ujar Chris memberi kesempatan keduanya untuk bicara sendiri.


Aska dengan malas berdiri dan berjalan ke taman belakang tanpa bicara sedang Monique langsung mengekornya. Aska berjalan melewati ruang makan dan dapur hingga ia keluar lagi di taman belakang. Ia duduk di sebuah bangku taman dari besi dan Monique juga duduk di sampingnya. Lama mereka diam sampai akhirnya Aska bicara. "Maaf, aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku seharusnya sudah menikah dengan perempuan lain, tapi karena orang tuaku mengetahui keadaanmu lebih dulu, akhirnya perempuan itu menikah dengan orang lain. Aku tidak menyalahkanmu tapi pikiranku kini sangat kacau hingga tak bisa bicara manis-manis padamu." Ia berterus terang.


"Oh, tidak apa-apa. Aku mengerti." Monique berusaha tersenyum walau getir. Ia sendiri butuh dihibur tapi pria itu juga sedang dalam posisi terburuknya, ia terpaksa menahan diri. Setidaknya ia masih bisa bersama Aska, mendapatkannya dan mungkin meluluhkan hatinya. "Apa ... kapan-kapan kita jalan yuk, pergi makan-makan ke mana gitu ...."


"Mulai besok, aku kerja di pabrik disuruh Papa. Pabrik kan jauh. Pulang pasti larut malam. Mana bisa aku mengajakmu ke mana-mana kecuali Sabtu-Minggu."


"Oh, gitu. Kamu ... mau kerja di perusahaan Papa aku?" Monique menoleh menatap Aska.


"Eh?"


"Kami juga punya pabrik tapi masih di dalam kota jadi tidak harus pergi jauh-jauh. Lagipula kita segera akan menikah, pasti kamu akan lambat laun memiliki perusahaan milik Papa aku dan mewarisinya. Bagaimana kalau kamu coba mulai bekerja di perusahaan Papa dulu biar kamu tidak kecapean pergi jauh-jauh hanya untuk bekerja dan malamnya kamu bisa temani aku jalan-jalan cari makanan atau sekedar nonton, gitu?" Monique merapikan letak tas tangannya di pangkuan.


Aska termangu. Yang terlintas saat itu adalah kesempatan untuk bertemu lagi dengan Leka. Rupanya beruntung juga aku menikah dengannya, aku bisa miliki perusahaan dan aku bisa punya kekuasaan setara dengan Kenzo. Mungkinkah kalau melihat kemapananku, Leka akan kembali padaku? Air muka Aska kembali cerah.


Monique melihatnya dan menganggap Aska setuju dengan idenya. Ia meraih tangan Aska. "Ka, kita ke dalam yuk, nanti biar aku bilang sama Papa." Wanita itu menariknya ke dalam rumah.


Para orang tua terkejut melihat begitu cepatnya Aska kembali digandeng Monique .


"Pa, boleh gak Aska kerja di kantor Papa mulai besok? Soalnya tempat kerjanya yang sekarang jauh, katanya," Monique memohon pada Papanya.


Chris terkejut dan melipat tangannya di dada. Ia melihat ada kemajuan pada hubungan mereka. Chris dan Reina terlihat senang.


"Boleh saja. I love it.(saya suka itu) Aku suka calon menantuku bekerja di perusahaanku agar ia mengenal perusahaan dan bisa mengembangkan ke arah yang lebih baik lagi. Bahkan mungkin penyatuan perusahaan ini akan berdampak baik bagi kita berdua," ungkap Albert senang.


"Untuk awalnya, biar ia mengelola perusahaanmu dulu saja. Biar ia lebih fokus. Kau bisa mengajarinya banyak hal selama di perusahaan dan ia mempelajari dulu bagaimana bisnismu. Setelah mantap baru kita pikirkan penggabungan perusahaan. Soalnya selama ini Aska masih terhitung pegawai di perusahaanku dan baru besok akan mulai mempelajari perusahaan secara keseluruhan, tapi perusahaanku terlalu besar buatnya. Mungkin dengan lingkungan baru, belajar di perusahaanmu dan mendampingi Monique di kesehariannya bisa membantunya belajar berbisnis dan jadi pengusaha," ucap Chris meyakinkan keluarga Le Blanc.


____________________________________________

__ADS_1


Sambil ngopi-ngopi, boleh juga baca cerita cinta manis ini. Faiz Bellz dengan Terjerat Rindu Mafia-nya mungkin bisa mengisi hari-hari yang kurang tantangan dan semu. Cus kepoin aja!



__ADS_2